NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Malam

Beberapa jam sebelum kejadian….…

.

.

.

Pernahkan kalian mendengar istilah dunia malam...?

Apa hal pertama yang terlintas di benak kalian tentang dunia malam...?

Kebanyakan orang menggambarkan dunia malam sebagai kehidupan yang mengarah ke suatu hal negatif, dimana semua yang di anggap tidak wajar menjadi wajar, dan apa yang melanggar aturan di anggap biasa layaknya kehidupan normal.

Dunia malam seringkali menjadi tempat orang-orang bebas mengeskpresikan diri, mencari kepuasan, jati diri, kesenangan, atau bahkan sekedar wadah untuk melampiaskan hasrat sesaat.

Dunia malam juga kerap di sangkut pautkan dengan hal-hal berkonotasi negatif, seperti minuman keras, mabuk-mabukan, diskotik, club malam, kekerasan, tawuran, geng motor, balap liar, preman, pembegalan, wanita penghibur prostitusi, seks dan pergaulan bebas, perjudian, pembantaian, pencurian, pembunuhan dan segala bentuk kejahatan serta pelanggaran lainnya.

Hampir semua hal tersebut berkaitan erat dengan dunia malam. Rata-rata pelakonnya bersikap normal di siang hari, namun menjadi orang yang berbeda ketika malam datang.

Seperti yang dilakukan oleh para kelompok mafia, termasuk Veron. Setiap malam mereka

melakukan transaksi ilegal dalam jumlah besar. Mereka adalah orang-orang yang kebal hukum

dan selalu bermain dalam aturannya sendiri.

Wilayah kekuasaannya sulit dijangkau oleh siapapun, jaringannya sangat luas dan sangat terkenal di banyak kalangan khususnya dunia malam.

Jika kebanyakan orang berkecimpung di sana untuk mencari kesenangan semata, maka Veron adalah pihak yang paling di untungkan dalam dunianya.

Dia sengaja menciptakan sistem dimana semua uang dan kekayaan yang ia miliki berputar dan terus bertambah di sekelilingnya.

Menariknya, dia tidak pernah memaksa siapapun untuk masuk ke dalam perangkapnya.

Ibaratnya Veron hanya menyediakan lahan bunga yang sangat luas, lalu membiarkan para lebah dan kumbang haus kenikmatan itu datang dengan sendirinya.

Manis sesaat yang dinikmati tidaklah sebanding dengan banyaknya madu yang didapatkan oleh Veron dari kantong mereka.

Semua terlena dengan tipu daya dunia dan seisinya. Mereka percaya dengan bersenang-senang maka semua masalah akan hilang.

Meskipun demikian, tidak semua orang mau ikut serta atau terlibat di dalamnya.

Ada yang memang sengaja karena satu dan lain hal, dan ada yang terbawa arus atau pengaruh lingkungan sekitar.

Namun sebagian orang juga memiliki sudut pandang yang berbeda. Beberapa dari mereka menganggap dunia malam adalah hal yang biasa.

Contohnya seperti para karyawan yang bekeria di pulau pribadi Veron, para security, bagian teknisi, pekerja tambang yang berganti shift, atau bahkan tenaga medis yang selalu siap siaga 1x24 jam tidak peduli siang ataupun malam.

Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh dengan dedikasi. Sebagian orang itu tetap terjaga di saat yang lain tengah tertidur lelap.

Mereka mengorbankan waktu malamnya demi sesuatu yang ingin dicapai. Bukan untuk mencari kesenangan, melainkan untuk menyambung hidup atau mencukupi segala kebutuhan yang ada.

Pada intinya semua tergantung dari perspektif masing-masing. Terkadang sesuatu yang buruk bukan berasal dari pendapat orang lain, melainkan cara pandang dari diri sendiri.

Yang terlihat baik juga tidak selamanya baik, setiap sesuatu punya sisi yang berbeda-beda tergantung dari mana kita melihatnya.

.

.

.

Setelah tidur seharian, malam itu Veron bersiap pergi meninggalkan markasnya. Namun kali

ini tujuan utamanya adalah Fantasia Club, karena dia punya janji dengan seseorang.

Lelaki itu juga membawa Jenia pergi bersamanya, sebab dia yakin akan ada pertunjukan menarik yang mungkin saja teriadi.

"Apa kita ke tempat yang kemarin...??" Tanya Nia penasaran.

"Tidak..." sahut lelaki itu singkat.

"Bukankah ini terowongan yang waktu itu...??" gumamnya mengingat-ingat kejadian saat dirinya kabur dari Veron.

"Kenapa...?? Mau mencoba melompat lagi...??" ucap Veron melirikuya dengan tatapan tajam, sementara gadis itu hanya menggeleng pelan.

