Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23: Rahasia Tersembunyi Dari Kedalaman Waktu
Sinar matahari pagi menyinari Desa Baik Bulan yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan nyata. Tenda darurat telah digantikan oleh rumah-rumah kayu sementara yang kokoh, dan tunas hijau telah tumbuh di setiap sudut desa yang tadinya terbakar. Hei Yu dan sebagian anggota Sekte Ular Hitam yang memilih untuk bertobat bekerja bersama dengan pasukan Perhimpunan Pemburu Naga, membantu membersihkan tanah dan menyembuhkan luka-luka yang tertinggal oleh perang.
Feng berdiri di tepi sungai yang mulai kembali jernih, memegang Pedang Naga yang kini tampak lebih tenang—cahaya keemasan yang menyala dari bilahnya seolah menyatu dengan energi alam sekitarnya. Dia merasakan getaran lembut dari kedalaman bumi, seolah ada sesuatu yang ingin memberitahunya kebenaran yang tersembunyi selama berabad-abad.
“Hei Yu ingin bertemu denganmu,” ujar Linglong saat mendekatinya dengan langkah yang lembut. “Dia mengatakan dia memiliki sesuatu yang perlu diperlihatkan padamu.”
Feng mengangguk dan mengikuti Linglong ke sebuah gua kecil di belakang desa—gua yang dulunya digunakan sebagai tempat persembahan oleh penduduk lokal sebelum kedatangan Sekte Ular Hitam. Di dalam gua, Hei Yu berdiri di depan dinding yang penuh dengan lukisan kuno yang hampir tidak terlihat, dengan lilin yang sedikit menerangi ruangan.
“Ketika saya masih dengan Sekte Ular Hitam, saya menemukan ini,” ujar Hei Yu dengan suara yang rendah dan penuh rasa hormat. “Ini adalah catatan tentang asal-usul segel dan hubungan antara keluarga kita.”
Dia mengeluarkan selembar kulit kayu tua yang sudah menguning, kemudian menyala kan lilin tambahan untuk menerangi dinding gua. Lukisan-lukisan yang tadinya samar mulai muncul dengan jelas—gambar tentang dunia kuno di mana manusia dan naga hidup berdampingan dalam harmoni yang sempurna. Di tengah gambar itu, dua sosok berdiri bersama dengan Naga Putih Tianwu muda: leluhur pertama keluarga Chen dan keluarga Hei.
“Keluarga kita dulunya adalah satu,” jelas Hei Yu sambil menunjuk ke gambar itu. “Kita adalah saudara kembar yang memilih jalur yang berbeda namun saling melengkapi. Chen Guang memilih kekuatan cahaya untuk melindungi, sedangkan Hei Yin memilih kekuatan gelap untuk memelihara keseimbangan.”
Feng terkejut melihat gambar itu. Dia merasakan Pedang Naga di tangannya mulai menyala dengan cahaya yang lebih terang, seolah mengenali cerita yang terlukis di dinding.
“Segel itu tidak dibuat untuk menyekat kekuatan gelap secara permanen,” lanjut Hei Yu. “Ia dibuat untuk menjaga keseimbangan antara cahaya dan kegelapan. Namun seiring berjalannya waktu, generasi selanjutnya salah paham—mereka mengira kegelapan harus dihilangkan sepenuhnya, bukan dikelola dengan bijak.”
Sosok Naga Putih Tianwu muncul lagi di dalam gua, tubuhnya yang megah memenuhi ruangan tanpa membuatnya terasa sesak. “Apa yang Hei Yu katakan adalah kebenaran,” suara lembut namun kuat terdengar di benak mereka semua. “Pada awalnya, cahaya dan kegelapan adalah dua sisi dari sebuah koin yang sama—keduanya diperlukan untuk menjaga keseimbangan alam semesta.”
“Lalu mengapa segel mulai melemah?” tanya Feng dengan suara yang penuh rasa ingin tahu.
“Karena keseimbangan telah terganggu,” jawab Naga Tianwu. “Banyak generasi telah mencoba menghancurkan kekuatan gelap sepenuhnya, padahal seharusnya mereka belajar mengendalikan dan menghargainya. Akibatnya, kekuatan gelap menjadi semakin liar dan sulit dikendalikan.”
Hei Yu mengangguk dengan penuh pemahaman. “Sekte Ular Hitam salah paham dengan tujuan leluhur kita. Mereka berpikir bahwa kekuatan gelap harus menguasai semua hal, padahal sebenarnya kita hanya perlu membawa kembali keseimbangan yang hilang.”
