NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Rahasia Tubuh Kertas Surgawi

Ruang pribadi Nyonya Zhu di lantai atas Paviliun Awan Hijau berbau seperti perpustakaan tua yang dibiarkan lembap, campuran kertas kuno, dupa cendana yang membeku, dan aroma metalik dari tinta-tinta langka. Tidak ada cahaya matahari yang menembus tirai sutra tebal itu. Hanya ada pendar dari sebuah lampion minyak, melemparkan bayangan panjang yang seolah hidup di dinding.

Guiren berdiri di tengah ruangan. Jubahnya masih memiliki bercak lumpur kering dari pelarian semalam. Luka di punggungnya berdenyut setiap kali ia menarik napas, namun ia tetap tegak, membiarkan Visi Qi-nya memetakan pergerakan Nyonya Zhu yang sedang menuang teh tanpa suara.

“Kau tahu kenapa pembunuh semalam tidak langsung memenggal kepalamu?” Nyonya Zhu membuka suara, meletakkan cangkir porselen dengan denting pelan yang memekakkan kesunyian.

Guiren menggeleng sedikit. “Karena dia menginginkan koin itu.”

“Koin itu hanya dalih,” Nyonya Zhu bangkit, melangkah mendekati Guiren. Ia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya sejangkauan tangan. “Mereka menginginkan media. Mereka menginginkan wadah yang bisa menampung ribuan mantra tanpa rusak. Mereka menginginkan apa yang kau bawa sejak lahir, namun kau sendiri terlalu buta untuk melihatnya.”

Nyonya Zhu mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh tepat di tengah dahi Guiren, di atas kain penutup matanya. Guiren tidak menghindar, meski setiap sel di tubuhnya berteriak untuk mundur.

“Tubuhmu bukan gumpalan daging dan tulang biasa, Guiren. Kau adalah Tubuh Kertas Surgawi.”

Nama itu jatuh seperti batu besar ke dalam air tenang. Guiren merasakan getaran aneh di dalam dantiannya, wadah tintanya bereaksi terhadap sebutan itu.

“Apa maksud Anda?” suara Guiren tenang, tanpa riak kepanikan yang biasanya menyertai pengungkapan besar.

“Di dunia ini, seorang kultivator membutuhkan kertas jimat, sutra, atau batu giok untuk menyegel kekuatan. Tapi kau… kulitmu, darahmu, dan meridianmu adalah media itu sendiri,” Nyonya Zhu berjalan mengitari Guiren, matanya yang tajam menelusuri setiap inci tubuh pemuda itu seolah sedang menilai kualitas barang antik. “Kau adalah kanvas hidup yang sempurna. Apapun yang kau lukiskan melalui kuasmu tidak hanya berhenti di atas kertas, ia meresap ke dalam realitas karena tubuhmu sendiri bertindak sebagai jembatan antara dunia fana dan hukum langit.”

Guiren meraba lengannya sendiri. Rasanya masih seperti kulit manusia. Masih bisa berdarah. Masih bisa merasakan dingin.

“Itu sebabnya lukisan ‘Keputusasaan’ itu bisa membuat orang hampir gila,” lanjut Nyonya Zhu. “Karena kau tidak hanya menggambar kesedihan. Kau menuangkan Hukum Kesedihan melalui dirimu, dan tubuhmu memperkuatnya hingga menjadi racun yang nyata. Bagi orang-orang seperti Paviliun Yama, kau adalah artefak yang berjalan. Mereka tidak ingin membunuhmu, mereka ingin memanenmu.”

“Memanen?”

“Mereka akan mengulitimu untuk dijadikan jimat, atau menguras darahmu untuk dijadikan tinta pemanggil arwah,” Nyonya Zhu kembali ke kursinya, wajahnya tetap datar, seolah sedang membicarakan harga komoditas di pasar. “Itulah bahaya pertamamu, dunia akan selalu memburumu sebagai alat.”

Guiren menarik napas panjang. Ada rasa dingin yang mulai merayap dari perutnya menuju tenggorokan. Bukan rasa takut akan kematian, melainkan rasa mual karena menyadari bahwa keberadaannya sendiri adalah sebuah anomali yang mengundang petaka.

“Lalu bahaya keduanya?” tanya Guiren.

“Dirimu sendiri. Tubuh Kertas Surgawi sangat rentan terhadap infiltrasi energi luar. Jika kau tidak belajar mengendalikan Qi dengan sirkulasi sembilan pusaranmu, tubuhmu akan menjadi kanvas bagi energi jahat yang bertebaran di udara. Kau akan hancur dari dalam saat mantra yang kau lukiskan berbalik memakan pemiliknya.”

Guiren terdiam lama. Ia teringat Xiaolian. Ia teringat bagaimana ia membakar rumahnya di Liu-Shu untuk memutus masa lalu. Ternyata, sejauh apapun ia berlari, masa lalu dan takdir telah tertulis di bawah kulitnya sendiri. Ia bukan lagi sekadar yatim piatu yang mencari keadilan, ia adalah mangsa yang membawa aroma harum bagi para pemangsa.

“Aku tidak memberitahumu ini untuk membuatmu menyerah,” Nyonya Zhu menyesap tehnya yang sudah dingin. “Aku memberitahumu agar kau berhenti bersikap seperti mangsa. Gunakan tubuh itu. Jika kau adalah kertas, maka jadilah kertas yang mampu memotong tangan siapapun yang mencoba melipatmu.”

Guiren mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan denyut di dalam dantian wadah tintanya, hitam, pekat, dan berat. Jika tubuhnya adalah sebuah kanvas, maka ia akan memastikan tidak ada orang lain yang berhak memegang kuas di atasnya.

“Terima kasih atas informasinya, Nyonya,” Guiren menundukkan kepala sedikit, sebuah gestur formal yang penuh jarak.

“Jangan berterima kasih padaku dulu,” Nyonya Zhu menatap ke arah pintu. “Qing-He sudah tidak aman untukmu. Kabar tentang ‘seniman pengemis’ yang melukai pemburu Yama akan menyebar lebih cepat daripada api. Kau harus pergi sebelum fajar.”

Guiren berbalik, melangkah menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak.

“Apakah ada cara untuk menghapus… status tubuh ini?”

“Tidak ada,” suara Nyonya Zhu terdengar dari balik bayangan. “Kau tidak bisa menghapus tinta yang sudah meresap ke dalam serat kertas. Kau hanya bisa memilih, menjadi lukisan yang agung, atau menjadi kertas bekas yang dibuang ke tempat sampah.”

Guiren keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Di koridor yang gelap, ia merasakan beratnya rahasia itu menindih pundaknya. Ia bukan lagi manusia biasa. Ia adalah sesuatu yang lain, sebuah objek yang dicari oleh kegelapan.

Ia mempercepat langkahnya menuju kamar Xiaolian. Waktu baginya bukan lagi tentang hari dan malam, melainkan tentang berapa lama ia bisa bertahan sebelum dunia merobek kanvas hidupnya.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!