Setelah beberapa saat mereka tiba di pusat kota. Setelah hampir dua pekan menjadi tawanan, akhirnya Nia bisa kembali melibat suasana malam yang penuh dengan gemerlap cahaya terang dimana-mana.

"Sebenarnya kita mau kemana..?? Apa kau mau membebaskanku...??"

"Jangan mimpi...!!"

Lagi-lagi terbesit di pikiran Nia untuk kabur dari Veron. Apapun yang terjadi, kali ini gadis itu bertekad untuk melarikan diri bagaimanapun caranya.

Sebelum tiba di lokasi Veron membawanya mampir ke sebuah tempat. Dia menyuruh Nia untuk mencoba beberapa pakaian yang menurutnya cocok.

("Aaakkhhh.., kenapa juga alu harus mengikuti perintahnya...!! Menyebalkan sekali...!!")

Dengan wajah cemberut berulang kali gadis itu keluar masuk menunjukkan pakaiannya, namun tidak ada satupun yang cocok di mata Veron.

Sampai akhirnya Nia mengenakan dress putih yang terakhir. Pakaian itu terlihat simple namun sepertinya cukup membuat sang mafia terdiam

menatapnya.

"Bagaimana...??" tanya Nia dengan senyum manis yang dipaksakan agar sesi ganti baju itu

cepat berakhir.

"Hmmm... ternyata mau secantik apapun bajunya, kalau orangnya jelek ya tetap saia jelek...!!” sahutnya berkomentar.

Seketika para karyawan yang mendengarnya tertunduk berusaha menahan tawa.

Sementara Jenia mulai menyipitkan matanya menatap Veron dengan raut kesal. Ingin sekali rasanya dia melemparkan semua pakaian yang ia pakai ke wajah sang mafia.

"Seharusnya ku racuni saja si gila itu saat dia demam kemarin...!! Bodohnya aku, kenapa malah kubantu...?? Cih..!!" gumamnya sambil komat kamit mengumpat.

Usai memilih baju, kini Veron meminta para petugas untuk merias wajahnya, menata rambut, hingga merubah seluruh penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Saat melihat Veron tengah fokus dengan ponselnya, diam-diam Nia kepikiran sesuatu.

"Ehemm... boleh aku meminjam ponselmu sebentar....??" bisik Nia kepada salah seorang

Karyawan yang tengah meriasnya.

Meski nampak takut, namun Nia terus memohon hingga karyawan itu setuju dan menyerahkan ponselnya.

Agar tidak ketahuan Jenia berpura-pura pergi ke toilet sebentar. Saat itulah dia berusaha menghubungi seseorang.

Satu-satunya orang yang dia pikirkan saat ini hanyalah Alex kekasihnya. Berulang kali Nia mencoba menelepon ke nomer Alex namun tidak di angkat, dia juga mengirim beberapa pesan tapi tetap tidak ada respon.

Sementara Alex sendiri tengah asyik bercinta dengan seseorang di suatu tempat. ponsel nya terus bergetar dan menampilkan notifikasi, tapi pemiliknya tidak peduli dan terus fokus mencapai puncak kenikmatan hasratnya dalam keadaan setengah sadar.

Gadis itu semakin panik ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dia terperanjat saat melihat kemunculan Veron yang sudah berdiri di depan pintu.

“Kenapa lama sekali…??” tanyanya penuh curiga.

"Ti...tidak apa-apa, aku... aku hanya sakit perut..." sahutnya berdalih.

Namun Nia tidak sepenuhnya berbohong, karena saat itu perutnya memang terasa tidak nyaman.

"Kalau begitu cepat kembali ke tempatmu...!!"

Dengan keringat dingin dan wajah pucat Nia nyaris ketahuan oleh sang mafia.

"Siaall...!! Seharusnya tadi aku menghubungi polisi...!! Aaakkkhhh dasar aku…!!” gumam Nia menyesali kebodohannya.

Setelah semuanya selesai gadis itu kini terdiam, matanya berbinar menatap pantulan wajahnya di hadapan cermin.

*"Anda cantik sekali nona..." *puji salah seorang karyawan yang meriasnya.

Sementara Veron yang sejak tadi memperhatikannya pun segera mendekat.

Kemudian lelaki itu berjongkok sambil melepas alas kaki Jenia dan menggantinya dengan sepatu hak tinggi yang sudah ia sediakan.

"Pas sekali..." gumamnya tersenyum tipis memandang ukuran sepatu yang dikenakan Nia.

Lagi-lagi sikap itu membuat Nia merasa bingung. Terkadang ia sangat benci terhadap Veron, namun di sisi lain perlakuannya diluar ekspektasi untuk seorang penjahat.

