Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi di Galata
Istanbul tidak pernah benar-benar tidur, terutama bagi mereka yang sedang bersembunyi dari bayang-bayang. Setelah percakapan penuh rindu dengan Khadijah yang memberinya kekuatan baru, Adam Al-Fatih kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit di lapangan. Kabar bahwa dokumen panti asuhan Paris telah disabotase dan dibawa ke Menara Galata memaksa Adam untuk turun langsung. Namun, ia tidak menyangka bahwa musuh-musuhnya telah menyiapkan jaring-jaring fitnah yang lebih halus: pesona wanita-wanita dunia yang dikirim untuk menguji kadar keimanannya.
Di lobi hotel bergaya Ottoman tempat pertemuan rahasia akan berlangsung, Adam berdiri tegak dengan setelan jas hitam tanpa dasi, memberikan kesan CEO yang lebih relaks namun tetap mengintimidasi. Di sampingnya, Aisha tampak gelisah, sesekali merapikan jilbabnya sambil memegang tablet berisi data perusahaan.
"Ingat, Aisha, tetaplah di belakangku. Jangan biarkan siapa pun mengambil perhatianmu dari sistem keamanan kita," bisik Adam tegas.
Belum sempat Aisha menjawab, pintu lift terbuka dan muncullah Leyla, sosialita Turki yang kemarin sempat diusir Adam dari vila. Kali ini, ia tidak sendiri. Ia membawa seorang rekannya, Zoya, seorang model keturunan Rusia-Turki yang memiliki kecantikan dingin dengan mata biru sedalam Laut Marmara. Zoya mengenakan gaun sutra ketat berwarna perak yang seolah memantulkan cahaya lampu kristal di ruangan itu.
"Monsieur Adam, kita bertemu lagi. Sepertinya Istanbul terlalu sempit untuk pria sebesar Anda," Leyla menyapa dengan nada sinis namun sensual. Ia melangkah mendekat, sengaja menyentuh lengan Adam dengan ujung jemarinya yang lentur. "Zoya sangat mengagumi proyek-proyek Anda. Ia ingin tahu, apakah baja yang Anda produksi sekeras hati Anda?"
Zoya melangkah maju, memberikan tatapan yang mampu meluluhkan pria biasa. Ia membisikkan sesuatu dalam bahasa Turki yang halus tepat di telinga Adam, aroma parfum musk yang berat mulai menyerang konsentrasi sang CEO. "Pria hebat seperti Anda tidak seharusnya menghabiskan malam sendirian dengan dokumen-dokumen tua, Adam. Galata memiliki sisi lain yang hanya bisa dinikmati dengan... pendamping yang tepat."
Adam tidak bergeming. Ia menarik lengannya dengan halus namun pasti, wajahnya tetap datar bak karang yang dipukul ombak. "Kekuatan baja saya berasal dari kemurnian niatnya, Mademoiselle. Dan malam saya tidak pernah sendirian, karena Tuhan selalu mengawasi setiap langkah saya. Sekarang, di mana dokumen itu?"
Di sudut lain, Isabelle yang baru saja tiba dengan pengawalan Reza, melihat pemandangan itu dari kejauhan. Ada rasa sesak yang aneh muncul di dadanya. Ia melihat bagaimana wanita-wanita itu mencoba menjerat Adam dengan segala daya tarik raga mereka. Isabelle menyadari, selama ini ia mengagumi Adam bukan karena hartanya, tapi karena keteguhannya. Namun, melihat Zoya yang begitu dekat dengan Adam, Isabelle merasakan percikan kecemburuan yang tidak seharusnya ia miliki. Ia merasa inferior; ia hanya wanita pelarian yang merepotkan, sementara wanita-wanita itu adalah mawar-mawar Istanbul yang mematikan.
"Kenapa mereka tidak bisa membiarkan pria itu tenang?" gumam Isabelle lirih, jemarinya meremas tali tasnya.
Aisha, yang juga merasakan ketegangan yang sama, tiba-tiba melangkah maju memotong pembicaraan Zoya. "Dokumen itu ada di lantai atas, Pak Adam. Dan Mademoiselle Leyla, waktu kami sangat berharga. Jika Anda di sini hanya untuk menjadi 'pemandu wisata', saya rasa kantor pariwisata lebih membutuhkan Anda."
Keberanian Aisha membuat Leyla mendengus kesal. Situasi semakin memanas ketika para wanita ini—Isabelle yang penuh luka, Aisha yang protektif, serta Leyla dan Zoya yang penuh tipu daya—berada dalam satu ruang lingkup yang sama, mengelilingi satu pria. Adam merasa terjepit di antara perang batin para wanita ini.
Pertemuan di Menara Galata ternyata adalah sebuah jebakan. Saat Adam melangkah menuju balkon untuk menerima berkas, lampu-lampu di sekitar menara mendadak padam. Di tengah kegelapan, Zoya mencoba memeluk Adam dari belakang, sebuah upaya terakhir untuk menciptakan skandal foto yang lebih hancur lagi. Namun, dengan gerakan tangkas, Adam menghindar dan menyalakan senter ponselnya.
"Cukup!" suara Adam menggelegar di sunyinya menara. "Kalian bisa mencoba merusak nama baikku dengan seribu wanita cantik, tapi kalian tidak akan pernah bisa menyentuh jiwaku. Karena jiwaku sudah dimiliki oleh wanita yang namanya selalu kusebut dalam setiap doa."
Adam berbalik, mengabaikan segala godaan itu, dan melangkah menuju Isabelle dan Aisha yang nampak gemetar. Ia merangkul kedua bahu mereka—bukan dengan nafsu, tapi dengan sikap seorang pelindung yang sedang membawa pasukannya keluar dari medan perang.
"Ayo kita pergi. Istanbul tidak lagi aman malam ini," tegas Adam.
Di bawah rembulan yang menggantung di atas Menara Galata, Adam Al-Fatih kembali membuktikan bahwa godaan duniawi seindah apa pun tak akan mampu menggoyahkan sajadah yang telah ia bentangkan untuk Khadijah. Namun, ia tidak sadar bahwa di balik kegelapan, seseorang telah berhasil mengabadikan momen kedekatannya dengan Isabelle dan Aisha di menara itu, siap untuk dikirim kembali ke Jakarta sebagai amunisi fitnah yang baru.