Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Perjamuan Para Serigala
Malam itu, Mansion Valerius tampak lebih angker dari biasanya. Kabut tebal turun dari perbukitan, menyelimuti pilar-pilar beton dan taman-taman yang kini dijaga oleh pasukan elit yang lebih banyak dari biasanya. Di dalam ruang pertemuan utama—sebuah ruangan luas dengan meja kayu ek panjang yang dikelilingi kursi-kursi kulit tinggi—udara terasa sangat berat. Aroma cerutu mahal dan wiski tua menguar, bercampur dengan ketegangan yang nyaris bisa dirasakan secara fisik.
Dante Valerius duduk di kepala meja. Meskipun pucat, ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap yang menyembunyikan semua perbannya. Ia tampak seperti patung dewa perang yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, sebuah kursi tambahan telah disiapkan. Hal ini memicu bisik-bisik di antara tujuh petinggi organisasi yang hadir.
Pintu besar ruangan itu terbuka. Aruna melangkah masuk.
Ia bukan lagi Aruna yang mengenakan daster batik pudar. Malam ini, ia mengenakan gaun sutra hitam selutut yang elegan namun tertutup, sebuah pemberian dari Dante yang ia pilih sendiri untuk menunjukkan martabatnya. Kalung berlian hitam itu melingkar di lehernya, berkilau di bawah lampu kristal. Ia berjalan dengan dagu terangkat, meski jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Saat Aruna duduk di kursi di sebelah Dante, suasana menjadi sangat hening.
"Tuan Valerius," Bianca memecah keheningan. Ia duduk di ujung meja yang berlawanan, mengenakan setelan jas putih yang kontras. Matanya menatap Aruna dengan penghinaan yang terang-terangan. "Saya pikir ini adalah pertemuan dewan rahasia. Kenapa ada warga sipil di antara kita?"
Dante tidak segera menjawab. Ia menuangkan wiski ke gelasnya dengan tangan yang sangat stabil. "Aruna bukan sekadar warga sipil, Bianca. Dia adalah orang yang menyelamatkan nyawaku dua kali. Di duniaku, itu memberinya hak bicara lebih dari siapa pun di ruangan ini."
Salah satu petinggi, seorang pria tua bernama Silas yang dikenal sebagai bendahara organisasi, berdeham. "Dante, kami menghormati jasa wanita ini. Tapi membawanya ke dalam pertemuan strategis... apakah ini tanda bahwa kau sudah mulai kehilangan fokus? Musuh-musuh kita di luar sana sedang menertawakan kita karena pemimpin kita sibuk bermain rumah-rumahan dengan seorang janda."
Aruna merasakan panas menjalar di wajahnya, namun ia teringat pesan Dante: Jangan biarkan mereka melihatmu gemetar.
"Tuan Silas," Aruna angkat bicara. Suaranya jernih dan berwibawa, mengejutkan para pria di sana. "Jika Dante kehilangan fokus, dia tidak akan selamat dari jebakan di Dermaga 7. Dia selamat karena dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan dari kalian: insting untuk tahu siapa yang benar-benar setia dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari belakang."
Bianca tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Bicara soal kesetiaan? Dante, intelijenku melaporkan bahwa serangan di dermaga terjadi karena ada kebocoran informasi dari orang terdekat. Dan siapa yang paling baru masuk ke dalam lingkaran ini? Wanita ini dan masa lalunya yang kelam bersama suaminya yang menyimpan dokumen Marco."
Bianca melemparkan sebuah map ke tengah meja. "Ini adalah bukti bahwa Aruna Kirana telah berkomunikasi dengan sisa-sisa anak buah Marco secara sembunyi-sembunyi melalui telepon rumah di kamarnya."
Ruangan kembali riuh. Dante hanya menatap map itu tanpa menyentuhnya. Ia menatap Bianca dengan tatapan yang sangat datar. "Kau punya bukti rekaman suaranya, Bianca?"
"Tentu saja," Bianca memberikan kode kepada bawahannya untuk memutar sebuah rekaman suara di sistem suara ruangan.
Terdengar suara wanita yang sangat mirip dengan Aruna sedang memberikan koordinat mansion kepada seorang pria dengan suara serak. "...Mansion Valerius, sektor utara adalah titik butanya. Serang pukul tiga pagi saat pergantian penjagaan. Pastikan Dante tidak selamat."
Aruna terbelalak. "Itu bukan suara saya! Dante, saya tidak pernah melakukan itu!"
Bianca berdiri, wajahnya penuh kemenangan. "Bukti sudah jelas. Wanita ini adalah mata-mata yang dikirim untuk menghancurkan kita dari dalam. Dia menggunakan belas kasihan Dante untuk masuk, lalu memberikan lokasi kita kepada musuh. Dante, kau harus mengeksekusinya sekarang juga jika kau ingin menjaga martabat keluarga ini!"
Para petinggi lainnya mulai berdiri, suasana menjadi kacau. Beberapa dari mereka sudah menyentuh senjata yang terselip di balik jas. Enzo, yang berdiri di belakang Dante, sudah mengokang senjatanya.
Dante justru tertawa kecil. Tawa yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.
"Permainan yang bagus, Bianca. Sangat bagus," ucap Dante sambil bertepuk tangan pelan. "Suara itu memang sangat mirip dengan Aruna. Kau menggunakan teknologi AI untuk meniru frekuensi suaranya, bukan? Sangat canggih."
