Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Teror Vitamin
"Zahra! Mana laporan keuangan kuartal tiga? Kenapa lama sekali?! Saya mau lihat arus kas netto-nya sekarang!"
Teriakan Alea memenuhi ruang CEO Triple A Capital yang luas dan mewah. Dia duduk di balik meja kerjanya yang penuh dengan layar monitor, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Wajahnya masih sedikit pucat sisa sakit kemarin, tapi lipstick merah menyalanya sudah kembali, seolah menjadi tameng agar tidak ada yang berani meremehkannya.
Pintu ruangan terbuka. Zahra masuk dengan wajah ragu, membawa sebuah kotak kardus cokelat polos di tangannya.
"Laporannya sudah saya kirim ke email Ibu lima menit lalu," jawab Zahra hati-hati. "Tapi... ada kiriman lagi, Bu."
Alea berhenti mengetik. Matanya menyipit menatap kotak itu.
"Apa itu? Dokumen kontrak dari klien?"
"Bukan, Bu. Paket misterius. Tulisannya 'Buat CEO yang hobi cari mati'," baca Zahra polos.
"Kurang ajar!" Alea menggebrak meja. "Siapa pengirimnya? Pasti si Joni botak itu kan? Dia mau ngeledek saya karena saham kita sempat anjlok kemarin?"
"Nggak ada nama pengirimnya, Bu. Anonim. Cuma ada logo kurir ekspres."
"Buka. Hati-hati, siapa tahu isinya bangkai tikus atau surat ancaman."
Zahra meletakkan kotak itu di meja tamu, lalu membukanya perlahan dengan cutter. Alea mengawasi dari kejauhan, siap-siap melempar asbak jika isinya berbahaya.
Namun, begitu kotak terbuka, tidak ada ledakan. Yang ada justru aroma menyengat yang aneh.
Zahra mengangkat sebuah botol kaca berisi cairan kental berwarna hijau lumut.
"Ini apa, Bu? Jus alpukat?" tanya Zahra bingung.
Alea mendekat, mengendus sedikit, lalu langsung menutup hidung. "Alpukat nenek moyangmu! Itu bau langu! Bau tanah!"
Zahra membaca label kecil yang tertempel di botol. "Jus Kale, Bayam, dan Pare mentah. Tanpa gula. Tanpa pengawet. Catatan: Habiskan dalam 30 menit atau khasiat hilang."
"Gila!" pekik Alea. "Siapa orang gila yang ngirim racun rumput ini ke kantor saya?! Buang, Zahra! Buang ke toilet!"
"Tapi Bu, di bawahnya ada kotak lagi. Isinya... Sandwich gandum isi dada ayam rebus tanpa garam. Sama buah potong."
Alea menatap jijik makanan-makanan itu. Semuanya makanan "sakit". Makanan hambar yang biasa dipaksakan Dokter Rigel padanya di rumah sakit.
Tunggu. Rigel?
Alea menggeleng cepat.
‘Nggak mungkin. Dokter Kulkas itu mana punya duit buat kirim katering sehat premium begini? Dan dia pasti sibuk bedah otak orang. Nggak mungkin dia kurang kerjaan neror gue.’
"Buang semuanya, Zahra. Saya mau pesan Nasi Padang. Lidah saya butuh micin," perintah Alea tegas.
"Siap, Bu."
Zahra baru saja melangkah keluar membawa "sampah sehat" itu, tapi sepuluh menit kemudian dia masuk lagi. Kali ini wajahnya lebih bingung.
"Bu... ada lagi."
"Apa lagi?!"
"Paket kedua. Datang barusan."
Zahra meletakkan kotak yang lebih kecil. Isinya tiga botol vitamin impor yang harganya jutaan per botol. Ada Vitamin D3, Magnesium, dan Probiotik.
"Catatannya: 'Jangan cuma cari duit, cari sehat juga. Diminum setelah makan. Awas kalau dibuang'," baca Zahra.
Alea merinding. "Kok dia tahu kalau saya mau buang yang tadi?"
"Mungkin dia pasang CCTV, Bu?" Zahra celingukan menatap langit-langit kantor.
"Ngaco kamu! Keamanan gedung ini selevel Pentagon!" bantah Alea, meski dia sendiri mulai merasa diawasi. "Ini pasti kerjaan kompetitor. Ini psywar! Mereka mau bikin saya paranoid!"
Di sudut ruangan, di atas sofa kulit hitam yang empuk, Arka sedang berbaring santai sambil main game di ponselnya. Kakinya yang bersepatu sneakers mahal diletakkan di atas meja kaca. Sejak tadi dia diam saja mendengarkan kakaknya uring-uringan.
