Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvira Dan Viona
Flashback On...
Tahun 2072 – Interior Sayap Barat Kekaisaran Arcania.
Suasana hutan terlarang yang lembap dan gelap kontras dengan kemegahan istana yang baru saja mereka tinggalkan. Napas Elvira dan Viona tersengal, namun tawa kecil masih terselip di sela pelarian mereka.
Viona terkekeh sambil menyeka keringat."Kau gila, El. Benar-benar gila. Kau lihat wajah Arthur tadi? Dia tampak seperti ingin menelan pedangnya sendiri saat tahu kau kabur lewat ventilasi dapur. Aku bertaruh satu keping emas, Vans sekarang sedang menangis frustrasi di perpustakaan."
Elvira menyeringai nakal, matanya berbinar. "Biarkan saja! Mereka terlalu kaku, Vi. Arcania ini terlalu mewah untuk hanya didiami sambil membaca buku sejarah yang membosankan. Lagipula, bukankah ini menyenangkan? Udara hutan jauh lebih segar daripada bau parfum mahal para pria konglomerat itu."
Viona menggelengkan kepalanya. "Menyenangkan sampai mereka berhasil menangkap kita dan aku dihukum membersihkan kandang kuda selama sebulan. Kau tahu, El, posisi sebagai sahabat Putri Mahkota itu berisiko tinggi bagi kesehatan jantungku."
Tiba-tiba, sebuah auman keras menggetarkan tanah di bawah kaki mereka. Burung-burung terbang menjauh. Langkah keduanya terhenti seketika. Atmosfer berubah mencekam.
Elvira berbisik, ekspresinya berubah serius. "Viona... itu bukan suara prajurit istana."
Wajah Viona mengeras, tangannya bergerak cepat mencabut pedang dari sarungnya dengan bunyi 'sring' yang tajam. " Aku tahu. Itu predator. Dan sepertinya dia tidak suka kita masuk ke wilayahnya tanpa izin."
Elvira mengangkat tangannya ke udara. Cahaya biru elektrik mulai berderak di ujung jarinya, memadat, dan membentuk bilah pedang transparan yang memancarkan aura magis. "Bagus. Aku bosan berlatih dengan manekin kayu di istana. Mari kita lihat apakah sihir Arcania-ku bisa mengimbangi insting bertarung mu yang luar biasa itu."
Viona memperbaiki kuda-kudanya, mata tajamnya memindai semak-semak."Tetap di belakangku, Putri. Kekuatan sihirmu mungkin hebat, tapi harimau tidak peduli pada gelar bangsawan mu. Jangan sampai aku harus menyeret tubuhmu kembali ke hadapan Arthur dan Vans dalam keadaan lecet."
Elvira tersenyum tipis, pedang sihirnya bersinar makin terang. "Simpan bicaramu, Viona. Bersiaplah... dia datang!"
ROAAARRRR!
Pertarungan pecah. Elvira melesat dengan tebasan sihirnya yang membelah kegelapan, sementara Viona bergerak seperti bayangan, menebas setiap ancaman dengan presisi seorang petarung sejati
Dengan satu sentakan kuat, Elvira mengalirkan listrik ke kakinya. Tubuhnya melesat bagai kilat, meninggalkan jejak tanah yang hangus. Dalam sekejap, pedang sihirnya menebas udara, memenggal ancaman pertama dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata. Di sisi lain, Viona bergerak dengan kelincahan yang mematikan, menangkis cakar-cakar tajam dan membalas dengan tusukan yang efisien.
Elvira terus bergerak lincah di antara gerombolan harimau. "Viona! Sepuluh lagi di arah jam dua! Mari kita lihat siapa yang paling banyak menjatuhkan mereka hari ini!"
Viona tertawa kecil. "Taruhannya adalah jatah makan malammu untukku selama seminggu!"
Udara berbau hangus dan debu. Elvira berdiri di tengah lingkaran harimau yang tumbang dengan percikan listrik masih menari-nari di ujung jari kakinya. Di sisi lain, Viona menyarungkan pedangnya setelah melakukan gerakan akrobatik terakhir yang mematikan.
Napas Elvira terengah namun puas. "Lima. Tepat sasaran. Kepala mereka bahkan tidak sempat menyadari apa yang menebasnya."
Viona mengatur napas, menatap sisa-sisa pertarungan."Satu, dua... lima juga. Hasil yang seimbang, Tuan Putri. Sepertinya aku gagal mendapatkan jatah makan malam."
Elvira dan Viona duduk bersandar pada sebuah pohon besar, napas mereka masih memburu. Di sekeliling mereka, jasad para harimau hutan terlarang tergeletak kaku. Elvira menyeka percikan darah di pipinya, sementara sisa-sisa petir kecil masih sesekali memercik di ujung jemarinya sebelum menghilang.
Elvira tertawa lepas hingga bahunya terguncang. "Lihat wajahmu, Vion! Kau hampir saja kehilangan kuncir rambutmu karena cakaran terakhir tadi. Kalau itu terjadi, aku tidak yakin kau bisa tetap terlihat 'keren' di depan para prajurit pengawal."
Viona terkekeh sambil menyarungkan pedang peraknya dengan suara klik yang tajam. "Sialan kau, El. Harusnya kau khawatirkan saudaramu. Arthur dan Vans pasti sedang menangis di bawah kaki ayahmu sekarang, bingung harus mencarimu ke lubang sembunyi mana lagi. Kau benar-benar tega membuat dua pria itu jadi bahan lelucon istana setiap minggu."
