Gara-gara salah masuk ke dalam kamarnya, pria yang berstatus sebagai kakak iparnya itu kini menjadi suami Ara. Hanya dalam satu malam status Ara berubah menjadi istri kedua dari seorang Dewa Arbeto. Menjadi istri kedua dari pria yang sangat membencinya, hanya karena Ara orang miskin yang tak jelas asal usulnya.
Dapatkah Ara bertahan menjadi istri kedua yang tidak diinginkan? Lalu bagaimana jika kakak angkatnya itu tahu jika ia adalah istri kedua dari suaminya.
Dan apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu Dewa, sampai membuat pria itu membenci orang miskin. Sebuah kebencian yang tenyata ada kaitannya dengan cinta pertama Dewa.
Semua jawabannya akan kalian temukan di kisah Ara dan Dewa, yuk baca🤭
Jangan lupa follow akun dibawah ini
Ig mom_tree_17
Tik Tok Mommytree17
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy tree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Sial," umpat Dewa dengan frustasi.
Karena hanya dengan menatap tubuh polos Ara yang tengah tertidur saja mampu membuat miliknya kembali menegang di bawah sana. Tanpa membuang waktu Dewa pun kembali memasuki Ara, meskipun wanita itu tengah tertidur. Sama seperti yang pernah dilakukannya kemarin malam.
Ya, kemarin malam ia masuk ke dalam kamar Ara meskipun pintu kamar tersebut di kunci dari dalam. Dewa menyentuh wanita itu, yang ternyata tidak terbangun dan terganggu sama sekali dengan apa yang dilakukannya.
Sama seperti saat ini, Ara tampak tertidur lelap hanya sesekali melenguh saat ia menambah tempo gerakannya pada penyatuan mereka. Hingga akhirnya ia mendapatkan pelepasannya dengan menyemburkan benih ke dalam rahim Ara.
"Lama-lama aku bisa gila jika terus berada di dekatmu," ucap Dewa setelah melepas penyatuan mereka.
Ia pun beranjak dari atas ranjang kemudian keluar dari kamar dengan bertelanjang dada setelah mengenakan celananya. Dewa memutuskan keluar dari dalam kamar karena tidak ingin terus menyentuh Ara. Ia takut jika Ara sampai sakit karena kelelahan, terlebih wanita itu sudah melewatkan makan siang dan makan malam mereka.
Dewa yang kini berada di ruang kerjanya, memutuskan untuk memeriksa pekerjaan yang ditinggalkannya tadi siang. Lihatlah, gara-gara Ara ia sampai melalaikan semua pekerjaan pentingnya. Sesuatu yang tidak pernah Dewa lakukan sebelumnya, mengingat pekerjaan adalah nomer satu di dalam hidup seorang Dewa.
"Ck, kenapa aku jadi begini!"
Ia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Edward, tanpa mempedulikan banyaknya panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Vivian.
"Ed, kirim berkas pengajuan kerjasama dari perusahaan Global sekarang!" perintah Dewa setelah panggilannya diangkat oleh asisten pribadinya.
Sementara itu Edward yang masih mengantuk, menatap jam yang ada di atas nakas lalu menghela napas dengan panjang.
"Tuan, ini sudah tengah malam."
"Memangnya kenapa? Kalau aku berkata sekarang, ya sekarang!"
Edward kembali menghela napas sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Anda yakin ingin dikirim sekarang? Apa tidak akan menganggu kebersamaan Anda dengan Nona Ara, nantinya?"
Deg.
Dewa terdiam sesaat karena mengingat tujuannya membawa Ara kemari untuk menghukum wanita itu dengan mengurungnya selama dua hari di apartemen. Jika ia mengerjakan pekerjaan kantor, pasti konsentrasinya akan terpecah.
"Lupakan saja. Lusa masih bisa aku kerjakan."
Edward pun tersenyum dengan lega.
"Kejadian tadi siang apa sudah kau bereskan?"
"Sudah, Tuan. Anda tenang saja, tidak akan ada berita scandal apa pun mengenai Anda. Tapi Nona Vivian —"
Edward tak meneruskan ucapannya saat menyadari sambungan ponselnya sudah dimatikan secara sepihak.
"Apa-apaan ini? Dia mematikan ponselnya?" umpat Edward sambil membanting ponselnya dengan kesal.
Bagaimana tidak kesal setelah dibangunkan dari tidur nyenyaknya, kini ia ditinggalkan begitu saja. Bahkan kedua matanya yang sudah tidak mengantuk, kini sulit untuk terpejam kembali.
"Kenapa nasibku sial sekali memiliki atasan yang tidak berprikemanusiaan," umpatnya untuk kedua kali. "Mengganggu orang tidur saja."
Edward pun berusaha untuk tidur kembali meskipun sulit. Karena ia tahu betul besok banyak tugas yang harus dikerjakannya, mengingat Dewa yang kemungkinan besar tidak akan masuk ke kantor. Bagaimana bisa Edward tahu, karena jelas-jelas tadi tuannya berkata lusa akan memeriksa berkas pengajuan kerjasama perusahaan Global. Itu artinya besok Dewa tidak akan masuk ke kantor.
"Sepertinya Nona Ara memberikan service yang hebat, sampai membuat Tuan Dewa melupakan pekerjaannya," gumam Edward sambil memejamkan kedua matanya karena tidak ingin pikiran kotornya semakin kemana-mana.
ntar Ara mati rasa baru tau