Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Pagi itu, suasana di kamar utama kediaman Pramoedya sudah memanas, padahal matahari baru saja menyembul. Penyebabnya bukan karena masalah bisnis atau sengketa warisan, melainkan karena seorang Jasmine Aurora yang sedang berdiri di depan lemari pakaian dengan wajah cemberut dan kedua tangan terlipat di depan dada.
Di belakangnya, Awan sedang merapikan dasinya di depan cermin besar. Ia sudah rapi dengan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang, tampak sangat otoriter dan siap menaklukkan bursa saham. Namun, ketegasannya mendadak luntur saat melihat pantulan istrinya di cermin.
"Nggak, Jasmine. Jawabannya tetap nggak," ucap Awan tanpa menoleh, suaranya berat dan penuh penekanan.
"Ihhh pokoknya aku mau ikut!" seru Jasmine sambil menghentakkan kakinya ke lantai, membuat perutnya yang mulai membuncit sedikit bergoyang. "Aku bosen di rumah terus, Awan. Aku mau liat kamu kerja. Aku mau liat ruangan kamu!"
Awan berbalik, menatap Jasmine dengan tatapan melotot andalannya. "Kamu itu lagi hamil, Jasmine. Di kantor itu banyak orang, banyak kuman, dan hari ini aku ada rapat maraton sampai sore. Kamu mau ngapain di sana? Cuma duduk di sofa sambil liatin aku ngomel sama staf?"
"Iya! Itu kedengarannya seru banget!" balas Jasmine telak. "Pokoknya aku mau ikut. Kalau kamu nggak ajak aku, aku bakal naik taksi sendiri ke sana. Pilih mana?"
Awan memijat pangkal hidungnya. Hormon kehamilan Jasmine kali ini benar-benar membuatnya berada di ambang frustrasi. Keras kepalanya melebihi negosiator paling tangguh yang pernah ia hadapi.
"Jasmine, sayang... Shaka gimana? Kamu tega ninggalin dia sama Suster Lastri seharian?" Awan mencoba taktik diplomasi, menggunakan Shaka sebagai alasan.
"Shaka udah pinter, dia lagi asyik main sama mainan barunya. Lagian cuma beberapa jam, Wan. Ayolah..." Jasmine mendekat, ia meraih ujung dasi Awan dan memainkannya dengan wajah memelas. "Aku kangen kamu kalau ditinggal kerja terus..."
Pertahanan Awan runtuh seketika. Kalimat "kangen" dari Jasmine adalah kelemahannya yang paling fatal.
"Oke. Oke! Kamu ikut," gerutu Awan sambil mendengus kasar. "Tapi ada syaratnya. Kamu harus duduk diam di ruangan aku. Jangan jalan-jalan ke pantry, jangan ganggu sekertaris aku, dan kalau kamu capek, kamu harus langsung bilang. Mengerti?"
Jasmine langsung melompat kegirangan dan mengecup pipi Awan singkat. "Siap, Pak Bos!"
Kehadiran "Ibu Negara" di Pramoedya Group
Satu jam kemudian, mobil Rolls-Royce milik Awan berhenti tepat di depan lobi utama gedung Pramoedya Group. Para staf keamanan segera berbaris rapi, bersiap menyambut sang CEO yang terkenal dingin dan kejam.
Pintu mobil terbuka. Awan turun dengan wajah kaku seperti biasa. Namun, kejutan terjadi saat ia berbalik dan mengulurkan tangannya dengan sangat lembut—hampir protektif—untuk membantu seorang wanita hamil turun dari mobil.
Seluruh lobi mendadak senyap. Para karyawan berbisik-bisik. Ini adalah pertama kalinya Awan membawa istrinya ke kantor sejak mereka menikah.
"Jalan pelan-pelan, jangan lari," bisik Awan di telinga Jasmine sambil merangkul pinggangnya posesif.
Mereka naik ke lantai paling atas, tempat ruangan pribadi Awan berada. Sepanjang koridor, Awan tidak melepaskan genggamannya. Setiap karyawan yang berpapasan langsung menunduk dalam, namun mata mereka tetap melirik penasaran ke arah Jasmine yang tampak cantik dengan dress hamil berwarna lilac yang manis.
"Sekertaris Kim," panggil Awan saat sampai di depan mejanya.
"Iya, Pak?" Sekertaris Kim berdiri dengan sigap, namun matanya membelalak melihat Jasmine.
"Siapkan camilan sehat, buah-buahan potong, dan jus jeruk tanpa gula di ruangan saya sekarang. Dan pastikan AC di dalam tidak terlalu dingin, istri saya tidak suka udara yang terlalu tajam," perintah Awan dengan nada otoriter, namun isinya sangat perhatian.
Masalah dimulai saat rapat dewan direksi dimulai pukul sebelas siang. Awan sebenarnya ingin Jasmine menunggu di ruangannya, namun Jasmine kembali bersikeras.
