Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 : Tuan Yang Berbahaya
Suasana di kediaman Grozen selama dua hari terakhir terasa berbeda. Koper-koper besar dari kulit dikeluarkan, dan kesibukan para pelayan meningkat drastis.
Cloudet, yang biasanya selalu dilibatkan dalam segala hal, hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu kamar utama, memperhatikan Irina yang sedang melipat beberapa gaun sutra dengan rapi.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan diamnya.
Cloudet mendekat, jemarinya menggenggam ujung meja rias dengan polos.
“Irina... kenapa semuanya dikemas? Kita mau pindah?"
Irina menghentikan kegiatannya sebentar, lalu menoleh dengan senyum paling hangat yang ia miliki.
Tu Ia berlutut di depan Cloudet, mensejajarkan tingginya.
“Tidak, sayang. Kami hanya akan pergi berlibur ke vila keluarga Grozen di pesisir selatan selama tiga minggu. Edeline butuh menghirup udara laut yang segar."
Cloudet terdiam sejenak. Ada harapan kecil di matanya, namun Irina segera melanjutkannya dengan nada lembut namun pasti.
“Tapi kali ini, kau harus tinggal di sini bersama Jover dan Calix. Roland dan aku ingin menghabiskan waktu yang tenang, hanya sebagai keluarga inti untuk sementara waktu. Kau mengerti, kan?"
Meskipun ada sedikit rasa sepi yang mulai merayap, Cloudet adalah anak yang sangat pengertian.
Ia mengangguk pelan, memberikan senyum tulus yang menenangkan hati Irina
"Aku mengerti, Irina. Aku akan menjaga mansion bersama Ayah dan Kakak."
Hari keberangkatan pun tiba. Kereta kuda mewah berlambang keluarga Grozen sudah bersiap di depan gerbang. Roland membantu Irina naik, sementara Edeline berada di gendongan perawatnya sebelum diserahkan pada ibunya di dalam kereta.
Cloudet berdiri di anak tangga teratas, melambaikan tangannya dengan semangat yang dipaksakan agar tidak terlihat sedih. "Sampai jumpa, Edeline!" teriaknya ceria.
Edeline kecil, yang sedang duduk di pangkuan Irina, tiba-tiba menoleh ke arah jendela. Ia memekarkan jari-jari mungilnya, menggeliat senang dengan mata berbinar ke arah Cloudet.
Meskipun kata-kata belum mampu keluar dari bibirnya, gerakan tangannya yang lincah seolah menjadi bahasa isyarat paling manis untuk mengucapkan sampai jumpa.
Kereta itu perlahan menjauh, meninggalkan kepulan debu tipis dan kesunyian yang mendadak terasa pekat di mansion besar itu.
Setelah bayangan kereta menghilang di tikungan jalan, Cloudet berbalik masuk ke dalam. Ia merasa butuh teman bicara, dan orang pertama yang ia cari adalah Calix.
Namun, setelah berkeliling dari ruangan hingga ke atap mansion, ia tidak menemukan jejak kakaknya.
Calix sepertinya sedang keluar melakukan sesuatu atau sekadar mencari udara segar untuk meredakan kepalanya yang berdenyut.
Cloudet mulai merasa bosan. Keheningan mansion tanpa tawa Edeline terasa asing baginya.
Ia berjalan ke balkon belakang, matanya tertuju pada cakrawala di mana Hutan Scotra berdiri dengan megahnya.
Hutan itu berbeda hari ini.
Entah karena pengaruh sihir atau sekadar halusinasinya, Hutan Scotra tampak memancarkan pendaran cahaya kehijauan yang mengundang. Aura yang keluar dari sana terasa sangat menyenangkan, seperti sebuah simfoni yang memanggil-manggil dirinya-nya untuk segera datang berkunjung.
"Hanya sebentar... Kakak juga sedang tidak ada," gumam Cloudet pada dirinya sendiri.
Dengan rasa penasaran yang membuncah, ia melompat turun dari balkon dengan lincah, lalu berlari kecil menuju perbatasan hutan yang penuh misteri itu.
----------------
Langkah kaki Cloudet yang ringan nyaris tak terdengar saat ia melintasi garis batas antara padang rumput dan vegetasi lebat Hutan Scotra.
Awalnya, hutan itu terasa seperti pelukan hangat; aroma tanah basah, lumut, dan nektar bunga liar menari-nari di indra penciumannya.
Namun, semakin jauh ia melangkah ke dalam jantung hijau itu, atmosfer berubah. Udara menjadi dingin dan statis, seolah waktu di tempat ini membeku di bawah naungan pohon-pohon raksasa yang dahan-dahannya saling mengunci cahaya matahari.
