Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATAHARI SETELAH BADAI
Suasana rumah Arsen dan Rosa yang biasanya tenang, kini berubah menjadi lebih hangat dengan kehadiran keluarga besar. Sejak kepulangan Rosa dari rumah sakit, rumah itu tidak pernah sepi. Ibu Rosa dan Ibu Arsen seolah berbagi tugas untuk memastikan menantu dan anak mereka mendapatkan perawatan terbaik selama masa bed rest total.
Di kamar utama yang jendelanya sengaja dibuka lebar agar sinar matahari pagi masuk, Rosa bersandar pada tumpukan bantal empuk. Di atas nakasnya, selalu tersedia sari pati ayam, buah-buahan segar, dan berbagai ramuan herbal yang disiapkan khusus oleh sang Ibu.
"Rosa, makan sedikit lagi ya, Sayang. Kamu harus kuat supaya pemulihannya cepat," bujuk Ibunya sambil menyuapkan potongan pepaya.
Rosa tersenyum tipis. "Iya, Bu. Terima kasih ya sudah repot-repot di sini terus."
"Repot apa? Ini tugas Ibu. Kamu itu fokus saja istirahat, jangan pikirkan apa-apa lagi," sahut Ibunya lembut.
Sementara itu, di ruang tengah, suara tawa Arlo sesekali terdengar. Bram dan Vino sengaja datang hampir setiap sore untuk mengajak Arlo bermain. Mereka tahu, dengan membuat Arlo sibuk dan gembira, beban pikiran Rosa akan berkurang. Arlo seringkali berlari masuk ke kamar membawa krayon atau mainan barunya, hanya untuk menunjukkan pada Mamanya.
"Mama! Lihat, Arlo gambar bunga buat Adek di surga," ucap Arlo polos sambil menyodorkan kertas penuh coretan warna-warni.
Mendengar itu, hati Rosa berdenyut, namun ia tidak lagi menangis dengan pedih. Ia mengelus rambut Arlo. "Bagus sekali, Sayang. Adek pasti senang lihatnya dari atas."
Arsen sendiri benar-benar menjadi suami yang siaga. Ia memindahkan sebagian pekerjaannya ke rumah. Setiap malam, setelah keluarga besar pulang atau beristirahat, Arsen akan duduk di sisi tempat tidur, membacakan buku untuk Rosa atau sekadar memijat kakinya yang pegal. Kehadiran keluarga besar benar-benar menjadi benteng pelindung bagi mental Rosa. Mereka tidak membiarkan Rosa melamun sendirian.
Vino, sang adik yang biasanya usil, kini lebih banyak diam dan membantu menjaga keamanan rumah. Ia memastikan tidak ada orang asing yang mendekat, memberikan rasa aman yang sangat dibutuhkan Rosa pasca trauma di mal. Perlahan tapi pasti, rona merah di pipi Rosa mulai kembali. Meski ada ruang kosong di hatinya karena kehilangan calon bayi, namun cinta yang meluap-luap dari suami, anak, dan keluarga besarnya membuat luka itu perlahan mengering.
Suatu sore, saat semua berkumpul di teras belakang sambil menemani Arlo bermain air, Rosa menatap punggung Arsen yang sedang tertawa bersama Arlo. Ia membisikkan doa syukur dalam hati. Ternyata, dalam kehilangan yang paling berat sekalipun, Tuhan mengirimkan bala bantuan berupa kasih sayang keluarga yang tak terbatas.
Tentu, mari kita perbaiki narasinya agar panggilan Rosa kepada Arsen lebih konsisten dan hangat menggunakan Sayang, Mas, atau Papa Arlo, sesuai dengan suasana yang sedang mereka jalani.
Satu bulan berlalu sejak badai yang nyaris menghancurkan pondasi kebahagiaan mereka. Pagi itu, sinar matahari di Bandung terasa begitu sejuk, merayap masuk melalui celah jendela vila kayu yang mereka sewa untuk akhir pekan. Rosa berdiri di balkon, menghirup dalam-dalam udara pegunungan yang bersih, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang sempat memberinya trauma.
Tubuh Rosa sudah pulih total. Rona merah di pipinya telah kembali, dan meskipun ada ketenangan yang lebih dewasa di matanya—sebuah kedewasaan yang lahir dari kehilangan—ia tampak jauh lebih ringan. Arsen melangkah dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Rosa, lalu menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Nyenyak tidurnya, Sayang?" bisik Arsen lembut.
Rosa mengangguk, menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. "Nyenyak banget, Mas. Rasanya sudah lama sekali aku nggak bangun tidur setenang ini. Terima kasih ya, sudah bawa kami ke sini," ucap Rosa sambil mengelus tangan Arsen yang melingkar di perutnya.
Arsen mengecup pelipis Rosa. "Ini yang kalian butuhkan. Kita butuh waktu bertiga saja, tanpa gangguan pekerjaan atau bayang-bayang masalah kemarin."
