Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 13
Tengah malam, tangisan Amora memecah keheningan rumah besar itu. Suaranya lirih, namun terus-menerus, seperti meminta pertolongan. Raka yang tidur di kamar Amora tampak terlalu lelah. Ia tidak terbangun, ponselnya masih tergenggam di dada.
Di kamar tamu, yang letaknya persis di samping kamar Amora, Miranda terbangun. Matanya langsung terbuka saat mendengar tangisan itu. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dan melangkah keluar.
Sesampainya di kamar Amora, Miranda menyalakan lampu kecil. Ia melihat Raka tertidur pulas, wajahnya tampak letih. Sekesal apa pun hatinya pada lelaki itu, rasa sayangnya pada Amora tidak pernah berkurang.
Miranda menggendong Amora dengan hati-hati. Ia mengganti popok bayi itu, lalu menyiapkan susu formula. Dengan sabar ia menyuapi Amora hingga tangisannya mereda. Beberapa menit kemudian, bayi itu kembali tertidur pulas.
Miranda menghela napas lega, lalu keluar dari kamar Amora.
Saat itulah ia mendengars suara desahan dari arah kamar Saras.
Langkah Miranda terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menoleh ke arah kamar Rizki. Pintu kamar itu sedikit terbuka, tidak terkunci. Suara desahan terdengar semakin jelas.
Dada Miranda terasa sesak.
Tanpa ragu, ia meraih ponselnya dari saku baju, menyalakan kamera. Ia menarik sebuah kursi kecil yang ada di lorong, berniat mendekat ke kamar Saras untuk merekam semuanya.
Namun belum sempat melangkah jauh, sebuah suara membuatnya terlonjak.
“Neng Miranda, kenapa?” tanya Bi Mirna pelan.
Miranda refleks memegang dadanya. Suara desahan di kamar itu mendadak berhenti. Hatinya semakin yakin, orang di dalam kamar Saras pasti Rizki.
“Bibi mau ke mana?” tanya Miranda, berusaha tetap tenang.
“Mau mengantar balsam. Kata Pak Anton, pinggangnya nyeri lagi,” jawab Bi Mirna.
Miranda mengangguk pelan. Dalam hati ia menyimpulkan, kalau Bi Mirna menuju kamar Anton, berarti lelaki di kamar Saras benar-benar Rizki.
“Neng bawa kursi mau ke mana?” tanya Bi Mirna heran.
“Mau membetulkan lampu di kamar tamu,” jawab Miranda asal.
“Oh, benar, lampunya sudah lama mati. Mang Narno belum sempat mengganti,” sahut Bi Mirna.
Situasi itu terasa seperti keberuntungan kecil bagi Miranda.
“Kalau begitu saya ke kamar tamu dulu, Bi,” ucapnya.
Miranda tahu Bi Mirna sedang berada dalam tekanan. Perempuan itu tidak mungkin membantunya. Jika saja Bi Mirna netral, mungkin malam ini Miranda sudah berani berkata jujur, bahwa ia hendak merekam pengkhianatan suaminya sendiri.
Miranda masuk ke kamar tamu dengan langkah pelan. Lampu ruang tengah sudah dimatikan Bi Mirna sebelum perempuan itu masuk ke kamar Anton. Dari balik pintu kamar tamu, Miranda mengintip ke arah lorong.
Pandangan Miranda tertuju pada kamar Anton dan kamar Saras. Lampu kamar Anton masih menyala. Ia mulai menghitung dalam hati. Satu menit, dua menit.
Tak lama kemudian, pintu kamar Anton terbuka. Bi Mirna keluar sambil membawa tangan kosong, lalu melangkah menuju kamarnya di dekat dapur. Miranda menghela napas pelan. Dua menit terlalu singkat untuk sesuatu yang mencurigakan. Dugaan pertama gugur.
Lampu ruang tengah tetap gelap.
Miranda mengalihkan pandangan ke arah kamar Rizki dan kamar Saras. Beberapa detik kemudian, lampu ruang tengah tiba-tiba menyala.
Dari arah dapur muncul Rizki. Ia berjalan cepat, masuk ke kamarnya sendiri, lalu mematikan lampu kembali.
Lorong kembali gelap.
Namun belum genap semenit, sebuah siluet bergerak pelan menuju kamar Saras.
Dan pintu kamar itu tertutup perlahan
Miranda menutup pintu kamar tamu pelan, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap langit-langit tanpa berkedip. Pikirannya semakin kacau. Potongan-potongan kejadian malam tadi terus berputar di kepalanya. Suara desahan, siluet yang masuk ke kamar Saras, tatapan Rizki yang penuh amarah.
Kini ia tidak ragu lagi. Saras dan Rizki memang benar-benar berselingkuh.
