NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Kak

Ambil Saja Suamiku, Kak

Status: tamat
Genre:Dokter / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Puji170

Riana pikir kakaknya Liliana tidak akan pernah menyukai suaminya, Septian. Namun, kecurigaan demi kecurigaan membawanya pada fakta bahwa sang kakak mencintai Septian.

Tak ingin berebut cinta karena Septian sendiri sudah lama memendam Rasa pada Liliana dengan cara menikahinya. Riana akhirnya merelakan 5 tahun pernikahan dan pergi menjadi relawan di sorong.

"Kenapa aku harus berebut cinta yang tak mungkin menjadi milikku? Bagaimanapun aku bukan burung dalam sangkar, aku berhak bahagia." —Riana

Bagaimana kisah selanjutnya, akankah Riana menemukan cinta sejati diatas luka pernikahan yang ingin ia kubur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di rumah besar keluarga Prawira, Liliana duduk di sofa sambil memperhatikan Lira yang kini asik menyesap buah jeruk yang sedikit asam. Wajah mungil itu meringis lucu setiap kali rasa masam menyentuh lidahnya, membuat matanya terpejam rapat sebelum kembali tertawa kecil.

Senyum samar muncul di bibir Liliana. Lira adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di rumah yang terlalu sunyi itu, satu-satunya alasan baginya untuk tetap kuat, untuk tetap bertahan meski hatinya perlahan membeku.

Dulu, ia pikir setelah memaksa Septian menikah, setelah menjebaknya hingga akhirnya sah menjadi Nyonya Prawira baik secara hukum maupun agama, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Nyatanya, semua tidak seperti yang ia bayangkan.

Rumah megah ini hanya menyimpan gema langkahnya sendiri. Setiap malam, suara detik jam dinding terdengar terlalu keras, menandakan waktu yang berjalan tanpa pernah membawa perubahan. Septian tetap dingin, tetap jauh, seperti bintang yang susah ia gapai.

Pernah ia sekali menggoda Septian agar tidur dengannya, hasilnya lelaki itu sampai satu bulan tidak pernah pulang dan ia dikirim ke rumah Rahayu. Kalau tidak terus bertengkar dengan Rahayu mungkin sampai sekarang Liliana harus mengurus wanita tua itu.

Meski begitu, Liliana tak pernah menunjukkan kelemahannya. Ia berdiri kokoh, menjaga gengsinya seolah posisi itu tak bisa digantikan siapa pun. Cinta? Ia masih percaya, lambat laun, saat Septian benar-benar kehilangan jejak Riana, lelaki itu akan menoleh ke arahnya. Akan sadar bahwa satu-satunya yang bertahan di sisinya hanyalah dirinya.

“Lira mau lagi?” tanya Liliana lembut saat melihat buah jeruk di tangan putrinya sudah tak berair.

Anak kecil itu mengangguk pelan. Membuat Liliana tersenyum, lalu mengambil sepotong jeruk lain dan dengan sabar menyuapkannya.

Namun, di sela tawa kecil Lira, mata Liliana memantulkan sesuatu yang lain, lelah yang disembunyikan, kesepian yang tak pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri.

Jeruk di tangan Lira jatuh ke pangkuannya, dan Liliana refleks memungutnya.

"Ini sayang," ucap Liliana menyerahkan jeruk itu pada Lira.

Saat ia masih fokus pada Lira, suara pintu besar rumah mendadak terbuka keras. Hembusan angin membawa aroma parfum tajam yang langsung memenuhi ruangan. Rahayu masuk tanpa salam, langkahnya berat dan penuh amarah, seperti penagih hutang yang sudah kehilangan kesabaran.

Tanpa basa-basi Rahayu langsung bersuara, “Kamu ini sebagai istri Septian apa sudah lupa tugas setiap bulanmu?”

Liliana tak menoleh. Ia tetap memusatkan perhatian pada Lira yang sedang menggenggam potongan jeruk, berusaha menahan diri agar suasana tak memanas di depan anaknya. Sikap diam itu justru membuat Rahayu menggertakkan giginya, napasnya terdengar keras menahan emosi.

“Dasar menantu tak berguna! Kalau kamu bisa menikmati privilege dari anakku, kamu juga harus tahu diri!” bentaknya, suaranya menusuk udara seperti cambuk.

Liliana menarik napas panjang. Perlahan ia mendorong Lira menjauh sedikit, menepuk lembut bahu anaknya sebelum bangkit berdiri. Tatapannya kini berubah dingin ketika ia berhadapan langsung dengan Rahayu.

