NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-13

Keesokan harinya, setelah pertemuan yang menegangkan di kediaman utama Mahendra, atmosfer di apartemen Kalandra terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi suasana seperti penjara mewah yang mencekam tapi setidaknya, kini ada pengakuan resmi dari sang kepala keluarga. Namun bagi Elisa, pengakuan itu justru membawa beban baru yang jauh lebih berat yaitu sebuah pernikahan resmi yang akan disaksikan oleh mata-mata tajam dari kalangan elit di Jakarta.

Elisa terbangun saat matahari baru saja mengintip dari balik gedung-gedung tinggi. Ia masih merasa lemas. Kandungannya yang baru menginjak usia satu bulan lebih sedikit itu benar-benar menguras energinya. Rasa mual di pagi hari atau yang sering disebut morning sickness yang datang tanpa ampun.

Ia mencoba duduk tegak di tempat tidurnya, namun kepalanya terasa berputar. Di atas meja nakas, sudah tersedia segelas air hangat dan beberapa keping biskuit gandum tawar itu instruksi ketat dari Kalandra kepada pelayan sebelum pria itu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.

"Satu bulan..." gumam Elisa sambil mengelus perutnya yang masih sangat rata. "Baru satu bulan saja rasanya sudah begini, bagaimana nanti?"

Ia perlahan bangkit dan menuju jendela. Di bawah sana, kota Jakarta tampak sangat sibuk. Elisa teringat, biasanya jam segini ia sudah berada di atas motor tuanya, beradu dengan polusi dan keringat untuk mengantar pesanan ayam goreng. Sekarang, ia mengenakan daster sutra yang lembut, dan di dalam ruangan dengan suhu yang selalu terjaga. Sesuatu kontras yang terkadang masih membuatnya merasa seperti pencuri di rumah orang lain.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Aris masuk dengan wajah yang sudah segar, sudah mengenakan seragam barunya yang tampak sangat pas dan mahal.

"Kak, Aris mau berangkat sekolah. Kak Gery sudah di depan," lapor Aris dengan riang. "Kakak nggak apa-apa kan? Wajah Kakak pucat sekali."

Elisa memaksakan senyum dan mengusap pipi adiknya. "Kakak cuma kurang tidur saja, sayang. Belajar yang rajin ya di sekolah baru. Jangan nakal."

"Siap, Kak! Kak Gery bilang sekolahnya ada lapangan futsal di dalam ruangan. Aris nggak sabar mau lihat!”

Setelah Aris pergi bersama Gery yang entah mengapa dengan senang hati mengajukan diri menjadi supir pribadi Aris, dan apartemen itu kembali sunyi. Elisa memutuskan untuk mandi dengan air hangat agar sedikit mengurangi rasa pusingnya. Namun, baru saja ia menyentuh sabun mandi yang beraroma bunga lili, perutnya kembali memberontak.

Huekk...

Elisa terduduk di lantai kamar mandi. Rasa mual ini begitu hebat hingga membuatnya mengeluarkan air mata. Ia benci perasaan lemah ini. Ia benci bagaimana tubuhnya tidak lagi berada di bawah kendalinya.

...----------------...

Sementara itu, di kantor Mahendra Group, Kalandra tidak jauh lebih baik. Ia duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak fokus pada laporan audit di depannya. Sebuah wadah berisi potongan kecil jahe mentah tersedia di mejanya, sesuatu yang akan membuat karyawannya heran jika melihatnya.

"Gue nggak nyangka, mualnya bisa makin parah tiap hari," keluh Kalandra saat Bimo masuk ke ruangannya.

Bimo menaruh beberapa berkas di meja. "Itu karena lo mikirin Elisa terus, Lan. Secara psikologis, lo narik beban stres dia ke diri lo sendiri. Makanya lo ikut hamil secara gejala."

Kalandra mendengus, ia mengunyah potongan jahe itu dengan wajah masam. "Gimana persiapan buat lusa? Papa minta pernikahan ini dilakukan di mansion, tapi tertutup."

"Semua sudah diatur. Hanya ada sekitar dua puluh orang. Keluarga inti, gue, Gery, dan beberapa kolega Papa yang paling bisa dipercaya. Surat-surat dari KUA juga sudah beres. Lo bakal nikah resmi, Lan. Bukan siri lagi," lapor Bimo.

