Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meng Meng
Pria itu sedikit tediam dan ekspresinya terlihat serius. Dua alisnya sedikit terangkat. Lengkungan-lengkungan di dahinya sedikit membentuk ombak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Gadis di sampingnya memperhatikannya, berusaha membaca apa yang di pikirkannya. Apa yang di pikirkan pria itu tidak ada hubungannya dengan apa yang ia katakan tadi. Ini pasti ada hubungannya dengan masa lalu dan tragedi yang merenggut gadis yang paling di cintainya. Ia tidak pernah berpikir pria gagah dan berotot, memiliki wajah tegas punya kesetiaan yang dalam.
Lalu setelah satu detik berlalu, ia berkata, “Jika kau ingin sepertinya, seharusnya ikut ke dalam.”
“Ke dalam....” Gadis itu memandang gerbang luar istana yang megah. Di jaga dua prajurit. Ia merasa terhormat dan barangkali orang-orang yang pernah masuk ke gerbang megah itu merasa sangat bahagia, dan seperti masuk ke demensi lain. Sepertinya apa yang dikatakan kakeknya benar juga tentang gerbang istana yang megah itu.
Setelah berkata, pria itu mulai melangkah masuk. Gadis di sampingnya ragu-ragu sebentar.
Ketika tiba di depan gerbang, dua prajurit segera memberi hormat lalu membukakan gerbang besar itu dengan bersusah payah. Suaranya menderu dan perlahan-lahan aula istana yang lebar, penuh beton dan megah mulai terlihat. Jantung gadis itu mulai berdetak lebih kencang dan ia merasa mimpi bisa melihat dan memasuki halaman istana. Ia bertanya-tanya apa yang akan menantinya di sana.
Cahaya sepenuhnya keluar dari gerbang dan aula istana terlihat dari luar dengan penuh.
Mereka berdua masuk dan sekitar sepuluh orang berdiri di depan istana. Ada seorang pria berjubah keemasan dengan lukisan naga di kedua lengan bajunya yang mewah. Mahkota besar sebagai simbol kebangsawanan dan status membuatnya jauh lebih tinggi. Dia berdiri paling depan, dengan sedikit senyuman yang menawan dan tampan.
Di belakangnya berdiri tiga selir, dua pangeran dan seorang putri kecil yang paling bungsu, mengenakan gaun biru laut dan dalamam putih bersih, berdiri anggun, memasukan kedua tangannya ke dalam baju dan memperhatikan dengan lembut dua orang yang datang dari gerbang istana.
Mereka telah berdiri di sini sekitar dua menit yang lalu, menunggu seseorang dan akhirnya orang itu telah datang.
“Kakak pertama.”
Kaisar membungkuk hormat dan lembut. Lalu diikuti oleh orang-orang di belakangnya, bahkan beberapa prajurit yang telah siaga.
Pria berjubah hijau memandang dingin dan sedikit meremehkan.
Dulu, ia adalah putra mahkota, pengeran kekiasar Zhao dan orang nomor satu, namanya Zhao San Shi. Namun sekarang tidak hanya tidak di kenal, bahkan sudah lama sekali orang-orang tidak pernah menyebutnya pangeran ataupun yang mulia. Melihat penghormatan ini ia merasa aneh dan menjijikkan. Lalu dengan dingin berkata, “Aku bukan kakakmu dan aku bukan bagian dari keluarga ini lagi. Tidak perlu hormat seperti itu, aku bukan siapa-siapa.”
Suaranya tenang tapi tajam dan membuat para prajurit sedikit mendongak, begitu anggota keluarga yang lainnya. Namun Kaisar tidak terkejut mendengar itu. Lalu dengan lembut berkata, “Meskipun kamu sudah lama pergi, kamu masih tetap kakakku dan darah keluarga masih mengalir di dalam tubuhmu. Kecuali... Jika itu di hilangkan.”
Zhao San Shi tiba-tiba membuka mulutnya dan tertawa. Suaranya menggema.
“Benar, itu benar, sangat benar, tetapi keluarga mana yang rela membunuh kekasih anaknya sendiri demi kebaikannya? Adik mana yang memegang tahta kakaknya demi menjaga kekuasaan? Baik, sangat baik, itu sangat baik.”
