SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPERGOK
Sidang pertama berjalan lancar, baik Sasa dan Sakti mengikuti prosedur pengadilan, bahkan mereka mengikuti tahapan mediasi, tak ada perdebatan serius, hanya memang mereka sepakat untuk bercerai dengan damai. Meski Sasa sangat menahan untuk tidak mengungkapkan kecurigaan adanya perselingkuhan antara Iswa dan Sakti. Ia pikir nanti urusannya makin lama, dan Sakti jelas akan membela Iswa, makin membuat Sasa sakit hati, lebih baik Sasa menunggu momen kapan mereka meresmikan hubungan diam-diamnya.
Selama bertemu, Sakti dan Sasa tidak terlibat omongan sama sekali. Keduanya hadir tanpa didampingi pengacara atau keluarga. Sudah mereka menyelesaikannya sendiri. Setelah sidang, mereka juga masuk mobil sendiri-sendiri tanpa ada pembicaraan apapun. Komunikasi semakin jelek, dan tak akan pernah ada niatan untuk diperbaiki.
Menunggu sidang putusan, Sakti semakin siap. Rasanya plong sekali, bahkan ia tak sabar menunggu putusan itu. Ternyata single tak menyeramkan juga.
Sudah putusan, Ti? Sakti mengomentari status Mutiara yang memamerkan map berisi akta cerai dengan senyum lega.
Sudah Sak, kemarin. Jawab Mutiara.
Semoga ini keputusan terbaik. Balas Sakti dan diaminkan oleh Mutiara. Entah karena senasib, Sakti dan Mutiara justru semakin sering chat, hanya menceritakan proses perceraian. Ditambah Mutiara juga memberi saran pada Sakti kalau suatu saat nanti dia menikah dengan seorang perempuan, masalah anak harus dibahas dengan detail, termasuk urusan keluarganya.
Kalau perlu tes kesehatan reproduksi baik suami dan istri, biar tidak saling menyalahkan. Karena sering kali pihak perempuan yang disalahkan, begitu Mutiara memberikan nasehat pada Sakti.
Sakti sendiri tidak pernah menyalahkan Sasa perihal anak, memang permasalahan mereka karena hubungan mertua dan menantu, hingga membuat Sasa enggan punya anak.
Hubungan Sakti dan Sasa mulai tercium ada masalah oleh beberapa rekan kerja, namun baik Sasa maupun Sakti tak memberi klarifikasi apapun. Hingga saat meeting setelah makan siang, Sakti dihubungi oleh seseorang. Sakti keluar meeting sebentar, karena prinsipnya yang menghubungi dia berarti sangat penting.
Iya, Saya Sakti!" jawab Sakti setelah dikonfirmasi oleh pihak yang menghubungi, ternyata pihak rumah sakit. Mutiara pingsan di tengah belanja di sebuah supermarket, dan dibawa ke rumah sakit oleh pegawai supermarket. Kebetulan orang yang terakhir dihubungi Mutiara adalah Sakti. Alhasil, meeting langsung dihentikan, dan Sakti langsung menuju rumah sakit.
Sasa ingin tahu siapa yang sakit, sampai Sakti panik begitu. Apa mungkin kedua orang tuanya? Atau Iswa? Sepeninggal Sakti, Sasa tak bisa konsentrasi, ia ingin tahu siapa gerangan.
Dia pun memberanikan diri mengirim pesan pada Sakti, toh keduanya masih status suami istri. Lusa baru menjadi mantan. Siapa yang sakit Mas?
Tak kunjung dibalas, Sasa pun sengaja mengirim pesan pada Iswa, karena rasa ingin tahunya terlalu kuat.
Wa, apakah mama dan papa Mas Sakti sakit? Ini tadi meeting, Mas Sakti keluar langsung, wajahnya sangat panik.
Enggak ada yang sakit, Mbak. Mama dan papa Alhamdulillah sehat.
Kamu dan anak-anak?
Kami juga sehat Mbak, Alhamdulillah.
Mendapat balasan dari Iswa, membuat Sasa penasaran, siapa yang dikhawatirkan Sakti sampai sebegitunya. "Apa dia sudah punya pacar baru? Secepat itu? Masa' iya sih, Mas Sakti gampang sekali move on dari aku?"
Sampai keesokan harinya Sasa dibuat kepo, karena Sakti tak masuk kantor. Besok akan ikrar talak, apa mungkin Sakti tak hadir? Sepanjang hari Sasa terus memikirkan Sakti, bahkan chatnya tak dibaca sama sekali.
