Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reinkarnasi
Sunyi lagi.
Sunyi yang terasa berat.
Onad sulit percaya pada apa yang baru saja diungkapkan Dewa Kegelapan. Satu kejutan lagi. Tadi soal melawan Dewa Iblis, sekarang soal pendahulunya yang membunuh para Manusia atau Pahlawan Terpilih dari Dewa lain.
Mendengar itu saja sudah membuatnya menyesal setuju pada tawaran ini. Kini ia paham kenapa seluruh dunia Solmara mengeluarkan perintah bunuh di tempat bagi siapa pun yang mengikuti atau menyembah Dewa Kegelapan, lalu memusnahkan mereka tiga abad lalu.
Manusia terpilih pendahulunya telah menjadikan seluruh dunia sebagai musuh. Dan sekarang, ia ikut terseret.
“Oi. Bilang itu bohong. Bercanda lo enggak lucu.”
Onad masih belum bisa menerima kenyataan. Wajar saja. Setiap gereja atau kekaisaran pasti menjunjung tinggi para Pahlawan Terpilih yang menjalankan perintah Dewa mereka, memperlakukan mereka dengan hormat dan perlindungan penuh.
Lalu tiba-tiba, sebelas Pahlawan dibunuh oleh satu orang yang memiliki misi yang sama?
Tak heran semua penguasa dunia, meski saling bermusuhan, bersatu untuk membasmi pelaku dan siapa pun yang terkait dengannya. Itulah sebabnya Dewa Kegelapan dan para pengikutnya dihapus dari sejarah tiga ratus tahun lalu.
“Berarti, begitu gue masuk ke dunia lo dan identitas gue sebagai Manusia Terpilih ketahuan, gue bakal langsung dibunuh, kan?” tanya Onad dengan wajah muram.
Rasanya seperti baru saja mencapai puncak gunung, lalu terjatuh ke dalam kawah gunung berapi.
“Sial, nasib apes gue enggak hilang-hilang, bahkan di kehidupan kedua,” gumamnya putus asa. Dan ia tetap tak punya pilihan. Menolak berarti terjebak selamanya di Batas Dunia.
“Sekarang gimana? Gimana caranya gue bunuh Dewa Iblis? Lo barusan naikin tingkat kesulitannya dari mode neraka jadi mode mustahil. Ini udah di luar batas. Punya sepuluh nyawa pun gue enggak yakin bisa,” kata Onad lesu.
Kalau ia masih punya tubuh, mungkin ia sudah menangis.
“Tentu saja kau harus menyembunyikan fakta itu. Setidaknya sampai kau cukup kuat untuk menghadapi seluruh dunia sendirian,” jawab Dewa Kegelapan seakan itu hal biasa.
Onad memutar mata.
Menghadapi seluruh dunia sendirian?
Gampang banget, ya.
Apa dia harus hidup seperti buronan?
Seperti pencuri yang terus diburu ke mana pun dia pergi?
“Tenang. Aku punya cara untuk menyembunyikan kedatanganmu. Para Dewa dan pengikut mereka tidak akan bisa mendeteksinya. Lagi pula, hancurnya tubuh aslimu justru menjadi keuntungan bagi kita,” lanjut Dewa Kegelapan, mencoba menenangkan Onad yang tampak hampir menyerah lagi.
“Maksud lo apa? Apa hubungannya sama tubuh asli gue?” tanya Onad.
“Semua pemanggilan oleh para Dewa lain dilakukan lewat upacara besar dengan ratusan penyihir yang terlibat. Bahkan di dunia kami yang penuh energi sihir, menembus Penghalang Dunia dan untuk memanggil seseorang pun membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar. Lonjakan energinya bisa terdeteksi hingga radius sepuluh kilometer. Karena itu, setiap pemanggilan selalu tercatat. Selain itu, mereka datang bersama tubuh asli mereka. Tidak sepertimu, yang tubuhnya sudah menjadi debu saat mati.”
Dewa Kegelapan menjelaskan panjang lebar, menyadari Onad sama sekali tidak memahami cara kerja dunia Solmara.
