NovelToon NovelToon
Saat Istriku Tak Bodoh Lagi

Saat Istriku Tak Bodoh Lagi

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Poligami / Selingkuh / Bullying dan Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 4.7
Nama Author: Itha Sulfiana

Firman selama ini berhasil membuat Kalila, istrinya seperti orang bodoh yang mau saja dijadikan babu dan tunduk akan apapun yang diperintahkan olehnya.

Hingga suatu hari, pengkhianatan Firman terungkap dan membuat Kalila menjadi sosok yang benar-benar tak bisa Firman kenali.

Perempuan itu tak hanya mengejutkan Firman. Kalila juga membuat Firman beserta selingkuhan dan keluarganya benar-benar hancur tak bersisa.

Saat istri tak lagi menjadi bodoh, akankah Firman akhirnya sadar akan kesalahannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantang cerai

"Man, dimana istri-istri kamu? Kenapa nggak ada satu pun yang datang buat jemput Ibu?"

Bu Midah akhirnya keluar dari rumah sakit setelah hampir sepuluh hari dirawat. Wanita paruh baya tersebut tampak tersenyum masam saat menyadari bahwa tak ada satu pun menantunya yang datang untuk menjemput dirinya.

"Kalila kerja, Bu. Kalau Lia...," Firman menghela napas panjang. "Lia nginep di rumah Bapaknya."

"Huh!! Punya dua mantu perempuan kok nggak ada yang berguna satu pun? Masa' mertua baru keluar dari rumah sakit begini malah nggak ada yang inisiatif buat jemput dan kasih kejutan?" sungut Bu Midah kesal. "Terutama, si Kalila miskin itu. Selama ini, dia mana pernah jengukin Ibu. Dan sekarang, saat Ibu sudah mau pulang, boro-boro dikasih hadiah. Dijemput dan dibeliin makanan aja, enggak."

"Udahlah, Bu! Yang penting kan, Firman udah jemput."

"Huh! Kamu selalu aja belain si Kalila itu, Man! Padahal, apa gunanya sih, memelihara perempuan miskin seperti dia? Yang ada cuma ngabisin beras aja. Rugi, Man! Rugiii!!!"

Bibir Bu Midah tampak manyun lima senti. Dia benar-benar kecewa karena tak ada menantu yang memanjakan dirinya saat keluar dari rumah sakit.

Padahal, dalam khayalannya, baik Kalila maupun Lia pasti sudah siap sedia menyambutnya serta membelikan hadiah-hadiah yang bagus.

Bukankah, kedua perempuan itu sangat bucin kepada putranya?

"Kita berangkat sekarang ya, Bu!" Firman segera tancap gas. Hari ini, dia sengaja menjemput sang Ibu terlebih dulu di rumah sakit sebelum berangkat untuk bertemu dengan calon pembeli tokonya.

Sesampainya di rumah, darah tinggi Bu Midah sepertinya akan kambuh lagi. Mata perempuan paruh baya itu melotot tajam saat mendapati Kalila ternyata ada di rumah dan sedang asyik bermain game online di ruang tamu.

"Man, kata kamu, Kalila kerja. Tapi, ini apa? Kenapa dia malah santai-santai di rumah seperti ini?"

Firman menggeleng pelan. Dia pun bingung kenapa Kalila bisa berada di rumah. Padahal, tadi jelas-jelas Firman melihat Kalila keluar rumah dengan penampilan rapi seperti biasanya.

"Kalila! Sayang... Kamu nggak kerja?" tegur Firman.

"Nggak. Hari ini aku libur," jawab Kalila tanpa menoleh. Tatapannya tetap terpaku pada layar datar ponselnya.

"Kenapa nggak bilang, Sayang? Kalau Mas tahu kamu nggak kerja, pasti Mas udah ajakin kamu untuk jemput Ibu di rumah sakit."

Kalila menoleh sesaat. Tatapannya bersirobok dengan tatapan sang Ibu mertua sebelum memutuskan untuk kembali fokus pada ponselnya.

"Ibu sudah pulang?" tanyanya basa-basi.

"Heh, Kalila! Yang sopan kalau ngomong sama orang tua!" hardik Bu Midah marah. "Kamu itu ya! Jadi mantu kok nggak ada tata kramanya! Mertua baru pulang dari rumah sakit, bukannya dimasakin yang enak-enak, malah main HP nggak jelas!"

"Aku bukan babu, Bu," timpal Kalila dengan santainya.

