NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Amarah yang Meluap

Ruang UKS yang tadinya tenang, hanya diisi oleh suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik, mendadak terasa mencekam. Liana baru saja menelan suapan kelima dari Justin ketika pintu ganda ruangan itu terdorong terbuka dengan kasar.

BRAK!

Sosok Alena berdiri di sana. Napasnya memburu, wajahnya yang cantik kini tertutup oleh awan kemarahan yang pekat. Rambutnya yang diikat rapi untuk latihan tari tampak sedikit berantakan. Di tangannya, ia mencengkeram ponsel yang masih menyala, menampilkan layar Menfess kampus yang baru saja meledak dengan foto Justin sedang menggendong Liana menuju Gedung B.

"Jadi benar..." suara Alena bergetar, bukan karena sedih, tapi karena murka yang tertahan. "Kamu mengabaikan rapat penting, mematikan ponsel, hanya untuk menyuapi maba ini, Justin?"

Justin tidak menoleh. Ia tetap tenang, meniup sesendok bubur terakhir di mangkuk sebelum menyodorkannya ke mulut Liana yang kini membeku karena kaget. "Makan, Liana. Jangan hiraukan gangguan."

"GANGGUAN?!" Alena berteriak, melangkah masuk ke dalam ruangan. Beberapa mahasiswa yang penasaran mulai berkerumun di ambang pintu, mengintip drama yang sedang terjadi. "Justin, aku sudah mengenalmu sejak SMA! Aku mengikutimu ke universitas ini, memilih Cakrawala hanya karena kamu ada di sini! Dan sekarang, kamu memperlakukan aku seolah aku ini orang asing hanya demi perempuan yang baru kamu kenal beberapa hari?"

Liana merasa jantungnya mencelos. Sejak SMA? Jadi, ikatan antara Alena dan Justin jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Ia merasa sangat kecil di atas ranjang UKS itu.

Alena kini berdiri tepat di samping ranjang, menatap Liana dengan pandangan yang merendahkan, seolah Liana adalah noda yang mengotori pemandangan indahnya.

"Kamu," tunjuk Alena tepat ke wajah Liana. "Harusnya kamu sadar posisi. Lihat dirimu baik-baik. Kamu itu cuma mahasiswa baru yang bahkan nggak punya prestasi apa-apa. Kamu pikir kamu siapa bisa bersanding dengan Justin?"

Liana menunduk, meremas pinggiran selimut putih UKS yang kasar.

"Justin itu levelnya di atas, Liana. Dia kapten, dia dari keluarga terpandang. Sedangkan kamu? Kamu cuma debu yang kebetulan menempel di sepatunya," lanjut Alena dengan nada bicara yang semakin tajam dan menyakitkan. "Sadar diri! Levelmu itu di bawah. Jangan bermimpi bisa sejajar dengan dia."

Dhea yang berdiri di pojok ruangan sudah tidak tahan lagi. "Heh, Kak! Jaga ya mulutnya! Liana itu sakit—"

"Diam kamu!" bentak Alena pada Dhea.

Namun, sebelum Alena bisa melanjutkan makiannya, Justin meletakkan mangkuk bubur itu ke atas nakas dengan bunyi dentang yang sangat keras. Suara itu seketika membungkam seluruh ruangan. Justin bangkit dari duduknya, berdiri tegak hingga bayangannya menutupi tubuh Alena yang gemetar.

"Sudah bicaranya?" suara Justin sangat rendah, namun mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding.

"Justin, aku cuma mau dia tahu kenyataan—"

"Kenyataan apa?" potong Justin. Ia menatap Alena dengan mata yang berkilat dingin—tatapan yang jauh lebih menyeramkan daripada saat ia menghukum anggota basket yang melakukan pelanggaran. "Bahwa kamu merasa memiliki hak atas hidupku hanya karena kita satu SMA? Bahwa kamu merasa berhak menentukan siapa yang pantas berada di dekatku?"

Justin maju satu langkah, memaksa Alena mundur hingga menabrak lemari obat.

"Dengar baik-baik, Alena. Aku tidak pernah memintamu mengikutiku ke kampus ini. Aku tidak pernah memberimu harapan apa pun," ucap Justin setiap katanya ditekan dengan emosi yang meluap. "Dan soal 'level' yang kamu bicarakan..."

Justin menoleh sekilas ke arah Liana yang matanya sudah berkaca-kaca, lalu kembali menatap Alena.

"Level seseorang tidak ditentukan dari berapa lama dia mengenalku, atau seberapa hebat prestasinya di matamu. Bagiku, Liana jauh lebih berharga daripada siapa pun yang hanya bisa menghina orang lain untuk menaikkan harga dirinya sendiri."

Seluruh mahasiswa di depan pintu menarik napas serentak. Ini adalah pengakuan paling telak yang pernah keluar dari mulut Justin Adhinata.

"Sekarang, keluar dari sini," perintah Justin dingin.

"Justin, kamu mengusirku?" Alena tidak percaya, air mata mulai menggenang di matanya.

"KELUAR!" bentak Justin, suaranya menggelegar memenuhi ruang UKS. "Jangan pernah injakkan kakimu di sekitar Liana lagi. Kalau aku dengar kamu menyentuhnya atau bicara buruk tentangnya lagi, aku sendiri yang akan pastikan kamu keluar dari UKM Tari dan tidak punya tempat di kampus ini. Pergi!"

Alena terisak, ia menutupi wajahnya dengan tangan dan berlari keluar ruangan, menabrak kerumunan mahasiswa yang menonton. Suasana mendadak riuh dengan bisik-bisik, namun satu tatapan tajam dari Justin ke arah pintu membuat semua mahasiswa itu langsung bubar dan lari tunggang langgang.

Ruangan kembali sunyi. Justin menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia kembali duduk di samping Liana, wajahnya perlahan melunak meski sisa-sisa amarah masih terlihat di rahangnya yang mengeras.

"Maaf," ucap Justin pelan, tanpa menatap Liana. "Gue nggak bermaksud bikin keributan di sini."

Liana menatap punggung tangan Justin yang masih terkepal. Ia merasa sangat sedih, namun di saat yang sama, ada rasa aman yang luar biasa. "Kak... Kakak nggak perlu sampai segitunya bela saya. Kak Alena... dia benar-benar suka sama Kakak."

Justin menoleh, menatap mata Liana yang sembab. Ia meraih tangan Liana yang mungil dan menggenggamnya perlahan—sebuah tindakan yang jauh dari sifat "Gunung Es"-nya selama ini.

"Gue nggak butuh orang yang suka sama gue tapi nggak bisa menghargai orang yang gue peduliin," jawab Justin tegas. "Sekarang, habisin buburnya. Gue nggak mau denger soal 'level' lagi. Di depan gue, lo itu Liana. Dan itu sudah lebih dari cukup."

Liana tersenyum di balik sisa air matanya. Sore itu, di ruang UKS yang sederhana, Liana menyadari bahwa Justin bukan hanya sekadar kapten yang dingin. Dia adalah pelindung yang siap melawan dunia demi dirinya.

1
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!