"Kamu sebenarnya ke mana sih, Mas?" gusar Sasa, hingga sebuah pesan dari temannya seorang perawat.
Sa. Ini suami bukan? teman Sasa mengirim sebuah foto Sakti menemani seseorang di sebuah kamar rawat inap, kebetulan teman Sasa sedang cek infus. Memang tak sendiri kata teman Sasa ada keluarga di kamar itu, tapi foto itu membuat Sasa mengambil keputusan dia akan mendatangi kamar inap dan memastikan apakah Iswa membohongi dirinya. Pikiran Sasa jelas mengarah pada Iswa, sekarang siapa lagi seorang perempuan yang sakit dan ada Sakti dan keluarga selain Iswa.
Saat makan siang, Sasa menuju rumah sakit sesuai petunjuk temannya. Ia langsung menuju kamar inap.
"Masuk," ucap Sakti, betapa terkejutnya Sasa melihat Sakti yang menyuapi Mutiara dan posisinya mereka hanya berdua di kamar.
"Waow!" ucap Sasa sembari masuk ke kamar. Mutiara kaget begitu juga dengan Sakti, piring makan siang langsung diletakkan Sakti. Sasa melihat keduanya seperti kepergok.
"Ternyata Bu Mutiara toh yang sakit, aku kira Iswa sampai Mas Sakti mengakhiri meetingnya," sindir Sasa.
"Mbak Sasa, jangan salah paham ya, pihak rumah sakit hanya menghubungi siapa yang terakhir aku hubungi," jelas Mutiara.
"Gak perlu dijelaskan juga kali, Ti!" Sakti malah membuat Sasa tersenyum muak. Seperti biasa Sakti tak pernah memikirkan perasaan Sasa.
"Kamu ke sini berniat menjenguk Mutiara atau apa?" tanya Sakti ketus. Ia malas ada drama sesuai pikiran Sasa.
"Aku hanya kepo siapa perempuan yang dikhawatirkan oleh suami saya, sampai mengakhiri meeting!" ucap Sasa, menahan agar tak bernada tinggi.
"Gak usah kepo, besok kita juga bukan status suami istri," balas Sakti.
"Sak," tegur Mutiara yang tahu Sasa bisa saja mencurigai hubungan mereka.
"Aku gak menyangka saja, perempuan yang dulu aku percaya mengatasi permasalahan rumah tanggaku, ternyata main belakang dengan suamiku, yang juga kliennya!" sindir Sasa dengan menatap Mutiara, bahkan melihat perempuan yang masih lemah itu dengan tatapan merendahkan.
"Mbak Sasa, gak seperti pikiran, Mbak Sasa. Saya dan Sakti gak ada hubungan apa-apa!" ucap Mutiara dengan nada rendah menjelaskan Sasa yang mulai overthinking.
Sakti hanya berdecak sebal, dan langsung menarik tangan Sasa untuk keluar kamar. "Bisa gak sih, pikiran kamu itu jernih!" sentak Sakti sembari menghempaskan tangan Sasa.
"Aku harus berpikir jernih? Sedangkan suamiku dan seorang perempuan yang katanya alim berduaan di kamar dan dia suapi oleh kamu, hey yang waras Sakti!"
"Kita besok bercerai, dan hubungan kita sudah selesai semenjak kita pisah rumah!" ucap Sakti tak akan merasa bersalah dengan tindakannya menolong Mutiara.
"Tega kamu ya, menjaga perasaan Mutiara tapi lupa menjaga perasaan aku. Semenjak kamu pergi dari rumah saja, aku masih membatasi hubungan dengan lawan jenis, karena secara hukum kita masih sah. Sedangkan kamu, panik saat dia sakit, bahkan sampai menyuapi, terlalu lebay kalau hanya teman biasa. Emang Mutiara gak punya keluarga? Dia emang janda Sakti, tapi gak seharusnya dirawat atau dijaga oleh suami orang."
"Sa, sumpah aku capek meladeni overthinking kamu. Kita sudah sampai putusan, kalau kamu mau jalan sama cowok lain juga gak papa! Yang jelas aku hanya membantu Mutiara, aku tidak berdua, tapi ada mama Mutiara hanya saja beliau sedang keluar, dan aku hanya membantu dia menyuapi karena dia kesulitan makan. Aku sengaja menemani karena mama Mutiara baru datang pagi tadi, paham?"
"Apapun penjelasannya, kamu lebih menghargai sakitnya dia daripada menjaga perasaanku," ucap Sasa langsung meninggalkan Sakti begitu saja.
eh kok g enak y manggil nya