Dewa Kegelapan melanjutkan, “Dan fakta bahwa akulah yang memanggilmu juga jadi faktor utama. Dewa lain sama sekali tidak bisa memanggil jiwa orang mati dari dunia lain. Hanya aku yang mampu, karena aku adalah manifestasi Kematian dan Kegelapan. Membawa jiwa orang yang sudah mati itu perkara sepele bagiku. Para Dewa lain paling jauh hanya bisa membuka sedikit Batas Dunia dan mengintip dunia yang ingin mereka jadikan sumber Manusia Terpilih.”
Senyum puas terbit di wajahnya, jelas menikmati keunggulan itu.
“Terus … gue masuk ke dunia lo tanpa tubuh, gimana ceritanya? Jangan bilang gue ke sana dalam wujud begini. Kayak Casper?” tanya Onad.
“Tentu saja kita harus membuatkan tubuh baru untukmu. Atau aku bisa langsung memasukkan jiwamu ke tubuh seseorang yang baru mati beberapa jam lalu. Pilih saja.”
Dewa Kegelapan berbicara santai, seakan ini urusan biasa.
“Tunggu. Lo tadi bilang manusia dari dunia gue punya kecocokan tertinggi sama sihir di dunia lo. Tapi kalau gue masuk pakai tubuh baru atau numpang tubuh orang lain, bukannya gue tetap cuma orang biasa? Bakal lebih lemah dari Pahlawan lain, kan?” tanya Onad.
“Tidak juga. Aku sudah meneliti hal ini selama puluhan tahun. Yang menentukan bukan tubuh fisikmu, melainkan jiwamu. Dibandingkan penduduk dunia kami, jiwa kalian bersinar terang seperti matahari. Bukan cuma itu, jiwa kalian bisa menyerap dan mengumpulkan energi sihir serta energi alami seiring waktu. Karena itu kalian berpotensi mencapai tingkat setengah dewa. Tubuh fisik hanyalah wadah.”
Penjelasan itu membuat Onad mulai berpikir serius.
“Hmm ... Lo beneran bisa bikin tubuh gue dari nol? Gue enggak bakal jadi mayat hidup atau kerangka jalan-jalan, kan?” tanyanya hati-hati. Ia tak mau begitu muncul langsung dibunuh karena terlihat seperti monster. Itu bukan kematian tragis, itu bahan tertawaan.
“Menurutmu kau sedang bicara dengan siapa? Walau aku bukan Dewa Kehidupan, aku punya kemampuan itu. Aku bahkan bisa membuat tubuh sesuai keinginanmu. Warna, tinggi, bentuk, apa pun. Aku ahli dalam hal ini.”
Dewa Kegelapan terdengar bangga, seakan sedang memamerkan bakat terpendam.
Sesaat kemudian, ekspresi Onad berubah. Matanya membelalak, lalu senyum tipis yang serakah muncul di wajahnya.
Ini berarti ia bisa memiliki tubuh ideal yang dulu hanya bisa ia impikan. Tubuh seperti dewa Yunani atau aktor film superhero yang selalu ia kagumi.
Namun ia menahan ekspresinya dan pura-pura berpikir tenang.
“Kalau opsi kedua? Kalau gue masuk ke tubuh orang lain, gue bakal dapet ingatan dia?” tanyanya lagi.
“Tidak. Ingatan terikat pada jiwa. Begitu seseorang mati dan jiwanya pergi, tak ada lagi kesadaran yang tersisa di tubuh itu. Jadi kau tidak akan mewarisi ingatan pemilik sebelumnya. Namun kau tetap akan terikat pada masa lalu dan orang-orang yang mengenalnya. Dan karena kau tak bisa mengaku bahwa kau orang lain, kau harus memainkan perannya. Meski begitu, ada keuntungannya. Aku bisa menempatkanmu di tubuh seseorang yang berpengaruh. Bangsawan, bahkan Kaisar, jika kebetulan ada pilihan. Jadi pikirkan baik-baik.”
Dewa Kegelapan berhenti bicara dan membiarkan Onad merenung.