Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diagnosa Dr
Kehebohan di Hotel Melati itu berakhir saat dua orang satpam mendobrak pintu kamar 204. Mereka menemukan Bimo tergeletak di lantai, mengerang seperti binatang yang sekarat, dengan tangan mencengkeram area selangkangannya. Namun, saat mereka mencoba menolong, ada sesuatu yang janggal. Bau busuk yang tadi memenuhi ruangan seolah menguap dalam sekejap begitu pintu terbuka.
"Mas! Mas kenapa?!" teriak salah satu satpam sambil membopong tubuh Bimo yang lemas.
Bimo tidak bisa menjawab. Ia hanya menunjuk-nunjuk ke bawah dengan mata melotot. Dalam pandangannya, ulat-ulat itu masih menggeliat, memakan jaringan kulitnya hingga terlihat tulang. Namun, saat satpam melihat dan membuka paksa celana Bimo mereka tidak melihat keanehan.Dengan suruhan manager hotel,tidak lama kemudian mobil ambulans datang ,Bimo di tandu masuk ke dalam mobil .Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, mereka saling berpandangan heran.Melihat Bimo merasa kesakitan.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Kulit Anda mulus, tidak ada luka, tidak ada ulat," ucap petugas medis dengan dahi berkerut.
Bimo berteriak, "KAMU BUTA?! LIHAT ITU! MEREKA MAKAN AKU!"
Tetapi di mata orang lain, alat vital Bimo tampak sehat sempurna. Tidak ada darah hitam, tidak ada nanah, apalagi belatung.
Diagnosa yang Membingungkan
Di ruang instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat, Bimo diperiksa secara menyeluruh. Dokter spesialis bedah dan penyakit dalam didatangkan. Mereka melakukan tes darah, rontgen, hingga pemeriksaan fisik yang sangat detail.
"Hasilnya bersih, Mas Bimo," ujar dokter sambil menunjukkan layar monitor. "Tidak ada infeksi, tidak ada parasit, bahkan iritasi ringan pun tidak ada. Tekanan darah Anda sedikit tinggi, mungkin karena serangan panik atau pengaruh alkohol ."
Bimo menatap ke bawah dengan gemetar. Saat ia melihat sendiri, tiba-tiba pemandangan mengerikan itu hilang. Kulitnya kembali normal. Luka-luka yang tadi menganga seolah hanyalah sisa mimpi buruk yang menguap terkena cahaya lampu RS yang terang benderang.
"Tapi tadi... tadi saya lihat sendiri, Dok. Baunya busuk sekali," bisik Bimo, suaranya bergetar hebat.
"Mungkin itu halusinasi akibat kelelahan luar biasa atau zat kimia dari minuman yang Anda konsumsi. Kami akan berikan obat penenang. Saran saya, Anda pulang dan istirahat," pungkas sang dokter.
Kepulangan yang Sunyi
Pukul empat pagi, Bimo sampai di kontrakannya dengan taksi. Langkahnya lunglai. Ia masuk ke dalam kamarnya yang berantakan, segera mengunci pintu, dan langsung menuju cermin besar di sudut ruangan.
Dengan tangan gemetar, ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Ia memperhatikan setiap inci tubuhnya di bawah lampu neon yang berkedip. Bersih. Tidak ada ulat. Tidak ada bau bangkai. Semuanya kembali seperti semula, seolah kejadian di hotel itu hanyalah sebuah sandiwara gila yang dimainkan oleh otaknya sendiri.
"Hanya ilusi... iya, itu pasti hanya halusinasi," gumam Bimo, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Mungkin aku terlalu stres karena Ratih minta uang itu. Sialan, perempuan itu hampir bikin aku gila."
Bimo merebahkan tubuhnya di kasur. Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya. Meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan, kelopak matanya terasa sangat berat. Ia mulai tenggelam dalam kantuk, berharap saat bangun nanti, semua kegilaan ini akan benar-benar hilang.
Namun, Bimo tidak tahu bahwa santet ulat sengkolo milik Mbah Suro tidak bekerja di ranah medis. Ia bekerja di antara batas kewarasan dan kegelapan. Penyakit itu akan menghilang saat ada orang lain yang melihat, namun akan kembali lebih ganas saat sang korban sendirian terutama saat dia bernafsu.
Mimpi di Gerbang Neraka
Kegelapan menyergap kesadaran Bimo. Ia merasa dirinya sedang berjalan di sebuah lorong yang tak berujung. Lantainya bukan terbuat dari ubin, melainkan dari tumpukan potongan badan manusia dan berbau busuk.
Semakin ia berjalan, bau busuk itu berubah menjadi bau amis darah. Di ujung lorong, ia melihat sebuah pelaminan megah. Di atasnya, duduk seorang pengantin wanita dengan kebaya putih bersih. Wajahnya tertutup kerudung tipis.
"Ratih? Itu kamu?" panggil Bimo.
Pengantin itu berdiri, berjalan perlahan mendekati Bimo. Langkahnya tidak bersuara. Saat jarak mereka hanya satu meter, pengantin itu membuka kerudungnya.
Bimo terpekik. Itu bukan wajah Ratih yang lembut. Wajah wanita itu hancur separuh, dipenuhi ulat yang merayap keluar dari lubang matanya. Dari mulutnya, keluar ribuan belatung putih yang berjatuhan ke lantai.
"Ini mahar yang kamu minta, Bimo," suara wanita itu terdengar seperti ribuan serangga yang beradu. "Kamu minta keringatku, kamu minta hidupku... sekarang, terimalah aku."