Wajah Bianca sedikit berubah, namun ia tetap bertahan. "Apa maksudmu, Dante? Itu rekaman asli!"
"Masalahnya hanya satu, Bianca," Dante berdiri perlahan, menumpukan tangannya di atas meja. "Kamar Aruna tidak pernah memiliki telepon rumah yang aktif. Semua komunikasi dari kamarnya diputus sejak hari pertama dia datang atas perintahku. Dan koordinat sektor utara yang kau sebutkan sebagai 'titik buta' itu... sebenarnya adalah area yang paling ketat penjagaannya dengan sensor gerak infra merah."
Dante memberikan isyarat pada Enzo. Layar monitor besar di dinding ruangan menyala, menampilkan rekaman video CCTV dari sebuah bar pinggiran kota yang dibicarakan Enzo kemarin sore. Di sana terlihat Bianca sedang menyerahkan sebuah koper kepada orang kepercayaan Marco.
"Itu adalah video asli, Bianca. Tanpa rekayasa," lanjut Dante. "Kau menjual lokasi ini bukan untuk menghancurkan Valerius, tapi untuk membuatku tampak lemah agar kau bisa mengambil alih tahta ini setelah musuh menyerang. Kau ingin menjadi pahlawan yang datang menyelamatkan organisasi setelah pemimpinnya 'gagal'."
Bianca terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap yang dibuat Dante dan Aruna.
"Silas, apa hukuman bagi pengkhianat di meja ini?" tanya Dante tanpa menoleh.
Pria tua bernama Silas itu menunduk. "Kematian, Tuan."
Bianca tiba-tiba mencabut pistol kecil yang ia sembunyikan di dalam sepatu hak tingginya. Ia tidak mengarahkannya pada Dante, melainkan pada Aruna. "Jika aku jatuh, kau akan kehilangan hartamu yang paling berharga, Dante!"
DOR!
Suara tembakan meletus. Aruna memejamkan mata, menunggu rasa sakit. Namun ia tidak merasakannya. Saat ia membuka mata, ia melihat Dante berdiri di depannya, tangannya masih memegang pistol yang mengeluarkan asap.
Peluru Dante lebih cepat. Pistol Bianca jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuh wanita itu yang tersungkur dengan lubang di dadanya. Bianca tewas seketika, matanya masih melotot penuh kebencian.
Dante meletakkan senjatanya di meja. Ia menatap para petinggi lainnya satu per satu. "Ada lagi yang ingin mempertanyakan kehadirannya di sini? Ada lagi yang merasa aku sudah kehilangan taring?"
Tak ada yang berani bersuara. Mereka semua menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Pergilah. Bawa mayat ini dan bersihkan ruangan ini," perintah Dante dingin.
Setelah para petinggi pergi dengan tergesa-gesa membawa jenazah Bianca, ruangan itu kembali sunyi. Aruna gemetar hebat. Ia tidak pernah melihat seseorang mati tepat di depan matanya dengan cara seperti itu. Meskipun Bianca ingin membunuhnya, melihat nyawa hilang dalam sekejap adalah sesuatu yang terlalu berat untuk jiwanya yang sederhana.
Dante mendekati Aruna, ia berlutut di depannya dan memegang tangan Aruna yang dingin. "Maaf kau harus melihat ini."
Aruna menatap Dante. "Apakah ini satu-satunya cara, Dante? Darah demi darah?"
"Di duniaku, ya," jawab Dante jujur. "Jika aku tidak melakukannya, mereka akan meremehkanmu selamanya. Aku harus menunjukkan pada mereka bahwa menyentuhmu berarti mengundang maut."
Aruna memeluk leher Dante, menyembunyikan wajahnya di pundak pria itu. Ia menyadari bahwa ia telah benar-benar meninggalkan dunianya yang lama. Di dunia baru ini, cinta bukanlah tentang bunga dan puisi, tapi tentang siapa yang bersedia menarik pelatuk paling cepat untuk melindungimu.
"Kita sudah selesai dengan pengkhianat di dalam," bisik Dante, mengelus rambut Aruna. "Tapi Bianca benar tentang satu hal. Marco masih punya sisa-sisa pasukan. Dan mereka akan datang mencari pembalasan atas kematian pemimpin mereka."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Aruna.
Dante berdiri, membantu Aruna berdiri juga. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan yang seolah tak berujung. "Kita akan berhenti bersembunyi. Kita akan menghabisi sisa-sisanya hingga ke akar, lalu aku akan membawamu dan Bumi pergi dari negara ini. Kita akan memulai hidup baru di tempat di mana tidak ada yang tahu siapa Dante Valerius."
"Kau berjanji?"
Dante mencium kening Aruna. "Aku sudah berhutang terlalu banyak padamu, Aruna. Membawamu ke kehidupan yang damai adalah satu-satunya hutang yang harus aku bayar seumur hidupku."
Malam itu, di tengah istana yang penuh darah, sebuah rencana pelarian disusun. Namun, jauh di seberang kota, di sebuah sel penjara bawah tanah yang dirahasiakan, seseorang yang dikira sudah mati di dermaga sedang mencoba bernapas kembali. Marco belum benar-benar selesai, dan dia memiliki satu rahasia terakhir tentang suami Aruna yang akan menghancurkan segalanya.