NovelToon NovelToon
Diamonds & Deception

Diamonds & Deception

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."

Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.

Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan di Adegan Puncak

Keesokan paginya di lokasi syuting yang bertempat di sebuah teater tua bergaya Barok di jantung Paris, suasana berubah total. Tidak ada lagi percikan api pertengkaran yang meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah keheningan yang menyesakkan, seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis oleh ego keduanya.

Saat kamera mulai merekam untuk adegan di mana mereka seharusnya berdansa di bawah lampu gantung kristal, sutradara merasa ada yang salah. Serena tampil dengan gaun couture hitam yang memukau, namun matanya kosong. Nicholas pun sama, ia melakukan gerakan dansa dengan sempurna, namun tangannya di pinggang Serena terasa kaku seperti robot.

"Cut! Cut! Cut!" teriak sutradara sambil menjambak rambutnya sendiri.

 "Apa yang terjadi dengan kalian? Kemana chemistry yang kemarin membuat media sosial meledak? Kalian berdua berakting seperti dua orang yang baru pertama kali bertemu di halte bus dan saling benci! Nicholas, peluk dia seolah kau takut kehilangannya! Serena, tatap dia seolah dia adalah satu-satunya oksigenmu!"

Serena hanya memperbaiki letak sarung tangan sutranya tanpa menoleh. "Saya melakukan apa yang ada di naskah, Monsieur. Kami adalah orang asing yang berdansa. Bukankah itu esensi dari adegan ini?"

Nicholas hanya diam, rahangnya mengeras. Ia menatap ke arah lain, sama sekali tidak membalas tatapan Serena. Tembok yang dibangun Serena semalam benar-benar berdiri kokoh, transparan namun tak tertembus.

Nicholas memutuskan untuk mengabulkan permintaan Serena. Sepanjang waktu istirahat, ia tidak lagi tebar pesona. Ia tidak lagi memainkan bibirnya atau mencoba memprovokasi Serena dengan kata-kata tentang Caleb.

Nicholas duduk di sudut set, sibuk dengan naskahnya atau berbicara dengan serius bersama produser. Saat Serena lewat di depannya, Nicholas bahkan tidak mengangkat wajahnya. Ia memperlakukan Serena benar-benar seperti rekan kerja biasa bahkan lebih buruk, seperti orang asing yang tak terlihat.

Hal ini justru mulai mengganggu Serena. Saat ia sedang dirias oleh Marie, matanya terus melirik ke arah Nicholas melalui pantulan cermin.

"Dia benar-benar melakukannya," bisik Marie dengan suara rendah. "Nicholas bahkan tidak melirikmu saat kau hampir terpeleset kabel tadi. Dia benar-benar bersikap... asing."

Serena mengepalkan tangannya di bawah kain penutup rias. "Baguslah. Itu yang aku minta, kan?" Namun, di dalam hatinya, ada rasa sesak yang tak tertahankan. Ia merindukan provokasi itu. Ia merindukan tatapan posesif yang membakar kulitnya. Diabaikan oleh Nicholas ternyata jauh lebih menyakitkan daripada dicerca olehnya.

Sutradara akhirnya kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk mengambil adegan konfrontasi emosional lebih awal. "Kita lakukan adegan argumen di balkon! Sekarang! Nicholas, Serena, tunjukkan padaku kebencian kalian jika memang itu yang kalian rasakan, tapi buat itu terlihat cantik di kamera!"

Mereka berdiri di balkon teater. Sesuai naskah, Nicholas harus menarik Serena dan menuntut jawaban mengapa Serena meninggalkannya.

Nicholas mendekat, namun kali ini ia tidak menggunakan perasaan. Ia memegang bahu Serena dengan kekuatan yang pas sesuai instruksi, tidak lebih. Matanya menatap Serena, namun tatapan itu dingin dan datar, benar-benar seperti orang asing.

"Katakan padaku, kenapa kau pergi?" Nicholas mengucapkan dialognya dengan intonasi yang sempurna namun tanpa nyawa.

Serena merasa dadanya sesak. Ia melihat Nicholas yang ada di depannya, namun ia tidak menemukan Nicholas "miliknya". Ia hanya menemukan seorang aktor hebat yang sedang bekerja. Rasa tidak nyaman itu memuncak hingga Serena tidak sanggup membalas dialognya.

"Aku..." suara Serena tertahan. Ia menatap Nicholas, mencari sedikit saja sisa-sisa api dari semalam, tapi Nicholas tetap diam dengan ekspresi profesionalnya yang mematikan.

Nicholas mencondongkan tubuh, berbisik sangat pelan sehingga hanya Serena yang dengar di balik mik clip-on yang dimatikan.

"Ini yang kau mau, kan? Menjadi asing? Rasakan betapa dinginnya dunia tanpaku, Serena."

Lampu set meredup, hanya menyisakan sorot lampu kuning temaram yang menciptakan bayangan melankolis di wajah mereka. Ini adalah adegan puncak: Ciuman Perpisahan.

