Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Arena Uji Nyali
Kini sepasang pengantin baru tinggal berdua saja di kamar. Pak Tono sudah berlalu pergi dari kamar pengantin setelah Seruni siuman.
"Maaf ya, Bang. Ading bikin malu," cicit Seruni terdengar sendu seakan hendak menangis.
Seruni masih dalam kondisi berbaring di atas ranjang lengkap memakai gaun pengantinnya karena belum sempat berganti baju keburu dirinya pingsan.
"Nggak apa-apa,"
"Hiks..."
"Loh kenapa malah jadi nangis, Run?"
"Ading ngerasa bodoh," ungkap Seruni di sela isak tangisnya.
"Ya memang bodoh sampai bikin heboh satu rumah. Tapi, kok aku jadi kasihan sama dia." Batin Bastian.
Dalam pikiran serta penilaian Bastian, ada perbedaan antara Seruni dan Rasti. Seruni cantik natural, sopan dan baik. Namun isi otaknya terkesan lugu, polos kadang-kadang bodoh seperti ucapan Seruni sendiri barusan.
Sedangkan Rasti walaupun tinggal di desa, tapi tingkah polanya bak anak gaul yang modern. Terkesan angkuh alias sombong serta pecicilan.
Tadi saat Bastian keluar kamar hanya memakai celana pendek selutut dengan kaos santai, Rasti langsung mendekatinya. Padahal kala itu raut wajah Bastian panik hendak mencari Pak Tono atau Bu Dewi karena Seruni pingsan.
Beruntung Bastian sudah mengenal watak wanita di luaran sana yang banyak sekali seperti Rasti, jadi ia tak mudah tergoda. Walaupun Rasti telan_jang di depannya sekalipun.
Pria brengsek sekali pun di dunia ini baik tipe playboy atau penjahat kela_min, pastinya akan memilih istri dengan seksama. Mencari wanita baik-baik untuk mendampingi hidupnya hingga akhir hayat sekaligus calon ibu untuk anak-anaknya. Sebab, ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak.
"Sudah lupakan saja soal tadi. Abang juga minta maaf langsung ganti baju depan kamu tanpa izin. Abang tadi gerah," ucap Bastian berusaha menenangkan Seruni.
"Maaf ya, Bang. Di sini tak ada AC seperti kata abang. Kami cuma punya kipas angin dan kipas manual tangan saja," ucap Seruni.
"Soal itu gampang. Kalau nanti kita punya rumah sendiri, kita beli A C."
"Beli di mana, Bang? Di dekat sini tak ada toko elektronik. Dulu Apak beli kipas angin harus pergi ke kota dulu. Berangkat hari ini, besoknya apak baru pulang bawa kipas angin."
"Semua pasti ada jalannya asal kita mau berusaha,"
"Benar, Bang." Seruni tersenyum manis di depan Bastian.
Tiba-tiba...
Krucuk...krucuk...krucuk...
Suara perut keroncongan Bastian seketika merusak suasana romantis keduanya.
"Dasar perut somplak! Bikin aku malu saja depan Runi!" keluh Bastian di hatinya.
"Astaga, maafin ading ya Bang. Seharusnya ading bawain abang makan siang," ucap Seruni tiba-tiba merasa bersalah karena tak perhatian pada urusan perut sang suami yang dilanda kelaparan.
Sejak semalam Bastian memang belum mengisi perutnya. Pikirannya masih kalut akan masalahnya di Surabaya sekaligus deg-deg an karena hendak menikahi Seruni.
"Nggak apa-apa kok. Apa kamu lapar juga?"
"Ayo, Bang. Kita makan bersama," ucap Seruni segera bangkit dari ranjangnya.
Kakinya turun, lalu refleks tangannya menggandeng lengan Bastian untuk diajak keluar dari kamar. Namun, langkah kaki Seruni mendadak terhenti karena Bastian menahannya.
Sontak Seruni pun menoleh ke belakang tubuhnya di mana Bastian berdiri.
"Kenapa Bang?"
"Ganti bajumu dulu. Masa kamu makan siang pakai baju pengantin terus," tutur Bastian.
"Ah, iya. Maaf Bang, ading lupa. Hehe..." ucap Seruni seraya terkekeh sendiri.
Seruni juga menampilkan senyum deretan giginya di depan Bastian. Sungguh menggemaskan.
"Manisnya kalau dia senyum," batin Bastian mendadak terhipnotis akan pesona si kembang desa yang telah sah menjadi istrinya itu.