"Aku mau liat kamu rapat," bisik Jasmine saat mereka berada di depan pintu ruang rapat kaca yang besar.
"Jasmine, ini rapat serius. Bukan tontonan sirkus," balas Awan pelan, berusaha menjaga wibawanya di depan para direktur yang sudah menunggu di dalam.
"Aku janji bakal diem. Aku bakal duduk di pojokan," Jasmine memberikan janji manisnya.
Dan begitulah, pemandangan paling aneh dalam sejarah Pramoedya Group pun terjadi. Awan duduk di kepala meja, memimpin rapat dengan wajah garang, sementara di sudut ruangan, di sebuah sofa kulit yang mewah, Jasmine duduk sambil ngemil potongan apel dengan santai.
"Jadi, target profit kita untuk kuartal ini harus naik lima belas persen. Saya tidak mau dengar alasan tentang inflasi atau—"
"Awan, ini apelnya asem banget," potong Jasmine tiba-tiba di tengah keheningan ruang rapat yang tegang.
Seluruh direktur yang hadir membeku. Mereka menahan napas, menunggu ledakan amarah Awan karena interupsi tersebut.
Awan berhenti bicara. Ia menoleh ke arah Jasmine. Para direktur sudah bersiap melihat Awan membentak siapapun yang mengganggunya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
"Asem? Tadi aku sudah bilang Sekertaris Kim buat cari yang manis," ucap Awan, suaranya mendadak lembut. Ia kemudian menoleh ke arah Sekertaris Kim yang berdiri di dekat pintu. "Kim, ganti apelnya dengan yang dari supermarket langganan saya sekarang."
"Baik, Pak!"
Awan kembali menatap para direkturnya yang masih melongo. "Kenapa diam saja? Lanjutkan laporannya!" bentaknya, kembali ke mode sangar.
Dua jam berlalu, Jasmine mulai merasa bosan. Ia bangkit dari sofanya dan berjalan mendekati kursi Awan. Tanpa rasa takut, ia berdiri di samping suaminya yang sedang serius meninjau grafik di layar besar.
"Wan, pijitin bahu aku bentar. Pegel," ucap Jasmine santai.
Ruang rapat kembali senyap. Kali ini para direktur mulai berpura-pura sibuk dengan laptop masing-masing, tidak berani melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Awan menghela napas panjang, namun tangannya tetap bergerak. Di depan seluruh jajaran petinggi perusahaannya, sang CEO yang ditakuti itu mulai memijat lembut bahu istrinya.
"Makanya aku bilang di rumah saja, Jasmine. Kamu itu gampang capek," gumam Awan sambil terus memijat. "Rapatnya sebentar lagi selesai. Habis ini kita pulang."
"Janji ya? Aku laper mau makan bakso depan komplek," balas Jasmine sambil tersenyum manis.
"Iya, bakso. Apapun yang kamu mau, asal sekarang kamu duduk diam dulu sebentar lagi," ucap Awan, pasrah total.
Salah satu direktur senior memberanikan diri berdeham. "Ehem... Pak Awan, jadi bagaimana dengan investasi di IKN?"
Awan menatap direktur itu dengan tajam. "Investasi itu jalan terus. Tapi sekarang fokus saya adalah memastikan istri saya tidak pegal-pegal. Ada pertanyaan lain?"
Semua direktur menggeleng serempak. Mereka menyadari satu hal hari ini: setegas apapun Awan Pramoedya di dunia bisnis, ia hanyalah seorang pria yang sangat tunduk di bawah perintah istrinya yang sedang hamil.
Sore harinya, saat mereka berjalan keluar gedung menuju mobil, Jasmine tampak sangat puas. Ia berjalan sambil menggandeng lengan Awan dengan bangga.
"Ternyata jadi bos itu capek ya, Wan. Kamu ngomel terus dari tadi," ucap Jasmine saat mereka sudah di dalam mobil.
Awan menyandarkan punggungnya di kursi, merasa lebih lelah daripada hari-hari biasanya. "Capek karena kerjaan itu biasa, Jasmine. Yang bikin aku capek itu jantung aku yang mau copot tiap kali kamu bangun dari kursi atau jalan-jalan di kantor."
Ia menarik Jasmine ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya dengan sayang. "Besok jangan ikut lagi ya? Kasihan Shaka ditinggal terus."
Jasmine tertawa kecil. "Liat besok ya, Ayah Awan. Tergantung mood dedek bayi di dalem."
Awan hanya bisa pasrah. Ia tahu, selama sembilan bulan ini, hidupnya tidak akan lagi diatur oleh jadwal kerja yang ketat, melainkan oleh keinginan-keinginan ajaib istrinya. Namun, melihat binar bahagia di mata Jasmine, Awan merasa semua rasa lelahnya terbayar tuntas.
thor balikin awan yg dulu dong, yg selalu tenang dan cerdik. ah masa mereka mau cerai ??😔