NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari

​Pagi hari saat simulasi Ujian Nasional pertama dimulai, SMP Negeri 12 diselimuti ketegangan yang sunyi. Namun, bagi Senara, hari ini tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Ia duduk di barisan tengah ruang ujian, menata pensil 2B dan penghapusnya dengan presisi yang hanya dimiliki oleh orang yang terbiasa hidup teratur. Tidak ada keraguan di wajahnya, baginya, lembar soal di depannya hanyalah sekumpulan logika yang sudah ia bedah ribuan kali di bawah lampu bohlam rumahnya yang redup.

​Ia melirik jam dinding, detiknya berdetak seirama dengan napasnya. Senara tidak tahu bahwa puluhan kilometer dari sana, di aula SMP Super Internasional yang mewah, rivalnya sedang berada di ambang kehancuran mental yang perlahan namun pasti.

​Di SMP Super Internasional, suasana ruang ujian terasa lebih mirip ruang kontrol operasi. Meja-meja luas, pendingin ruangan yang senyap, dan pengawas yang berjalan tanpa suara di atas karpet tebal. Bima duduk di kursinya, namun pikirannya tidak berada di dalam ruangan itu.

​Di balik saku seragamnya yang mahal, sebuah perangkat getar kecil terus memberikan notifikasi yang terhubung ke jam tangan pintarnya. Bima sengaja memodifikasi jam tangannya agar tetap bisa memantau lalu lintas data di sekitar sekolah. Ia masih terobsesi dengan pesan terakhir dari Ghost_Pattern. Ia yakin, di momen simulasi ini, saat semua siswa fokus, si "Hantu" akan melakukan pergerakan.

​"Nomor lima belas... probabilitas statistik..." Bima menggumam, matanya menatap soal matematika, namun jemarinya justru sibuk menyentuh tepian jam tangannya secara ritmis, mencoba melakukan pemindaian frekuensi di area sekolah.

​Pikirannya terbelah. Setiap kali ada fluktuasi sinyal kecil di layarnya, jantung Bima berdegup kencang. Ia mengabaikan logika soal yang sebenarnya sangat mudah baginya. Ia justru terjebak dalam paranoia bahwa Senara sedang meretas sistem sekolahnya saat ini juga. Akibatnya, fokusnya hancur. Ia berkali-kali salah membaca angka, melewatkan variabel penting, dan yang paling fatal, ia kehilangan jejak waktu.

​"Waktu tersisa sepuluh menit," suara pengawas mengejutkan Bima.

​Bima tersentak, ia melihat lembar jawabannya yang masih menyisakan sepuluh soal terakhir yang belum terisi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Bima selalu selesai tiga puluh menit lebih awal. Dengan tangan gemetar, ia mencoba mengisi sisa soal itu dengan terburu-buru, membuat logika berpikirnya semakin berantakan.

​Tiga hari kemudian, hasil simulasi diumumkan secara serentak di papan pengumuman digital tingkat provinsi.

​Senara berdiri di depan mading sekolahnya, dikelilingi teman-temannya yang bersorak. Namanya berada di posisi paling atas. Peringkat 1 Nasional. Skor: 100 (Sempurna).

​Senara hanya menatap angka itu dengan ekspresi datar. Tidak ada lonjakan kegembiraan yang berlebihan. Baginya, hasil ini adalah konsekuensi logis dari persiapannya. Ia justru mencari satu nama di bawahnya.

​Peringkat 15: Bima Arkana Adhikara Wijaya.

​Alis Senara terangkat sedikit. Peringkat 15? Untuk seseorang seperti Bima yang memiliki segala sumber daya di dunia, jatuh ke peringkat belasan adalah sebuah anomali. Senara menyunggingkan senyum tipis yang sangat samar, hampir tidak terlihat. Ia tahu mengapa itu terjadi, obsesi Bima telah memakan tuannya sendiri.

​"Kamu terlalu sibuk mengejar bayangan, Bima, sampai kamu lupa menjaga pijakanmu sendiri," bisik Senara dalam hati sebelum berbalik dan berjalan menuju kelas dengan tenang.

​Kejatuhan Bima bukan hanya sekedar angka di papan pengumuman. Pukul tujuh malam di kediaman mewah keluarga Wijaya, suasana terasa lebih mencekam daripada pemakaman. Bima berdiri di tengah ruang kerja ayahnya yang luas. Di depannya, sang ayah, duduk di balik meja mahogani besar dengan laptop terbuka yang menampilkan hasil simulasi tersebut.