☘️☘️
Seruni melangkah riang dengan santainya mengambil baju rumahan serta hijabnya.
Saat akan melepas baju pengantinnya, ia kesulitan membukanya. Dikarenakan resleting ada di bagian punggung.
Tadi sewaktu memakainya, ia dibantu oleh Ningsih. Sahabatnya itu pula yang merias dirinya. Sebab, Ningsih punya pekerjaan sampingan sebagai tukang make up di desanya. Bahkan Ningsih kadang sampai dipanggil ke desa seberang bila ada hajatan.
Walaupun belum seperti make up profesional karena alat seadanya, hasil riasan Ningsih tak kalah eloknya. Ningsih juga hanya belajar make up secara otodidak. Dikarenakan dahulu mendiang ibunya adalah penyanyi tradisional yang sering bersolek saat ada upacara adat atau pementasan lainnya.
"Sini aku bantu," ujar Bastian seketika sudah berdiri di belakang tubuh Seruni yang berada di depan lemari baju. Padahal pria itu sebelumnya tengah duduk di tepian ranjang.
"Ehm..." Seruni pun bingung ingin mengucap permintaan tolong pada Bastian. Akan tetapi, bibirnya masih sungkan dan terasa kelu untuk mengucapkan hal tersebut.
Detik selanjutnya, Seruni seketika merasakan desir tak biasa di sekujur tubuhnya. Dikarenakan tangan Bastian ternyata sedang membuka resleting bajunya. Otomatis jari-jemari Bastian ikut menyentuh punggungnya.
Bak arena uji nyali. Jangan dikira Bastian tak ikut berhasrat. Dia adalah pria normal. Apalagi konon katanya pria bule atau blasteran itu punya tingkat li_bido yang cukup tinggi.
Punggung mulus, putih, tanpa cacat milik Seruni, seketika membuat sesuatu di bawah perutnya mendadak terbangun. Padahal tadi benda kera_mat yang dijuluki Ningsih dengan sebutan terong impor itu, sedang bobo cakep.
Akan tetapi, alam semesta seakan tak bisa membuatnya tidur nyenyak dan minta bangun pada tuannya. You know what I mean.
Terlebih ditambah aroma harum tubuh Seruni bak bunga melati yang masih kuncup. Begitu wangi dan menggiurkan. Sangat ranum untuk dicicipi.
"Benar-benar kembang desa," batin Bastian memuji fisik Seruni.
"Bang, apa sudah?" tanya Seruni yang mendadak hanya merasakan keheningan tanpa pergerakan dari tangan Bastian.
Kaki Seruni rasanya sudah seperti agar-agar lemas. Merinding tak karuan.
"Ah, sa_bar. Se_bentar la_gi," jawab Bastian sedikit tergagap.
Bak maling yang hendak kepergok sang empunya barang. Begitulah rupa Bastian. Padahal tadi dirinya terdiam karena diam-diam ingin menikmati sejenak pemandangan halal yang tersaji di depannya.
Setelah resleting terbuka, Seruni tampak berpikir bagaimana ia harus ganti baju saat ada Bastian di kamarnya. Jujur, Seruni masih malu dan belum terbiasa.
"Bang," panggil Seruni seraya masih memegang erat baju pengantinnya agar tak jatuh ke lantai alias melor0t.
"Ya," sahut Bastian.
"Ading mau ganti baju dulu,"
"Ya sudah ganti saja," jawab Bastian terdengar santai.
"Ehm, abang jangan lihat ya. Ading malu," cicit Seruni dengan kepala menunduk ke arah lantai.
"Baiklah, aku me_rem."
Seruni pun tersenyum bahagia. Ia merasa beruntung karena mendapatkan suami yang pengertian kepadanya seperti Bastian.
Seruni melirik sejenak ke arah Bastian yang merebahkan tubuh di atas ranjang dan kedua mata sang suami sudah menutup sempurna. Seruni yakin bahwa Bastian tidak akan mengintipnya.
Lalu, Seruni dengan cepat melepas baju pengantinnya. Tubuh atas Seruni tampak sudah polos dan diam-diam Bastian melihatnya.
Pria itu mengulum senyumnya dengan tatapan penuh minat. Mahoni kembar milik Seruni tak luput dari tatapan nakalnya.
"34 A," batin Bastian yang memprediksi ukuran b_ra yang dipakai Seruni saat ini.
Bersambung...
🍁🍁🍁
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,