Keceriaan polos Cloudet perlahan digantikan oleh kewaspadaan instingtual.
Namun, terlambat.
Tanpa suara gesekan daun, sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat meluncur dari balik bayang-bayang pohon.
Sebelum Cloudet sempat mengerahkan insting pelariannya, sebuah lilitan otot raksasa telah mengunci tubuh mungilnya.
Kael, sang raja penjaga Scotra yang mematikan, telah menjeratnya.
Sisik-sisik ular raksasa itu berkilau gelap dengan transisi kehijauan, menekan dada Cloudet hingga napasnya terasa sesak.
"Hmmm... lihat siapa yang dengan berani masuk ke wilayahku,"
bisik sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam di atas batu.
Kael memunculkan wujudnya dari balik rimbunnya daun. Sosoknya yang eksotis namun berbahaya condong ke arah Cloudet.
Namun, saat mata Kael bertemu dengan sepasang bola mata kuning keemasan milik gadis kecil itu, gerakannya terhenti.
Kael terdiam, pupil matanya yang vertikal menyempit tajam.
Ada kemiripan yang menghantuinya pada wajah Cloudet.
Struktur tulang pipinya, keanggunan alaminya, semuanya mengingatkan Kael pada satu sosok.
Nivera, sang Hellhound Putih yang legendaris, namun Cloudet adalah versi yang dibasuh oleh kegelapan malam yang pekat.
Terlebih lagi, indra penciuman Kael yang tajam menangkap aroma yang sangat ia benci sekaligus ia kenali dari seseorang yang selalu membuatnya terpikat, itu aroma yang berasal dari tubuh Calix.
Sebuah senyum miring yang penuh intrik mulai merekah di bibir Kael. Ia menyadari bahwa mangsa di hadapannya bukan sekadar hewan liar yang tersesat, melainkan perhiasan paling berharga milik musuhnya.
"Oh, jadi ini..."
Kael menggantung kalimatnya, membiarkan aura intimidasi merayapi kulit Cloudet.
“Sedang apa seekor Hellhound kecil sepertimu berkeliaran di sini? Di mana kakakmu yang sombong itu?"
Dari wujud ularnya, Kael berubah menjadi sosok pria tampan setengah tubuh manusia, setengah ular. Rambutnya panjang sebahu, dengan gaya butterfly cut, berwarna hitam dengan ujung kehijauan. Matanya vertikal layaknya ular, berwarna hitam kehijauan.
Kael menjulurkan jemarinya yang dingin, mengangkat dagu Cloudet dengan paksa agar gadis itu menatap langsung ke dalam netranya yang berbisa.
Cloudet, meski jantungnya berdegup kencang, tetap diam. Kepolosan di wajahnya berpadu dengan keteguhan yang aneh, ia menatap Kael dengan binar yang tidak menunjukkan rasa takut yang merendah.
"Kau sangat cantik, Nak. Benar-benar sebuah mahakarya,"
gumam Kael, suaranya kini mengandung nada pujian yang beracun.
“Tetapi kau harus tahu, kecantikan seperti ini adalah magnet petaka di tempat seperti ini nak."
Seringai Kael melebar, menampakkan kilatan kegilaan yang terencana. Lilitan ular raksasanya semakin mengencang, bukan untuk meremukkan tulang, melainkan untuk menegaskan dominasi.
"Nampaknya, mengirimmu kembali ke pelukan Calix dalam keadaan yang... 'berbeda' akan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan bagiku. Bayangkan wajahnya saat melihat adiknya yang suci ini ternoda."
Cloudet merasakan hawa dingin menjalar dari sentuhan Kael, menyadari bahwa hutan yang tadi tampak menyenangkan kini telah berubah menjadi penjara hijau yang siap menelan kewarasannya.
Hutan Scotra seolah menahan napas. Kegelapan di dalamnya bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan zat cair yang kental, berdenyut mengikuti irama jantung Kael yang dingin.
Lilitan sisik-sisik ular itu mengencang dengan presisi yang kejam, mengunci rusuk Cloudet hingga setiap tarikan napasnya terdengar seperti rintihan yang tertahan.
Kael menikmati setiap getaran ketakutan itu; baginya, rasa takut adalah melodi paling manis yang bisa dihasilkan oleh makhluk fana, terutama makhluk kecil bernyawa seperti Cloudet.
“Apa kau takut, gadis kecil?”
ejek Kael, suaranya berdesis pelan tepat di lubang telinga Cloudet.
Ia ingin melihat air mata, ia ingin melihat keputusasaan yang melumpuhkan.
