Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ban 18
Ayahnya mengetuk pintu ruangan Elena tanpa menunggu jawaban, seperti biasa.
Elena mendongak dari laptopnya. "Yah?"
Hendra Wirawan masuk dan duduk di kursi depan meja anaknya. Tidak membawa berkas. Tidak membawa map. Hanya duduk karena mau bicara sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
"Sabtu malam inu ada acara." Ia berkata langsung. "Di ballroom Hotel Wirawan. Ayah undang beberapa mitra bisnis, relasi lama, beberapa orang yang perlu kamu kenal."
Elena menutup laptopnya pelan. "Acara apa?"
"Perkenalan kamu." Ayahnya menatapnya. "Dunia bisnis perlu tahu siapa Elena Wirawan sekarang. Sudah terlalu lama nama kamu tidak ada di mana-mana."
Elena tidak langsung menjawab.
"Berapa banyak yang di undang?"
"Cukup banyak."
"Clara diundang?"
Ayahnya tidak berkedip. "Mereka mitra bisnis Wirawan sekarang."
Elena mengangguk pelan.
Ayahnya menatap anaknya sebentar. Lalu ia berdiri. "Ibu sudah minta Tante Rossa bantu urus gaun kamu. Nanti sore kalian pergi berdua."
"Baik, Yah." Jawab Elena
Pintu tertutup setelah Ayahnya pergi. Elena memutar kursinya menghadap jendela. Dengan pikiran yang ramai di kepalanya.
***
Ballroom Hotel Wirawan lantai dua puluh dua. Dari jendela-jendela tingginya kota terlihat seperti hamparan lampu yang tidak ada habisnya. Lampu kristal di langit-langit ballroom menyala dengan cahaya yang hangat. Meja-meja panjang dengan taplak putih bersih, rangkaian bunga segar di setiap sudut, musik live dari kuartet string di sisi kiri panggung yang mengisi ruangan dengan musik yang terdengar merdu.
Para tamu sudah mulai berdatangan. Nama-nama yang sudah lama bergerak di dunia bisnis, developer, bankir, investor, pengacara korporat, beberapa wajah yang sering muncul di halaman depan majalah bisnis.
Elena masuk pukul tujuh tepat. Gaun hitam panjang. Rambut tertata. Tidak ada perhiasan yang berlebihan hanya anting emas kecil dan jam tangan tipis di pergelangan kirinya. Tapi justru kesederhanaan itulah membuatnya terlihat anggun dan berkelas. Wajahnya Elena memang cantik, saat dia hidup miskin dan tanpa pernah tersentuh skincare selama menikah dengan Adrian pun ia masih terlihat cantik, apalagi saat setelah kembali ke keluarganya wajahnya kembali terawat , sangat cantik dan berkilau. Saking cantiknya, mungkin orang tidak akan percaya kalau Elena adalah seorang ibu.
Ayahnya dan Ibunnya sudah berdiri di tengah kerumunan, berbincang dengan para tamu yang sudah mulai berdatangan. Elena berjalan mendekati mereka dengan senyum yang sudah ia pasang. Ayah dan ibunya langsung menyambut Elena.
Tamu demi tamu datang menghampiri. Ayahnya memperkenalkan Elena satu per satu, nama-nama yang sudah Elena pelajari sejak tiga hari lalu, wajah-wajah yang sudah ia cocokkan dengan latar belakang bisnis mereka masing-masing, karakter-karakter yang sudah ia petakan sebelum malam ini dimulai.
Setiap jabat tangan terasa natural. Setiap percakapan mengalir. Karena Elena memang sudah siap, ia tidak datang ke pesta ini untuk menikmatinya. Ia datang untuk bekerja.
Clara dan Adrian tiba pukul setengah delapan. Elena melihat mereka dari sudut ruangan, Clara dengan gaun merah anggur yang elegan, senyum yang sudah terpasang bahkan sebelum melewati pintu. Adrian di sampingnya dengan jas hitam yang terlihat baru.
Elena tidak bergerak dari tempatnya. Ia sedang berbicara dengan Pak Santoso, direktur utama salah satu perusahaan konstruksi terbesar, berbicara tentang proyek terbaru Wirawan. Percakapan yang jauh lebih penting dari apapun yang sedang berjalan masuk dari pintu itu.
"Terus terang saya tidak menyangka Hendra akan serahkan kendali proyek besar secepat ini." Pak Santoso berkata dengan nada yang hati-hati nada orang yang penasaran tapi tidak mau terlihat meragukan.
"Ayah saya sangat cermat, Pak Santoso." Elena menjawab dengan senyum yang tidak terlalu besar. "Kalau ia sudah memutuskan sesuatu, itu karena ia sudah sangat yakin."
"Hahaha." Pak Santoso tertawa kecil. "Benar juga."