“Keluarga Prawira belum bangkrut kan? Kalau ibu membutuhkan pembantu sewa mereka, apapun yang ibu perintahkan mereka akan melakukannya dengan senang hati. Aku ini menantu, orang yang menemani anakmu baik suka maupun duka. Bukan pembantu yang harus mengurusmu,” ucap Liliana tegas, nadanya rendah namun tajam seperti bilah halus yang menembus ke dalam.

Rahayu melangkah maju, menatap Liliana dengan mata menyala.

“Kamu benar-benar ya, mantu kurang ajar. Aku heran kamu dan Riana itu satu rahim tapi kelakuannya kenapa bisa beda?” suaranya meninggi, penuh penghinaan. “Dulu aku pikir kamu lebih baik dari Riana, tapi nyatanya kamu sangat jauh darinya.”

Liliana mendengus pelan, senyum miring tersungging di bibirnya. “Dulu aku juga berpikir jika Riana beruntung bisa memiliki ibu mertua sepertimu, tapi aku salah. Kamu yang beruntung memiliki menantu seperti dia, sayangnya kamu tidak menghargainya sama sekali, bahkan memperlakukannya tidak layak.”

Wajah Rahayu menegang, tetapi Liliana belum selesai. Matanya menatap lurus, kali ini penuh keberanian yang sudah lama ia pendam. “Oh ya, jika ibu masih bertanya kenapa kami satu rahim sangat berbeda. Apa perlu aku ajak ibu untuk belajar lagi? Kalau isi setiap kepala itu beda-beda?” imbuhnya, datar namun menohok.

Dada Rahayu naik turun ia mengangkat tangannya ingin memberikan satu tamparan ke wajah Liliana. Namun, Liliana seperti sudah bisa membaca pikiran Rahayu, ia segera menangkas lalu mendorongnya. Tepat saat Rahayu hampir saja terjatuh Septian datang lalu menompang tubuh sang ibu.

“Liliana, dasar wanita berhati busuk. Sama orang tua kamu begitu tega?” suara Septian menggema, berat dan penuh amarah.

Liliana mematung. Dada yang tadi berdegup karena menahan emosi kini seperti berhenti seketika. Ia menatap Septian yang masih memeluk Rahayu, pemandangan yang seperti biasa, berpihak bukan padanya.

“Ibu yang duluan menyerangku,” ujarnya lirih, nyaris tak terdengar. Tapi Septian sudah tak mau mendengar. Tatapan matanya tajam, seolah Liliana adalah duri yang menancap di hidupnya.

“Kalau kamu masih belum bisa menghormati Ibu, lebih baik keluar dari rumah ini!” bentak Septian. Nada suaranya tak pernah berubah, dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun ruang bagi penjelasan.

Lira yang sedari tadi duduk di kursi bayi, menatap dengan mata besar yang berair. “Ma-ma…” panggilnya pelan.

Liliana segera menoleh, menunduk, lalu berjongkok di hadapan anaknya. Tangannya gemetar saat menyeka pipi mungil itu. “Tidak apa-apa, sayang. Mama nggak apa-apa,” ucapnya lembut, tapi suaranya serak, seperti seseorang yang menahan sesuatu di tenggorokannya terlalu lama.

Rahayu yang kini sudah kembali tenang justru menatap dengan tatapan puas. “Lihat? Anakmu pun jadi saksi bagaimana kamu mempermalukan suamimu.”

Liliana menoleh perlahan, menatap wanita tua itu tanpa ekspresi, dingin, nyaris kosong. Lalu pandangannya beralih pada Septian.

Suara Liliana tenang, tapi di balik ketenangan itu terselip luka dan sindiran yang dalam.

“Tian, kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Kamu tahu itu,” ucapnya pelan namun tegas. “Dan sekarang aku mulai paham… kenapa Riana menyerah. Tanpa aku ikut campur pun, cepat atau lambat dia akan lelah jadi istrimu.”

Rahayu tertegun, wajahnya memucat mendengar ucapan tajam itu. Tapi Liliana tak lagi peduli. Ia berdiri tegak, menatap Septian dengan mata yang berani, mata yang dulu begitu mengaguminya, kini hanya memantulkan kelelahan.

Kalimat terakhir Liliana menggantung di udara seperti racun yang perlahan meresap ke dada Septian. Wajah lelaki itu menegang. Rahangnya mengeras, sorot matanya gelap, seperti menyimpan badai yang siap meledak kapan saja.

“Ulangi,” katanya pelan, hampir berbisik, tapi nadanya cukup membuat udara di ruangan menegang.

Liliana tak gentar. “Kamu mendengar dengan sangat jelas apa yang aku katakan.”

Langkah Septian mendekat, perlahan tapi pasti, hingga jarak mereka hanya sejengkal. Tatapan matanya menusuk, nyaris tak berperasaan, namun di balik dinginnya ada sesuatu yang lain penyesalan yang tak sempat ia sembunyikan.