Namun, Kael lupa satu hal fundamental: darah yang mengalir di nadi gadis ini adalah api yang dibungkus oleh keanggunan rupa manusia.
CRACK!
“Ah!”
Kael memekik, sebuah erangan yang jarang keluar dari bibirnya yang arogan.
Taring-taring kecil namun setajam silet milik Cloudet menancap dalam ke daging Kael.
Itu bukan sekadar gigitan defensif; itu adalah serangan instingtual yang menyasar titik saraf paling sensitif di tubuh sang raja Scotra.
Rasa sakit yang tajam dan panas menjalar ke seluruh sistem saraf Kael, memaksa lilitan ototnya mengendur secara refleks karena keterkejutan yang luar biasa.
Cloudet jatuh terjerembap ke atas tanah yang lembap, namun ia tidak membuang waktu. Ia segera bangkit dan berlari menembus rimbunnya belukar, jantungnya berpacu seirama dengan langkah kakinya yang kecil.
Tetapi Kael bukanlah pemangsa yang mudah dilepaskan. Ia tertawa—sebuah tawa yang kering dan hampa—sebelum ekor ularnya yang raksasa menyapu permukaan tanah dengan kecepatan kilat.
Brak!
Tubuh Cloudet terpelanting kembali, tertangkap dalam sapuan ekor yang kasar.
“Kau pikir bisa kabur semudah itu dari pelukanku?”
Kael bangkit, lukanya berdenyut, namun matanya memancarkan kegairahan yang haus darah.
Di saat itulah, sesuatu di dalam diri Cloudet pecah. Rasa takut yang sedari tadi menekannya berubah menjadi amarah yang murni dan panas.
Api keemasan mulai menyala di dasar matanya, membakar habis kepolosan yang tersisa.
Tubuhnya bergetar hebat, tulang-tulangnya berderak, dan udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat panas hingga daun-daun mulai mengering dan menghitam.
Lalu, dalam satu ledakan energi yang membutakan— TRANSFORMASI.
Sesosok predator muncul dari balik kepulan asap hitam. Bukan lagi gadis kecil, melainkan seekor Hellhound hitam raksasa dengan otot-otot yang menonjol kuat di bawah bulu gelapnya.
Ukurannya kini hampir setara dengan Kael, memancarkan aura dominasi yang mengerikan.
Api berpendar biru di sela-sela taringnya yang besar.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Kael untuk bereaksi, Cloudet menerjang. Rahangnya yang kuat mengunci tubuh ular Kael, dan dengan kekuatan brutal yang tak terbayangkan, ia menggoyang-goyangkan tubuh Kael ke kiri dan ke kanan, mengoyaknya seolah Kael hanyalah barang yang tidak berharga.
Membuat tanah sedikit bergetar.
“Oh,”
Kael terkekeh, suaranya sedikit tercekik saat tubuhnya menghantam batang pohon.
“Nampaknya aku benar-benar dalam bahaya sekarang.”
Nada suaranya tidak menunjukkan ketakutan.
Justru sebaliknya—ia terdengar sangat puas.
Baginya, melihat kebangkitan monster di dalam diri Cloudet adalah puncak dari hiburan paling gelap yang pernah ia saksikan.
----------------
Di saat yang sama, Mansion Grozen di koridor belakang mansion Grozen, langkah Calix terhenti mendadak.
Keheningan yang menyambutnya bukan lagi keheningan damai, melainkan kekosongan yang mematikan. Ia memanggil-manggil nama Cloudet, biasanya dia akan berlari entah dari arah mana dan tiba-tiba muncul mengagetkan Calix.
Namun, yang ia dapatkan hanyalah kesunyian yang dingin.
“Cloudet…?” gumamnya.
Tidak ada jawaban. Tidak ada aroma vanilla dan kayu cendana yang biasa tertinggal saat adiknya berlari.
Detik itu juga, napas Calix tercekat.
Sebuah firasat buruk menghantam dadanya seperti palu godam.
Tanpa berpikir dua kali, ia melesat. Tubuh Calix menerjang keluar. Arah yang ditujunya hanya satu: Hutan Scotra.
Aura apinya mulai naik, membakar udara di sekitarnya hingga meninggalkan jejak hangus di tanah yang ia pijak. Mata kuning Calix menyala terang seperti matahari yang marah.
Jika Kael berani menyentuh adiknya lebih jauh, jika ada satu helai rambut Cloudet yang rusak karena kegilaan pria ular itu.
Calix bersumpah, Hutan Scotra tidak akan lagi tersisa di peta benua manapun.
Bersambung.