“Seharusnya tadi Rizki menceraikanku,” gumamnya lirih. “Bagaimanapun aku sudah memukul dia.”
Kening Miranda berkerut. Ada hal lain yang mengganggunya.
“Ayah Anton juga tidak menyuruh Rizki menceraikanku. Ada apa sebenarnya ini?”
Ia menarik napas panjang, dada terasa sesak.
“Kalau mereka tidak menceraikanku, maka aku sendiri yang akan menceraikan Rizki.”
Namun kalimat itu segera disusul kesadaran lain.
“Tapi aku harus punya bukti.”
Miranda kembali menatap langit-langit. Rencana-rencana mulai tersusun di kepalanya. Ia sudah terlalu lelah hidup di rumah ini, terlalu lama merasa tidak diinginkan. Dalam hatinya tumbuh keyakinan pahit bahwa mungkin dirinya memang tidak pantas hidup normal seperti orang lain.
Pikirannya terus berkelana hingga tanpa sadar ia tertidur.
Adzan subuh membangunkannya. Miranda bergegas mengambil air wudu dan menunaikan salat. Usai berdoa, ia mendengar tangisan Amora dari kamar sebelah. Ia segera melangkah ke sana.
Di dalam kamar Amora tidak ada siapa-siapa.
Miranda mengganti popok Amora, memakaikan baju bersih, lalu membuatkan susu. Setelah bayi itu kembali tertidur, ia membersihkan kamar perlahan.
Saat keluar kamar, rumah mulai ramai oleh aktivitas pagi. Dan dadanya seketika terasa terbakar.
Saras keluar dari kamar Rizki.
Perempuan itu membawa setumpuk pakaian, lalu duduk di ruang tengah sambil mulai menggosok baju Rizki.
Miranda berdiri terpaku. Hatinya perih. Walau semalam ia telah memukul suaminya, Saras tetap bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
“Dia memang tidak pernah mencintaiku,” batinnya getir. “Akulah yang terlalu bodoh.”
Tak ingin kembali terluka, Miranda masuk ke kamar tamu. Ia memilih merebahkan diri dan menatap layar ponsel, menggulir media sosial tanpa minat.
Tepat pukul enam lewat tiga puluh, pintu kamar diketuk pelan.
Miranda membuka pintu. Bi Mirna berdiri di hadapannya dengan wajah cemas.
“Ada apa, Bi?” tanya Miranda.
“Pak Anton menyuruh Neng sarapan,” jawab Bi Mirna lirih.
“Saya masih kenyang,” sahut Miranda datar.
“Neng, tolong saya,” pinta Bi Mirna hampir menangis. “Kalau saya tidak berhasil membujuk, saya bisa dipecat. Anak saya di kampung mau melahirkan, butuh biaya.”
Miranda menghela napas panjang. Akhirnya ia mengangguk dan mengikuti Bi Mirna ke ruang makan.
Di sana sudah berkumpul Anton, Rizki, Raka, dan Saras. Sebuah kursi kosong tersedia di samping Rizki, sementara Saras duduk di sisi Raka.
“Miranda, sini dulu, sarapan,” ujar Anton dengan nada lembut.
Miranda terkejut. Ia mengira pagi ini akan penuh ketegangan, tetapi suasananya justru tampak ramah. Sikap itu membuatnya semakin waspada.
Ia duduk tanpa bicara. Mereka makan dalam keheningan yang aneh.
Setelah semua hampir selesai, Anton meletakkan sendoknya.
“Miranda,” katanya pelan, “tolong hubungi Pak Karman. Ayah ingin dia segera berinvestasi di perusahaan kita.”
Miranda terdiam sejenak, lalu menatap Anton dengan tenang.
“Saya sudah tidak bekerja di Sanjaya Grup, Yah. Pak Karman orang profesional. Ia akan berbicara sesuai kapasitas. Saat saya masih karyawan Sanjaya Grup, ia mau menanggapi urusan bisnis. Tapi sekarang, sebagai orang yang tidak lagi bekerja, paling ia hanya membahas hal-hal sepele,” ujar Miranda pelan namun tegas.
Anton terdiam.
Dalam hati, Miranda tersenyum pahit. Sebenarnya ia bisa membujuk Karman dengan mudah. Hubungan mereka masih cukup dekat.
Namun kali ini ia sengaja menahan diri.
Ia ingin menjadikan permintaan ini sebagai jalan kembali masuk ke perusahaan. Bukan demi karier, melainkan demi satu hal yang jauh lebih penting.
Miranda ingin tahu dengan siapa saja Rizki benar-benar berselingkuh.
Ia membutuhkan akses, waktu, dan kesempatan.
Dan perusahaan itu adalah pintu terbaik untuk membongkar semuanya.