Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pelabuhan kecil di ujung pantai timur itu berdiri tersembunyi di antara tebing-tebing tinggi dan batu karang tajam yang seperti taring raksasa. Ombak menghantam dinding karang dengan suara berat, menelan hampir semua bunyi kecil di sekitarnya.
Tempat itu memang dirancang untuk tersembunyi. Dan malam ini, tempat itu menjadi medan perang.
Malam turun tanpa bulan, sehingga membuat suasana gelap gulita. Ini sangat menguntungkan bagi Alecio dan anggota Serigala Hitam.
Di atas salah satu tebing, Alecio berdiri dengan teropong malam di tangan. Angin laut menerpa jas hitamnya, membuat ujungnya berkibar pelan.
Di bawah sana, beberapa kontainer besar berjajar. Truk-truk hitam terparkir rapi. Lampu sorot menyapu area bongkar muat.
“Mereka sudah mulai,” lapor Max pelan melalui alat komunikasi di telinganya.
Alecio mengamati sosok pria tinggi yang berdiri di dekat kapal kargo, Benio. Bahkan dari jarak jauh, aura percaya dirinya terasa.
“Ada sekitar tiga puluh orang bersenjata,” lanjut Max. “Sebagian di dekat kontainer, sisanya berjaga di sisi tebing.”
Alecio menurunkan teropongnya. “Sniper?” tanyanya.
“Sudah siap,” jawab salah satu anak buahnya yang berlutut tak jauh dari situ. “Kita menempati tiga titik. Angin terkendali dan jarak aman.”
Alecio mengangguk pelan. “Jangan tembak sebelum ada perintah. Kita hanya menutup jalur mereka.”
Alecio tidak ingin malam ini berubah menjadi pembantaian sepihak. Namun, ia juga tahu Benio tidak akan ragu membunuh.
Di sisi lain tebing, Patrick berjongkok di balik batu besar. Di sampingnya tergeletak tas hitam berisi beberapa bom berukuran sedang.
“Waktunya kita kerja,” gumam Patrick pelan pada dua orang anggota Serigala Hitam di sampingnya.
Mereka bergerak rendah, menyelinap mengikuti bayangan truk.
Sementara itu, Max dan enam orang lainnya bergerak dari sisi berbeda. Senjata otomatis sudah terisi penuh. Rompi antipeluru menempel ketat di tubuh mereka.
Alecio mengangkat tangan. “Mulai.”
Patrick dan timnya menyusup di antara kontainer. Dua penjaga sedang merokok tak jauh dari sana.
Salah satu anggota Serigala Hitam bergerak cepat, membekap mulut penjaga pertama. Sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya. Tubuh itu terkulai tanpa suara. Penjaga kedua bahkan tidak sempat menoleh sebelum diseret ke balik truk.
Patrick langsung berlutut di bawah kontainer pertama. Tangannya cekatan memasang bahan peledak dengan magnet kuat.
“Satu selesai.”
Mereka berpindah ke kontainer berikutnya. Lalu ke truk pengangkut.
Sementara itu, di area tengah pelabuhan, Benio tertawa puas. “Kirim pesan ke Amerika Latin,” katanya pada anak buahnya. “Kita kuasai jalur Asia sebelum akhir tahun. Afrika juga hampir bersih.”
“Pasar kita makin luas, Bos,” sahut salah satu anak buahnya bangga.
Benio menyeringai. “Serigala Abu-abu tidak terkalahkan.”
Di atas tebing, Alecio melihatnya jelas. Tangannya mengepal. Pria itu bukan hanya musuh bisnis. Dia adalah pembunuh keluarganya. Orang yang sudah membunuh ayah dan kakeknya.
“Bagaimana, Patrick?” bisik Alecio melalui alat komunikasi.
“Semua titik sudah terpasang,” jawab Patrick pelan. “Tinggal kau beri aba-aba.”
Alecio menarik napas dalam. Ia tahu setiap keputusan malam ini akan berujung darah. Ia hanya berharap bukan dari pihaknya.
