Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Ketertarikan
Amel melengos untuk menyembunyikan rona wajahnya. Debar jantungnya semakin menggila saat ditatap Revan seintens itu.
Cup! Revan mengecup pipi Amel yang berada tepat di depannya tersebut.
Reflek Amel kembali menoleh dan beradu pandang dengan Revan. "Jadi istri Revano Difta harus bahagia terus ya, Ney!" ucap Revan membuat Amel semakin tersipu malu.
"Besok-besok kalau ketemu mereka lagi lawan, kalau kamu nggak bisa ngelawan lebih baik menghindar, biar aku yang akan member mereka pelajaran yang paling menyakitkan karena telah menyakiti kamu!"
Amel tambah ketap-ketip mendengar Revan mengganti panggilan lo guenya menjadi aku kamu.
"Nggak ada salahnya kok membela diri, toh kita nggak salah!" ucap Revan sambil membelai wajah Amel lagi dan lagi.
Amel hanya bisa mematung dengan bibir yang terkunci rapat, dia bahkan tak bisa bernafas dengan baik karena terlalu grogi diperlakukan semanis itu.
Ceklek! Pintu ruangan itu terbuka, Abel berdiri disana, matanya melotot melihat keintiman itu.
"Sorry, sorry, gue nggak tahu kalau kalian sedang..." Abel menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal itu.
"Ngapain lo?!" tanya Revan galak.
"Gue mau ambil ransel gue, mau ketemu dosbing!" jawab Abel lalu melipir untuk mengambil ranselnya.
Revan terus melotot sampai Abel melarikan diri dari hadapannya. "Revan mesum!" teriak Abel sambil lari tunggang langgang.
"Abel ngeselin!" omel Amel kesal.
Revan terkekeh melihat Amel yang matanya melotot dan lucu. "Kamu mau kopi atau camilan? Aku pesenin ke depan!"
"Kopi ama roti bakar aja kalau ada!" Amel menyebutkan pesanannya.
Revan pergi ke depan untuk meminta dua kopi dan juga camilan untuk dirinya dan juga Amel.
"Ki, sendirian aja? Eza mana?" tanya Revan saat melihat Kiki sibuk melayani tamu sendirian.
"Lagi interview karyawan baru, Van!" jawab Kiki.
"Oh oke! Tolong bikinin gue dua capuccino, roti bakar satu sama pisang bakar keju satu! Nanti kalau udah jadi call gue aja!" ucap Revan.
"Siap!" Kiki mengangguk mantap lalu segera menyiapkan pesanan Revan.
Revan kembali ke ruangannya. Amel serius dengan tabletnya dan mencari inpirasi di salah satu platform.
Tak ingin mengganggu karena Revan juga sedang menyelesaikan mengetik tesisnya.
"Van, gini keren nggak?" Amel memperlihatkan design cincin couple yang dipesan oleh pelanggannya.
"Buat siapa?" tanya Revan sambil memperhatikan design cincin cantik di tablet tersebut.
"Langganan!" jawab Amel.
"Oh, aku kira buat kita!" sahut Revan sambil mengembalikan tablet itu kepada Amel.
Amel kembali ketap-ketip mendapat pernyataan itu. "Emang kamu mau bikin cincin couple kayak gini?" tanya Amel.
"Maulah, kan suami istri harusnya sih punya cincin couple. Nanti kamu design aja, ongkosnya biar aku yang bayar!" jawab Revan.
"Dih apaan, nggak usah lagi!" Amel menggeleng pelan.
"Jangan gitu, Mel!" tegur Revan.
"Aku punya bahannya kok, mau platinum atau emas biasa?" tanya Amel.
"Kata aku lebih keren platinum sih daripada emas yang kuning gitu, tapi terserah kamu aja, Ney!" ucap Revan membuat pipi Amel kembali bersemu merah setiap Revan memanggilnya dengan panggilan Honey.
Tok...tok...pintu ruangan Revan diketuk seseorang.
"Masuk!" perintah Revan.
"Kok lo, Za?" tanya Revan sambil mengeryit saat melihat Eza masuk sambil membawa pesannya.
"Gue mau lo bantu gue milih kandidat pegawai baru, gue pusing nentuin sendiri!" ucap Eza setelah meletakkan kopi dan camilan itu di atas meja.
"Biasanya kan lo yang nentuin, tuh Kiki sama Wawan yang milih kan elo bagus bagus aja kan!"
"Please bantu gue milih, soalnya yang ngelamar tiga, kita cuman butuh dua!"
"Pasti lo salah lagi deh, butuh dua lo panggil tiga, dan ketiganya lo kenal semua!"
Eza menggaruk kepalanya pelan dan tersenyum penuh arti. "Kebiasaan!" Revan mentoyor kepala Eza lalu mengikuti Eza ke depan.
Amel tertawa melihat penampakan Revan yang terkesan cool tapi sebenarnya pria itu sangat baik.
Tak sampai tiga puluh menit Revan meninggalkan Amel, sekarang dia sudah kembali ke ruangan itu.
"Akhirnya aku rekrut semua!" Tanpa ditanya Revan memberitahukan Amel tentang ketiga karyawan barunya tersebut.
"Kenapa diterima semua?" tanya Amel penasaran.
"Ya intinya karena ketiganya kandidat yang baik dan mereka beneran butuh pekerjaan ini. Lagian aku sama Abel butuh Eza buat bantuin kerjaan ini, ya udah kan klop kalau kayak gini!"
"Kira-kira kalau aku bikin sistem ditokoku biar lebih rapi dan terorganisir butuh biaya berapa, Van?" tanya Amel.mulai tertarik dengan sistem komputer yang dibuat oleh Revan dan teman-temannya itu.
"Kalau sama kamu, aku gratisin!" jawab Revan.
"Giliran aku yang minta ke kamu digratisin, giliran aku yang mau gratisin cincin kita, kamu bilang nggak mau!"
"Anggap saja itu mahar karena kemarin aku ngasih mahar ke kamu dikit banget, maklum duit yang ada di kantong cuman segitu-segitunya!"
"Nggak papa yang penting sah secara agama. Btw kamu mau daftarin pernikahan kita ke negara nggak?" tanya Amel membuat Revan kebingungan untuk menjawabnya.