(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 117: Pasukan Penegak Darah
Asap hitam membubung tinggi menutupi bintang-bintang di atas Desa Pinus Merah, sebuah pemukiman fana yang berjarak dua puluh mil dari tembok Ibukota Kerajaan Zhao.
Seratus kultivator berjubah merah tua Pasukan Penegak Darah Klan Yao berjalan santai melintasi puing-puing rumah yang terbakar. Mereka rata-rata berada di tahap Qi Condensation (Pengumpulan Qi) Lapis 7 hingga Lapis 9. Di dunia fana ini, barisan seperti itu setara dengan seratus dewa perang yang tak terkalahkan.
Pemimpin mereka, seorang Kapten bertubuh gempal dengan kultivasi Awal Foundation Establishment (Pembentukan Fondasi), memutar pedang apinya dengan bosan.
"Bakar semuanya! Bunuh pria dan orang tuanya, kumpulkan wanita dan anak-anak ke tengah lapangan!" raung sang Kapten. "Tikus-tikus bayaran yang membunuh Tetua Gu pasti bersembunyi di sekitar sini. Jika mereka tidak keluar, kita akan menguliti fana-fana ini satu per satu!"
Jeritan memilukan bergema di malam hari. Puluhan Prajurit Lapis Baja Zhao yang ditugaskan menjaga desa itu telah dibantai tanpa ampun, tubuh mereka hangus oleh sihir api sebelum pedang fana mereka sempat diayunkan.
Di tepi desa, derap kuku kuda membelah kegelapan.
Putra Mahkota Zhao Tian tiba bersama lima ratus Kavaleri Elit Zhao. Wajah pemuda berusia 21 tahun itu dipenuhi amarah yang membara melihat rakyatnya dibantai.
"Bentuk formasi tombak! Pemanah, bidik kepala mereka!" teriak Zhao Tian, menghunus pedang bajanya. "Bahkan jika mereka dewa dari langit, kita akan menenggelamkan mereka dengan darah kita!"
Kavaleri fana itu menerjang maju tanpa rasa takut. Ratusan anak panah melesat menembus udara malam.
Namun, Kapten Klan Yao hanya tertawa meremehkan. "Serangga fana yang menyedihkan."
Ia mengangkat sebelah tangannya. Perisai Tungku Api! Dinding api raksasa setinggi lima meter tercipta dalam sekejap, membentang menutupi barisan kultivator Yao. Ratusan anak panah fana itu langsung menguap menjadi abu bahkan sebelum menyentuh api tersebut. Kuda-kuda kavaleri meringkik panik, menolak maju menembus dinding neraka itu.
"Bakar mereka semua!" perintah sang Kapten.
Belasan kultivator Qi Condensation Lapis 8 melangkah maju, memadatkan bola-bola api di telapak tangan mereka, bersiap menghapus kavaleri Zhao Tian dari muka bumi. Zhao Tian menggertakkan giginya, bersiap menyongsong kematian demi melindungi kerajaannya.
Namun, kematian yang turun dari langit malam itu bukan ditujukan untuknya.
WUSSH!
Dari balik bayangan pepohonan pinus yang terbakar, sebuah botol giok kecil melesat dengan kecepatan peluru, menabrak tepat di tengah-tengah barisan kultivator Klan Yao yang sedang memadatkan sihir api.
PRANG!
Bukan ledakan api yang terjadi, melainkan kepulan asap berwarna ungu pekat yang menyebar dengan kecepatan tidak wajar.
"Uhuk! Asap apa ini?!" Salah satu kultivator Yao terbatuk. Saat ia mencoba menyalurkan Qi apinya lagi, pembuluh darah di tangannya tiba-tiba menghitam dan meledak! "AAARGH! Qi-ku! Asap ini membakar meridianku!"
Di atas dahan pohon, Mu Bai, Pemimpin Paviliun Alkimia Sekte Langit Asura, menyesuaikan jubahnya. Ia baru saja melemparkan Pil Asap Pemakan Qi sebuah racikan fana yang dimodifikasi oleh Zhao Xuan. Semakin musuh menggunakan Qi di dalam asap itu, semakin cepat organ dalam mereka meleleh.
"Formasi mereka kacau. Paviliun Racun, giliranmu," bisik Mu Bai.
