Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Melintasi Dunia Lain
Keesokan harinya, Boqin Changing benar-benar kembali tenggelam dalam pelatihan tertutupnya. Pintu kamar tertutup rapat. Formasi sederhana yang ia ukir sendiri di lantai kayu menyala redup, menjaga agar fluktuasi qi di dalam ruangan tidak bocor keluar. Di tengah ruangan, ia duduk bersila, napasnya panjang dan teratur.
Di sisi lain rumah kecil itu, kehidupan justru bergerak berbeda. Sha Nuo tidak lagi berdiam diri. Ia mulai melakukan pelatihan terbuka di halaman depan, bahkan terkadang di hutan kecil di belakang rumah.
Sebagai seorang pendekar langit yang baru saja menembus ranahnya, ia tahu betul bahwa kekuatan sebesar itu tidak boleh dibiarkan liar. Ia harus menstabilkannya. Harus membiasakan tubuh dan jiwanya dengan lonjakan kekuatan yang kini mengalir deras di dalam tubuhnya.
Setiap pagi, suara pedang membelah udara terdengar nyaring.
Zzzttt!
Petir tipis melilit bilah pedangnya, tidak lagi liar seperti badai pertama kali, melainkan tajam dan terkendali. Setiap ayunan membelah udara dengan presisi menakutkan. Tanah yang terbelah dulu kini telah diperbaiki, namun retakan baru sesekali muncul, lebih halus, lebih rapi.
Sha Nuo berkeringat, namun wajahnya tenang. Ia belajar berjalan dengan aura ditekan seminimal mungkin. Ia belajar mengeluarkan sepersepuluh kekuatan, lalu seperseratus. Ia belajar menahan diri.
Sementara itu, di balik pintu tertutup, Boqin Changing sibuk menyerap semua sumber daya yang ia miliki. Satu per satu sumber daya peningkat qi ia serap. Energi herbal berusia puluhan tahun larut di dalam tubuhnya. Berbagai sumber daya yang ia simpan sejak lama hancur menjadi debu setelah khasiat di dalamnya ia serap bersih.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Delapan bulan berlalu tanpa terasa.
Selama delapan bulan itu, rumah kecil tersebut seolah terpisah dari dunia luar. Di luar, Sha Nuo semakin mahir mengendalikan kekuatannya. Di dalam, Boqin Changing terus memeras batas tubuhnya.
Namun pada suatu pagi yang hening, Boqin Changing perlahan membuka matanya. Cahaya tipis berkilat di dalam pupilnya, lalu memudar. Ia menatap ke depan dengan tenang. Sumber daya peningkat qi miliknya… telah habis.
Yang tersisa sekarang hanyalah pil-pil penyembuh, pil penguat tulang, dan beberapa herbal mentah, bahan pembuatan pil yang tidak meningkatkan qi. Tidak ada lagi sumber daya yang bisa dipakai untuk meningkatkan qi-nya lagi.
Boqin Changing menghela napas panjang. Napas itu terdengar berat di ruangan sunyi. Nyatanya, meskipun ia telah menghabiskan seluruh sumber dayanya yang berguna, ia masih belum mampu menembus ranah pendekar langit.
Ia sudah menduga hasil ini. Fondasinya terlalu kuat. Terlalu padat. Ia memadatkan qi-nya jauh melampaui standar pendekar bumi biasa. Untuk menembus langit, ia membutuhkan lonjakan energi yang jauh lebih besar dari orang kebanyakan.
Secara logika, ini sesuai prediksinya. Namun secara perasaan… tetap saja mengecewakan.
Boqin Changing berdiri perlahan. Tulang-tulangnya berbunyi pelan saat ia meregangkan tubuh.
Ia membuka pintu kamarnya. Rumah tampak kosong. Sunyi. Meja makan bersih. Dapur rapi.
Ia berjalan keluar. Begitu melangkah ke halaman, suara pedang membelah udara langsung menyambutnya.
Wuusss!
Sha Nuo sedang berlatih. Tubuh pria itu bergerak ringan, jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Setiap langkahnya seolah menyatu dengan angin. Petir tipis melilit pedangnya, sesekali menyambar ke udara dan menghilang tanpa merusak sekitar. Aura pendekar langit terasa… namun tertahan dan terkendali.
Boqin Changing berhenti beberapa langkah dari halaman, memperhatikan dengan mata tenang. Sudut bibirnya terangkat tipis. Adaptasi Sha Nuo cepat. Lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Pada saat itu, Sha Nuo mengayunkan satu tebasan terakhir. Kilatan petir melesat lurus, membelah batang pohon mati di kejauhan menjadi dua bagian yang jatuh rapi tanpa ledakan berlebihan.
Ia mengembuskan napas panjang. Lalu ia merasakan sesuatu. Sha Nuo menoleh.
