Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Di Antara Ilmu dan Mitos
Berita tentang batuk darah Chelyne sudah menyebar cepat meski belum diumumkan resmi. Pelayan-pelayan berbicara tanpa berubah. Greta menjadi pusat bisik-bisik.
Arion berdiri di jendela kamarnya. Dari sana Ia bisa melihat taman dalam castel. Beberapa kupu-kupu kaca melintas pelan di udara, memantulkan cahaya seperti serpihan cermin.
Saat ia lahir dulu, kupu-kupu kaca memang sering berterbangan di sekitar castel. Itu hanya dianggap biasa. Tidak pernah ada yang menyebutnya pertanda.
Tapi sekarang?
Sekarang makhluk-makhluk itu tidak sekadar berterbangan. Mereka mengikuti, mengelilingi, dan bahkan menjaga.
"Thaddeus," panggil Arion tanpa menoleh ketika putranya masuk.
Thaddeus berdiri dengan jarak
"Ayah memanggilku?"
"Ayah ingin ke ruang arsip bawah," kata Arion.
"Ada catatan lama tentang heterochromia. Bukan yang ada di ruang buku utama. Yang lebih tua."
Thaddeus tidak langsung menjawab.
"Ayah ingin tahu," lanjut Arion,
"Apakah benar putri yang lahir dengan mata heterochromia membawa sial. Mengapa serangga begitu nyaman di sekitar Greta. Mengapa dulu hanya kupu-kupu kaca yang ada, dan sekarang..." Ia berhenti.
"Sekarang seluruh taman seperti hidup untuknya," sambung Thaddeus pelan.
Arion mengangguk.
"Ayah ingin kau menemani"
Hening seketika
"Aku tidak bisa," jawab Thaddeus.
Arion menoleh.
"Tidak bisa? Apa maksudmu?" tanyanya
"Aku ingin mencari tahu juga. Tapi bukan dari buku-buku istana."
Mata Arion menyempit sedikit.
"Kau meragukan ayahmu sendiri?"
Thaddeus menahan napas.
"Aku meragukan ketakutan Ayah."
Kalimat itu ada benarnya.
"Ayah terlalu takut pada rakyat," lanjutnya lebih tenang.
"Ayah juga terlalu khawatir pada bisik-bisik mereka. Jika ada sesuatu yang disembunyikan istana, mungkin bukan ada di arsip yang bisa Ayah akses."
Arion menatap putranya. Ada luka kecil di dalam pandangannya, tapi ia tidak membantah.
"Ke mana kau akan pergi?" tanya Arion
"Ke desa. Ke rumah Hugo."
Nama itu membuat Arion mengerutkan kening.
"Anaknya Bibi Grace, bukan?"
Thaddeus mengangguk
"Mereka hanya petani." ujar Arion
"Dia bukan hanya petani," jawab Thaddeus.
"Dia membaca, mengamati alam. Hugo tidak hidup dalam mitos istana."
Arion tidak melarang. Dan itu justru membuat Thaddeus merasa semakin jauh darinya.
...****************...
Rumah Hugo terletak di tepi ladang jagung yang mulai menguning. Rumah yang sederhana, tapi rapi.
Hugo sedang duduk di meja kayu dengan beberapa buku terbuka ketika Thaddeus tiba. Ia terkejut melihat siapa yang datang.
"Thaddeus?" Hugo berdiri cepat. "Ada apa?"
"Aku butuh bicara," kata Thaddeus tanpa basa-basi.
Mereka duduk berhadapan. Cahaya matahari masuk melalui jendela kecil, membuat debu-debu di udara terlihat seperti partikel emas.
Thaddeus menceritakan semuanya. Batuk darah Chelyne. Greta yang mengatakan hal itu sebelum terjadi. Kumbang emas, kupu-kupu kaca yang kini selalu mengelilinginya.
Hugo mendengarkan tanpa memotong. Namun wajahnya perlahan berubah.
"Kau yakin Greta mengatakan itu sebelum Ratu batuk?" tanya Hugo.
"Aku mendengarnya sendiri." jawab Thaddeus
Hugo menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Serangga tidak bisa berbicara dengan manusia."
"Aku tahu." ujar Thaddeus
"Dan kupu-kupu kaca bukan makhluk gaib. Mereka hanya spesies berbeda dari kupu-kupu lain."
"Lalu kenapa mereka selalu ada di sekeliling Greta?" desak Thaddeus.
Hugo terdiam. Ia memikirkan sesuatu.
"Selama ini," katanya perlahan, "aku melihat serangga sebagai bagian dari ekosistem. Mereka tertarik pada bau, suhu, getaran. Mungkin tubuh Greta memiliki sesuatu yang berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Aku tidak tahu," jawab Hugo jujur.
"Tapi itu penjelasan yang lebih masuk akal daripada kutukan."
Thaddeus menatap meja kayu itu.
"Kau pernah membaca tentang heterochromia kerajaan?"