Di dalam naskah, karakter Nicholas harus meninggalkan Serena untuk selamanya demi kehormatan keluarga, dan Serena harus melepasnya dengan hancur.

"Action!" suara sutradara bergema pelan, seolah takut merusak atmosfer.

Nicholas melangkah maju. Tidak ada provokasi, tidak ada seringai nakal. Ia menatap Serena dengan sorot mata yang begitu dalam, seolah ia benar-benar sedang melihat wanita yang akan ia hilangkan dari hidupnya untuk kedua kali. Ia menarik wajah Serena dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya.

Ciuman itu terasa berbeda. Itu bukan ciuman penuh gairah seperti biasanya, melainkan ciuman yang lambat, pahit, dan penuh dengan rasa putus asa. Nicholas mencium Serena seolah ia sedang menghisap seluruh memori tentang mereka, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan di dada masing-masing.

Begitu tautan bibir mereka terlepas, Nicholas harus berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh. Sesuai naskah, Serena harus mulai menangis.

Dan saat itulah, benteng pertahanan Serena Rousseau Mane hancur berkeping-keping.

"Nick..." panggil Serena lirih, suaranya bukan lagi suara karakter di naskah, tapi suara Serena yang hancur.

Tangisannya pecah. Ia jatuh terduduk di lantai teater yang dingin, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Suara sesengukannya begitu memilukan hingga beberapa kru wanita di balik kamera ikut menyeka air mata mereka. Itu bukan sekadar tangisan aktris yang terlatih, itu adalah tangisan seorang wanita yang menyadari bahwa permintaan untuk "tetap menjadi asing" adalah hukuman paling berat yang ia berikan pada dirinya sendiri.

"CUT! Magnificent! Luar biasa!" teriak sutradara dengan suara bergetar.

Namun, Serena tidak berhenti. Meskipun sutradara sudah berteriak "Cut", Serena tetap bersimpuh di lantai, menangis sejadi-jadinya hingga napasnya tersengal-sengal. Rasa sakit karena harus berpura-pura asing, rasa cemburu pada Beatrice, dan beban rahasia "Caleb" seolah tumpah semua di saat itu.

Nicholas, yang seharusnya terus berjalan keluar set, berhenti di balik pilar. Ia berdiri memunggungi kamera, namun bahunya bergetar. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya, air mata yang tidak ada dalam naskah. Ia tahu betul, Serena tidak sedang berakting untuk Oscar. Serena sedang menangisi mereka.

"Ya Tuhan, totalitas Serena benar-benar gila!" bisik salah satu kru. "Dia benar-benar meresapi rasa kehilangan itu sampai ke tulang."

Marie dan Iris segera berlari menghampiri Serena, menyelimutinya dengan jubah sutra dan mencoba menenangkannya. "Sudah, Serena... sudah. Adegan sudah selesai," bisik Marie sambil memeluk erat bosnya yang masih sesengukan.

Keesokan harinya, potongan adegan tangisan Serena yang bocor (atau sengaja dibocorkan oleh bagian pemasaran) langsung membuat internet lumpuh.

Variety : "Serena Rousseau Mane Memberikan Penampilan Kelas Oscar. Tangisannya di set Provence bukan sekadar akting, itu adalah penderitaan yang murni."

Netizen: "Lihat matanya! Tidak ada aktris yang bisa memalsukan kepedihan sedalam itu. Nicholas Feng pasti melakukan sesuatu yang sangat buruk hingga Serena menangis seperti itu!"

Fans Club: "Nicholas juga terlihat menangis di balik pilar! Apakah ini benar-benar hanya film? Atau kita sedang menonton kehancuran nyata dari dua kekasih lama?"

Foto Serena yang terduduk lemas dengan mata sembab dan gaun yang berantakan menjadi iconic. Publik memujinya sebagai dewi akting baru, namun hanya satu orang yang tahu kebenaran di balik air mata itu.

Nicholas duduk di dalam mobilnya, memutar berulang-ulang video pendek tangisan Serena di ponselnya. Ia meremas kemudi, hatinya terasa remuk. Ia sadar, menjadi asing adalah sebuah kemustahilan. Karena saat Serena menangis, separuh dari jiwa Nicholas ikut mati bersamanya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Fbian Danish
ceritanya bagus bgt. aku suka.... satset tanpa banyak drama, tapi alurnya enak untuk diikuti... suka..suka..suka..
Fbian Danish
baguuuuussss bgt ceritanya kak. cerita sat set tanpa banyak drama tapi alurnya enak dan konflik yg tidak terlalu pelik. aku suka bgt asli.....
Fbian Danish
bapaknya memberi jaminan kancing, anaknya gantungan kristal... like father like son😄
Salsabiell Jannah
sukaaaaa bangetttt sama novel ini 😍😍😍😍
Ros_10: Makasih 😍
total 1 replies
Fbian Danish
bagus bgt karyamu Thor... 🔥🔥🔥🔥
Fbian Danish
happy bgt kak❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!