Tatapannya langsung bertemu dengan Boqin Changing yang berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Petir di sekitar pedangnya padam. Ia menyarungkan pedang itu perlahan, lalu berjalan mendekat. Langkahnya mantap, tanpa aura yang meluap-luap.
Sha Nuo berhenti di depan Boqin Changing. Ia tersenyum tipis.
“Akhirnya kau selesai juga.”
Boqin Changing menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
“Pengendalian qi-mu semakin baik,” ujarnya tenang. “Kekuatanmu tidak lagi liar. Kau sudah bisa menahannya pada tingkat yang hampir tak terasa.”
Sha Nuo tertawa kecil. Tawanya ringan, tanpa kesombongan.
“Ini sesuai bimbinganmu,” katanya jujur. “Tanpa arahanmu tentang cara memadatkan inti dan menahan luapan qi, mungkin separuh hutan ini sudah rata oleh kekuatanku.”
Boqin Changing hanya tersenyum tipis.
Sha Nuo lalu memiringkan kepala, menatapnya lebih saksama.
“Lalu kau?” tanyanya pelan. “Apa kau berhasil menembus ranah pendekar langit?”
Boqin Changing menggelengkan kepala. Gerakan itu ringan, namun cukup jelas. Senyum tipis masih menggantung di wajahnya. Tidak pahit, tidak pula dipaksakan. Hanya sebuah pengakuan sunyi.
Sha Nuo langsung merasa tidak enak. Ia tahu betul betapa kerasnya Boqin Changing melakukan pelatih tertutup selama ini. Ia pasti tahu semua sumber daya telah dihabiskan.
“A-aku…” Sha Nuo berdeham, lalu buru-buru berkata, “Aku akan memasak! Kita sudah lama tidak makan bersama dengan benar. Hari ini aku yang akan melakukannya.”
Boqin Changing hendak membuka mulut untuk menolak.
“Tidak perlu.....”
Namun Sha Nuo sudah berbalik cepat dan melangkah masuk ke rumah. Dalam beberapa detik, suara pintu dapur terbuka terdengar, disusul dentingan peralatan masak yang tergesa-gesa.
Boqin Changing terdiam beberapa saat di halaman. Ia tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana, menatap langit yang biru pucat. Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan di sekitar rumah kecil itu. Ia memejamkan mata.
Angin menyentuh wajahnya. Ia merasakan aliran qi di dalam tubuhnya, padat, berat, seperti lautan yang ditahan dalam wadah sempit. Ia memang belum menembus pendekar langit. Namun ia sudah berada di puncak pendekar bumi… setengah langkah menuju langit.
Setengah langkah. Itu jarak yang bagi sebagian orang bisa ditempuh dalam waktu bertahun-tahun. Bagi sebagian lainnya… seumur hidup pun tak cukup.
Namun pikirannya kini bukan lagi sekadar tentang ranah. Ia sudah menyerap semua sumber dayanya. Artinya, waktunya hampir tiba.
Cermin itu. Cermin emas yang ia temukan sebelumnya, tersembunyi di cincin ruangnya. Ia tahu, setelah semua persiapan ini selesai… ia akan melangkah melewati permukaan cermin itu dan memasuki dunia lain.
Dunia yang belum ia pahami sepenuhnya. Namun kemungkinan besar pusaka tingkat alam ada di sana.
Ia membuka mata perlahan. Apakah ranah pendekar bumi puncak, setengah langkah menuju langit… cukup untuk bertahan hidup di sana? Ia tidak tahu.
Sha Nuo memang telah mencapai ranah pendekar langit. Dengan kekuatannya, ia bahkan bisa dianggap menakutkan di antara sesama pendekar langit awal. Namun sebisa mungkin, Boqin Changing tidak ingin bergantung pada kemampuan Sha Nuo.
Jika di dunia lain nanti mereka terpisah… Jika ada bahaya yang menargetkannya sendiri… Ia harus mampu berdiri tanpa bayangan siapa pun.
Boqin Changing berjalan perlahan menuju kursi kayu di halaman. Kursi itu sudah lama ada di sana, kayunya mulai halus oleh waktu. Ia duduk, tangan bertaut di pangkuan, menatap pohon tua di tepi pagar.
Beberapa helai daun gugur, jatuh tanpa suara. Ia memejamkan mata lagi. Mencoba menerima. Mencoba merelakan bahwa untuk saat ini, langit masih belum bisa ia raih.
Langkahnya tertahan setengah jengkal dari gerbang ranah berikutnya. Namun ia tidak marah. Tidak putus asa. Hanya… menunggu waktu yang tepat.
Tak lama kemudian, suara dari dalam rumah memecah keheningan.
“Tuan Muda!” teriak Sha Nuo. “Makanannya sudah siap!”
