NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Teh Hangat, Pedang Dingin, dan Kotak Hitam.

Pagi datang perlahan di Desa Bambu Merah.

Kabut tipis menggantung di atas sungai, membelai permukaan air yang tenang seperti sutra perak. Ayam-ayam berkokok bersahut-sahutan, dan suara kayu dibelah terdengar dari halaman belakang rumah-rumah penduduk yang mulai membangun kembali kehidupan mereka.

Di dalam warung Zhang Tua, suasana hangat dan damai.

Tungku tanah liat menyala pelan, memanaskan air dalam ketel tembaga tua. Aroma daun teh memenuhi ruangan.

Wang Long duduk di dekat jendela.

Punggungnya tegak, kedua tangannya memegang cangkir tanah liat kecil yang mengepulkan uap tipis. Cahaya pagi menerpa wajahnya, menegaskan garis rahangnya yang tenang dan mata yang dalam seperti danau tak berombak.

Di samping kursinya, bersandar rapi pada dinding kayu, sebuah kotak hitam panjang terbungkus kain gelap.

Kotak itu sederhana.

Namun aura yang tak terlihat seakan membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.

Langkah kaki ringan terdengar dari arah pintu.

Wang Long tidak menoleh, tetapi ia tahu siapa yang datang.

Sin Yin.

Hari ini ia mengenakan pakaian biru tua, lebih gelap dari jubah kemarin. Warna itu membuat kulitnya terlihat semakin cerah, dan rambut hitamnya yang terikat setengah terurai jatuh anggun di punggung.

Pedangnya tersampir di belakang, gagangnya yang dihiasi ukiran perak menyembul di atas bahu.

Ia berhenti sejenak di ambang pintu.

Tatapannya tertuju pada Wang Long.

Ada sesuatu yang berbeda dari pagi ini.

Tidak ada medan perang.

Tidak ada jeritan.

Hanya dua pendekar muda dalam sunyi pagi.

Sin Yin melangkah masuk perlahan, duduk di hadapannya tanpa suara.

Zhang Tua segera menyuguhkan secangkir teh untuknya.

“Terima kasih,” ucap Sin Yin singkat, suaranya lembut namun tetap memiliki ketegasan alami.

Wang Long mengangkat pandangan.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Sin Yin yang biasanya dingin, kali ini tidak langsung memalingkan wajah.

Ia menatap Wang Long dengan rasa ingin tahu yang belum padam sejak kemarin.

“Tidurmu nyenyak?” tanyanya.

Nada suaranya tidak lagi setajam kemarin.

Wang Long mengangguk pelan.

“Cukup.”

Sin Yin memutar cangkir tehnya perlahan, memperhatikan uap yang berputar.

Lalu tatapannya bergeser.

Ke kotak hitam di samping Wang Long.

Matanya menyipit tipis.

“Kotak itu,” katanya pelan, sambil menunjuk dengan dagu halusnya.

“Kau membawanya ke mana pun?”

Wang Long mengikuti arah pandangnya.

“Ya.”

“Apa isinya?”

Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada ringan, namun tatapannya tajam. Sebagai pendekar, nalurinya dapat merasakan sesuatu dari benda itu.

Wang Long terdiam sejenak.

Tangannya mengusap permukaan cangkir.

“Hanya sebuah pusaka peninggalan ayahku.”

Jawabannya singkat.

Terlalu singkat.

Sin Yin mengangkat alis halusnya.

“Hanya pusaka?” ulangnya, suaranya sedikit meninggi.

“Aku merasakan sesuatu dari kotak itu.”

Wang Long tersenyum tipis.

Senyum yang sulit ditebak maknanya.

“Perasaanmu tajam.”

Sin Yin sedikit mendengus.

“Itu bukan pujian.”

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, namun pandangannya belum lepas dari kotak hitam itu.

“Boleh kulihat?”

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Begitu sadar, Sin Yin sedikit mengerutkan keningnya sendiri. Ia tidak terbiasa meminta sesuatu dengan nada seperti itu.

Wang Long menatapnya lama.

Ada keheningan di antara mereka.

Lalu ia menggeleng pelan.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Namun diucapkan tanpa kesan menolak dengan kasar.

Sin Yin tidak langsung tersinggung.

Ia memperhatikan sorot mata Wang Long.

