Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tugas dari Sang Algojo
Maya merangkak mundur, menjauh dari pintu yang terus digedor oleh tetangganya. Di layar ponselnya, jutaan kotak kecil multiguest itu menyerupai mosaik raksasa yang terbuat dari ketakutan manusia. Setiap kotak menampilkan wajah orang yang berbeda—ada yang sedang menangis, ada yang sedang memegang pisau karena paranoid, dan ada yang hanya diam mematung dengan tatapan kosong.
Bab 27: Tugas dari Sang Algojo
Suara dari HP Maya kini bukan lagi suara jeritan, melainkan suara dentuman bass yang ritmis, seperti detak jantung elektronik yang sangat cepat. Tiba-tiba, semua wajah di jendela multiguest itu menghilang, digantikan oleh satu perintah besar yang muncul dengan font bergaya mesin ketik:
[TUGAS PERTAMA: ELIMINASI DIGITAL]
Di bawah tulisan itu, muncul sebuah instruksi yang membuat darah Maya berdesir dingin:
"Di apartemen ini, ada 40 orang yang sedang menonton Live. Hanya 10 orang yang diizinkan untuk tetap memiliki akun. 30 sisanya harus 'diistirahatkan'. Siapa yang paling cepat mematikan paksa HP tetangganya, dia yang selamat."
"Nggak mungkin..." bisik Maya.
Namun, di luar pintu, suasana berubah seketika. Suara gedoran yang tadinya penuh ketakutan kini berubah menjadi suara teriakan penuh amarah dan persaingan. Maya mendengar suara pintu di sebelah unitnya didobrak paksa.
"Woy! Matiin HP lo, Sialan! Gue nggak mau mati!" teriak seorang pria dari koridor. Diikuti suara perkelahian, benturan benda tumpul ke tembok, dan jeritan seorang wanita.
@anatomi_maut tidak lagi perlu menggunakan gergaji atau kabel untuk membunuh. Dia menggunakan rasa takut manusia sebagai senjata. Dia mengubah korban menjadi pelaku.
Maya melihat ke arah HP-nya. Sebuah peta lantai apartemennya muncul di layar, lengkap dengan titik-titik merah yang menunjukkan posisi para penonton Live. Satu titik merah berada tepat di depan pintunya.
Brakk!
Pintu apartemen Maya yang sudah rusak kuncinya ditendang dari luar. Seorang pemuda –mungkin mahasiswa yang tinggal di lantai yang sama—berdiri di sana dengan napas memburu. Di tangannya ada sebuah palu. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena teror yang murni.
"Maya... maaf," kata pemuda itu terbata-bata. "HP gue... HP gue bilang kalau gue nggak matiin punya lo dalam satu menit, jantung gue bakal dikirim lewat ekspedisi ke rumah nyokap gue. Gue... gue nggak punya pilihan!"
"Andra, dengerin gue! Itu cuma gertakan!" Maya mencoba bernegosiasi, tangannya meraih botol semprotan merica di atas meja.
"BUKAN GERTAKAN!" Andra berteriak, menunjukkan layar HP-nya.
Di layar HP Andra, terdapat gambar live dari kamera rahasia di rumah ibunya di kampung. Di sana, terlihat sosok bayangan hitam berdiri di belakang ibunya yang sedang tidur lelap, memegang sebuah alat bedah yang mengkilap.
Maya terdiam. @anatomi_maut punya akses ke segalanya. CCTV rumah, GPS, hingga kamera depan setiap ponsel.
Andra menerjang maju. Maya menyemprotkan merica ke wajah Andra, membuat pemuda itu mengerang kesakitan dan mengayunkan palunya secara membabi buta. Palu itu menghantam meja kaca hingga hancur berkeping-keping.
Maya berlari menuju balkon, satu-satunya jalan keluar. Tapi saat ia sampai di pagar balkon, ia melihat pemandangan yang lebih mengerikan di luar sana.
Lampu-lampu dari ribuan unit apartemen di seberangnya berkedip-kedip membentuk pola angka: 10, 9, 8... Hitung mundur dimulai. Di jalanan bawah, mobil-mobil berhenti mendadak, pengemudinya keluar dan saling serang hanya untuk merebut HP satu sama lain. Jakarta sedang berubah menjadi arena gladiator digital.
Tiba-tiba, HP Maya bergetar hebat. Sebuah pesan suara masuk dengan volume maksimal:
@anatomi_maut: Waktu habis untuk lantai ini. Andra terlalu lambat. Maya terlalu lunak.
"Andra, tiarap!" teriak Maya.
Tapi terlambat. HP di saku celana Andra mendadak meledak. Bukan ledakan besar, tapi ledakan terkonsentrasi yang mengeluarkan gelombang ultrasonik frekuensi tinggi. Andra jatuh berlutut, kedua tangannya menutupi telinganya yang mulai mengeluarkan darah kental. Dia menjerit tanpa suara sebelum akhirnya tumbang, matanya pecah karena tekanan udara dari dalam.
Maya jatuh terduduk, menutup wajahnya. Dia mendengar suara sistem di HP-nya berkata dengan nada ceria:
"Selamat! Kamu adalah salah satu dari 10 pemenang di gedung ini. Akunmu telah ditingkatkan ke level: EKSEKUTOR."
Maya melihat ke layar HP-nya. Ikon Mata Berdarah itu kini berubah menjadi warna emas. Dan di bawah namanya, muncul sebuah tombol baru yang belum pernah ada sebelumnya: [BEDAH TARGET].
Ia menyadari dengan ngeri, bahwa @anatomi_maut baru saja memberinya "wewenang" untuk membunuh orang lain hanya dengan satu ketukan di layar.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan