Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kalah
Keesokan harinya.
Suara dengungan halus kipas pendingin proyektor memecah keheningan tegang di Sekar Heritage.
Cahaya putih menyorot tajam ke dinding putih toko yang kini berfungi sebagai layar dadakan.
Arya, dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sebatas siku, baru saja selesai menyambungkan kabel HDMI dari laptop ke proyektor itu.
Wajahnya masih merah menahan amarah, tapi dia menuruti instruksi Sekar dengan patuh.
GKR Dhaning duduk di sofa beludru merah dengan kaki menyilang, menatap persiapan itu dengan ekspresi antara geli dan bosan.
Di sebelahnya, Kyai Ageng memutar-mutar tasbih kayu kokka, bibirnyakomat-kamit melafalkan doa pelindung diri.
"Apa ini, Sekar?" tanya Dhaning, nada suaranya menyeret malas.
"Kau mau memutar film dokumenter untuk mengulur waktu? Segel adat sudah siap dipasang di pintu depan."
Sekar berdiri di samping sorotan proyektor. Dia tidak tampak seperti pesakitan yang baru saja digeledah dan dipermalukan secara fisik.
Dia tampak seperti Profesor Dr. Sekar Ayu Prameswari yang sedang berdiri di podium konferensi internasional.
"Gusti Dhaning menuduh saya menggunakan ilmu hitam karena tubuh saya menjadi dingin dan tampak mati saat malam hari, bukan?" tanya Sekar tenang.
Dia menekan tombol clicker di tangannya.
Slide pertama muncul di dinding. Gambar diagram otak manusia dengan warna-warni aktivitas neuron.
"Dan Kyai Ageng bilang itu karena sukma saya pergi ke laut selatan?"
"Itu fakta spiritual!" sergah Kyai Ageng. "Hawa dingin itu tanda ketiadaan nyawa!"
Sekar tersenyum tipis.
Senyum yang tidak mencapai mata.
"Mari kita luruskan definisinya. Yang Gusti dan Kyai sebut 'mati suri' atau 'rogoh sukma', dalam dunia neurobiologi disebut sebagai Deep State Delta Wave Suspension."
Sekar menekan tombol lagi. Grafik gelombang otak muncul. Garis-garis zigzag yang melandai ekstrem.
"Manusia biasa tidur di fase Alpha atau Theta ringan, tapi saya..." Sekar menatap audiens VIPnya satu per satu.
"Saya melatih otak saya melalui teknik Self-Hypnosis tingkat lanjut untuk langsung masuk ke fase Delta dalam hitungan detik. Di fase ini, metabolisme tubuh turun 80% untuk efisiensi energi. Detak jantung melambat. Suhu tubuh turun. Persis seperti hewan yang sedang hibernasi."
"Teori," potong Dhaning dingin. Dia menunjuk layar dengan dagunya yang lancip.
"Siapapun bisa mengunduh gambar itu dari Google, Sekar. Kau pikir kami bodoh? Kau pikir istilah asing bisa menutupi bau kemenyan?"
"Justru itu, Gusti," jawab Sekar cepat. "Saya tidak meminta Gusti percaya pada gambar."
Sekar menoleh pada Arya.
"Gusti Arya, tolong hubungkan alat Bio-Feedback yang saya minta dari mobil Gusti tadi."
Arya mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah koper hitam berisi peralatan medis portable, milik pribadi Arya yang biasanya dipakai untuk memantau kesehatan jantung Sultan saat kunjungan kerja.
Ada monitor EKG, elektrokardiogram dan sensor suhu digital.
Tim dokter forensik Keraton yang dibawa Dhaning, termasuk Dr. Rina, terperangah. Mereka tidak menyangka "toko klenik" ini akan berubah menjadi laboratorium dadakan.
"Dr. Rina," panggil Sekar.
"Saya butuh saksi ahli yang kompeten. Silakan pasang elektroda ini ke tubuh saya. Anda yang periksa, Anda yang validasi."
Dr. Rina ragu sejenak, menoleh ke Dhaning.
"Lakukan," perintah Dhaning singkat. Matanya menyipit, mencari celah penipuan.
"Buktikan kalau 'hibernasi'-mu itu bukan alasan untuk menemui jin."
Sekar duduk di kursi kerja yang ditarik ke tengah ruangan.
Dr. Rina dan asistennya maju.
Dengan canggung, mereka menempelkan stiker elektroda di pelipis, dada, dan pergelangan tangan Sekar.