Di dalam kamar, terdengar suara tawa kecil yang khas. Arlo rupanya sudah bangun. Ia melompat-lompat di atas kasur empuk sambil memegang boneka dinosaurus kesayangannya. "Papa Arlo! Mama! Lihat... Arlo lompat tinggi!" seru bocah itu dengan penuh semangat.
Arsen dan Rosa saling berpandangan lalu tertawa bersama. Mereka menghampiri Arlo, membiarkan bocah itu mendarat di pelukan mereka. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekam saat mereka melihat Arlo bergerak aktif. Arsen telah memastikan keamanan di sekitar vila tersebut dengan sangat rapi, namun kali ini ia melakukannya tanpa memperlihatkan ketegangan pada Rosa.
Siang harinya, mereka memutuskan untuk berpiknik di padang rumput hijau yang luas di area vila tersebut. Rosa menyiapkan bekal sederhana, sementara Arsen membantu Arlo menerbangkan layang-layang kecil. Melihat Arlo berlarian dengan riang, Rosa menyadari satu hal penting: kebahagiaan tidak selalu berarti tidak adanya kesedihan. Kebahagiaan adalah kemampuan untuk terus berjalan bersama orang-orang tercinta meskipun pernah terluka.
"Sayang," panggil Rosa saat mereka duduk bersila di atas tikar kain kotak-kotak.
"Ya?" Arsen menoleh sambil menyeka keringat di dahi Arlo yang baru saja selesai berlari menghampiri mereka.
"Aku rasa aku sudah benar-benar siap. Siap untuk menutup bab yang lama, dan mulai menulis bab yang baru lagi sama kalian," ucap Rosa dengan senyum paling tulus yang pernah Arsen lihat sejak kejadian di mal itu.
Arsen menggenggam tangan Rosa erat. "Kita akan tulis bab itu pelan-pelan, Sayang. Tanpa terburu-buru. Yang penting kita bertiga terus bersama."
Perjalanan singkat ini bukan hanya untuk menyegarkan pikiran, tapi merupakan sebuah ritual penyembuhan bagi mereka. Rosa merasa sangat beruntung memiliki Papa Arlo yang begitu sigap menjaganya. Mereka belajar bahwa meskipun satu bintang di langit mereka sempat meredup, matahari tetap akan terbit, membawa harapan baru yang lebih hangat bagi keluarga kecil mereka.
Di seberang gerbang sekolah yang ramai, di balik deretan mobil yang terparkir rapi, seorang wanita berdiri mematung. Ia mengenakan syal tipis yang menutupi sebagian wajahnya dan kacamata hitam yang menyembunyikan mata sembapnya.
Itu adalah Laras.
Napasnya tertahan saat melihat Arlo turun dari mobil dengan tawa yang begitu lepas. Ia melihat betapa gagahnya Arlo dengan seragam sekolahnya, betapa bersih dan terawatnya anak itu dalam asuhan Rosa dan Arsen. Setiap gerakan kecil Arlo—cara bocah itu melompat kecil, cara ia membenarkan tas punggungnya—direkam baik-baik oleh Laras di dalam memorinya.
Laras meremas tali tasnya dengan tangan gemetar. Ada dorongan yang sangat kuat di dalam hatinya untuk berlari, memeluk Arlo, dan membisikkan kata maaf. Namun, kakinya seolah terpaku di aspal. Ia teringat kembali pada hari kelam di toko es krim itu, saat ia melihat Rosa kesakitan dan akhirnya mendengar kabar bahwa Rosa kehilangan janinnya.
Aku tidak boleh mendekat, batin Laras perih.
Ia tahu, kehadirannya hanya akan menjadi bumerang. Jika ia melangkah satu senti saja lebih dekat, ia hanya akan menghancurkan ketenangan yang baru saja dirajut kembali oleh Arsen dan Rosa. Ia tidak mau dianggap sebagai ancaman lagi. Ia hanya ingin menjadi bayangan yang mengawasi dari kejauh, memastikan bahwa putra yang pernah ia telantarkan itu tumbuh dengan bahagia.
Laras melihat Arsen merangkul pundak Rosa dengan penuh kasih di depan pintu kelas Arlo. Pemandangan itu membuatnya sadar bahwa Arlo sudah memiliki "Mama" yang jauh lebih layak darinya.
"Tumbuhlah jadi anak hebat, Arlo," bisik Laras lirih, suaranya hilang ditelan bising kendaraan.
Saat Arlo masuk ke dalam gedung sekolah dan sosoknya menghilang dari pandangan, Laras perlahan berbalik badan. Ia berjalan menjauh dengan langkah gontai, meninggalkan sekolah itu sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Ini adalah hukumannya, sebuah kerinduan yang harus ia tanggung selamanya tanpa pernah bisa menyentuh objek yang ia rindukan.