Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: "KOTA TERSAMAR YANG HILANG"
Matahari sudah mulai menyinari hamparan desa yang kini terlihat lebih ramai dari biasanya. Mira yang sedang membantu ibu menjual ikan di pasar pagi, tiba-tiba merasa ada pasangan mata yang mengawasinya dari jauh. Dia tahu itu bukan Jaka – karena teman sekaligus mitra petualangannya itu sedang mencari informasi tambahan tentang prasasti di kota.
“Sini, nak. Dapat uang buat kamu yang mau beli buku tulis baru,” ujar Ibu Siti sambil menyerahkan beberapa koin ke tangan Mira. “Terus nanti jangan lupa bawa pulang ikan yang segar ya?”
Mira mengangguk sambil menyembunyikan ekspresi khawatir di balik senyumnya. Setelah mengantar ibunya pulang, dia segera bergegas ke arah hutan dekat situs candi yang dulunya menjadi tempat berkumpulnya para budak kerajaan. Jaka sudah ada di sana, memegang selembar peta kuno yang baru saja dia dapatkan dari seorang pemuka masyarakat lokal.
“Mira, lihat ini!” teriak Jaka sambil mengangkat peta itu. “Ini bukan hanya peta pelabuhan biasa – katanya ada sebuah kota tersamar di baliknya. Sejarah menyebutnya Kota Tersamar Kerajaan Panjalu, yang hilang setelah kerajaan itu ambruk karena perselisihan kekuasaan.”
Mira mendekat dan melihat peta dengan cermat. Di sudut kanan bawah peta ada gambar istana kecil yang mirip dengan bangunan yang pernah dia lihat di mimpi. “Jaka, ini… ini seperti tempat yang aku lihat saat nonton wayang kulit sama Kakek dulu lho,” bisiknya pelan.
“Betul kan? Aku juga merasa ada hubungan,” ucap Jaka sambil menggaris bawahi bagian tertentu pada peta. “Menurut catatan yang aku temukan di perpustakaan kerajaan, kota tersamar itu punya sistem pertahanan khusus. Ada cerita bahwa siapa pun yang mencoba masuk tanpa izin akan menghadapi ujian dari penjaga kota yang tak terlihat.”
Sementara itu, di kediaman Raden Wijaya, seorang wanita bernama Dewi Sartika datang membawa kabar. “Pak, mereka sudah menemukan lokasi awal kota tersamar itu. Tapi ada masalah – ada kelompok lain yang juga menyadarinya dan sudah mulai merusak situs candi di sekitarnya untuk mencari barang berharga.”
Raden Wijaya menjepit tangan dengan marah. “Aku tidak akan biarkan mereka mengambil apa pun yang menjadi hakku! Siapkan semua orang – kita akan pergi langsung ke lokasi itu sebelum mereka menyelesaikan pekerjaan jahatnya.”
Di sisi lain, Mira dan Jaka sedang berjalan menyusuri sungai kecil yang mengarah ke arah hutan belantara. Suara dedaunan yang bergesekan dan suara sungai menjadi irama perjalanan mereka. Sampai pada saat mereka menemukan sebuah gerbang batu yang tertutup lumut, dengan tulisan kuno di atasnya: “Hanya mereka yang memiliki hati bersih yang bisa memasuki Kota Tersamar.”
“Jaka, lihat itu!” teriak Mira sambil menunjuk ke gerbang itu. “Ini pasti jalannya masuk ke kota tersamar!”
Keduanya berjalan dengan hati-hati melalui gerbang. Di dalam, mereka menemukan reruntuhan bangunan yang masih berdiri kokoh di beberapa bagian – ada istana kecil dengan atap berlapis emas, juga ruangan yang penuh dengan barang-barang kuno seperti perhiasan dan buku sejarah.
Tiba-tiba suara langkah kaki keras terdengar dari kejauhan. “Kamu berdua tidak seharusnya berada di sini!” teriak seorang pria mengenakan baju kerajaan kuno yang tampak seperti pemuka daerah. “Saya adalah Raden Kertanegara, keturunan terakhir dari kerajaan yang sah. Semua yang ada di sini adalah milik keluarga saya!”
Mira dan Jaka saling menatap, menyadari bahwa mereka telah terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan…
(Akhir Episode 4)