Wanita itu memeluk Bimo dengan erat. Bimo mencoba berontak, tapi tangan wanita itu berubah menjadi akar-akar pohon yang berduri, mengikat tubuh Bimo hingga ia tidak bisa bernapas. Tiba-tiba, area selangkangan Bimo terasa meledak. Rasa panas yang ribuan kali lebih hebat dari kejadian di hotel tadi menyerang.
Dalam mimpi itu, Bimo melihat tubuhnya sendiri terbelah. Dari dalam perutnya, keluar ulat-ulat raksasa sebesar lengan manusia. Ulat-ulat itu memiliki wajah yang mirip dengan wanita-wanita malam yang pernah ia tiduri. Mereka mulai menggerogoti tubuh Bimo mulai dari bawah.
"Ampun, Ratih! Ampun!" teriak Bimo dalam mimpinya.
"Tidak ada ampun untuk mu," bisik bayangan Ratih.
Bimo tersentak bangun dengan teriakan yang tertahan di tenggorokan. Keringat dingin membanjiri kasurnya hingga basah kuyup. Ia duduk terengah-engah, jantungnya berdegup seperti genderang perang, mencoba mencerna mimpi buruk yang baru saja mencabik kesadarannya.
Ia segera menyibak selimut, memeriksa area selangkangannya dengan napas memburu.
"Normal..." bisiknya tidak percaya.
Kulitnya bersih. Tidak ada ulat, tidak ada nanah, bahkan rasa panas yang tadi membakarnya di hotel kini hilang tak berbekas. Semuanya tampak stabil. Bimo menyentuh kulitnya sendiri; terasa nyata, terasa sehat. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Benarlah kata dokter, ini hanya masalah saraf dan stres.
Bimo tidak menyadari bahwa ulat sengkolo itu tidak sedang pergi. Mereka hanya sedang pasif. Makhluk gaib itu bersembunyi di dalam aliran darahnya, tertidur di sela-sela urat sarafnya, menunggu satu pemicu utama untuk bangkit kembali: Syahwat.
-----------
Pukul sepuluh pagi, Bimo mencoba menjalani aktivitas seperti biasa. Ia merasa lebih baik, bahkan rasa gatalnya hilang total. Karena merasa sudah "sembuh", sifat aslinya kembali muncul. Ia merasa jumawa. Pikirannya mulai melayang pada kejadian semalam di hotel. Ia merasa rugi karena sudah membayar mahal tapi belum sempat "menikmati" Cindy.
Bayangan lekuk tubuh Cindy mulai menari-nari di benaknya. Hanya sekelebat pikiran kotor, namun itu sudah cukup.
Zrett...
Bimo mematung. Sebuah rasa geli yang tajam menjalar dari dalam pangkal pahanya. Ia mencoba mengalihkan pikiran, namun bayangan wanita malam itu justru semakin menguasainya. Semakin Bimo membayangkan kemolekan tubuh wanita, semakin darahnya berdesir ke bawah.
Dan saat itulah, "pesta" dimulai kembali.
Di bawah kulitnya yang tadi mulus, tiba-tiba muncul benjolan-benjolan kecil yang merayap cepat. Bimo mengerang, ia segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia melucuti celananya dan melihat kengerian itu bangkit dari tidurnya.
Ulat-ulat itu tidak muncul dari luar, mereka meletus dari dalam dagingnya. Mereka seolah-olah tercipta dari darah Bimo yang terpompa oleh nafsu. Selama Bimo merasa terangsang, ulat-ulat itu akan membesar, memanjang, dan mulai menggerogoti saraf sensitifnya dengan rakus.
"Aaaakh! Ampun! Jangan sekarang!" jerit Bimo sambil menyiramkan air dingin ke tubuhnya.
Anehnya, begitu rasa sakit yang luar biasa itu datang, gairah Bimo seketika padam karena ngeri. Dan begitu nafsunya hilang, ulat-ulat itu mendadak diam. Mereka perlahan-lahan menyusup kembali ke dalam pori-pori, luka-luka melepuhnya menutup dengan sendirinya seolah ditarik oleh kekuatan gaib, menyisakan kulit yang tampak normal kembali meski menyisakan trauma mental yang hebat.
Bimo terduduk lemas di lantai kamar mandi yang basah. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada kematian: Ia dikutuk untuk tidak bisa lagi membedakan mana ilusi dan kenyataan.
Mata di Balik Gorden
Di seberang sana, dari balik jendela kosnya yang remang, Ratih menyesap kopi hitamnya. Bimo yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, memegang dinding untuk menjaga keseimbangan.
Ratih tersenyum puas. Ia tahu persis bagaimana sistem kerja santet yang ia pesan. Ia sengaja tidak meminta hukuman yang langsung mematikan. Ia ingin Bimo tersiksa dalam waktu yang lama.
"Kamu suka wanita, kan, Bimo? Kamu suka bersenang-senang dengan uangku, kan?" gumam Ratih dengan nada dingin. "Sekarang, setiap kali kamu menginginkan wanita, kamu akan mendapatkan mautmu sendiri. Kamu akan hidup dalam penjara tubuhmu sendiri sampai kamu gila."
Ratih meletakkan cangkirnya. Ia akan terus berada di sini, menjadi saksi bagaimana seorang pria yang dulunya gagah dan sombong, perlahan-lahan akan hancur kewarasannya karena takut pada pikirannya sendiri.
Bimo kini berada di neraka ciptaannya. Sebuah neraka di mana nafsu adalah bensin yang membakar dirinya sendiri, dan ulat-ulat sengkolo itu adalah algojo abadi yang tidak akan membiarkannya merasa nikmat sedikit pun.