“Jaga ucapanmu, Liliana,” ucapnya dengan suara rendah, berat, dan menggetarkan. “Aku masih bisa menoleransi banyak hal, tapi jangan pernah bawa nama dia di antara kita.”

Liliana tersenyum miring, getir. “Memangnya apa yang aku katakan salah, Tian.”

Sekilas, sorot mata Septian berubah, ada rasa bersalah yang muncul begitu cepat, sebelum kembali tenggelam di balik kemarahan. Tangannya terangkat, seperti hendak menahan sesuatu... atau mungkin menampar. Tapi ia berhenti di tengah udara.

Suasana membeku.

Liliana menatapnya tanpa berkedip, matanya berkilat tajam.

“Pukul saja, kalau itu bisa membuatmu merasa tenang,” bisiknya dingin.

Tangan Septian perlahan turun, namun rahangnya tetap mengeras. Ia menatap Liliana lama, begitu lama, hingga akhirnya berkata pelan, suara yang terdengar lebih seperti ancaman daripada kalimat biasa.

“Lili, akan aku buat kamu menyesal.”

Septian menepuk tangannya memberikan kode pada orang di luar untuk masuk ke dalam rumah.

"Bawa dia!" perintah Septian.

Liliana tercengang ada rasa takut saat dua orang berbadan besar mendekat ke arahnya.

1
evi carolin
beraninya keroyokan si Septi,banci lo,klo mo nyakitin KK nya ya silahkan kan pilihan lo jg dr awal bersikap spt itu knp ga terima , dasar bocil lu bisanya tantrum aja klo pengen sesuatu, dah gt ga berani sendirian ngajak org lain segala
Titien Prawiro
Sebel baca novel ini, sdh janda juga
Titien Prawiro
provokasi ke Septian kalau pernikahan sama Alif gagal, Riana kembali sama Septian, dia mau deketi Alif
Titien Prawiro
Kupikir Riana terlalu lemah dan bodoh. Dokter kok bodoh ya. lembek.
Titien Prawiro
Septian kamu jadi lelaki dan suami tidak tegas menya menye gitu.
Lala lala
cerai talak tiga berarti dia islam y.
jika mau cerai tdk perlu dokjmem mjnta tnd tangan dong..kan blm ajukan gugatan ke PA daftar dl bayar uang admin 1 jutaan dgn syarat buku nikah kk , ga ada pun gakpp, bs dpt copy dr KUA.. tgu surat panggilan sidang msg².. sekitar 2 mingguan krna antrian cerai banyak..jika sdh talak 3 tdk ada mediasi 3 x sidang...cukup 1 x sdh syah
Lala lala
ipar dikasi gepokan duit dan perhatian.
bini sndiri dikasi jutaan kecil utk makan dll
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
ampun deh Liana ini sok²an polos padahal asli nya licik emang dasar ulat bulu ,liat aja pasti kalian bakal membusuk bersama ketika Riana udah menceraikan si gila itu 🙄
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
gila ya si Septian lama² Riana itu istri mu bukan pembantuuuuu mu,lebih baik Riana segera cerai aja dari laki² gila ini 🙄
Kukun Sabarno
namanya pengantin baru dengan pasangan berbeda tetap saja ada deg dan canggung, 😄
Rina
benar pergi lebih baik ..pikirkan diri sendiri ..💪
Kukun Sabarno
selamat untuk alif dan riana semoga bahagia dunia akhirat. aamiin
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
seperti di film-film ya emang iPar adalah maut 🤭
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
Liliana adalah tipe orang yang sifat munafik nya langsung bisa keliatan dari muka pas²an nya😇👊👊
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
yesss akhirnya Riana bisa bangkit ,siap² aja kalo Riana cerai sama kamu pasti hidup mu bakal gak tenang sama ulet bulu itu 🤣🤣🤣
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
apakah dr Alif ini jodoh nya Riana yang sebenarnya karna si Riana langsung dag Dig dug pas dideketin 🤭
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok makin lama gemes ya aku sama Riana kan kamu udah disakiti dari belakang berkali² loh sama Septian masihh aja ngeyel pengen bertahan sama Septian 🙄
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kalo emang sakit tuh jangan ditahan dong Riana lebih baik kamu lepaskan saja Septian untuk Liliana biarin aja mereka membusuk bersama🙄
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
biar apa coba keluar pakai baju kayak gitu 🙄,ternyata baru nyadar Septian sama Liliana itu sama sama² bermuka dua 🤣🤣
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
cocok lah binatang sama setan disatukan aja,ayo Riana lebih baik kamu pergi dari rumah itu aja daripada tersiksa Mulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!