Ekspresi Kaisar sedikit berubah. Para prajurit tidak menyangka ada ucapan seperti itu yang akan muncul, dan para selir juga begitu, menyebutnya lancang. Dua pangeran yang menyaksikannya berpikir itu tidak tahu diri. Tapi hanya putri bungsu yang diam menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Sementara gadis di samping Zhao San Shi memperhatikan tutur katanya dan melihat jejak kesedihan yang dalam, tersembunyi dari balik kata-kata dan ekspresinya yang tegas dan suram.
Suasana sejenak hening dan angin bertiup memainkan bendera kekaisaran yang berkibar.
Lalu yang mulia Kaisar berkata, “Itu tidak benar. Aku hanya melakukan tugasku. Dan... Kamu kakakku, seharusnya dengan pengembaranmu yang lama mengerti tentang kesalahmu, namun sekarang tidak hanya membawa kata-kata kotor tapi juga seorang gadis desa yang menjijikkan. “
Wajah Zhao San Shi tidak berubah dan ekspresinya tegas seperti sebelumnya bagaikan pedang yang telah di pahat. Tidak lama ia ingin membuka mulutnya, akan tetapi gadis di sampingnya tiba-tiba membungkuk, memberi hormat dengan sopan seraya berkata, “hormat Yang mulia. Aku Meng Meng, salam hormat.”
Kemudian dengan perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan kedua matanya mendongak menatap yang mulia, lalu berkata, “Aku sudah menikah dengan kakakmu,” sedikit tersenyum lalu melanjutkan, “Seharusnya anda memamggilku kakak ipar, bukan gadis hina seperti itu. Oh, aku harus mengingatkan anda jika banyak berlian yang di ambil dari tanah yang kotor sebelum dipenuhi cahaya.”
Kaisar tidak mengubah ekspresinya. Ia mengangkat tangannya dan menempuknya. Suaranya beradu dengan angin di udara. “Aku lupa, seharusnya aku memanggilmu seperti itu. Dan ya, seperti katamu, tetapi aku ingatkan jika tidak ada orang yang mau menghargai berlian, itu tidak akan berharga sama sekali.”
Meng Meng mengerutkan dahinya dan tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Ia di tumbuhkan di anatara anak-anak desa yang kotor dengan harapan menjadi bangsawa suatu hari nanti. Tubuh dengan banyak kesulitan dan akses belajar yang sulit. Para bangsawa yang memerintah seharusnya memperhatikan mereka, tapi mungkin karena dana yang kurang ia selalu berharap suatu hari nanti anaknya akan mendapatkan itu lebih mudah. Namun mendengar ucapan yang mulia Kaisar, muncul rasa kecewa.
Dengan tegas mengangkat wajahnya lalu berkata tegas, “Yang mulia benar sekali. Tapi tugas Yang mulia harusnya menghargai berlian yang tidak berharga itu. Bukankah itu tanggung jawab Yang mulia? Bukankah para penduduk dan anak-anak itu harus anda jaga? Meskipun... Kotor dan menjijikkan bukan?”
Dahi yang mulia seperti padang pasir, bibirnya sedikit di tarik dan kedua pupil matanya sedikit intensitas. Namun sepenuhnya terlihat ramah dan bijaksana. Ia lalu menyatukan tangannya, membungkuk dalam-dalam, penuh penghormatan.
“Kakak perempuan, kakak pertama, silahkan...”
Dengan itu, ia melambai tangan, mempersilahakan dua orang itu masuk ke dalam.
Zhao San Shi menghela nafas lalu berkata pada gadis di sampingnya. “Apa sudah selesai?”
“Jika tuanku bertanya emosiku, ya sudah selesai.”
Zhao San Shi melambaikan tangannya.
Tiba-tiba seberkas cahaya keluar dari dalam istana dan mendarat di tangannya. Bibirnya melembut melihat benda itu. Ia lalu berkata, “Aku juga sudah selesai. Ayo...”
Ia berbalik dan berjalan pergi.
Meng Meng mengikutinya dari belakang.
Kaisar, para selir dan prajurit tidak menghentikan mereka berdua.
Namun yang mulia tuan putri bungsu yang masih remaja memiliki ekspresi serius, kemudian sedikit tersenyum.