Kalandra mengangguk. "Bagus. Tapi... ada masalah yang lain."

"Pak Danu?" tebak Bimo.

"Iya. Mata-mata gue bilang dia mulai curiga kenapa gue jarang keluar malam dan kenapa gue mindahin seorang gadis ke apartemen pribadi. Dia mulai nyari tahu siapa Elisa," Kalandra mengepalkan tangannya. "Gue nggak mau dia nyentuh Elisa atau Aris."

Bimo terdiam sejenak. "Lan, Pak Danu itu licik. Dia tahu kalau dia nggak bisa jatuhin lo lewat bisnis, dia bakal cari titik lemah lo. Dan sekarang, titik lemah lo itu adalah Elisa."

"Dia bukan titik lemah gue, Bim," sahut Kalandra tajam. "Dia adalah tanggung jawab gue. Dan gue nggak akan biarkan siapapun merusak apa yang sedang gue coba perbaiki."

Tiba-tiba, pintu ruangan Kalandra terbuka dengan kasar. Gery masuk dengan wajah yang tidak seceria biasanya.

"Lan, kita punya masalah," ujar Gery tanpa basa-basi.

"Kenapa? Aris nggk kenapa-napa kan di sekolah?" Kalandra langsung berdiri, rasa mualnya mendadak hilang digantikan adrenalin.

"Bukan Aris. Tadi pas gue anter Aris, ada mobil yang ngikutin gue dari apartemen sampe sekolah. Gue sengaja muter-muter dulu sebelum masuk area sekolah, dan mobil itu tetep ngekor di belakang. Pas gue berhenti di parkiran, mobil itu langsung pergi. Plat nomornya juga palsu," jelas Gery serius.

Kalandra memukul mejanya. "Sialan! Pak Danu bener-bener nggak sabar."

"Gue udah minta orang buat jagain sekolah Aris secara diam-diam. Tapi Elisa... dia sendirian di apartemen kalau lo di kantor, Lan," tambah Gery.

"Gue bakal pulang sekarang," ujar Kalandra sambil menyambar jasnya.

Kembali di apartemen, Elisa sedang mencoba menelan sesendok bubur kacang hijau yang dibuatkan pelayan. Rasanya hambar di lidahnya, namun ia tahu ia harus makan demi janin di rahimnya.

Bel pintu berbunyi. Elisa mengernyit. Pelayan sudah turun untuk belanja kebutuhan dapur, dan Kalandra biasanya tidak pulang jam segini.

Elisa melihat melalui monitor interkom. Di luar sana, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian rapi, mengenakan kacamata hitam, didampingi dua orang berbadan tegap.

"Siapa?" tanya Elisa melalui speaker.

"Selamat siang, Nona Elisa. Saya Danu, rekan bisnis Tuan Kalandra. Saya ditugaskan beliau untuk menjemput Anda karena ada urusan mendesak di kantor," ucap pria itu dengan suara yang terdengar ramah namun dingin.

Jantung Elisa berdegup kencang. Ia teringat peringatan Bimo agar tidak membuka pintu bagi siapapun selain orang-orang yang ia kenal.

"Maaf, Tuan Danu. Mas Landra tidak memberi tahu saya apa-apa. Silakan hubungi beliau lagi dulu," jawab Elisa, mencoba tenang meski tangannya gemetar.

"Oh, ponsel Tuan Kalandra sedang mati karena rapat penting. Beliau sangat mendesak. Ini menyangkut adik Anda, Aris," lanjut Danu.

Mendengar nama Aris, pertahanan Elisa hampir runtuh. "Aris? Memang Aris kenapa?"

"Ada sedikit insiden di sekolahnya. Tuan Kalandra juga sudah di sana. Mari, saya antar."

Elisa hampir saja menekan tombol buka pintu, namun ia teringat sesuatu. “Aris kan tadi berangkat bersama kak Gery. Jika terjadi sesuatu, pasti Kak Gery yang menelepon, bukan orang asing ini.”

"Saya akan hubungi Kak Gery dulu," ucap Elisa tegas.

Raut wajah Danu di monitor berubah. Keramahannya hilang, digantikan oleh seringai tipis yang mengerikan. "Jangan mempersulit keadaan, Nona. Kamu hanya seorang kurir yang beruntung bisa masuk ke rumah Mahendra. Jangan berpikir kamu punya kuasa untuk menolak saya."