Tanpa disadari makin hari perasaan benci itu mulai memudar seiring berjalannya waktu.

Semacam ada sesuatu yang bergetar bahkan meski hanya sekedar bertemu pandang.

Perasaan seperti itu apakah hanya Nia yang merasakannya...?? atau sebenarnya ada yang lebih dulu mengalaminya...?? Entahlah, semuanya masih gelap tertutup kabut tebal antara benci dan bimbang.

"Sebenarnya kita mau kemana...?? Kenapa aku harus berdandan seperti ini...??"

"Kemana saja, yang penting bonekaku harus terlihat cantik...!!" sahutnya sambil mengangkat dagu Jenia dan menatapnya dengan sorot mata yang sulit di artikan.

("Cih, sudah kuduga dia tidak menganggapku sebagai manusia...!!")

Selang beberapa saat tibalah mereka di tempat tujuan, sebuah bangunan bertuliskan Fantasia dengan nuansa modern.

"Ayo masuk..." ucapnya mengajak Nia, namun gadis itu mundur dan menolak.

Entah kenapa malam itu perasaannya benar-benar tidak enak, tapi sang mafia tetap memaksa agar gadis itu ikut dengannya.

Veron dan anggotanya melewati jalur masuk yang berbeda, sehingga tidak ada satupun yang bisa melihat kedatangan mereka.

Dengan langkah pelan dan ragu-ragu, tanpa sadar Nia berjalan sambil memegang lengan baju Veron.

"Kenapa Nia...?? Jangan bilang ini pertama kalinya kau ke tempat seperti ini...??"

"Hmm..." sahut gadis itu mengangguk pelan.

Sesampainya di dalam dari kejauhan Nia langsung dikejutkan dengan seseorang yang sangat tidak asing baginya.

"Profesor Jaja...!! Apa aku tidak salah lihat...??" gumamnya seolah tidak percaya.

"Kau mengenalnya...??" tanya Veron penasaran.

"Ya, beliau adalah dosen pembimbing sekaligus panutanku di kampus, Tapi sedang apa beliau disini...??”

"Setahuku dia adalah pelanggan VVIP disini, hampir setiap malam dia datang untuk bersenang-senang...." sahut Veron menielaskan.

"Apaa...?? Tidak mungkin seorang profesor Jaja suka pergi ke tempat seperti ini...!!" sanggahnya masih membela sang dosen.

"Hahaha sepertinya kau memang benar-benar polos Nia...!! Di dunia ini tidak ada yang tidak

mungkin. Buka matamu dan lihat baik-baik fakta yang ada... !!" ucap Veron membuat Nia kalah telak.

Sementara gadis itu masih terdiam, berusaha mencerna apa yang dia saksikan langsung dengan mata kepalanya.

Belum selesai sampai disitu, Jenia makin dibuat tercengang ketika Profesornya menarik lengan seorang wanita muda untuk duduk di pangkuannya.

Dan wanita itu tidak lain adalah Vivian, perempuan yang kemarin sempat pulang pergi membawakannya makanan dan pakaian ke markas Veron.

Wanita itu terlihat sangat akrab bercanda ria dengan lelaki paruh baya yang sangat jauh selisih umurnya.

Vivian juga menuangkan minuman serta menyuapkan buah-buahan dari mulut ke mulut untuk pak Jaja.

"Apa-apaan ini...??" ucap Nia syok sambil menutup mulutnya.

Sementara Veron hanya bisa terkekeh melihat kepolosan tawanannya yang diluar nalar.

"Selamat datang di dunia malam Nia... mulai sekarang biasakan dirimu dan tenangkan pikiranmu, maka perlahan kau akan melihat banyak hal baru dalam hidupmu. Sesuatu yang

mungkin tidak pernah kau bayangkan sebelumnya, atau bahkan kau akan melihat sisi lain dari orang-orang yang kau kenal..." sahut Veron layaknya guru yang baru saja mengajarkan hal baru kepada muridaya.

Nia pikir melihat pak Jaja dan Vivian berada di Fantasia adalah puncak terkagetnya, ternyata dia salah.

Puncak sebenarnya adalah ketika Nia mendapati sosok yang selama ini sangat ingin ia temui juga berada di sana.

Meski dari kejauhan dan terhalang oleh cahaya lampu yang temaram, Nia bisa langsung mengenali siapa orang tersebut.

"Alex...??!!" ucapnya gemetar menyebut nama kekasihnya.

Seketika kedua kakinya terasa lemas, lantaran ia melihat lelaki itu tengah asyik bercumbu di sudut ruangan dengan beberapa orang wanita.

…………………………………………………………………………………

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!