"Kamu berani ngelawan Ibu?"

"Kenapa aku harus takut, Bu?"

Perkataan Kalila semakin memancing emosi Bu Midah. Perempuan tua itu lekas menghampiri Kalila lalu merebut ponsel menantunya itu kemudian melemparkannya dengan keras hingga menghantam dinding.

"IBU!!!" teriak Kalila marah. Teriakan itu bahkan membuat Bu Midah jadi tersentak kaget.

Kalila gegas menghampiri ponselnya. Benda pipih tersebut kini retak dibagian layar.

"Itu akibatnya kalau berani melawan Ibu!" kata Bu Midah yang berusaha terlihat tak gentar dihadapan Kalila.

Napas Kalila mulai memburu. Andai Bu Midah bukan orang tua dan tidak sedang sakit, mungkin tamparan keras sudah Kalila layangkan ke pipinya.

"Tolong jangan pancing kesabaranku, Bu! Aku mohon!" pinta Kalila dengan suara lirih.

"Kalila! Ibu! Sudah!" ujar Firman menengahi.

"HPku rusak, Mas! Siapa yang akan ganti rugi?" Kalila memperlihatkan ponselnya kepada Firman.

"Kamu bisa beli pakai uang kamu sendiri, Kalila! Nggak usah pake ribetlah! Toh, semuanya juga salah kamu, kan? Siapa suruh kamu nantangin Ibu?"

Mendapatkan pembelaan dari putranya, Bu Midah pun tersenyum jumawa.

"Jadi, kamu nggak mau ganti?" tanya Kalila sekali lagi.

"Ya, enggaklah! Itu kan HP kamu. Jadi, ganti sendiri dong, Sayang! Uang tabungan kamu kan masih ada," jawab Firman dengan nada tenang cenderung menggampangkan masalah.

"Oke. Kalau kamu nggak mau ganti, nggak masalah. Itu artinya, kalian berdua siap kalau masalah ini aku bawa ke ranah hukum."

"Kalila, Sayang! Masa' cuma masalah HP kamu dirusak Ibu, malah merembet kemana-mana, sih? Lapor polisi buat apa? Mereka juga nggak mungkin punya waktu untuk mengurus masalah sepele seperti ini."

Kalila menyeringai. "Kalau aku laporin soal penculikan aku tempo hari, gimana menurut kamu, Mas?"

Tentu saja Firman menjadi panik. "Kenapa harus bawa-bawa masalah itu, sih? Kan, Mas sudah bilang kalau Mas benar-benar tidak terlibat."

"Kalau memang nggak terlibat, mukanya biasa aja dong, Mas! Nggak usah pucat kayak gitu."

Pria itu terlihat kesusahan menelan salivanya. Nyatanya, ancaman Kalila sungguh membuat dirinya ketakutan.

"Oke. Mas akan ganti HP kamu."

"Transfer uangnya ke rekening aku, sekarang!"

"Mas aja yang beliin, Sayang. Mas bisa langsung ke..."

"Dua puluh lima juta," potong Kalila cepat. "Aku mau beli iPhone."

"Banyak sekali, Sayang! Beli HP yang murah aja, ya!" bujuk Firman.

"Tiga puluh juta!"

"Sayang..."

"Tiga puluh lima juta."

Tenggorokan Firman serasa tercekat. Ia menahan geram didalam dadanya. Perempuan yang dulunya tak pernah menuntut apa-apa kepada Firman, kini mulai pandai bermain hitung-hitungan yang menguntungkan.

"Kenapa diam? Nggak sanggup kasih uang segitu? Berarti... Mas setuju kalau aku beneran laporin kasus penculikan tempo hari?" pancing Kalila.

"Oke. Deal! Tiga puluh lima juta."

" Apa-apaan kamu, Man? Kenapa kamu malah menuruti permintaan perempuan matre ini?" protes Bu Midah keberatan. "Kamu itu laki-laki, Man. Kamu nggak boleh lemah dihadapan perempuan matre seperti dia."

"Sudahlah, Bu! Ini urusanku dengan Kalila. Lagipula, Kalila kan memang istriku. Wajar , kalau dia meminta uang sama aku."

"Nggak! Pokoknya, Ibu nggak ikhlas kalau kamu kasih uang ke perempuan matre ini!" kata Bu Midah. "Heh, kamu!" Dia menunjuk Kalila dengan telunjuk kirinya. "Dasar perempuan matre! Kalau mau uang, jual diri, sana! Jangan malah mengemis sama putraku!"