“Semua unit, bersiap,” perintah Alecio.
Max dan timnya sudah berada di balik tumpukan peti kayu besar. Jarak mereka dengan musuh tak sampai lima belas meter. Keringat dingin membasahi pelipis.
“Sekarang,” ucap Alecio.
Satu detik hening. Lalu, “DUAARRR!”
Kontainer paling ujung meledak lebih dulu. Api membumbung tinggi, disusul dentuman kedua dan ketiga yang mengguncang tanah. Truk terangkat setengah badan sebelum jatuh dengan suara keras. Teriakan langsung pecah.
“Ada serangan!”
“Sniper! Cari posisi mereka!”
Benio membelalak marah. “Sialan! Siapa berani—?!”
Belum selesai ia berbicara, rentetan tembakan terdengar dari sisi kiri pelabuhan. Max dan timnya mulai bergerak.
Dor! Dor! Dor!
Peluru berdesing memecah pelabuhan tersembunyi itu. Anak buah Benio berhamburan mencari perlindungan. Beberapa langsung roboh terkena tembakan sniper dari atas tebing.
“Balas tembakan!” teriak salah satu anak buah Benio.
Suara peluru beradu dengan suara ombak dan ledakan kecil sisa bahan bakar. Percikan api memantul di permukaan kontainer logam.
Patrick melempar diri ke balik drum besi saat peluru menghantam tepat di tempat ia berdiri tadi. “Nyaris saja!” gerutunya.
Di sisi lain, Max menembak tepat ke arah pria yang hendak mengarahkan senjata ke arahnya. Tubuh itu terhuyung lalu jatuh.
Alecio turun dari tebing bersama dua orang pengawalnya. Senjata di tangannya bergerak presisi.
Dor!
Satu lawan tumbang.
Dor!
Lawan berikutnya terjatuh sambil berteriak kesakitan. Namun, Benio bukan pria yang mudah panik. Ia berdiri di tengah kekacauan, wajahnya penuh amarah.
“Ini pasti Alecio!” geramnya. “Serigala Hitam pengecut!”
Benio mengangkat senjata dan menembak ke arah tebing secara brutal. Peluru menghantam batu, memercikkan serpihan kecil.
Salah satu anggota Serigala Hitam berteriak kesakitan saat bahunya tertembak.
“Tahan posisi!” teriak Max.
Baku tembak semakin sengit. Suara jeritan bercampur dengan dentuman senjata. Bau mesiu dan asap memenuhi udara.
Alecio bergerak cepat, berpindah dari satu perlindungan ke perlindungan lain. Matanya terus mencari satu sosok Benio. Akhirnya pandangan mereka bertemu di antara kobaran api dan bayangan kontainer yang terbakar.
Waktu seolah melambat. Benio menyeringai sinis meski peluru beterbangan di sekelilingnya. “Aku tahu kau akan datang, anak kecil!” teriaknya lantang.
Alecio membalas dengan tatapan dingin. “Ini untuk ayahku,” gumamnya pelan.
Tembakan kembali pecah. Malam yang seharusnya sunyi berubah menjadi neraka kecil di tepi laut.
Di tengah kobaran api, dua serigala yang dipisahkan oleh darah dan dendam, bersiap menentukan siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan menjadi mayat berikutnya di atas pasir pantai timur itu.
***
Aku minta maaf, karya baru untuk bulan Ramadan belum bisa launching. Tanganku sakit terasa panas dan kebas.
Sambil menunggu update bab berikutnya, yuk baca juga karya temanku ini:
opor dan obor mmg 2 kata yg mirip pantas Patrick JD bingung 🤣🤣🤣
besok apalagi....
auto termehek-mehek tuh para mafioso....besok lebaran bersilahturahmi dari rumah ke rumah....dah gitu dapat suguhan segambreng....plus di suruh makan ketupa sayur...rendang dan kawan kawan.....😁