Elvira menatap langit hutan yang tertutup rimbun daun. "Biarkan saja. Mereka terlalu kaku. Istana itu... terlalu kecil untukku, Vion. Dinding emas dan karpet bulu mahal itu rasanya seperti penjara yang disepuh. Di sini, dengan pedang sihir di tanganku dan kau di sampingku, aku merasa benar-benar menjadi seorang Putri Mahkota yang bebas."
Ekspresi Viona melunak, ia menatap lurus ke depan. "Kebebasan ini punya harga, El. Suatu saat nanti, kau tidak akan punya pilihan selain duduk di takhta itu. Arcania butuh pemimpin yang punya listrik di nadinya, bukan cuma di tangannya. Apa kau pernah membayangkan, sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, kita masih bisa duduk seperti ini? Lagi pula.. Putra Mahkota Arthur tidak menginginkan tahta itu dan lebih memilih bekerja di perusahaan.. Pangeran Vans sejak dulu lebih suka kebebasan."
Elvira terdiam sejenak, senyumnya menjadi lebih tenang dan serius. "Masa depan, ya? Kalo begitu... jika aku menjadi Pemimpin nanti, aku tidak ingin orang-orang melihatku sebagai patung cantik di singgasana. Aku ingin kita tetap seperti ini. Kau akan menjadi Panglima tertinggiku, orang yang paling tidak bisa aku kalahkan dalam hitungan jumlah mangsa. Kita akan membawa Arcania keluar dari lingkaran yang membosankan ini"
Viona tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya. "Panglima, ya? Kedengarannya melelahkan. Tapi, asalkan kau yang jadi Ratunya, kurasa aku tidak keberatan harus membasmi seribu harimau lagi untukmu. Tapi janji satu hal padaku, El..."
Elvira menoleh. "Apa itu?"
"Jangan pernah biarkan kemewahan Arcania memadamkan api liar yang ada di matamu hari ini. Tetaplah menjadi Elvira yang nakal, yang berani melompat ke hutan terlarang hanya demi mencari udara segar."
Elvira menyentuh bahu sahabatnya, matanya berbinar tekad "Aku janji. Dan kau... jangan pernah berhenti mengejekku saat aku mulai bertingkah membosankan. Karena di masa depan nanti, hanya kau yang berani melakukannya padaku.
Keduanya kembali tertawa kecil di tengah kesunyian hutan, tidak menyadari bahwa di kejauhan, suara teriakan Arthur dan Vans mulai terdengar memanggil nama mereka.
Arthur muncul tiba-tiba dari semak-semak dengan wajah merah padam dan pakaian yang kotor oleh ranting. "ELVIRA! VIONA!"
Vans berdiri di samping Arthur, memijat pelipisnya dengan ekspresi yang sangat frustrasi. "Demi Dewa Arcania... kalian berdua benar-benar ingin membuat kami mati muda karena serangan jantung? Ayahanda sudah siap memenggal kepala komandan penjaga karena kalian menghilang!"
Elvira melihat kakaknya, lalu menatap Viona, sebelum akhirnya meledak dalam tawa renyah. "Hahaha! Lihat wajah mereka, Viona! Arthur terlihat seperti baru saja melihat hantu, dan Vans tampak seperti orang yang belum tidur selama satu dekade!
Viona ikut tertawa keras, mengabaikan tatapan tajam kedua pria tersebut. "Maafkan kami, Putra Mahkota, Pangeran. Tapi harus kuakui, ekspresi kalian adalah hiburan terbaik yang kami dapatkan sepanjang hari ini!"
Flashback Off...
Kembali ke masa kini.. dimana kekacauan sadang terjadi di ballroom hotel. Dunia terasa melambat. Elvira berdiri di antara kekacauan pesta pernikahan yang seharusnya menjadi sejarah paling indah-- sekarang di penuhi jeritan dan pekik kan orang - orang.
Di tengah kekacauan, mata Elvira dan Viona terkunci.
Tatapan Elvira (Batin):
"Lihatlah dirimu sekarang, Viona. Di mana sahabat yang dulu berjanji akan menjadi pedangku untuk melindungi Arcania? Sekarang kau justru menjadi tangan yang menusuk jantung keluargaku?"
Tatapan Viona (Batin):
"Kau tidak mengerti, El. Arcania yang kau banggakan itu dibangun di atas kebohongan. Aku tidak mengkhianatimu, aku hanya memilih sisi yang benar. Meskipun itu berarti aku harus menghancurkan segala yang kau cintai."
Tatapan Elvira (Batin):
"Dulu kita menertawakan bahaya di hutan terlarang itu bersama-sama. Sekarang, aku hanya ingin tahu... apakah kau masih mengingat rasa tawa itu saat kau melihat darah keluargaku di tanganmu?"
Tatapan Viona (Batin):
"Tawa itu hanya sebuah topeng."
Elvira dan Viona yang dulu terikat janji setia, kini berdiri di sisi yang berseberangan sebagai musuh bebuyutan. Tak ada yang menduga bahwa dua wanita yang dulu menghancurkan kawanan harimau demi melindungi satu sama lain, kini harus saling mengarahkan ujung pedang ke leher masing-masing, terperangkap dalam jaring nasib yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan.
•
•
•
BERSAMBUNG