NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: KASET YANG TERLUKA

Hujan di Manchester tidak pernah benar-benar jatuh; ia hanya menggantung di udara, meresap ke dalam pori-pori kulit dan melapisi ingatan dengan rasa dingin yang abadi. Elara duduk di dalam mobilnya yang terparkir di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip di pinggiran Ancoats. Di tangannya, kaset tape cokelat itu terasa berat, seolah-olah seluruh beban sepuluh tahun perpisahan mereka telah dipadatkan ke dalam plastik kecil yang rapuh tersebut.

Ia memiliki pemutar kaset tua di laci dasbor mobilnya—sebuah fitur antik yang sengaja ia pertahankan saat membeli mobil ini, sebuah keputusan bawah sadar yang baru ia pahami alasannya malam ini. Dengan tangan yang masih gemetar karena dingin dan adrenalin, ia memasukkan kaset itu. Bunyi *klik* mekanis saat kaset terkunci terasa seperti suara kunci pintu penjara yang terbuka.

Detik-detik awal hanya diisi oleh suara desis statis. *Hiss... hiss...* Suara itu terdengar seperti napas lautan yang jauh. Elara menahan napas, matanya menatap kosong ke arah rintik hujan di kaca depan yang membiaskan cahaya lampu jalan menjadi ribuan kristal yang pecah.

Lalu, sebuah suara muncul. Bukan musik, melainkan rekaman lapangan. Suara hiruk pikuk Stasiun Piccadilly. Suara pengumuman keberangkatan kereta, deru mesin, dan langkah kaki ribuan orang yang terburu-buru. Di tengah kebisingan itu, terdengar suara napas seseorang yang sangat dekat dengan mikrofon.

"Hari ini tanggal 14 November 2014," suara Arlo muncul, terdengar lebih lelah daripada yang pernah Elara ingat. "Kereta pukul 18.05 baru saja berangkat. Elara ada di dalamnya. Aku berdiri di peron 4, dan aku bisa melihat bayangannya di jendela saat kereta itu mulai bergerak. Dia tidak menoleh. Aku tahu dia tidak akan menoleh, karena kalau dia melakukannya, dia tidak akan pernah bisa pergi."

Elara menutup mulutnya dengan telapak tangan, sebuah isakan kecil lolos dari sela jarinya. Ia ingat hari itu. Ia ingat bagaimana ia memaksa matanya tetap menatap lurus ke depan, ke arah kursi kosong di hadapannya, sambil mencengkeram tas tangannya hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit. Ia pikir Arlo sudah pulang sebelum kereta berangkat. Ternyata, pria itu ada di sana. Menontonnya pergi.

"Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan," suara Arlo di kaset itu berlanjut, diikuti oleh suara pemantik api dan isapan rokok yang dalam. "Tapi mereka salah. Waktu hanya mengajari kita cara membangun tembok di sekitar luka. Dan musik... musik adalah satu-satunya hal yang bisa merobohkan tembok itu. Aku sedang menulis sesuatu, El. Sesuatu yang tidak akan pernah selesai selama kau tidak ada di sini untuk mendengarnya. Aku menyebutnya 'About You'. Karena setiap nada, setiap distorsi yang kuciptakan, adalah tentang bagaimana rasanya kehilanganmu di tengah keramaian."

Suara petikan gitar masuk. Ini adalah versi yang lebih awal dari demo yang dikirimkan lewat link tadi. Sangat mentah. Arlo terdengar sedang mencoba mencari kunci nada yang tepat, berulang kali melakukan kesalahan, mengumpat pelan, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Sial, bagian ini terlalu bersih," gumam Arlo dalam rekaman itu. "Harus lebih berisik. Harus terdengar seperti kepalaku saat aku terbangun jam tiga pagi dan menyadari bantal di sampingku masih beraroma parfum melatimu."

Mendengarnya, Elara merasa jantungnya diremas. Ia teringat bagaimana Arlo selalu terobsesi dengan "tekstur" suara. Bagi Arlo, musik bukan tentang harmoni, tapi tentang kejujuran. Dan kejujuran, menurut Arlo, selalu berantakan. Ia sering kali sengaja merusak alat rekaman atau menggunakan kabel yang hampir putus hanya untuk mendapatkan suara "feedback" yang ia inginkan.

"Jika kau mendengar ini, El," suara Arlo kembali setelah jeda musik yang panjang, "berarti kau sudah kembali ke Manchester. Berarti kau sudah naik ke atap itu. Maafkan aku karena tidak ada di sana untuk menyambutmu. Aku tidak bisa. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata, hanya bisa dirasakan melalui getaran."

Rekaman itu tiba-tiba berubah. Suara latar belakangnya bukan lagi stasiun, melainkan keheningan ruangan yang luas dan bergema. Suara tetesan air yang jatuh ke lantai beton.

"Datanglah ke 'The Velvet Basement', El. Tempat kita pertama kali melihat band punk gagal itu bermain. Aku meninggalkan sisa lagunya di sana. Di balik amplifier Marshall yang sudah mati di sudut panggung. Ada sesuatu yang harus kau lihat. Sesuatu yang akan menjelaskan kenapa aku harus menghilang."

Kaset itu berakhir dengan suara *thump* yang keras, seolah mikrofonnya jatuh ke lantai, lalu keheningan total.