Dari sudut matanya Elena melihat Clara bergerak, berpisah dari Adrian yang langsung pergi ke arah meja minuman, berjalan ke arah sekelompok tamu di sisi kanan ruangan. Senyumnya tidak berubah. Caranya berjalan elegan dan terukur.
Sejam kemudian Elena berdiri di dekat salah satu meja bunga dengan segelas air mineral ketika, istri dari salah satu komisaris bank swasta menghampirinya dengan senyum yang terlalu manis untuk benar-benar terasa tulus.
"Elena, kamu cantik sekali malam ini." Ibu Dian menggenggam tangannya sebentar. "Sudah lama sekali tidak dengar nama kamu. Katanya kamu sempat... pergi? Menikah?"
"Iya." Elena menjawab singkat.
"Hmm." Ibu Dian mengangguk dengan cara yang menyimpan lebih banyak dari sekadar anggukan. "Sayang sekali ya. Tapi sudah kembali sekarang, bagus. Memang sebaiknya begitu." Ia mendekatkan dirinya sedikit, suaranya turun menjadi bisikan yang terasa seperti keakraban tapi baunya seperti gosip. "Kamu tahu tidak, tadi ada yang cerita ke saya... katanya pernikahan kamu berakhir karena kamu sendiri yang meninggalkan suamimu karena tidak tahan hidup bersama pria miskin. Benar tidak?"
Elena menatap Ibu Dian dengan tenang. Ia tahu dari mana cerita itu datang.
"Siapa yang bilang begitu?" Elena bertanya dengan nada yang ringan seperti orang yang menanyakan soal cuaca.
Ibu Dian berkedip. "Ya... ada yang cerita. Saya tidak bisa sebut namanya."
Elena menyela dengan senyum tipis. "Saya bisa tebak sendiri." Ia melihat sekeliling ruangan sebentar, cukup lama untuk membuat Ibu Dian mengikuti arah pandangannya, cukup singkat untuk terlihat tidak disengaja. Matanya berhenti sebentar di Clara yang sedang berdiri di kejauhan dengan segelas wine di tangannya.
"Wajar sih kalau kamu tidak tahan hidup miskin, Elena. Kamu dari kecil sudah terbiasa hidup bergelimang kemewahan." Ibu Dian berkata lagi. "Saat kamu menikah dengan pria miskin mungkin kamu hanya sekedar ingin coba-coba, benar kan?"
Elena menatap Ibu Dian kembali.
"Pernikahan saya tidak berakhir karena saya yang meninggalkan suami, Bu Dian. Dan jika saya hanya sekedar coba-coba saya tidak akan bertahan sampai delapan tahun pernikahan." Suaranya tetap ringan. Tetap tenang. Tapi cukup keras untuk didengar oleh dua tiga orang yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Pernikahan saya berakhir karena ada perempuan lain yang dengan sangat penuh perhatian... memberikan suami saya pekerjaan, tempat tinggal, dan hal-hal lain yang tidak perlu saya sebutkan di sini."
Ibu Dian membuka mulutnya. Tapi tidak ada yang keluar.
Elena mengambil segelas air mineralnya dan mengangguk sopan ke arah Ibu Dian. "Malam ini menyenangkan, Bu Dian. Saya permisi dulu."
Elena berjalan meninggalkan Ibu Dian yang berdiri dengan mulut yang masih sedikit terbuka.
Di belakangnya ia mendengar Ibu Dian langsung berbisik ke teman di sampingnya.
Elena tidak menoleh dan tidak peduli dengan omongan orang tentangnya.
Di sisi lain ruangan Leon berdiri dengan segelas wine di tangannya sambil mendengarkan Pak Hendra berbicara dengan dua tamu lain tentang proyek infrastruktur.
Tapi matanya mengikuti Elena. Bukan dengan cara yang mencolok. Hanya dari pinggir dengan cara orang yang terbiasa memperhatikan banyak hal sekaligus tanpa terlihat memperhatikan apapun.
Di sudut ruangan Clara yang tadi terlihat tenang sekarang berdiri dengan senyum yang sedikit lebih kaku dari biasanya, matanya mengikuti Elena dari jauh dengan cara yang hanya bisa dibaca oleh orang yang memang sedang memperhatikannya.
Leon menatap Elena yang sekarang sudah berdiri di kelompok tamu yang lain, tertawa kecil atas sesuatu yang seseorang katakan, senyumnya natural, posturnya tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Pak Hendra menyentuh lengannya. "Leon, kamu kenal Pak Gunawan tidak? Developer dari Surabaya."
Leon berpaling. "Belum. Senang berkenalan, Pak Gunawan."
Tangannya berjabat. Tapi pikirannya masih di sudut ruangan itu di perempuan dengan gaun hitam.