Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemalangan Keluarga Elios
Pagi itu suasana ruang makan mansion Elios tampak lengkap. Meja panjang dari kayu mahoni telah dipenuhi berbagai hidangan.
Merlin dan Jack kebetulan sedang menginap di sana. Kehadiran keduanya membuat sarapan terasa lebih formal dari biasanya.
Viviane duduk dengan anggun, tetapi sesekali melirik ke arah kakaknya, Carlos, memberi kode halus agar ia mulai berbicara.
Carlos yang menangkap isyarat itu berdehem pelan. “Papi, Mami … Kek, Nek … ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”
Ruby dan Leon langsung menoleh.
“Apa itu?” tanya Leon.
Carlos menarik napas. “Kemarin Kania melihat Naomi di mal. Katanya Naomi berbelanja besar-besaran. Memborong banyak barang dan bahkan mentraktir teman-temannya.”
Ruby terkejut. “Naomi berbelanja di mal? Memborong dan mentraktir?”
Carlos mengangguk. “Iya.”
Leon mengerutkan kening. “Bukannya dia tidak suka berbelanja di mal?”
Carlos segera menimpali, “Sepertinya itu karena saham yang diberikan oleh Kakek dan Nenek. Dia jadi merasa punya banyak uang. Jujur saja … menurutku Naomi hanya pintar menghambur-hamburkan uang. Dan sebentar lagi saham itu akan habis sia-sia.”
Viviane menambahkan dengan nada prihatin yang dibuat-buat, “Bahkan Kak Kania disiram kuah panas oleh Kak Naomi hanya karena ditegur. Kak Naomi sekarang sangat temperamental.”
Carlos terdiam. Ia tahu kejadian itu tidak sepenuhnya seperti yang dikatakan Viviane, tetapi ia tidak mengoreksi.
Leon langsung meletakkan sendoknya dengan agak keras. “Naomi benar-benar tidak pantas mendapatkan saham itu!”
Ruby mengangguk kesal. “Anak itu semakin keras kepala dan angkuh. Kalau begini, saham itu hanya akan habis sia-sia.”
Leon menoleh ke arah ayahnya. “Papa, menurutku keputusan itu perlu dipertimbangkan kembali. Viviane jauh lebih mengerti bisnis daripada Naomi yang tidak tahu apa-apa. Lebih baik serahkan saham ifu pada Viviane saja.”
Suasana meja makan menjadi hening. Carlos dan Viviane saling berpandangan, mengira kakek dan nenek mereka akan mulai goyah.
Namun suara berat Jack justru terdengar tegas. “Memangnya kenapa kalau Naomi berbelanja menggunakan hasil dari saham itu?”
Semua terdiam.
“Itu miliknya,” lanjut Jack. “Naomi baru sekali berbelanja seperti itu, kalian sudah ribut dan protes. Tapi ketika Viviane membeli hampir seisi mal setiap ulang tahunnya, kalian diam saja.”
Ruby dan Leon tercekat.
Jack menatap mereka satu per satu. “Jangan kalian kira aku tidak tahu. Selama setahun Naomi tinggal di rumah ini, ia hanya punya beberapa helai pakaian. Bahkan pakaian yang sama sering ia pakai berulang-ulang.”
Viviane menunduk, tangannya mengepal di bawah meja.
Merlin menambahkan dengan suara tajam, “Naomi bukan tidak suka berbelanja di mal. Kalian saja yang tidak pernah memberinya uang.”
Ruby membuka mulut hendak membela diri, tetapi Merlin lebih dulu melanjutkan. “Berbeda dengan Viviane yang bisa menghabiskan ribuan dolar hanya untuk tas dan sepatu. Itu kalian anggap wajar.”
Leon terdiam.
“Dan soal bisnis,” lanjut Merlin, “Naomi bukan tidak tahu. Hanya saja kalian tidak pernah memberinya kesempatan. Viviane sejak kecil kalian ajari, kalian libatkan. Sedangkan Naomi? Pernahkah kalian mengajarinya, meski hal kecil sekalipun?”
Tak ada jawaban.
“Apa kalian tahu makanan kesukaannya? Hobinya? Impiannya?” tanya Merlin lagi.
Suasana semakin hening.
Jack lalu berdiri perlahan, menopang tubuhnya dengan tongkat. “Asal kalian tahu, Naomi bahkan belum tahu bahwa saham itu untuknya.”
Semua tersentak.
“Jadi jika dia berbelanja, itu bukan dari saham tersebut. Itu uang dari keluarga Atlas. Sedangkan kalian sebagai keluarga kandung … apa yang sudah kalian berikan?” tanyanya dengan nada menohok.
Carlos menunduk. Kata-kata itu terasa seperti tamparan.
Jack menghela napas panjang. “Aku benar-benar kecewa pada kalian.”