Kabel-kabel itu dihubungkan ke laptop, dan grafiknya diproyeksikan langsung ke dinding besar, bersebelahan dengan slide teori Sekar tadi.
Sekarang, seluruh ruangan bisa melihat detak jantung Sekar secara real-time.
Bip... bip... bip...
Grafik menunjukkan angka normal: 75 bpm, denyut per menit.
"Perhatikan baik-baik," suara Sekar memberat. "Saya akan memicu shutdown sistem saraf parasimpatis sekarang."
Sekar memejamkan mata.
Dia tidak membaca mantra.
Dia hanya menarik napas dalam.
Inhale... Hold... Exhale.
Dalam hitungan ketiga, Sekar mengaktifkan "pintu" di kesadarannya.
Dia masuk ke Ruang Spasial.
Di Dalam Ruang Spasial.
Sekar membuka mata dan menemukan dirinya sudah berdiri di atas tanah hitam subur di dalam dimensi pribadinya. Langit biru cerah menyambutnya.
Di sini, waktu adalah miliknya.
Dia tahu, 10 menit di dunia nyata sama dengan hampir 2 jam di sini.
Cukup untuk spa kilat.
Sekar berjalan menuju Mata Air Spiritual. Airnya jernih, memancarkan pendar kebiruan samar.
Dia tidak membuang waktu.
Sekar melepas pakaian luarnya, menyisakan pakaian dalam, dan merendam dirinya ke dalam kolam batu alam itu.
Sensasinya seperti disengat listrik statis ribuan volt, tapi tidak menyakitkan. Justru menyegarkan.
Air itu meresap ke dalam pori-pori. Membuang racun kortisol, memperbaiki mikrobioma kulit yang rusak akibat stres menghadapi Dhaning, dan melancarkan aliran darah.
"Analisis," batin Sekar.
Oksigenasi sel: 100%.
Tingkat kelelahan otot: 0%.
Vitalitas: Maksimal.
Sekar memejamkan mata, menikmati pijatan air. Di dunia nyata, orang-orang itu mungkin melihat grafik jantungnya melambat drastis. Biar saja mereka panik sedikit.
Setelah berendam selama satu jam, waktu ruang spasial, Sekar keluar. Kulitnya terasa kenyal, lembap, dan bersinar sehat. Bukan sinar berminyak, tapi glow dari dalam.
Dia berjalan ke gubuk kayu, mengambil satu botol kecil berisi ekstrak Ginseng Merah yang sudah dia distilasi minggu lalu.
Dia meminumnya sekali teguk.
Rasanya pahit, tapi efeknya instan. Panas menjalar dari lambung ke seluruh tubuh.
Matanya terasa terang benderang.
"Waktunya bangun," gumam Sekar.
Dia harus bangun tepat waktu.
Satu detik terlambat, Dhaning akan punya alasan untuk menyeretnya.
Sekar duduk bersila di atas tanah hitam. Memusatkan pikiran untuk kembali menyatu dengan tubuh fisik di toko.
Kembali ke Toko Sekar Heritage.
"Dokter! Detak jantungnya turun sampai 40 bpm!" seru asisten Dokter Rina, panik.
Suara monitor berbunyi pelan dan berjarak.
Bip......... bip.........
"Ini Bradycardia ekstrem!" Dr. Rina memucat. "Dia bisa henti jantung!"
Kyai Ageng tersenyum miring. "Lihat! Sukmanya ditarik paksa oleh Ratu Kidul! Dia tidak akan bangun!"
Dhaning condong ke depan, matanya berbinar licik. "Siapkan surat kematiannya. Tulis penyebabnya: gagal jantung akibat ritual sesat."
Arya sudah tidak tahan lagi. Dia melangkah maju, hendak mengguncang bahu Sekar.
Tepat saat tangan Arya berjarak satu inchi dari bahu Sekar...
Mata gadis itu terbuka.
Tidak ada kaget. Tidak ada napas terengah-engah seperti orang bangun dari mimpi buruk.
Dia membuka mata dengan tenang, seolah baru saja tidur siang.
Dan ruangan itu terdiam.
Sekar Ayu tampak... berbeda.
Jika 10 menit lalu dia terlihat lelah, pucat, dan tertekan, kini dia terlihat seolah baru pulang liburan sebulan di Swiss.
Matanya jernih tanpa urat merah sedikit pun.
Kulit wajahnya merona merah muda alami, lembap, dan segar.
Bahkan bibirnya yang tadi agak kering, kini tampak merah sehat.