Elara segera memindahkan persneling mobilnya. *The Velvet Basement*. Itu adalah sebuah klub bawah tanah ilegal yang dulu menjadi pusat komunitas musisi indie di Manchester. Tempat itu seharusnya sudah ditutup bertahun-tahun lalu dalam proyek gentrifikasi kota. Tapi di Manchester, bangunan-bangunan tua sering kali memiliki nyawa kedua di bawah radar otoritas.

Ia mengemudi menembus jalanan Northern Quarter yang kini penuh dengan bar-bar hipster dan lampu neon. Ia mencari sebuah gang kecil di balik Oldham Street. Setelah berputar dua kali, ia menemukannya—sebuah pintu besi hitam yang tertutup coretan graffiti. Di atas pintu itu, samar-samar masih terlihat tulisan pudar: *Velvet*.

Elara turun dari mobil, mengabaikan udara dingin yang kini terasa seperti ribuan jarum kecil di kulitnya. Ia mendorong pintu besi itu. Ternyata tidak dikunci.

Tangga menuju lantai bawah tanah itu gelap gulita. Elara menyalakan senter di ponselnya. Cahayanya membelah kegelapan, menampakkan debu yang menari-nari di udara yang pengap. Bau bir basi, rokok, dan keringat lama seolah masih tersimpan di pori-pori dinding semen tempat itu.

Langkah kaki Elara bergema di ruangan yang luas itu. Panggung kecil di ujung ruangan tampak seperti kerangka raksasa yang sudah mati. Di atasnya, beberapa dudukan mikrofon yang miring dan tumpukan kotak kayu berserakan. Elara berjalan menuju sudut panggung, seperti yang instruksikan oleh suara Arlo dalam kaset.

Di sana, tertutup oleh kain hitam yang tebal dan berdebu, ada sebuah amplifier Marshall tua. Elara menarik kain itu, menimbulkan awan debu yang membuatnya terbatuk. Amplifier itu tampak hancur; pelapis kulitnya terkelupas dan bagian depannya berlubang.

Ia merogoh ke bagian belakang amplifier tersebut. Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras. Sebuah kotak logam kecil.

Di dalam kotak itu, ia menemukan sebuah pemutar kaset portable (Walkman) tua dan selembar foto. Ia mengarahkan senter ke foto itu. Itu adalah foto mereka berdua, diambil di atap gedung yang ia kunjungi tadi. Tapi ada yang aneh. Di belakang foto itu, ada tulisan tangan dengan tinta merah yang masih tampak baru:

*"Gema tidak pernah mati, El. Ia hanya menunggu frekuensi yang tepat untuk beresonansi kembali. Aku tidak menghilang. Aku hanya menjadi musiknya."*

Tiba-tiba, dari kegelapan di ujung ruangan, terdengar suara langkah kaki yang berat. Elara membeku. Senter ponselnya bergetar di tangannya.

"Arlo?" panggilnya, suaranya gemetar.

Tidak ada jawaban. Namun, secara perlahan, sistem suara (sound system) tua di klub itu—yang seharusnya sudah tidak memiliki aliran listrik—mulai berdengung. Suara *hum* yang rendah dan dalam, getaran yang bisa dirasakan di tulang belakangnya.

Lalu, dari pengeras suara yang sudah retak di langit-langit, melodi lagu "About You" mulai mengalun. Kali ini bukan rekaman kaset. Suaranya jernih, megah, dan memenuhi seluruh ruangan dengan tekanan suara yang hampir membuat Elara sulit bernapas.

Itu adalah versi final. Versi yang selama ini ia dengar di radio, tapi dengan satu perbedaan besar: ada trek vokal tambahan yang belum pernah didengar dunia. Suara seorang wanita yang bernyanyi bersama Arlo. Suara itu... suara Elara.

Kapan aku merekam ini? pikir Elara dengan panik. Ia tidak pernah merekam lagu ini. Ia tidak pernah bernyanyi untuk Arlo di studio.

"Do you think I have forgotten?" suara Arlo dan suara Elara (yang entah dari mana asalnya) menyanyi secara harmonis, menciptakan efek *haunting* yang membuat bulu kuduk berdiri.

Di tengah lagu, sebuah bayangan muncul di pintu masuk tangga. Seseorang berdiri di sana, terhalang oleh siluet cahaya dari jalanan di atas. Sosok itu tinggi, dengan bahu yang sedikit membungkuk dan jaket denim yang sangat familiar.

"Elara," suara itu tidak berasal dari speaker. Suara itu berasal dari sosok di depan pintu.

Elara menjatuhkan kotak logamnya. "Arlo...?"

Dunia di sekitar Elara seolah-olah mulai terdistorsi, persis seperti lagu yang sedang diputar. Antara masa lalu yang ia tangisi dan masa kini yang ia jalani, garis pembatasnya menghilang. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya sedang mencari seorang pria; ia sedang mencari bagian dari dirinya sendiri yang telah lama mati dan kini menuntut untuk dihidupkan kembali lewat lagu yang paling menyakitkan ini.

Karena di Manchester, hantu tidak hanya menghantui pikiran—mereka bisa memanggilmu melalui frekuensi radio dan berdiri di depanmu di tengah kegelapan basement yang terlupakan.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!