Boqin Changing tersenyum. Sudut bibirnya kembali terangkat tipis. Ia berdiri dari kursi kayu itu.
Angin masih berhembus lembut di halaman saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, menuju meja makan yang kini dipenuhi aroma hangat masakan buatan Sha Nu. Tanda bahwa, untuk hari ini, mereka masih bisa duduk bersama dengan damai sebelum takdir kembali bergerak.
Aroma masakan memenuhi ruangan kecil itu. Di atas meja kayu sederhana, beberapa hidangan tersaji. Daging panggang dengan bumbu ringan, sup herbal hangat, serta nasi yang masih mengepul tipis. Tidak mewah, namun rapi dan penuh perhatian.
Boqin Changing duduk lebih dulu. Sha Nuo menyusul, lalu ikut duduk di hadapannya. Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain dentingan sumpit menyentuh mangkuk.
Sha Nuo makan dengan tenang. Kepalanya sedikit tertunduk. Ia tidak banyak bicara. Setiap kali hendak membuka mulut, ia seperti menahan diri kembali. Setelah delapan bulan pelatihan tertutup Boqin Changing, ia sadar jarak kekuatan mereka kini menjadi topik yang sensitif. Ia telah menembus ranah pendekar langit… sementara orang yang membimbingnya masih setengah langkah di bawahnya.
Ia takut salah bicara. Takut tanpa sengaja menyinggung harga diri Boqin Changing.
Boqin Changing tentu menyadarinya. Ia menyesap sup hangat itu perlahan, lalu meletakkan mangkuknya dengan tenang.
“Mungkin besok,” ucapnya datar, “kita akan masuk ke dunia lain itu.”
Sumpit Sha Nuo berhenti di udara. Ia menatap Boqin Changing, sedikit terkejut.
“Besok?” ulangnya pelan. “Tidak apa-apa kah? Bukankah kau belum menembus ranah pendekar langit?”
Nada suaranya tidak meremehkan. Justru penuh kekhawatiran. Ia melanjutkan dengan cepat, seolah takut Boqin Changing salah paham.
“Jika kau mau… kau bisa memakai sumber daya milikku. Aku masih memiliki beberapa sumber daya yang bisa meningkatkan qi. Kau bisa memakainya.”
Boqin Changing menatapnya sebentar.
“Tidak usah,” jawabnya singkat.
Di dalam hatinya, ia menambahkan satu kalimat yang tak terucap, ia tidak mau berutang budi.
Sha Nuo mengernyit tipis.
“Tidak masalah,” katanya. “Sumber daya bisa dicari lagi. Lagipula… sumber daya peningkat qi milikmu sudah habis, bukan?”
Boqin Changing terdiam beberapa detik. Ia menatap mangkuk di depannya. Pantulan bayangannya tampak samar di permukaan kuah sup.
“Tidak sepenuhnya habis,” katanya pelan.
Sha Nuo mengangkat kepala.
“Ada satu sumber daya yang kuat,” lanjut Boqin Changing, suaranya tetap tenang. “Masih belum bisa kuserap.”
“Kenapa?”
Boqin Changing tersenyum tipis. Senyum yang kali ini mengandung sedikit kepahitan.
“Lebih tepatnya… tidak bisa kuserap.”
Sha Nuo langsung menajamkan perhatian.
“Kekuatannya terlalu liar,” lanjut Boqin Changing. “Energinya tidak stabil. Seperti badai yang terkurung di dalam wadah sempit. Begitu coba kuserap, qi-ku langsung bergejolak tak terkendali.”
Ia mengangkat tangannya perlahan, seolah mengingat rasa itu.
“Rasanya sakit sekali. Seolah pembuluh darahku dipenuhi petir yang mengamuk. Jika terlalu kupaksakan… tubuhku akan pingsan.”
Sha Nuo membeku. Ia tahu daya tahan tubuh Boqin Changing bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Jika orang seperti itu sampai kehilangan kesadaran, berarti energi tersebut benar-benar di luar batas normal.
“Apa itu?” tanya Sha Nuo pelan.
Boqin Changing tidak langsung menjawab. Tatapannya menjadi lebih dalam.
“Namanya Batu Pelangi Surga,” katanya akhirnya. “Aku menyimpannya sejak lama. Sudah sejak lama kucoba untuk kuserap tapi.....”
Ia menggeleng tipis.
“selalu gagal.”
Keheningan turun di antara mereka. Boqin Changing lalu berkata dengan nada yang lebih serius.
“Aku butuh seseorang untuk membantuku mengontrol kekuatan itu. Seseorang yang bisa menahan luapan energinya… agar aku bisa menyerapnya sedikit demi sedikit.”
Sha Nuo menatapnya beberapa saat. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah ide muncul di kepalanya.
Ia meletakkan sumpitnya dengan tenang.
“Bagaimana jika aku yang membantumu?”