Sekar menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dia menoleh ke arah monitor EKG.
Grafik yang tadinya lambat, kini melonjak naik ke angka normal 70 bpm dengan ritme yang sangat stabil dan kuat.
Bip. Bip. Bip. Bip.
Suara keteraturan. Suara kesehatan yang sempurna.
Sekar melepas elektroda di pelipisnya dengan gerakan anggun.
"Bagaimana, Dokter Rina?" tanya Sekar.
"Apakah ada grafik yang menunjukkan adanya intervensi roh jahat? Atau hanya grafik relaksasi parasimpatis?"
Dr. Rina menatap monitor, lalu menatap Sekar, lalu kembali ke monitor. Dia bingung. Secara medis, perubahan drastis dari kondisi hampir koma ke kondisi super-sehat dalam satu detik itu mustahil.
Tapi alat tidak berbohong.
"Tanda-tanda vital... sangat baik," gumam Dr. Rina, suaranya hampir tak terdengar. "Bahkan... lebih baik dari rata-rata atlet."
"Apa?" sembur Dhaning. Dia berdiri, menyambar kertas hasil cetak EKG.
Garis-garis tinta itu rapi. Tidak ada kekacauan ritme yang menandakan kerasukan.
"Ini trik!" tuduh Kyai Ageng, meski suaranya mulai goyah.
"Dia memakai susuk cair yang bereaksi dengan alat!"
Sekar tertawa kecil. Kali ini tawanya tulus, tawa seorang ilmuwan yang melihat orang purba bingung melihat api.
"Kyai, dengan segala hormat," Sekar berdiri.
Dia merasa sangat bugar, efek ginseng merah dari ruang spasial membuat otaknya bekerja sangat tajam.
"Hukum Termodinamika berlaku juga untuk tubuh manusia. Energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Saya mengonversi energi mental menjadi regenerasi sel."
Sekar berjalan mendekati Dhaning. Aroma tubuh Sekar kini berubah. Bukan lagi aroma pengharum toko, tapi aroma samar bunga padi dan ozon segar, aroma ruang spasial yang terbawa keluar.
Wangi itu begitu memikat, membuat Arya terpaku sesaat.
"Gusti Dhaning," kata Sekar lembut, tapi matanya menantang. "Jika kecantikan dan kesehatan saya dianggap kriminal, apakah Keraton akan memenjarakan semua orang yang rajin olahraga dan meditasi?"
Dhaning meremas kertas EKG itu hingga lecek.
Dia kalah.
Di atas kertas, dia kalah.
Di depan saksi mata, dia kalah.
Sekar tidak terlihat seperti pengabdi setan yang kesakitan. Dia terlihat seperti dewi kesehatan.
"Bersihkan semua ini," desis Dhaning pada bawahannya. Wajah cantiknya kaku menahan amarah.
"Tapi Gusti..." Kyai Ageng mencoba protes.
"Cukup!" bentak Dhaning.
Dia menatap Sekar dengan tatapan yang menjanjikan perang jilid dua.
"Kau lolos kali ini, 'Profesor'. Medis mungkin tidak bisa membuktikan dosamu. Tapi ingat, Keraton bukan laboratorium. Di sini, politik lebih tajam dari pisau bedah."
Dhaning menoleh pada Arya yang masih berdiri mematung di dekat laptop.
"Ayo pulang, Arya. Permainan anak-anak ini sudah selesai. Kanjeng Ibu menunggumu makan siang."
Arya menggeleng tegas.
"Mbakyu pulanglah duluan," suara Arya berat. "Aku harus membereskan kekacauan yang Mbakyu buat di toko calon istriku."
Dhaning mendengus, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi, diikuti Kyai Ageng dan tim medis yang membereskan alat dengan buru-buru.
Pintu toko tertutup.
Hening.
Sekar menghembuskan napas panjang. Kakinya sedikit goyah, bukan karena lelah fisik, tapi karena adrenaline crash.
"Calon istri?" tanya Sekar, alisnya terangkat sebelah, menatap Arya.
Wajah Arya memerah padam.
Dia baru sadar apa yang diucapkannya di depan kakaknya tadi.
"I-itu... strategi politik," kilah Arya salah tingkah, sibuk menggulung kabel proyektor.
"Supaya dia tahu posisimu kuat."
Sekar tersenyum tipis. Kali ini senyum tulus.
"Strategi yang bagus, Gusti, tapi lain kali, tolong konsultasikan naskahnya dulu dengan saya."
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