Ia lalu melangkah pergi dari ruang makan, meninggalkan suasana yang membeku.
Merlin pun berdiri. “Aku sudah tidak nafsu makan.”
Ia meletakkan sumpitnya pelan, lalu menatap Viviane tajam. “Ternyata pikiranmu sangat picik, Viviane.”
Viviane tersentak. “Nenek, bukan begitu maksudku—”
Carlos segera angkat bicara. “Nek, ini bukan rencana Viviane. Ini ideku.”
Merlin mengangkat tangan, menghentikannya. “Justru itu yang membuat Nenek lebih kecewa, Carlos.”
Carlos terdiam.
“Kau berhasil menjadi kakak yang baik untuk orang lain,” lanjut Merlin pelan namun menusuk, “tetapi gagal menjadi kakak untuk adik kandungmu sendiri.”
Wajah Carlos memucat.
Tanpa berkata lagi, Merlin berbalik dan menyusul suaminya keluar dari ruang makan. Tersisa Leon, Ruby, Carlos, dan Viviane dalam keheningan.
Suasana di ruang makan mansion Elios itu masih terasa tegang setelah perdebatan yang terjadi sebelumnya. Satu per satu anggota keluarga itu bangkit dari kursi mereka.
Leon merapikan jasnya. “Aku harus ke kantor pusat. Ada rapat direksi.”
Ruby mengangguk pelan. “Aku juga ada pertemuan siang ini.”
Carlos hendak melangkah keluar ketika tiba-tiba langkah tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan.
Seorang pria muda dengan setelan rapi masuk dengan napas memburu. Itu adalah Juno, asisten pribadi Carlos.
“Maaf, Tuan … saya harus melapor sekarang juga,” ucapnya dengan wajah pucat.
Carlos mengerutkan kening. “Ada apa, Juno? Kenapa wajahmu seperti itu?”
Juno menelan ludah. “Cabang bagian Utara… mengalami kebakaran hebat, Tuan.”
Semua yang berada di ruang tamu seketika membeku.
“Apa maksudmu kebakaran?” tanya Leon tajam.
“Gudang dan gedung produksi utama sudah dilalap api. Tim pemadam masih berusaha memadamkan, tetapi .…” suara Juno bergetar, “kerusakannya sangat parah. Hampir seluruh bangunan hangus.”
Ruby menutup mulutnya dengan tangan. “Tidak mungkin .…”
Cabang Utara adalah pilar kedua keluarga Elios setelah perusahaan utama. Tempat itu menopang hampir sepertiga pendapatan mereka.
Jack, yang kebetulan duduk di sofa ruang tamu sambil memegang tongkatnya, langsung berdiri.
“Kau tidak sedang bercanda, bukan?” suaranya berat dan penuh tekanan.
Juno menunduk dalam. “Saya tidak berani bercanda soal hal seperti ini, Tuan.”
Jack melangkah maju, amarah jelas terpancar di wajahnya. “Bagaimana bisa terjadi kebakaran sebesar itu tanpa ada laporan sebelumnya? Di mana sistem keamanan kalian?”
Carlos segera menyela, “Kek, tenang dulu. Juno, jelaskan. Apa penyebabnya?”
“Masih dalam penyelidikan, Tuan. Dugaan sementara korsleting listrik di area penyimpanan bahan baku. Api menyebar sangat cepat karena ada material mudah terbakar.”
Leon mengepalkan tangannya. “Kerugiannya?”
“Perkiraan awal bisa mencapai ratusan miliar.”
Viviane yang berdiri di samping Ruby terlihat pucat. “Itu … itu berarti produksi kita akan terhenti?”
“Untuk sementara, ya, Nona,” jawab Juno hati-hati.
Jack menghentakkan tongkatnya ke lantai. “Sudah cukup! Kita tidak bisa berdiri diam di sini.”
Ia menatap Carlos tajam. “Ayo ke sana sekarang.”
Carlos langsung mengangguk. “Siapkan mobil. Hubungi juga tim hukum dan manajemen risiko.”
“Akan saya lakukan sekarang, Tuan,” jawab Juno cepat.
Leon menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Kita semua ikut. Ini bukan masalah kecil.”
Ruby mengangguk tegang. “Benar. Kita harus melihat langsung kondisinya.”
Viviane menatap kakaknya. “Kak … ini tidak mungkin kebetulan, bukan?”
Carlos tidak menjawab. Wajahnya mengeras.
Dalam hitungan menit, keenam anggota keluarga Elios Jack, Merlin yang baru keluar dari kamar, Leon, Ruby, Carlos, dan Viviane bergegas keluar dari mansion.
Deru beberapa mobil mewah terdengar meninggalkan halaman rumah dengan cepat.
udh bucin parah,taunya d kibulin jg....
bagus max....ksih aja 10 laki2 buat tu ulat bulu,udh ga kuat dia pgn d garuk....😝😝😝