Elisa mundur beberapa langkah dari pintu. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Kalandra dengan tangan gemetar hebat.

"Mas...hiks…Mas Landra... ada orang di depan pintu. Dia bilang namanya Danu. Dia juga bilang Aris kecelakaan...Hikss…saya takut mas” tangis Elisa pecah.

"Elisa! Dengerin saya! Jangan buka pintunya! Apapun yang dia bilang, jangan percaya! Aris aman sama Gery. Tetap di dalam, kunci semua akses. Saya dalam perjalanan!" suara Kalandra terdengar panik dan penuh amarah di seberang sana.

Elisa terduduk di lantai, memeluk lututnya di balik pintu yang kokoh. Di luar, terdengar suara gedoran keras.

"Buka pintunya, Elisa! Kamu tidak tahu dengan siapa kamu berurusan!" teriak Danu dari luar.

Tak lama kemudian, suara gedoran itu berhenti, berganti dengan suara keributan beberapa orang di lorong. Elisa mendengar suara Kalandra yang menggelegar.

"BERANI-BERANINYA KAMU MENGINJAKKAN KAKI DI SINI, DANU!"

Suara pukulan dan teriakan menyusul. Elisa hanya bisa memejamkan mata sambil terus mengusap perutnya. "Jangan takut sayang... ada Mas Landra... Mas Landra di sini..."

Beberapa menit kemudian, suasana menjadi sunyi. Pintu apartemen terbuka dengan kode akses. Kalandra masuk dengan napas memburu, rambutnya berantakan, dan ada sedikit bercak darah di buku jarinya.

Ia melihat Elisa yang meringkuk di lantai. Kalandra langsung berlutut dan mendekap gadis itu dengan sangat erat.

"Maaf... maafkan saya. Saya terlambat," bisik Kalandra.

Elisa membalas pelukan Kalandra, ia menangis sejadi-jadinya di dada pria itu. Rasa takut yang luar biasa tadi perlahan luntur oleh aroma parfum Kalandra yang kini terasa sangat menenangkan.

"Aris... Aris beneran nggak apa-apa kan?" tanya Elisa di sela isaknya.

"Dia aman. Gery sudah membawanya ke mansion Papa. Mulai malam ini, kita juga akan tinggal di sana sampai pernikahan selesai. Di sini sudah tidak aman," Kalandra mengusap rambut Elisa dengan lembut.

Kalandra merasakan tubuh Elisa yang bergetar. Ia menyadari satu hal bahwa ancaman Pak Danu tidak akan berhenti sampai ia benar-benar menghancurkan segalanya. Tapi Kalandra juga menyadari hal lain bahwa rasa mualnya yang tadi pagi menyiksa, kini hilang sepenuhnya saat ia memeluk Elisa. Seolah perlindungan yang ia berikan pada gadis ini adalah obat bagi rasa sakitnya sendiri.

"Mas... perut saya kram," rintih Elisa pelan.

Kalandra panik. Ia segera menggendong Elisa menuju sofa. "Kita ke rumah sakit sekarang ya?"

"Nggak... ini cuma kram karena tegang. Saya cuma mau istirahat," Elisa memegang tangan Kalandra. "Jangan tinggalin saya lagi."

Kalandra mengecup kening Elisa lama. Dan itu tanpa dia sadari "Saya janji. Saya tidak akan pernah membiarkan Danu atau siapapun mendekatimu lagi. Pernikahan lusa... itu bukan sekadar status, Elisa. Itu adalah deklarasi perang saya pada siapapun yang mau menyentuh keluarga saya."

Di dalam rahimnya, janin kecil itu seolah ikut merasakan ketegangan sang ibu. Dan di dalam hati Kalandra, rasa tanggung jawab yang awalnya terasa seperti beban, kini perlahan berubah menjadi api protektif yang membara. Ia belum menyebutnya cinta, namun ia tahu, ia akan melakukan apa saja untuk melindungi dua nyawa di hadapannya ini.

Malam itu, mereka kembali ke kediaman utama Mahendra dengan pengawalan ketat. Persiapan pernikahan yang tinggal dua hari lagi kini bukan lagi sekadar acara formalitas, melainkan sebuah benteng pertahanan bagi Elisa dan buah hatinya yang baru berusia satu bulan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Selamat membaca☺️🥰

Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!