Di dalam kabut ungu yang membutakan kultivator Yao, terdengar suara tawa gadis kecil yang manis dan polos.
Xin'er, sang Pemimpin Paviliun Racun, menari-nari melintasi barisan musuh yang sedang batuk darah. Ia memegang dua buah pisau bedah kecil. Setiap kali ia melompat melewati seorang kultivator, pisau itu menggores urat nadi di pergelangan tangan atau leher mereka dengan sayatan setipis rambut.
"Satu, dua, tiga... selamat tidur, Paman Kultivator," senandung Xin'er. Racun pelumpuh saraf dari pisaunya langsung bekerja dalam tiga detik, membuat para kultivator itu jatuh ambruk tanpa suara, mati lemas di dalam kabut.
Melihat pasukannya kacau balau dan tumbang satu per satu, Kapten Klan Yao mengaum marah. Ia meledakkan aura Foundation Establishment-nya, meniup kabut ungu itu hingga bersih.
"Tikus-tikus bayangan! Keluar kalian!" raungnya, mengangkat pedang apinya. Ia melihat Xin'er yang sedang tersenyum manis di tengah mayat-mayat anak buahnya. "Mati kau, jalang kecil!"
Kapten itu melesat maju, mengayunkan pedangnya yang memancarkan panas mematikan ke arah Xin'er. Gadis itu tidak menghindar. Ia hanya melangkah mundur satu langkah.
BOOOOOOM!
Sebuah bayangan raksasa jatuh dari langit bagaikan meteor, mendarat tepat di antara Xin'er dan sang Kapten. Tanah terbelah, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan Kapten Klan Yao ke belakang.
Debu perlahan menipis, memperlihatkan Tie Ba, Pemimpin Paviliun Fisik. Remaja berotot itu bertelanjang dada, otot-ototnya memancarkan pendaran Qi Lapis 6 yang sangat padat. Ia bahkan tidak memegang senjata.
"Kau berteriak terlalu keras, Pria Tua," geram Tie Ba.
Kapten Yao membelalak. "Lapis 6 Qi Condensation berani menantang Foundation Establishment?! Aku akan memotongmu menjadi dua!"
Sang Kapten menerjang kembali dengan kekuatan penuh. Pedang apinya menebas leher Tie Ba. Namun, Tie Ba tidak menggunakan perisai Qi. Ia mengingat ajaran Seni Pembongkar Tulang Asura. Ia menyilangkan lengan bawahnya yang telah dikeraskan oleh latihan neraka, membiarkan pedang itu menebas dagingnya.
TRANG!
Pedang api spiritual itu tertahan oleh tulang lengan Tie Ba! Bau daging terbakar tercium, namun remaja raksasa itu bahkan tidak berkedip. Ia mencengkeram bilah pedang yang menyala itu dengan tangan kosong, mengabaikan rasa sakit yang membakar telapak tangannya.
"Kau tertangkap," Tie Ba menyeringai buas. Tangan kanannya ditarik ke belakang, memusatkan seluruh massa dan gaya kinetik, lalu meninju tepat di ulu hati sang Kapten dengan kekuatan yang meremukkan ruang.
KRAAAK!
Tulang rusuk Kapten itu patah melesak ke dalam. Ia memuntahkan darah segar, matanya nyaris keluar dari rongganya.
Di saat yang bersamaan, sisa lima puluh kultivator Yao yang selamat dari kabut racun mencoba mengepung Tie Ba.
"Bantu Kapten! Bunuh monster raksasa itu!" teriak mereka.
Namun, sebelum mereka bisa merapal mantra, sebuah kilatan cahaya perak yang sedingin es menyapu barisan depan mereka. Sepuluh kepala kultivator Yao terlepas dari lehernya dalam satu kedipan mata, darah menyembur seperti air mancur.
Di tengah hujan darah itu, Jian Yi, Pemimpin Paviliun Pedang, berdiri mematung. Di tangannya, pedang besi berkarat yang ia pegang kini memancarkan Niat Membunuh yang sangat tajam dan murni, warisan tak langsung dari Panglima Bayangan Jian Wuhen.
