NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 25 — DUA YANG DATANG TERLAMBAT

Kabut belum pecah ketika suara itu terdengar.

Bukan langkah biasa—melainkan bunyi kaki yang tahu ke mana harus mendarat. Cepat, ringan, seperti tidak menyentuh tanah sepenuhnya. Dua sosok muncul dari sela pepohonan, bukan berlari, melainkan meluncur. Satu memotong arah, satu lagi langsung menghantam.

Pedang yang nyaris menembus dada nenek terhempas ke samping. Bilahnya berputar di udara sebelum jatuh, menancap setengah di tanah. Darah menyembur—bukan darah nenek—dan jerit pendek berhenti seketika.

Satu dari dua bayangan itu berdiri tepat di depan nenek. Yang satunya lagi sudah berada di belakang penyerang terakhir, tangan kirinya menutup mulut, tangan kanannya menarik—krek—leher dipatahkan tanpa suara.

Hutan kembali sunyi.

Raka terpaku. Ia tak tahu berapa detik berlalu sebelum napasnya kembali. Matanya terpaku pada dua orang itu—pakaian mereka sederhana, tanpa lambang, tanpa warna mencolok. Wajah mereka tertutup bayangan kap, hanya mata yang terlihat: dingin, waspada, dan… mengenali.

Nenek terbatuk. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Sosok pertama berlutut. “Kita terlambat,” katanya pelan. Bukan keluhan. Bukan permintaan maaf. Lebih seperti perhitungan yang tak bisa diubah.

“Masih ada yang hidup,” jawab yang satunya, memeriksa sekitar. “Itu sudah cukup.”

Ia menoleh ke Raka. Tatapan itu membuat tengkuk Raka dingin.

“Anak itu?”

Nenek mengangguk kecil. Tangannya yang gemetar masih menggenggam tongkat. “Jangan sentuh dia.”

Dua sosok itu saling pandang. Ada jeda—singkat, namun penuh makna. Seolah keputusan besar baru saja diambil tanpa kata.

“Kelompok kita terbaca,” kata sosok kedua. “Lima orang itu bukan akhir dari segalanya.”

Nenek mencoba bangkit. Tubuhnya goyah. Sosok pertama menopangnya tanpa ragu. “Kau berdarah terlalu banyak.”

“Bukan pertama,” balas nenek. “Dan bukan yang terakhir.”

Raka melangkah maju setapak. Kakinya gemetar, tapi suaranya keluar. “Siapa kalian?”

Tak ada jawaban.

Yang menjawab justru hutan—ranting patah di kejauhan. Burung-burung beterbangan. Udara berubah tegang, seolah menarik napas sebelum teriakan.

Sosok kedua mengangkat tangan. “Diam.”

Dari balik kabut, bayangan bergerak. Bukan dua. Bukan lima.

Lebih banyak.

Langkah-langkah itu menyebar, membentuk setengah lingkaran. Ada yang berat, ada yang ringan. Ada yang menyeret sesuatu—besi? rantai? Tidak jelas.

Nenek menutup mata sejenak. “Mereka datang lebih cepat.”

“Bukan untuk kita,” jawab sosok pertama. “Tapi untuk anak itu.”

Raka menelan ludah.

“Kenapa?” tanyanya lirih.

Sosok pertama menatapnya. Untuk pertama kalinya, Raka melihat keraguan di mata orang itu. “Karena ada yang menginginkanmu hidup,” katanya. “Dan ada yang ingin kau mati… di tangan orang lain.”

Anak itu ingin bertanya lagi, tapi suara siulan pendek memotong udara. Tanda.

Dari kanan, serangan datang. Cepat. Senyap.

Sosok kedua melesat, menangkis tebasan dengan bilah pendek yang baru terlihat sekarang. Darah muncrat. Tubuh roboh. Namun dari kiri, dua lagi masuk bersamaan.

Nenek memaksa berdiri. Tongkatnya terangkat, namun tangannya gemetar. Ia memukul—kena—tapi balasan menghantam bahunya. Ia terhuyung.

“Bawa anak itu!” teriak nenek.

Raka ditarik. Bukan kasar, tapi tegas. Sosok pertama menariknya ke belakang, ke jalur sempit di antara pohon-pohon. “Larilah,” katanya. “Jangan menoleh.”

“Tidak!” Raka meronta. “Nenek—”

Sosok itu menahan bahunya. “Kalau kau menoleh, semuanya bisa mati.”

Raka berhenti.

Di belakangnya, bunyi besi beradu semakin rapat. Teriakan tertahan. Nafas terputus. Bau darah makin pekat.

Mereka berlari.

Akar-akar menjulur seperti jebakan. Raka tersandung, ditarik bangun, terus dipaksa maju. Di belakang, suara pertempuran menjauh, lalu mendekat lagi—seperti ombak yang tak mau surut.

Sosok pertama berhenti mendadak. Mengangkat tangan.

Di depan mereka, tiga bayangan berdiri. Diam. Menunggu.

“Lewat jalur kiri,” bisik sosok itu. “Hitung sampai tiga.”

“Lalu?”

“Lalu lari lebih cepat dari rasa takutmu.”

Hitungan dimulai.

Satu—pisau terlempar.

Dua—jerit pendek.

Tiga—dorongan keras di punggung Raka.

Ia berlari.

Cabang-cabang menyabet wajahnya. Tanah licin. Napasnya terbakar. Di belakang, suara kembali pecah. Terlalu dekat.

Tiba-tiba, tanah di depannya runtuh. Raka terperosok, terguling, jatuh ke cekungan berlumpur. Ia mencoba bangkit—kaki kirinya nyeri hebat.

Bayangan muncul di bibir cekungan.

Pedang terangkat.

Raka menutup mata.

Suara duk keras menghantam.

Saat ia membuka mata, sosok pertama berdiri di depannya. Nafasnya berat. Darah menetes dari lengan.

“Bangun,” katanya. “Sekarang.”

“Yang lain?” Raka bertanya, suaranya pecah.

Sosok itu menoleh ke belakang. Kabut menutup segalanya. Hanya terdengar satu jerit panjang… lalu sunyi.

Ia menatap Raka kembali. “Kita harus pergi.”

“Dan nenek?”

Tak ada jawaban.

Mereka bergerak lagi, lebih cepat, lebih putus asa. Hingga hutan mulai menipis, dan cahaya pucat muncul di antara pepohonan.

Di sana—di batas kabut—berdiri seseorang. Tinggi. Diam. Menunggu.

Sosok itu menurunkan tudungnya.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

“Berikan anak itu,” katanya. “Perburuan sudah selesai.”

Sosok pertama berhenti.

Raka merasakan genggaman di bahunya menguat.

Di belakang mereka, langkah-langkah baru terdengar.

Dari depan, mata yang tak berkedip menatapnya.

Dan Raka sadar—

Ia bukan diselamatkan.

Ia sedang diperebutkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!