Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
#35
“Kurang bersih! Lantainya masih kotor!”
Suara Sulis menggema di lorong toilet.
“Nih, lantai yang ku pijak juga masih licin.”
“Kalau yang di sana, memang gak bisa hilang nodanya, Kak. Dan yang Kakak pijak itu, belum aku sikat,” jawab Arimbi hampir menangis.
“Banyak alasan! Aku gak mau tahu, semua lantai harus bersih mengkilap. Karena aku tak suka toilet yang jorok.”
Sulis sang kepala preman di tempat Arimbi ditahan itu tak peduli dengan lawan kecilnya yang terisak, seolah hendak mengangkat bendera putih tanda menyerah.
Jika bukan karena rupiah Sulis tak akan mau melakukan ini, tubuhnya memang bertato karena ia dulu adalah seniman tato, bukannya preman. Suatu hari ada seseorang yang mendatanginya dan menawarkan rupiah, tapi dengan syarat ia harus membuat Arimbi selalu bekerja keras di dalam lapas.
Intinya hanya bekerja, tak masalah apapun pekerjaannya, begitulah permintaan orang yang menyuruhnya.
Keadaan Sulis sedang susah, ibunya di kampung butuh uang, sementara ia masih harus menjalani sisa masa tahanan karena fitnah. Tiba-tiba ada tawaran menggiurkan, langsung saja ia embat tanpa pikir lima kali.
“Hiks— kuku indahku.” Arimbi meringis menatap kuku-kuku indahnya yang mulai mengelupas, ada juga yang sobek karena terlalu sering di gunakan untuk bekerja di tempat lembab, kadang juga bersentuhan dengan cairan pembersih lantai.
Tak hanya kuku indah Arimbi yang mulai terlihat mengenaskan, rambutnya pun kini hanya dicepol asal-asalan, tak ada waktu dan uang untuk perawatan. Wajahnya yang glowing karena selalu dirawat dengan skincare dari uang yang dihasilkan Lilis, kini semakin kusam bahkan beberapa jerawat mulai tumbuh tak tahu sopan.
“Dasar cengeng! Kenapa? Menyesal kamu di penjara karena mencuri?! Nanti setelah keluar, kamu boleh mencuri lagi, supaya kita bisa berjumpa kembali, bagaimana?” ejek Sulis menyeringai.
Arimbi menggeleng takut, cukup sekali saja ia memiliki pengalaman memalukan seperti ini, tak mau lagi mengulang di kemudian hari.
“Bagus, jangan di ulang lagi, ya? Sekarang lanjutkan sampai seluruh lantai kamar mandi ini kinclong clong! Siapa tahu kalau sudah bebas nanti, kamu jadi punya kebiasaan baru, yaitu bersih-bersih kamar mandi. Hahaha.”
•••
Di peternakan, Bu Saidah tengah selonjoran hendak makan siang yang sudah disediakan sebagai jatah para pekerja di peternakan milik Juragan Sastro.
Bu Saodah datang paling akhir, karena ia paling lambat bekerja, sementara teman-teman sesama pekerja yang lain sudah menghabiskan bungkusan makan siang milik mereka.
Suara para pekerja yang sedang ngobrol ringan menjadi musik yang tak terpisahkan dari keseharian Bu Saodah selama beberapa hari bekerja di tempat ini. Tawa, kadang ejekan, tak jarang saling sindir, kini menjadi makan Bu Saodah sehari-hari.
Bukan karena mereka jahat, tapi karena keberadaan Bu Saodah tak terlalu banyak membantu, bahkan lebih sering membuat pekerjaan mereka jadi lebih lambat.
“Memang sudah dari sananya lelet, selamanya tetap lelet. Mungkin kalau di adu dengan siput lomba beres-beres kandang, aku berani bertaruh, siput lah pemenangnya.”
“Hahahaha.”
Tawa berderai, Bu Saodah kesal, namun tak punya daya untuk melawan, tubuhnya terlampau lelah, karena sejak muda tak pernah bekerja keras.
Ketika masih berstatus sebagai istri dari suami pertamanya, pekerjaannya di rumah hanya merawat anak dan bersih-bersih sekedarnya saja. Tak pernah membantu pekerjaan suaminya, tak juga berkeinginan untuk meringankan beban ekonomi keluarga.
Bu Saodah hanya memikirkan dirinya serta anaknya, urusan masak menjadi tugas suaminya selepas pulang dari sawah.
Saat menjadi istri Almarhum Pak Sumartono, sudah ada Lilis yang mahir mengerjakan pekerjaan rumah, jadi makin sempurna saja hidup Bu Saodah sebagai pemalas.
“Kasihan betul dia.”
“Buat apa kasihan, kalau kataku, sih, itu karma. Sekarang dia jadi buruh peternakan demi melunasi hutang, sementara anak kesayangannya di penjara setelah mencuri hape kakak iparnya. Ckckckck—”
Ejekan lain, bisa diabaikan Bu Saodah, tapi ketika mendengar kabar bahwa putrinya yang cantik di penjara, Bu Saodah melotot tajam pada kerumunan para wanita yang sedang menggunjingkan kehidupannya.
“Apa?! Kalau bicara jangan asal, ya!” pekik Bu Saodah, tak rela jika ada yang menjelekkan Arimbi.
“Siapa yang asal, semua orang di desa juga sudah mendengar kabarnya. Anakmu memang di penjara. Bahkan dijemput polisi di sekolahnya,” kata orang itu berapi-api.
Tidak, ini pasti tidak mungkin, mana mungkin Arimbi di penjara karena mencuri? Dan benda yang dicuri adalah hape milik suami Lilis.
Apa mungkin Lilis yang biasanya lembek itu yang mempengaruhi suaminya? Atau memang suami Lilis memang pria tak berbelas kasihan, hingga tega memenjarakan anak ingusan?
Bu Saodah bangkit, melupakan bungkusan makan siangnya, bermaksud minta izin keluar dari peternakan, karena ada urusan yang harus ia lakukan.
Tapi—
“Tidak! Kamu tak boleh meninggalkan peternakan ini, sampai hutangmu lunas! Lagipula, siapa yang bisa menjamin, kalau kamu akan kembali?”
Lemas sudah tubuh Bu Saodah, ia terpenjara dengan hutang-hutangnya, nasibnya serupa dengan Arimbi, walau tidak di kurung di lembaga pemasyarakatan. Tapi di tempat Juragan Sastro, ada orang-orang yang selalu mengawasinya dengan ketat.
•••
Segini dulu, ya? Semoga nanti malam bisa up lagi 🙏🏻🥺
cepet pulih ya lis
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri