"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
"Selamat datang di titik balik paling emosional dalam perjalanan ini. Ada saat-saat di mana hidup terasa sangat tidak adil, di mana satu orang berjuang di ambang maut, sementara yang lain berpesta di atas luka. Episode ini akan menguras air mata kalian. Siapkan hati, karena perjuangan Hana mencapai puncaknya malam ini."
.
.
Malam di Desa Sukamaju terasa lebih sunyi dan dingin dari biasanya. Angin gunung berembus kencang, menyelinap di antara celah dinding kayu rumah tua Hana, membawa suara gesekan daun bambu yang terdengar seperti rintihan.
Di dalam rumah, Hana baru saja menyelesaikan doa malamnya. Tubuhnya terasa sangat berat, punggungnya seperti ditarik beban ribuan ton, dan napasnya mulai pendek.
Ia mencoba merebahkan diri di atas dipan, berharap rasa nyeri di pinggangnya hanyalah kelelahan biasa setelah seharian membuat adonan kue. Namun, tepat saat ia mencoba memejamkan mata, sebuah sensasi hangat yang tak terkendali mengalir membasahi kakinya.
***Plap***!
Hana tersentak. Ia meraba permukaan dipan yang mendadak basah kuyup. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tahu apa artinya ini. Ketuban itu pecah.
"S-sekarang? Belum waktunya, Nak... ini masih dua minggu lagi," bisik Hana dengan suara gemetar.
Seketika, rasa sakit yang dahsyat menghantam perutnya. Rasanya seperti rahimnya diperas oleh tangan raksasa. Hana mencengkeram pinggiran dipan hingga kukunya memutih. Rasa sakit itu hilang sejenak, namun meninggalkan rasa mulas yang luar biasa.
Ia melirik jam dinding tua. Pukul satu dini hari. Di desa ini, semua orang sudah terlelap. Tidak ada tetangga yang cukup dekat untuk mendengar teriakannya, dan ia tidak punya kendaraan. Satu-satunya tempat yang bisa menolongnya adalah klinik Bidan Siti yang jaraknya hampir satu kilometer dari rumahnya.
"Aku harus kuat. Ibu harus kuat demi kamu," Hana menggertakkan gigi.
Dengan tangan gemetar, ia meraih tas kecil berisi perlengkapan bayi yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia bangkit, namun kedua kakinya terasa lemas seperti jelly. Setiap kali ia melangkah, kontraksi itu datang lagi, lebih tajam dan lebih lama.
Hana membuka pintu rumah. Kegelapan pekat menyambutnya. Hanya ada cahaya bulan yang samar dan lamat-lamat lampu jalan yang jarang. Ia mulai berjalan menyusuri jalanan setapak yang berbatu.
Setiap sepuluh langkah, Hana harus berhenti. Ia bersandar pada pohon besar atau pagar rumah orang, membungkuk sedalam-dalamnya sambil mengatur napas. Keringat dingin bercampur dengan air mata. Rasa sakit itu kini datang setiap lima menit sekali, menandakan persalinan sudah di depan mata.
"Mas Bima..."
Nama itu sempat terucap di sela isakannya. Bukan karena ia merindukan pria itu, melainkan karena nalurinya sebagai istri yang sedang meregang nyawa mencari sandaran. Namun, ia segera menggelengkan kepala. Tidak, Hana. Dia sudah membuangmu. Dia bukan siapa-siapa lagi.
Di tengah jalan yang sepi, Hana terjatuh. Lututnya membentur kerikil tajam hingga berdarah. Ia tersengal, rahimnya terasa seperti akan robek. Di atas sana, langit tampak begitu luas dan acuh tak acuh pada penderitaannya.
Hana merasa sangat kecil, sangat sendirian, dan sangat hancur. Namun, tendangan kuat dari dalam perutnya menyadarkannya.
Ibu, aku ingin melihat dunia, seolah itulah pesan yang dikirimkan sang bayi.
Hana bangkit kembali. Dengan menyeret kakinya dan memegangi perutnya yang sudah turun, ia terus melangkah. Satu kilometer terasa seperti perjalanan ribuan mil.
Ratusan kilometer dari sana, Jakarta sedang berada di puncak kegembiraannya. Di sebuah kelab malam kelas atas dengan lampu neon warna-warni dan musik yang memekakkan telinga, Bima Erlangga sedang tertawa lebar.
Ia duduk di sofa VIP yang paling mewah. Di depannya, botol-botol minuman keras seharga motor berjejer. Clarissa, yang mengenakan gaun mini berkilauan, menari kecil di hadapannya sambil terus menyuapi Bima potongan buah jeruk.
"Bim, kenapa ponselmu bergetar terus? Berisik tahu!" seru Clarissa sambil menunjuk ponsel Bima yang tergeletak di meja.
Bima melirik layar ponselnya. Sebuah nomor tak dikenal muncul. Kode areanya menunjukkan daerah pedesaan di luar kota.
"Siapa?" tanya Bima malas.
"Mana aku tahu. Paling-paling asuransi atau orang salah sambung," sahut Clarissa manja, lalu ia sengaja mengambil ponsel itu dan mematikan suaranya. "Sudahlah, malam ini milik kita. Jangan biarkan gangguan kecil merusak suasana."
Ponsel itu kembali menyala. Berkali-kali. Panggilan dari Bidan Siti, yang mencoba menghubungi Bima setelah menemukan nomornya di dalam buku kesehatan ibu milik Hana yang tertinggal di tas. Bidan itu ingin memberi tahu bahwa Hana dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Bima menatap layar yang berkedip itu sejenak. Ada firasat aneh yang melintas di hatinya. Sesuatu yang terasa seperti cubitan di ulu hati. Namun, pengaruh alkohol dan tawa Clarissa segera menenggelamkan firasat itu.
"Mungkin itu Hana yang ingin minta uang," pikir Bima dengan ego yang masih melangit. "Biar saja. Biar dia tahu rasanya diacuhkan. Dia sendiri yang bilang tidak butuh uangku."
Bima membalikkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia kembali mengangkat gelasnya, bersulang untuk kemenangannya. Ia tidak tahu bahwa setiap detak musik yang ia nikmati beradu dengan detak jantung istrinya yang mulai melemah.
Hana tiba di depan pintu klinik Bidan Siti dengan kondisi memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, bajunya basah oleh keringat dan air ketuban, serta lututnya berlumuran darah. Ia memukul pintu kayu itu dengan sisa tenaga terakhirnya sebelum akhirnya ambruk di depan teras.
"Bidan... tolong..."
Pintu terbuka. Bidan Siti terkesiap melihat sosok wanita yang sudah hampir kehilangan kesadaran itu.
"Astaga, Mbak Hana! Kenapa jalan kaki sendirian?!" Bidan Siti dan asistennya segera membopong Hana masuk ke dalam ruang persalinan.
Di dalam ruangan yang berbau alkohol dan karbol itu, perjuangan hidup dan mati dimulai. Hana merasa seperti ditarik dari dua arah yang berbeda. Kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang.
"Ayo, Mbak Hana! Kuat! Demi bayinya! Tarik napas!" seru Bidan Siti.
"Sakit... Bu Bidan... saya tidak kuat..." rintih Hana.
Bidan Siti melihat ponselnya yang tergeletak di meja. Sepuluh panggilan ke nomor 'Suami' di ponsel Hana tidak dijawab. Ia menggeram kesal. Pria macam apa yang membiarkan istrinya berjuang sendirian seperti ini?
"Mbak Hana, dengarkan saya! Anda tidak punya siapa-siapa di sini kecuali anak ini! Jika Anda menyerah, dia juga menyerah! Apa Anda mau pria yang menyakiti Anda itu menang?!" teriakan Bidan Siti seolah menyentak kesadaran Hana.
Nama Bima kembali muncul di benak Hana. Bukan sebagai sandaran, tapi sebagai pemicu amarah. Benar. Aku tidak boleh mati. Aku tidak boleh membiarkan Bima Erlangga menang atas hidupku!
Hana mengejan dengan seluruh sisa nyawa yang ia miliki. Rasa sakit itu mencapai puncaknya, sebuah jeritan panjang keluar dari kerongkongannya yang kering. Dan kemudian... keheningan.
Oeeee ...! Oeeee ...!
Suara tangisan yang melengking memecah kesunyian malam di Desa Sukamaju. Suara yang lebih indah dari musik apa pun yang didengar Bima di Jakarta.
Bidan Siti meletakkan bayi laki-laki yang kemerahan itu di atas dada Hana. Hana menangis sejadi-jadinya saat merasakan kulit hangat dan lembut anaknya menyentuh kulitnya.
Rasa sakit yang tadi ia rasakan mendadak menguap, digantikan oleh rasa cinta yang begitu dahsyat hingga dadanya terasa sesak.
"Selamat, Mbak Hana. Bayinya laki-laki. Sehat dan tampan sekali," ucap Bidan Siti sambil mengusap air matanya sendiri.
Hana memeluk bayinya erat-erat. "Saka... namamu Aditya Saka, Nak. Karena kamu adalah cahaya yang mengakhiri malam gelap Ibu."
Di Jakarta, saat itu juga, Bima secara tidak sengaja menjatuhkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping.
"Bim? Kenapa? Kamu mabuk ya?" Clarissa bertanya khawatir.
Bima menatap pecahan kaca di bawah kakinya. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terputus di dalam dirinya.
Ia menoleh ke arah ponselnya, namun layar itu kini sudah gelap. Ia tidak tahu, bahwa di detik itu, haknya sebagai seorang ayah telah dicabut oleh takdir.
Hana telah melahirkan. Tanpa dirinya. Tanpa uangnya. Dan tanpa satu pun jejak Bima di dalam hidup Aditya Saka yang baru saja dimulai.
Bagaimana kehidupan Hana sebagai ibu tunggal di desa dengan segala keterbatasan? Dan kapan Bima akan menyadari bahwa panggilan yang ia abaikan malam itu adalah panggilan yang akan ia sesali seumur hidupnya?
Ikuti terus babak baru perjuangan Hana di Up selanjutnya.
...----------------...
**To Be Continue** .....