Di sana ada sesuatu yang tersembunyi.

Bukan kesombongan.

Bukan ketidakpercayaan.

Melainkan… beban.

Sin Yin mengalihkan pandangan.

“Kalau begitu, simpan saja baik-baik. Dunia persilatan penuh pencuri pusaka.”

Nada suaranya terdengar biasa, namun jari-jarinya menggenggam cangkir sedikit lebih erat.

Wang Long melihat perubahan kecil itu.

Ia lalu berkata pelan,

“Tak sebagus pedang Nona Sin Yin.”

Ucapan itu membuat Sin Yin terdiam.

Matanya kembali menatap Wang Long.

“Kau pernah melihat pedangku dengan jelas?”

“Cukup jelas kemarin.”

Sudut bibir Wang Long terangkat sedikit.

“Gerakannya indah. Ringan. Tapi tegas.”

Sin Yin tertegun.

Ia jarang mendapat pujian.

Terlebih dari pria yang mampu mengalahkannya dalam satu jurus.

Wajahnya tetap tenang, namun ada semburat tipis di pipinya.

“Pedang ini,” katanya sambil meraih gagang di punggungnya,

“bernama Bulan Senja. Ditempa oleh pandai besi terbaik di selatan. Baja pilihan, direndam dalam mata air gunung selama sembilan hari.”

Ia mencabut pedangnya perlahan.

Cahaya pagi memantul di bilahnya.

Benar-benar indah.

Namun juga mematikan.

Wang Long memandangnya tanpa berkedip.

“Cocok untukmu.”

Sin Yin memiringkan kepala.

“Cocok bagaimana?”

“Cantik. Tapi berbahaya.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Sin Yin tersenyum tipis.

Namun ia cepat-cepat menetralkan ekspresinya.

“Kau pandai berkata-kata rupanya.”

“Tidak. Aku hanya berkata jujur.”

Keheningan kembali turun.

Namun kali ini tidak canggung.

Justru hangat.

Sin Yin memasukkan kembali pedangnya ke sarung.

Ia menatap Wang Long sekali lagi.

“Kalau itu pusaka ayahmu… berarti ayahmu juga pendekar?”

Wang Long menunduk sedikit.

Tangannya berhenti memegang cangkir.

“Dulu.”

Satu kata.

Namun suaranya berubah.

Lebih dalam.

Lebih berat.

Sin Yin menangkap perubahan itu.

Ia tidak melanjutkan pertanyaan.

Sebagai pendekar, ia tahu kapan harus berhenti menggali luka orang lain.

Sebaliknya, ia berkata pelan,

“Jika suatu hari kau butuh bantuan…”

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya sendiri.

“Aku tidak akan menolak.”

Wang Long menatapnya.

Sorot matanya kali ini lebih lembut.

“Kenapa?”

Sin Yin menatap ke luar jendela, pada penduduk desa yang mulai tersenyum lagi.

“Karena kau menyelamatkan mereka.”

Ia menoleh kembali.

“Dan karena aku tidak suka berhutang.”

Wang Long tertawa pelan.

Tawa yang jarang terdengar.

“Baiklah.”

Tiba-tiba—

Dari luar terdengar suara langkah kaki tergesa.

Seorang pemuda desa berlari mendekat, napasnya terengah.

“Pendekar Wang! Nona Sin Yin!”

Keduanya berdiri hampir bersamaan.

“Ada apa?” tanya Sin Yin.

“Di tepi hutan… kami menemukan jejak orang asing. Sepertinya bukan penduduk desa!”

Tatapan Wang Long berubah tajam.

Sin Yin menggenggam gagang pedangnya.

Suasana damai pagi itu retak seketika.

Namun sebelum melangkah keluar, Sin Yin menoleh pada Wang Long.

“Kotak hitammu… jangan sampai tertinggal.”

Nada suaranya serius.

Wang Long mengangguk.

Ia mengangkat kotak hitam itu dengan satu tangan.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Tanpa perlu kata, keduanya tahu.

Hari tenang mungkin telah berakhir.

Dan apa pun yang bersembunyi di balik hutan itu—

Akan menjadi ujian berikutnya bagi mereka.

Pagi yang hangat berubah menjadi awal badai baru.

Dan di antara teh hangat serta pedang dingin itu, benih takdir semakin mengakar pelan.

Bersambung...

1
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!