"Kak, berisik banget sih. Tinggal diminum apa susahnya?" celetuk Arka tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Itu vitamin mahal lho. Sayang kalau dibuang. Kalau Kakak nggak mau, buat gue aja. Lumayan biar otot gue makin jadi."
"Diem lo, bocah!" semprot Alea. "Lo ngapain masih di sini? Bukannya kuliah?"
"Dosennya sakit. Gue mampir sini numpang AC sama WiFi kenceng," jawab Arka santai. "Lagian, siapa tau Kakak pingsan lagi. Gue kan adek siaga."
"Siaga apanya? Kemarin pas gue di rumah sakit, lo malah makan keripik!"
Alea kembali duduk, memijat keningnya. Rasa laparnya hilang berganti rasa kesal.
Tok. Tok.
Belum ada satu jam, pintu diketuk lagi. Zahra masuk lagi. Kali ini dia tidak membawa kotak, tapi nampan berisi segelas air hangat dan sebuah reminder elektronik kecil yang berbunyi bip-bip.
"Bu, kurirnya datang lagi. Dia nitip ini. Katanya alarm minum obat."
Alea menatap benda kecil itu. Di layarnya tertulis: WAKTUNYA MINUM OBAT LAMBUNG. JANGAN BANDEL.
"AAAAARGH!" Alea berteriak frustrasi, melempar pulpen mahalnya ke dinding. "Ini bukan perhatian! Ini teror! Zahra, panggil sekuriti! Cek siapa pengirimnya! Cek plat nomor kurirnya! Saya mau laporin ke polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan!"
"Kurirnya pake helm full face terus langsung kabur, Bu. Nggak keburu dicatat," lapor Zahra takut-takut.
Alea berdiri, mondar-mandir di depan meja kerjanya seperti singa betina yang terkurung.
"Ini pasti si Joni!" tuduh Alea yakin seratus persen. "Dia tahu saya sakit lambung karena gosip yang beredar. Dia sengaja kirim makanan hambar dan obat-obatan ini buat ngeledek saya! Dia mau bilang kalau saya lemah! Dia mau jatuhin mental saya sebelum bidding proyek besok!"
Alea mengambil botol jus hijau yang tadi belum sempat dibuang Zahra. Dia menatap cairan kental itu dengan tatapan membunuh.
"Liat aja, Joni. Lo pikir gue bakal takut sama sayur ijo ini? Gue bakal menangin tender besok, terus gue beli perusahaan lo, dan gue jadiin gudang sayur!"
Alea ngoceh sendiri, meluapkan emosinya pada botol jus. Dia benar-benar yakin ini adalah serangan bisnis. Egonya yang tinggi membuatnya buta pada kemungkinan lain: bahwa ada seseorang yang tulus peduli padanya.
Sementara itu, di sofa, Arka menurunkan ponselnya sedikit. Dia melirik kakaknya yang sedang marah-marah pada botol jus pare.
Sebuah senyum geli terbit di bibir Arka. Dia menahan tawa mati-matian.
Di layar ponsel Arka, bukan game yang sedang berjalan, melainkan aplikasi chat WhatsApp. Sebuah pesan baru saja masuk dari kontak bernama "Dokter Ipar".
Dokter Ipar: Gimana? Diminum nggak jusnya?
Arka mengetik balasan dengan cepat di bawah meja.
Arka: Ngamuk, Dok. Botolnya dimaki-maki. Dikira kiriman musuh bisnisnya. Tapi tenang, nanti gue paksa dia minum pas lagi lengah.
Dokter Ipar: Oke. Pastikan masuk perut, bukan masuk tong sampah. Transferan uang jajan tambahan sudah masuk rekening kamu.
Arka: Siap, Bos! Aman terkendali.
Arka menyimpan ponselnya kembali ke saku, lalu memasang wajah polos tanpa dosa saat Alea menoleh padanya.
"Apa lo liat-liat?!" bentak Alea. Dia sangat sensitif saat ini
"Nggak. Cuma mikir, Kakak kalau lagi marah mirip banget sama Papa," Arka nyengir. "Udah, Kak. Minum aja napa. Anggap aja tantangan Fear Factor. Masa Ratu Saham takut sama pare?"
Alea mendengus, menatap botol itu lagi. Karena gengsi ditantang adiknya, dia membuka tutup botol itu dengan kasar.
"Gue nggak takut! Liat nih!"
Alea menenggak jus hijau itu dalam sekali teguk besar. Wajahnya langsung mengerut, matanya berair menahan rasa pahit yang luar biasa.
"Huek... pait banget setan!" umpat Alea setelah tandas, buru-buru minum air putih.
Arka tertawa dalam hati.
'Misi sukses. Semoga Kakak gue nggak kambuh lagi sakitnya. Dokter Rigel emang pinter, tau banget cara naklukin bandelnya Kak Alea.'
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....