"Hei, Bu Midah yang terhormat! Anakmu ini juga suamiku! Sudah menjadi kewajibannya untuk memberi nafkah untukku. Tapi, selama ini dia tidak pernah melakukan itu, kan? Jadi, apa salah jika sekarang aku meminta uang padanya? Toh, yang aku minta adalah biaya ganti rugi atas perbuatan kampungan Ibu yang sudah merusak ponselku."

"Jaga bicaramu, Kalila! Dasar s3tan, kamu!" geram Bu Midah semakin emosi. "Man, talak dia! Talak sekarang juga! Ibu sudah tidak tahan dengan kelakuannya!"

Bukannya takut, Kalila malah melipat kedua tangannya didepan dada sambil tersenyum sinis.

"Kamu dengar permintaan Ibumu kan, Mas?" tanya Kalila pada lelaki yang sedari tadi hanya mematung tersebut.

"Kalila! Cepat minta maaf sama Ibu! Kalau perlu, bersujudlah supaya Ibu mau memaafkan kamu. Kamu pasti nggak mau cerai kan, dari Mas?"

"Kalau dia mau Ibu maafkan, dia harus menj!lat kaki Ibu dulu, Firman," timpal Bu Midah.

Dia yakin, Kalila pasti akan bersujud dan mencium kakinya. Perempuan itu pasti tidak mau dicerai oleh Firman.

"Cuih!" Kalila meludah dengan kasar. "Tidak sudi!" ucapnya dengan tegas dan keras. "Sekarang juga, aku menantang kamu, Mas! Ceraikan aku!"

1
Rino Wengi
mampusssssd
Rino Wengi
di anjing istrinya mau dijual
Rino Wengi
si setan mau naik haji???? nggak takut kualat?
Rino Wengi
kesel banget sama Kalila... sudah dikhianati masih betah disitu.mending pulang kerumah kakaknya minta cerai
Rino Wengi
kenapa nggak cerai saja bego
Lucy
😄😄😄😄mantap kalila
Siska Eta
jangan jangan Lia punya pria lain ya
Siska Eta
mantap lawan terus ,puas aku baca
Siska Eta
keluarga iblis di otak mareka hanya untuk memanfaatkan harta orang
Siska Eta
belum sadar dia kalau istrinya tengah menjatuhkanya
Siska Eta
pastikan jatuh sampai titik terendah
Siska Eta
Kalau su banyak uang lupa diri
Siska Eta
Cinta tanpa restu keluarga ternyata lebih sakit
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙤𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙞𝙙𝙖𝙝2 𝙪𝙩𝙚𝙠𝙚 𝙜𝙚𝙨𝙚𝙧 𝙨𝙖𝙠 𝙖𝙣𝙖𝙠2 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙪2 𝙣𝙚 😭😭🤣🤣🤣
Melinda Corra Febrina
/Smile/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙠𝙤𝙠 𝙠𝙚𝙢𝙥𝙡𝙤 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙠𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙮𝙧 𝙩𝙪𝙣𝙖𝙞 𝙡𝙞𝙖 𝙡𝙞𝙖 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙨𝙤𝙮𝙤 𝙜𝙚𝙨𝙚𝙧 𝙪𝙩𝙚𝙠𝙚 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙠𝙞, 𝙟𝙚𝙣𝙚𝙣𝙜𝙚 𝙬𝙤𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙜𝙞𝙝 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙚𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙨𝙩𝙞 𝙥𝙣𝙮 𝙘𝙞𝙧𝙘𝙡𝙚 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜2 𝙝𝙚𝙗𝙖𝙩 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢 🤣🤣🤣𝙠𝙤𝙠 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙧𝙚𝙥 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙚𝙨 🤣🤣🤣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙪 𝙖𝙣𝙘𝙚𝙣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙞𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙪𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖 𝙤𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙙𝙝 𝙜𝙚𝙨𝙚𝙧 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙮𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙨𝙖 𝙆𝙖𝙡𝙞𝙡𝙖 𝙚𝙝 𝙜𝙞𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙟𝙢𝙥𝙩 𝙙𝙞 𝙠𝙨𝙝 𝙨𝙪𝙧𝙥𝙧𝙞𝙨𝙚 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖 𝙗𝙖𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙜𝙠 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙜𝙠 𝙥𝙣𝙮 𝙤𝙩𝙖𝙠😡😡😡
Diny Julianti (Dy)
kenapa ngga cari kontrakan aja lagi, kan motor suaminy bisa djual
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!