"Jalan pedang tidak membutuhkan kata-kata," gumam Jian Yi dingin. Ia melesat kembali ke dalam barisan musuh, pedang berkaratnya membelah perisai Qi musuh seolah memotong tahu basah. Niat pedangnya secara brutal memotong koneksi spiritual musuh sebelum menebas leher mereka. Tarian pembantaian yang elegan dan sunyi.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seratus kultivator elit Klan Yao telah berkurang menjadi kurang dari dua puluh orang yang kini melarikan diri dengan panik.
Kapten Yao, yang masih tersedak darah di bawah bayangan Tie Ba, mencoba merangkak mundur. Kengerian absolut menguasai jiwanya. Anak-anak remaja berpakaian hitam ini... mereka bukanlah manusia! Mereka adalah dewa kematian yang turun dari langit!
"K-Kalian... siapa kalian sebenarnya?!" rintih Kapten itu, mencoba mengambil pil penyembuh dari cincin penyimpanannya.
Namun, sebuah bayangan tiba-tiba terbentuk dari kegelapan tepat di belakangnya. Jue Ying, Sang Pedang dalam Kegelapan, Pemimpin Paviliun Assassin, berdiri dengan tenang.
Jue Ying tidak menggunakan pisau. Ia mengulurkan tangannya, dan seutas kawat tipis yang terbuat dari tendon Binatang Iblis melilit leher Kapten Yao dalam sekejap.
"Kami adalah bayangan yang akan menelan langit kalian," bisik Jue Ying, suaranya sedingin es.
CRASH.
Dengan satu tarikan memutar yang memanfaatkan sudut tulang, Jue Ying memisahkan kepala Kapten Foundation Establishment itu dari tubuhnya secara bersih.
Medan pertempuran mendadak hening.
Zhao Tian dan lima ratus kavaleri fana Kerajaan Zhao masih duduk di atas kuda mereka dengan mulut terbuka lebar, membeku dalam ketidakpercayaan. Mereka baru saja bersiap mati melawan seratus kultivator yang kebal senjata, namun lima remaja berpakaian hitam ini membantai para "dewa" itu dalam hitungan menit tanpa mengucapkan satu pun mantra sihir yang mencolok.
Jue Ying menendang kepala Kapten Yao ke arah Zhao Tian, membiarkannya menggelinding dan berhenti di dekat kaki kuda sang Putra Mahkota.
Zhao Tian menelan ludah, menatap kelima sosok bayangan bertopeng itu. "S-Siapa kalian? Mengapa kalian melindungi Kerajaan Zhao?"
Kelima Pemimpin Paviliun itu tidak menjawab. Mereka membalikkan badan, mengambil semua cincin penyimpanan musuh sebagai rampasan perang untuk Tuan mereka, lalu melompat ke udara, melebur ke dalam kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak. Hantu di atas medan perang.
Sementara itu, di sebuah paviliun yang terang dan hangat di dalam Istana Kerajaan Zhao.
Zhao Xuan sedang duduk bersila di depan sebuah papan catur kayu (Go). Di seberangnya, Zhao Ling sedang mengerutkan kening, menggigit bibir bawahnya sambil memegang sebuah bidak putih.
"Curang! Xuan'er, kau pasti memindahkan bidakku saat aku berkedip!" protes Zhao Ling, menunjuk papan catur di mana pasukan putihnya telah dikepung habis-habisan oleh bidak hitam Zhao Xuan.
Zhao Xuan menopang dagunya dengan tangan kiri, wajahnya memancarkan kepolosan yang mematikan. Di jari telunjuk kirinya, Cincin Jiwa Kuno berdenyut pelan, secara pasif menyerap energi kegelapan dari malam hari.
"Kak Ling saja yang terlalu lama berpikir," jawab Zhao Xuan datar. Tangannya bergerak mengambil satu bidak hitam lagi, dan meletakkannya tepat di titik buta formasi Zhao Ling.
Tuk.
Bidak hitam itu tidak hanya mematikan raja putih di papan catur, tetapi di saat yang sama, pikiran Zhao Xuan yang terhubung secara spiritual dengan Jue Ying menerima laporan bahwa Kapten Klan Yao di medan perang telah dipenggal.
Zhao Xuan mengukir senyum tipis di balik cangkir tehnya. Klan Yao... kalian pikir dunia fana ini adalah papan permainan kalian? Di tanah ini, hanya ada satu pemain yang memegang bidak hitam. Dan aku tidak akan membiarkan satu pun bidak putih kalian bertahan hidup.