Hugo menggeleng.
"Tidak pernah. Buku yang kubaca tentang tanah, musim, serangga ladang, dan cuaca. Di desa, mata berbeda tidak berarti apa-apa."
"Di istana, itu berarti segalanya." lanjutnta
Hugo menatap Thaddeus dengan serius.
"Apakah rakyat benar-benar percaya ia pembawa sial?"
"Ya, mereka percaya. Saat pertama kali Greta tiba-tiba datang ke ladang kami"
Hugo menarik napas panjang.
"Jika ada sesuatu puluhan tahun lalu, mungkin itu bukan tentang mata. Mungkin tentang kejadian yang kebetulan bertepatan dengan kelahiran seseorang."
"Kau pikir ini hanya kebetulan?" tanya Thaddeus
"Aku pikir manusia suka mencari pola pada hal yang tidak mereka pahami."
Kata-kata itu masuk akal. Terlalu masuk akal.
Namun sebelum Thaddeus bisa menjawab, pintu depan terbuka.
Grace masuk dengan keranjang di tangannya. Ia berhenti ketika melihat Thaddeus duduk di ruang tamu.
Wajahnya berubah sepersekian detik. Lalu tersenyum.
"Pangeran" sapanya manis. "Jarang sekali berkunjung."
"Aku hanya ingin." jawab Thaddeus singkat.
Grace meletakkan keranjang dan menatap Hugo sekilas.
"Kau tidak bilang akan kedatangan tamu penting."
Hugo mengangguk canggung.
"Tiba-tiba saja, bu."
Grace mendekat.
"Apakah semuanya baik di istana?" tanya Thaddeus
Thaddeus menatapnya lurus.
"Tabib menyarankan menghentikan ramuan sementara. Tapi seperti yang dikatakannya kemarin, saya harus memperhatikan ratu juga." ujar Grace
Senyum Grace tidak hilang, tapi matanya berubah tipis.
Percakapan berlangsung biasa selama setengah jam berikutnya. Grace bertanya tentang ladang, tentang musim. Tidak satu pun menyebut Greta lagi.
Namun ketika Thaddeus akhirnya pamit dan melangkah keluar, ia merasa sesuatu tidak tepat.
Grace terlalu tenang.
"Terima kasih sudah berkunjung." ujar Grace sambil membungkuk.
...****************...
Langit sudah berubah jingga ketika Thaddeus kembali ke castle.
Dari kejauhan, ia melihat halaman taman. Dan di sana, di tengah rerumputan, Greta berlari sendirian.
Capung biru terbang rendah di depannya. Greta mengejarnya sambil tertawa pelan. Di bahunya hinggap kupu-kupu kaca. Kumbang kura-kura emas merayap di lengan bajunya.
Tidak ada pengawal dan pelayan
"Greta!" panggil Thaddeus keras.
Greta menoleh, lalu tersenyum. "Kakak!"
Ia kembali berlari, mencoba menangkap capung itu. Namun kakinya tersangkut akar kecil. Tubuhnya terjatuh ke depan.
Thaddeus berlari mendekat.
Greta menyentuh tanah. Tubuh kecilnya terguling sedikit dan berhenti. Greta bangkit sendiri.
Tidak ada luka dikakinya bahkan tidak ada lecet. Gaunnya hampir tidak kotor.
Thaddeus terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ia ingat, sebelum ulang tahun, Greta juga pernah jatuh. Disitu Thaddeus dan Chelyne juga panik. Tapi tidak ada memar dan bekas luka
Ia pikir itu keberuntungan.
Sekarang bagaimana?
"Kakimu tidak sakit, Greta?" tanya Thaddeus pelan.
Greta menggeleng. "Capungnya terbang cepat sekali"
Kupu-kupu kaca berputar pelan di sekeliling mereka.
Thaddeus menatap serangga-serangga itu. Dulu mereka hanya berterbangan di sekitar castle. Tidak pernah menempel pada raja mana pun yang bermata heterochromia.
Tidak pernah mengikuti.
Tidak pernah melindungi.
"Greta," katanya hati-hati, "apakah mereka melindungimu?"
Greta memiringkan kepala.
"Mereka hanya tidak suka jika aku terluka."
Jawaban itu sederhana. Tapi membuat dada Thaddeus terasa berat.
Apakah benar Greta khusus dijaga?
Apa yang sebenarnya terjadi puluhan tahun lalu hingga anak perempuan dengan heterochromia dicap sebagai pembawa sial?
Mengapa jika yang lahir laki-laki, seperti Arion, tidak pernah ada kegaduhan?
Thaddeus merasa bahwa mungkin yang salah tapi bukan Greta. Mungkin yang salah adalah sesuatu yang disembunyikan.
Dan mungkin, selama ini, kerajaan takut bukan pada sial. Melainkan pada sesuatu yang dulu pernah mereka lakukan yang dampaknya terjadi sekarang.
asumsi orang dulu emang rada-rada ya.