NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:44.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan, Luka, dan Kehancuran

Perjalanan dari Manila ke Calapan terasa seperti perjalanan menuju neraka bagi Matthias. Ia memacu mobilnya seperti orang gila, hanya dengan satu tujuan: menemukan cahayanya yang hilang. Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam rumah sederhana itu, Sheena telah memasang benteng pertahanan yang sangat tinggi.

"Ayah, Ibu... jika kalian memaksaku kembali padanya, aku lebih baik mati!" Ancam Sheena dengan mata sembab saat tiba dua hari lalu. "Dan jika laki-laki itu datang, jangan pernah izinkan dia masuk. Aku tidak akan mau menemuinya!"

Tengah malam itu, suasana Calapan terasa mencekam. Langit hitam pekat mulai menggantung rendah, namun hujan belum juga turun. Matthias berdiri mematung di depan pagar rumah keluarga Sheena. Penampilannya berantakan—kemeja yang kusut dan mata yang merah karena tidak tidur.

Ibu Sheena keluar dengan wajah prihatin. "Matthias, masuklah dulu. Ini sudah tengah malam. Kita bicarakan di dalam."

Matthias menggeleng lemah. Suaranya serak. "Tidak, Ibu. Aku tidak akan masuk sebelum Sheena sendiri yang keluar dan mengizinkanku. Aku pantas menerima ini."

Tepat setelah kalimat itu selesai, langit seolah pecah. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi tubuh Matthias dalam sekejap. Pria itu tetap berdiri tegak seperti patung di depan pagar, membiarkan air hujan menyamarkan air matanya yang terus mengalir.

Di balik jendela lantai atas, Sheena mengintip dengan hati yang perih. "Bodoh... kau benar-benar bodoh, Matthias!" Makinya lirih.

Ibu Sheena masuk ke kamar dan mengusap bahu putrinya. "Sheena, jangan terlalu keras, Nak. Lihatlah dia, dia bisa sakit jika terus begitu. Temuilah sebentar."

Dengan perasaan campur aduk, Sheena akhirnya keluar membawa payung. Ia melangkah perlahan menuju pagar. Namun, ia tidak membukakan pintu pagar itu. Ia berdiri di balik jeruji besi, menatap Matthias yang sudah basah kuyup.

"Pulanglah, Matthias. Ini sudah jam dua pagi," ucap Sheena dingin, tanpa nada kasih sayang sedikit pun.

Matthias mendongak, matanya yang sayu menatap Sheena dengan penuh pemujaan sekaligus penyesalan. "Sheena... maafkan aku. Aku sudah tahu semuanya. Aku mohon, hukum aku tapi jangan tinggalkan aku."

"Maaf?" Sheena tertawa getir. "Tamparanmu masih terasa di pipiku, Matthias. Dan bekasnya tidak akan hilang hanya dengan kata maaf. Sekarang pulanglah! Jika kau tidak pergi dari sini sekarang juga, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku!"

Ancaman itu menghantam Matthias tepat di dadanya. Ia tahu Sheena tidak sedang bercanda. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Matthias mengangguk pelan. "Baik... aku akan pergi. Tolong jangan benci aku selamanya."

Matthias berbalik dengan langkah gontai, masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya kosong, jiwanya sudah tertinggal di depan pagar itu. Dalam kondisi emosi yang tidak stabil dan penglihatan yang terganggu oleh hujan serta air mata, Matthias menginjak pedal gas dalam-dalam.

Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan Calapan yang licin. Pikirannya hanya dipenuhi oleh wajah Sheena yang menangis. Hingga di sebuah tikungan tajam, mobilnya kehilangan kendali.

CIIIIIIEEEEEETTTTTT!

DUARRRRR!

Mobil mewah itu menghantam pembatas jalan dengan kecepatan tinggi, terpental, dan terbalik hingga ringsek tak berbentuk. Keheningan malam di Calapan pecah oleh suara ledakan logam, menyisakan Matthias yang terhimpit di dalam sana dengan kesadaran yang perlahan menghilang.

Di dalam kabin mobil yang sudah hancur dan terbalik, bau bensin menyeruak tajam. Matthias terhimpit di antara kemudi dan kursi, darah mengalir dari pelipisnya, membasahi matanya hingga segalanya tampak merah. Napasnya pendek dan berat. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih ponselnya yang layarnya sudah retak di atas aspal.

Ia tidak menelepon ambulans. Ia justru menekan tombol rekam pesan suara untuk Sheena.

"Sheena..." Suaranya terdengar sangat parau, beradu dengan suara rintik hujan yang menghantam kerangka mobil. "Maafkan aku ya. Tolong maafkan aku. Kau harus tahu satu hal... bahwa kau adalah anugerah terbaik, terindah yang pernah kumiliki. Aku mencintaimu... selalu."

Setelah itu, ponselnya terlepas dari genggamannya. Pandangan Matthias mengabur, lalu semuanya menjadi gelap sempurna.

Di Kediaman Orang Tua Sheena...

Ting.

Sheena yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur, meraih ponselnya. Ia mendengarkan pesan suara itu dengan tatapan dingin, bahkan cenderung jijik. "Drama apalagi ini, Matthias? Kau pikir aku akan luluh hanya dengan kata-kata manis setelah apa yang kau lakukan?" Desisnya. Ia melempar ponsel itu ke ujung kasur dan mencoba memejamkan mata.

Dua puluh menit berlalu. Bukannya tidur, Sheena justru merasa sangat gelisah. Kantuknya hilang total. Ia terus berguling ke kanan dan ke kiri, merasa kesal karena Matthias berhasil mengacaukan ketenangannya bahkan lewat sebuah pesan suara.

"Sialan kau, Matthias! Gara-gara kau aku jadi tidak bisa tidur!" Makinya pada kegelapan kamar.

Tiba-tiba, ponselnya berdering nyaring. Sheena menyerngitkan dahi. Siapa yang menelepon di pukul tiga pagi seperti ini? Saat melihat nama di layar, jantungnya mencelos.

Ibu Mertua.

"Halo, Ibu?" Suara Sheena bergetar.

"Sheena! Oh my God, Sheena!" Suara ibunda Matthias di seberang sana pecah oleh tangis histeris. "Matthias, Nak... Matthias kecelakaan! Mobilnya menghantam pembatas jalan di perbatasan jalan raya Calapan-Naujan! Polisi baru saja menghubungiku, ibu akan kerumah sakit sekarang."

DEG.

Dunia Sheena seolah berhenti berputar. Ponselnya nyaris jatuh dari tangan yang mendadak mati rasa. Matthias kecelakaan? Di jalan menuju perbatasan, bukan ke arah Manila atau rumah neneknya di J.P. Rizal? Itu artinya Matthias benar-benar pergi dengan kondisi jiwa yang hancur karena ancamannya tadi.

Seketika, paru-paru Sheena terasa menyempit. Ia mulai menghirup udara dengan rakus namun oksigen seolah tidak sampai ke otaknya. Panic attack-nya kambuh dengan hebat. Ia memegangi dadanya, tersungkur di lantai kamar sambil berusaha mengatur napasnya yang putus-putus.

"T-tidak... tidak mungkin..." isaknya di antara sesak napas yang menyiksa.

Bayangan tamparan Matthias seketika terhapus oleh suara dentuman keras yang ia dengar dari kejauhan tadi, yang ia pikir hanya petir. Ternyata itu adalah suara kehancuran pria yang baru saja mengiriminya pesan cinta terakhir. Sheena berjuang melawan sesak di dadanya, mencoba berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli, menyadari bahwa kebenciannya mungkin telah membunuh pria yang paling memujanya.

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!