Feng merenung sejenak, kemudian melihat ke arah Pedang Naga yang masih menyala di tangannya. “Jadi jawabannya bukanlah menghancurkan kekuatan gelap atau menyerah padanya—kita perlu belajar bagaimana hidup berdampingan dengan keduanya.”
“Benar,” ujar Naga Tianwu dengan mengangguk perlahan. “Pedang Naga yang kamu pegang sebenarnya memiliki dua kekuatan di dalamnya—cahaya dan kegelapan. Hanya seseorang yang bisa menerima kedua sisi itu yang bisa mengendalikan kekuatan penuhnya.”
Sebelum mereka bisa bertanya lebih jauh, gemuruh kuat terdengar dari kedalaman bumi. Tanah mulai bergoyang dengan kuat, dan suara seperti teriakan ribuan jiwa terdengar dari kejauhan.
“Segel telah mulai roboh secara permanen,” bisik Naga Tianwu dengan nada yang penuh kesedihan. “Kekuatan gelap yang telah terkurung selama berabad-abad akan segera keluar. Kamu tidak punya banyak waktu lagi untuk mempersiapkan diri.”
Mereka segera keluar dari gua dan berkumpul dengan para pemimpin klan di tengah desa. Feng dan Hei Yu menceritakan apa yang telah mereka temukan—kebenaran tentang asal-usul segel dan hubungan antara keluarga mereka. Suasana menjadi sangat tenang, dengan setiap orang merenungkan makna dari penemuan itu.
“Jadi kita telah salah paham selama berabad-abad,” ujar Li Mei dengan suara yang penuh kejutan. “Kita berpikir bahwa kita harus melawan kegelapan, padahal sebenarnya kita perlu memahaminya.”
Liu Hai mengangguk dengan tekad yang kuat. “Klan Naga Biru siap belajar cara baru untuk menjaga keseimbangan. Kita akan menggunakan kekuatan air kita untuk membantu mengendalikan dan membimbing energi gelap yang akan datang.”
“Klan Naga Hijau juga siap,” tambah Lin Xia. “Kita akan menggunakan kekuatan tanah kita untuk menyediakan dasar yang stabil dan membantu menyembuhkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kekuatan yang liar.”
Hei Yu melangkah ke depan dengan sikap yang tegas. “Saya dan anggota Sekte Ular Hitam yang telah bertobat siap membantu dengan apa yang kita ketahui tentang kekuatan gelap. Kita akan mengajar kalian cara mengendalikan dan menghargainya, bukan hanya melawannya.”
Feng berdiri dengan penuh tekad, melihat ke wajah setiap pemimpin dan prajurit yang ada di hadapannya. “Kita menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah kita,” katanya dengan suara yang jelas dan kuat. “Namun kini kita memiliki kebenaran yang telah kita cari selama berabad-abad. Kita tidak akan melawan kekuatan gelap atau menyerah padanya—kita akan menyatukannya dengan kekuatan cahaya untuk membawa kembali keseimbangan yang hilang!”
Suara sorak yang menggema memenuhi udara, menyebar ke seluruh desa dan ke pegunungan di kejauhan. Semua orang merasa kekuatan baru mengalir dalam diri mereka—not kekuatan yang berasal dari kemarahan atau takut, tapi kekuatan yang berasal dari pemahaman dan penerimaan yang sebenarnya.
Pada malam hari, mereka berkumpul di sekitar api unggun yang besar, menyaksikan langit yang mulai berubah warna menjadi merah tua dan ungu. Energi gelap mulai menyebar di udara, tapi kali ini tidak lagi menakutkan—seolah alam itu sendiri sedang menunggu mereka untuk mengambil langkah selanjutnya.
Feng berdiri bersama dengan Hei Yu, Linglong, dan para pemimpin klan, melihat ke arah kejauhan di mana cahaya hitam mulai muncul di ufuk. Mereka tahu bahwa pertempuran terakhir telah dekat—pertempuran yang tidak lagi tentang menang atau kalah, melainkan tentang membawa kembali keseimbangan yang hilang bagi seluruh dunia.
“Kita akan menghadapinya bersama,” ujar Feng dengan suara yang penuh keyakinan.
“Hei,” jawab Hei Yu dengan senyum lembut. “Bersama kita bisa melakukan apa pun.”
Mereka tetap berdiri di sana hingga larut malam, merencanakan langkah-langkah mereka dan memperkuat ikatan persahabatan serta aliansi yang telah mereka bangun. Semua orang tahu bahwa masa depan masih tidak pasti, namun kini mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya—kebenaran yang jelas dan kekuatan yang sebenarnya berasal dari penerimaan diri yang penuh.