​Hening yang tercipta terasa sangat menindas. Hanya suara detak jam besar di sudut ruangan yang mengisi udara.

​"Peringkat lima belas," Adi Wijaya akhirnya bersuara. Suaranya tidak tinggi, namun mengandung nada dingin yang bisa membekukan darah siapa pun. "Sejak kapan marga Wijaya puas berada di barisan penonton, Bima?"

​"Ayah, itu hanya simulasi..." Bima mencoba membela diri, namun suaranya bergetar.

Brak!

​Adi Wijaya menggebrak meja dengan satu tangan, membuat Bima tersentak. "Simulasi adalah cerminan realitas! Aku memberimu fasilitas terbaik, tutor internasional, dan teknologi yang bahkan tidak dimiliki pemerintah. Dan kamu... dikalahkan oleh seorang gadis dari sekolah yang bahkan tidak punya laboratorium yang layak?"

Adi Wijaya berdiri, berjalan perlahan mendekati anaknya. Tekanan auranya membuat Bima merasa sangat kecil.

​"Kamu tahu apa yang orang-orang katakan di grup direksi hari ini? Mereka menertawakanku. Mereka bilang aku terlalu memanjakanmu hingga kamu kehilangan taringmu," Adi Wijaya mencengkeram bahu Bima dengan kuat. "Jika di ujian akhir nanti namamu masih berada di bawah gadis itu, jangan harap kamu bisa menyentuh laboratorium pribadimu lagi. Aku akan mencabut semua fasilitasmu dan mengirimmu ke sekolah asrama militer di luar negeri. Kamu mengerti?"

​Bima hanya bisa menunduk, giginya terkatup rapat. "Mengerti, Ayah."

​"Keluar. Dan jangan tunjukkan wajahmu padaku sampai kamu bisa memberikan hasil yang pantas bagi seorang Wijaya."

​Bima berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur yang luar biasa. Saat pintu tertutup, ia merasakan sesak di dadanya. Amarah, malu, dan rasa gagal bercampur menjadi satu. Ia langsung menuju kamarnya, mengunci pintu, dan meninju dinding hingga tangannya lecet.

​Ia menyalakan monitor utamanya, menatap layar yang menampilkan data Senara. Rasa bencinya kini tidak lagi murni karena persaingan. Ini sudah menjadi soal kelangsungan hidupnya.

​"Ini semua karena kamu, Senara," desis Bima dengan mata yang memerah. "Kamu menghancurkan segalanya. Bagaimana mungkin kamu bisa tetap fokus di tengah semua kekacauan ini?!"

​Bima tidak sadar bahwa harga dirinya yang hancur bukan karena serangan dari sosok dibalik bayang-bayang Senara, melainkan karena ia sendiri yang membiarkan obsesinya mengonsumsi logikanya. Ia kalah oleh dirinya sendiri, dan itulah yang paling menyakitkan.

​Malam itu, di Blok 4, suasana jauh lebih tenang. Senara sedang duduk di meja belajarnya, menyesap teh hangat buatan ibunya sambil membolak-balik buku referensi fisika yang diberikan Bima tempo hari. Ia merasa lega karena kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang stabil.

​Senara melihat kalender pendidikannya. Pengumuman hasil verifikasi SMA Garuda akan keluar dua hari lagi. Ia merasa sedikit heran mengapa Bima bisa jatuh ke peringkat lima belas, padahal laki-laki itu memiliki segala fasilitas.

​"Mungkin dia memang sedang banyak pikiran," gumam Senara pelan.

​Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan robot biru itu, dan meletakkannya di atas meja. Benda itu tampak diam, tidak panas seperti biasanya, dan terlihat seperti mainan plastik biasa yang sudah usang. Senara menghela napas, ia tidak menyadari bahwa kemenangan sempurnanya hari ini akan memicu badai yang lebih besar di kehidupan Bima.

​Bagi Senara, hari ini hanyalah hari di mana ia berhasil membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa ia layak untuk bermimpi. Ia menutup bukunya, mematikan lampu bohlamnya yang redup, dan tidur dengan perasaan damai. Tanpa tahu bahwa di luar sana, seorang predator sedang terpojok dan siap melakukan apa saja untuk menjatuhkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!