Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Malam di Kota Beijing.
Beijing malam ini cukup sepi.
Lampu jalan memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan udara dingin Januari.
Aku, Ma'Ling Sheng, berjalan santai pulang dari sekolah, merasakan angin yang menggoyangkan rambutku. Ya, rambut yang selalu tampak dramatis meskipun baru saja disisir dengan tergesa.
Tidak ada yang spesial dengan malam ini, kecuali satu hal. Dunia selalu menunggu diriku membuat masalah, entah aku mau atau tidak. Dan tentu saja, masalah itu datang dalam bentuk gadis-gadis cantik yang lewat di trotoar.
Aku menoleh, mata ini bergerak alami, profesional, seolah ada alat pengukur kecantikan internal di retina ku. Gadis berambut cokelat dengan seragam rapi berjalan di depanku, langkahnya ringan tapi elegan. Aku tidak bisa menahan diri. Ini bukan kesalahan moral atau apapun.
Ini hanyalah pekerjaan seorang Ma'Ling Sheng.
“Hm … hmm … 8,5 untuk susu, 9,2 untuk proporsi paha, uhm, oke, fokus, fokus …”
Sebelum aku sempat menilai lagi. Karena ya, profesi memeriksa manusia butuh waktu dan konsentrasi tingg—
BAM!
Tangan itu tiba-tiba menampar pipiku. Aku memutar kepala, menatap mata gadis itu yang menyala merah padam karena marah. Dan tentu saja, gadis itu memperhatikan.
“Berhenti jadi mesum, Ma'Ling Sheng!”
“Oke … oke, aku salah. Tapi, jujur … siapa yang bisa menahan mata ini? Dunia terlalu indah untuk tidak diapresiasi, oke?” Aku tersenyum sambil mengelus pipi.
Gadis itu menatapku lagi, lalu berjalan pergi dengan langkah penuh amarah, meninggalkanku sendiri dengan jijik yang menempel di wajah.
Aku menghela napas, melanjutkan perjalanan pulang, masih dengan aura nakal yang tidak bisa hilang begitu saja.
Sambil berjalan, aku mengamati sekeliling.
Trotoar malam itu sunyi, hanya terdengar suara sepatu beradu dengan beton dan gemerisik daun yang tertiup angin.
Rasanya damai sampai suara lirih terdengar.
“MEONG … MEONG …”
Aku berhenti dan menoleh.
Mata ini memang ahli dalam menemukan hal-hal yang menarik perhatian.
Di selokan dekat trotoar, ada seekor kucing yang terjebak, kepalanya hampir tenggelam di air kotor, panik, dan sangat mengandalkan diriku untuk bertahan hidup.
Aku mencondongkan tubuh, memperhatikan makhluk kecil itu.
“Oke … kecil, jangan khawatir. Ma'Ling Sheng penyelamat kucing datang.”
Aku menaruh tangan di tepi selokan, membayangkan diriku sebagai pahlawan, lengkap dengan soundtrack epik donghua favoritku di kepala saat harapan datang di episode terakhir.
Kucing itu mencoba melompat, dan aku meraihnya dengan satu tangan.
“Lihat? Aku bilang aku heroik. Pendekar kegelapan dari Beijing … eh, maksudku, penyelamat kucing!”
Kram.
Otot betisku menegang tiba-tiba.
Sial.
Aku menahan napas, mencoba menyeimbangkan diri, tapi rasa sakit menyebar seperti listrik.
Sialan, ini tidak heroik sama sekali.
“Eh … tunggu … tunggu sebentar!” aku berteriak sambil menahan tangan pada kucing, berusaha tetap berdiri. Tapi air dingin dari selokan mulai merayap naik, membuat kakiku kaku dan gemetar. Tubuhku kehilangan keseimbangan.
Kucing itu entah kenapa tampak hampir tahu akan kejadian berikutnya. Dengan satu lompatan akrobatik, ia keluar dari selokan dan mendarat di tepi trotoar dengan selamat.
“Hebat kau memang cerdas dan aku payah.” Aku menatapnya, setengah marah, setengah kagum.
Tapi rasa sakit di kakiku makin parah. Kram itu menjalar ke paha, lutut, dan hampir ke pinggang. Aku mencoba menjejak ke tepi selokan, tapi tubuhku memberontak. Aku tersandung, tangan yang memegang tepi selokan hampir kehilangan genggaman.
“Ahhh, tidak … tidak … ini … ini …” aku bergumam dengan suara parau karena menahan rasa sakit.
Aku mencoba berbicara pada diri sendiri, tentu saja dengan nada sarkastik, karena apa lagi yang bisa kulakukan saat hidup sedang menampar wajahku?
“Bagus, Ma'Ling Sheng … cara sempurna untuk menutup hari yang penuh aksi. Menjadi manusia yang memeriksa dada dan paha gadis … lalu mati karena kram di depan kucing yang kau selamatkan. Bravo, genius.”
Air selokan kini mencapai lututku. Aku mencoba berdiri, tangan memegang pinggir beton, tapi tubuhku tidak mendengar perintah. Kram itu membuat kaki ini keras seperti papan.
Aku menatap kucing yang sekarang duduk di tepi, menatapku dengan mata penuh ekspresi.
“Kau … benar-benar payah.”
Aku ingin menertawakannya, tapi semua yang keluar dari mulutku hanyalah suara parau.
Byur!
Dan begitu aku jatuh, air dingin menyelimuti seluruh tubuh. Tubuhku terseret ke dalam selokan, terasa ringan tapi kram tetap membuatku tidak bisa bergerak.
Dunia mulai berputar, kabut gelap menelan pandangan, dan aku merasa aneh. Semua suara teredam. Bahkan suara kucing … hanya tinggal gema samar.
Aku mencoba menggerakkan tangan, menatap langit Beijing yang kini mulai memudar tapi tak ada lagi langit. Tidak ada lampu jalan. Hanya kegelapan.
Aku tersenyum tipis, sedikit geli, sedikit panik.
Hebat Ma'Ling Sheng resmi menjadi korban kram di dunia yang mungkin jauh lebih aneh daripada Beijing. Dan ya, kucing itu selamat, menyebalkan tapi bagus untuk moral.
Air sekelilingku menjadi gelap, dan tubuhku terasa seperti ditarik ke dalam pusaran yang lembut tapi menakutkan.
Sial … mati begini pun, pikiranku tetap sampah.
Aku harap ... jika aku terlahir kembali dengan ingatan yang tak hilang dari kehidupan ini.
Aku tak ingin jati diriku sebagai orang yang bejat ini menghilang.
Daripada harus menjadi orang yang munafik di kehidupan selanjutnya.
Seperti para pembully di kelasku.
Dan dunia menjadi gelap.