Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bryan Menang
Setelah mendengarkan beberapa kesaksian dan juga bukti-bukti, akhirnya pengadilan memberikan keputusan untuk kasus Vello.
"Setelah mendapatkan pernyataan dari beberapa saksi, dan juga bukti-bukti yang kuat. Maka, pengadilan memutuskan jika saudara Bryan Lewis beserta tiga orang temannya yang bernama Jonathan, Rishi dan juga Lucas, dinyatakan tidak bersalah dan bebas tanpa syarat!" Hakim memukulkan palu sebanyak tiga kali, pertanda keputusan sudah final tanpa bisa diganggu gugat, dan sidang berakhir.
"Tidaaak!! Ini tidak adil. Bagaimana bisa anda mengatakan itu yang mulia, sedangkan adikku hampir gila karena perbuatan mereka! Ini tidak adil pak Hakim. Kenapa justru mereka dinyatakan tidak bersalah!"
"Maaf nona Maya, kami tidak mungkin memberikan keputusan yang salah dalam kasus seperti ini. Apalagi bukti-bukti dan juga saksi begitu kuat, bahkan ada satu bukti yang mengatakan jika adik anda depresi bukan karena pelecehan tapi karena konsumsi obat-obatan terlarang. dan itu sudah dibuktikan oleh seorang dokter, kalau adik anda mengonsumsi obat terlarang. Dokter menjelaskan kalah dalam darahnya terdapat jenis obat yang efeknya bisa membuat pemakainya depresi dan berhalusinasi! Dan keputusan pengadilan sudah final, tidak bisa di ganggu gugat lagi!" Hakim beranjak meninggalkan ruang sidang, di ikuti peserta lainnya.
"Tidak! Saya tidak terima ini, kalian tidak adil. Ini pasti ada yang salah!" teriak Maya dengan histeris, berharap ada perubahan dan ada harapan meski ia tahu nihil.
"Kalau anda merasa ini semua tidak adil, silahkan mengajukan banding ke mahkamah. Itupun kalau anda memang memiliki bukti untuk membawa perkara ini kearah yang lebih jauh," pungkas wakil hakim, yang sejak semula sama sekali tidak menyukai aksi protes Maya yang dianggap mengganggu persidangan.
"Tidak! Kalian tidak boleh seperti ini, kalian harus bisa berlaku adil!"
Namun bukannya mendengarkan, hakim, wakil hakim dan lainnya justru bersikap acuh dan meninggalkan Maya yang masih tidak terima dengan apa yang terjadi.
Melihat tidak ada lagi harapan, Maya ambruk ke lantai, tubuhnya lemas. Dia membenci keadaan dan membenci dirinya sendiri, karena sudah gagal memperjuangkan keadilan untuk Vello yang sudah hampir gila karena Bryan.
Dari belakangnya, Fernand, sang ayah mencoba menghampirinya dengan mata yang memerah dan tubuh yang bergetar. Ia membantu Maya bangkit dan menenangkan putri sulungnya yang sudah hancur karena merasa perjuangannya gagal.
"Sudah nak, sudah. Jangan seperti ini lagi, sebaiknya kita pulang."
"Ayah! Aku gagal ayah, kenapa mereka bisa menang? Kenapa keadilan untuk Vello tidak bisa kita dapatkan," rintih Maya, dengan suara yang serak tertahan penuh rasa kecewa.
"Nak, jangan menyiksa diri seperti ini," isak Fernand tertahan. "Kita memang sudah salah membawa ini ke jalur hukum. Kita salah sudah berurusan dengan iblis berwujud manusia seperti mereka," lirih Fernand.
"Tapi ini tidak adil untuk Vello, Ayah. Vello menderita, dia kehilangan masa depannya karena para bajingan itu. Dia sekarang depresi dan aku... Aku tidak bisa memperjuangkan semuanya buat dia. Padahal Aku sempat yakin kalau aku bisa mendapatkan keadilan untuk Vello, tapi ternyata aku gagal ayah. Aku gagal!" tangis Maya tak terbendung lagi. Ia terisak dalam pelukan Fernand, tubuhnya bergetar hebat merasakan perih dan sakit yang luar biasa akan nasib adiknya yang tidak bisa mendapatkan keadilan.
"Sudah Nak, sudah! Ayo, sebaiknya kita pulang. Vello sekarang pasti sudah cukup lelah. Dia harus segera istirahat."
"Tapi ayah.."
"Nak, sudah. Jangan mempermalukan diri kamu lagi seperti ini, atau mereka akan semakin bahagia."
Maya memejamkan matanya kuat-kuat, hatinya terasa remuk. Meski enggan, ia akhirnya menuruti ucapan Ayahnya. Maya bangkit, lalu dengan engan langkah gontai, Maya keluar dari ruang sidang dengan sang ayah dan juga Vello yang duduk di kursi roda, namun pandangannya tampak kosong.
*
Saat tiba di sudut parkiran, mata Maya tertuju pada orang-orang yang tengah berbicara dengan keluarga Lewis.
Tangan Maya terkepal kuat melihat pemandangan didepannya. Dimana Bryan tengah tertawa dan menyalami hakim yang memimpin sidang hari ini.
Maya yakin, kalau sidang hari ini tidak terjadi dengan semestinya. Dia yakin semua saksi dan bukti sudah di manipulasi keluarga Lewis.
Melihat Maya yang tiba-tiba berhenti, Fernand mengikuti kemana arah pandang Maya. Setelahnya, dia menepuk bahu putri tertuanya itu.
"Ayo kita pulang! Disini tidak akan ada keadilan untuk kita nak! Biarkan Tuhan yang memberikan mereka hukuman, karena di dunia ini tidak ada keadilan untuk orang kecil seperti kita," lirih Fernand kembali mengajak Maya untuk segera pergi.
Hatinya bukan tidak hancur saat tahu masa depan anak gadisnya sudah di rusak dan tidak bisa mendapatkan keadilan, tapi dia sudah tahu konsekuensi seperti apa yang akan di dapatkan jika si miskin menuntut hukum dan keadilan melawan si kaya.
Berpuluh tahun dia hidup, bukan satu dua kali dia menemukan bukti, bahwa keadilan dan kesetaraan hukum, itu hanya berlaku untuk si kaya dan penguasa.
Merasa ada yang memperhatikan, Bryan mengalihkan pandangannya dan bertepatan dengan itu Maya sudah berbalik.
Senyum miring tercetak di bibir Bryan saat melihat kepergian Maya dan juga Vello dari lingkungan pengadilan.
"Ini baru awal sayang!" Bryan mengusap bibirnya menggunakan ibu jari, lalu senyum smirk.