Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Tanda Sang Algojo
Suara sirine ambulans di kejauhan terdengar samar di balik jendela apartemen Maya, tapi suara itu kalah oleh detak jantungnya yang berpacu liar. Di layar ponselnya, live streaming Reno baru saja mati, meninggalkan layar hitam dengan satu titik merah kecil yang berkedip.
Bab 25: Tanda Sang Algojo
Maya menyentuh layar ponselnya. Titik merah itu tidak hilang. Ia mencoba menghapus aplikasi TikTok, namun ikon aplikasi itu justru berubah warna menjadi merah pekat. Saat ia melihat ke cermin di atas meja kerjanya, Maya terpekik pelan.
Di samping foto profilnya di layar HP, muncul simbol Mata Berdarah. Bukan cuma dia, di kolom komentar terakhir yang sempat ia baca, ribuan orang mulai menyadari hal yang sama.
"Apa ini?" bisik Maya.
Ia membuka grup WhatsApp kantornya. Isinya kacau.
Redaktur_Budi: Woy, kenapa ada tanda mata di akun gue? Gue nggak bisa logout!
Admin_Rizky: Gue juga! HP gue panas banget, kayak mau meledak!
Maya teringat kata-kata di laptopnya tadi: Data yang menjadi daging. Ia mulai menyambungkan titik-titik mengerikan ini. @anatomi_maut bukan cuma menghukum mereka yang diabaikan, tapi dia juga menandai mereka yang ikut "menikmati" kematian orang lain lewat tombol VOTE.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi baru muncul. Bukan dari TikTok, tapi dari sistem keamanan apartemennya.
[WARNING: ELEVATOR ACCESS GRANTED TO UNKNOWN USER]
Maya membeku. Tidak ada tamu yang seharusnya datang jam 3 pagi. Ia mengintip lewat lubang kecil di pintu apartemennya. Lorong itu remang-remang, lampu sensor gerak menyala satu per satu dari arah lift.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki itu berat, tapi berirama. Di layar HP Maya, sebuah pesan masuk secara paksa:
@anatomi_maut: Kamu jurnalis, kan? Kamu suka mencari kebenaran. Mari kita lihat apa isi di dalam kepalamu, Maya. Secara harfiah.
Maya berlari ke arah dapur, mengambil pisau pemotong daging. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak tahu apakah ia sedang menghadapi hantu, manusia, atau sesuatu yang lebih buruk.
Pintu apartemennya tidak didobrak. Justru sebaliknya, kunci elektroniknya berbunyi tit-tit-tit—suara akses yang diterima. Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria berdiri di sana. Tingginya hampir dua meter, mengenakan jubah laboratorium plastik transparan yang sudah bercak-bercak darah kering. Wajahnya tertutup masker gas kuno, namun di bagian mata masker itu, ada layar digital kecil yang terus-menerus menampilkan scroll komentar TikTok yang berjalan cepat.
"Berhenti di situ!" teriak Maya, mengacungkan pisaunya.
Pria itu tidak bersuara. Ia justru mengangkat sebuah tablet besar ke arah Maya. Di layar tablet itu, Maya melihat dirinya sendiri dari sudut pandang kamera CCTV lorong, tapi dengan filter sinar-X. Ia bisa melihat tengkoraknya, pembuluh darah di lehernya, dan jantungnya yang berdenyut kencang.
@anatomi_maut: (Via Audio Sintetis) Kamu memilih untuk diam saat voting berlangsung. Dalam hukumku, diam adalah persetujuan. Tapi karena kamu jurnalis, aku akan memberimu pilihan.
"Pilihan apa?!" Maya mundur hingga punggungnya menabrak kulkas.
@anatomi_maut: Mulailah live sekarang. Jelaskan pada mereka bagaimana cara kerja 'Sistem Keadilan' ini. Jika penontonmu mencapai satu juta dalam sepuluh menit, aku akan pergi. Jika tidak... aku akan mengambil lobus frontalis-mu untuk koleksiku.
Maya sadar ini adalah jebakan. @anatomi_maut ingin menyebarkan teror ini lebih luas lagi melalui dirinya. Tapi saat ia melihat pria bermasker itu mengeluarkan sebuah gergaji tulang elektrik yang mulai berderu halus—ngiiiiiiing—Maya tidak punya pilihan.
Dengan tangan gemetar, Maya menyandarkan HP-nya di atas meja makan dan menekan tombol GO LIVE.
Dalam hitungan detik, penonton meledak. 100k... 300k... 500k...
Semua orang yang terjaga karena ketakutan langsung masuk ke live Maya. Mereka melihat Maya yang pucat pasi, dan sosok raksasa di belakangnya yang siap membedah kepalanya.
user_horror: ITU DIA! SOSOKNYA NYATA!
save_maya: WOY TOLONGIN! PANGGIL POLISI!
logic_man: Polisi nggak bakal nyampe tepat waktu, kita harus bantu share live ini biar tembus sejuta!
Maya mulai bicara ke kamera, air matanya jatuh. "Kalian... kalian yang punya tanda mata berdarah... dengarkan saya. Jangan pernah menekan tombol apapun di aplikasi ini lagi. Dia memakan energi dari interaksi kita! Semakin kita nonton, semakin kuat dia!"
Di belakangnya, sosok itu melangkah maju. Gergaji elektrik itu kini hanya berjarak beberapa senti dari rambut Maya.
@anatomi_maut: Lima menit lagi, Maya. Penonton baru 700k. Ayo, ajak mereka melihat lebih dekat.
Tiba-tiba, lampu di seluruh apartemen Maya padam, menyisakan cahaya dari layar HP-nya yang menyorot ke arah gergaji yang mulai menyentuh kulit keningnya. Darah segar mulai menetes, turun ke jembatan hidung Maya.
ok next