NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Suasana dapur yang beberapa menit lalu hanya berisi aroma nasi cuka dan stroberi, kini berubah menjadi medan pertempuran yang dingin. Maria berdiri mematung, wajahnya yang semula kemerahan karena semangat nostalgia kini memucat seperti mayat. Kakinya bergetar hebat saat ia menyadari bahwa pria yang baru saja ia ajak bicara dengan gaya "setara" adalah pemilik takhta di kediaman ini.

​Ashley turun dari tangga perlahan, setiap denting langkahnya di lantai marmer terasa seperti detak jam menuju eksekusi. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat beberapa langkah dari meja konter dapur. Gaun sutranya melambai ringan, namun aura yang ia pancarkan mampu membekukan udara di sekitarnya.

​"Neena," suara Ashley tenang, namun sangat tajam. "Apakah standar pelatihan pelayan baru di mansion ini sudah menurun? Sejak kapan pelayan diizinkan menyentuh dan bercanda dengan Tuan mereka?"

​Neena langsung membungkuk dalam, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Ini adalah murni kelalaian dalam pengawasan malam pertama. Saya akan segera menangani masalah ini secara internal."

​Ashley tidak melepaskan pandangannya dari Maria. Matanya yang tajam menelisik setiap inci wajah gadis desa itu, seolah sedang mencari tahu hubungan apa yang sebenarnya ada di antara Maria dan suaminya. "Teman lama, katamu?"

​Maria mencoba membuka suara, namun tenggorokannya terasa tersumbat. "M-Maafkan saya, Nyonya... Saya benar-benar tidak tahu kalau Tuan Kevin adalah... adalah suami Anda. Saya teman masa kecilnya dari desa..."

​Mendengar kata "teman masa kecil", sorot mata Ashley semakin meruncing. Baginya, itu adalah kata kunci yang sangat sensitif. Seorang teman masa kecil berarti memiliki kenangan yang tidak ia miliki bersama Kevin. Rasa posesifnya yang memang sedang tidak stabil karena kehamilan kini melonjak ke tingkat yang berbahaya.

​"Ash, tenanglah," Kevin akhirnya angkat bicara. Ia melangkah maju, berdiri di antara Ashley dan Maria, mencoba meredam ketegangan. "Dia memang temanku dari desa. Dia tidak bermaksud lancang, dia hanya benar-benar tidak tahu kalau aku tinggal di sini."

​Ashley mengalihkan tatapannya pada Kevin. "Dan kau membiarkannya menyentuhmu? Kau membiarkannya bersikap seolah kau adalah pelayan rendahan di sini?"

​"Bukan begitu, aku baru mau menjelaskannya tapi kau sudah muncul," bela Kevin pelan. Ia tidak ingin memperburuk keadaan, apalagi Ashley sedang hamil muda.

​Ashley beralih kembali ke Neena. "Pecat dia. Sekarang juga. Berikan gajinya untuk satu hari ini dan pastikan dia keluar dari gerbang mansion sebelum matahari terbit."

​Mendengar itu, Maria langsung jatuh terduduk. Matanya berkaca-kaca. Ia baru saja sampai di kota dengan sejuta harapan untuk membiayai pengobatan ibunya, dan kini semuanya hancur hanya dalam hitungan menit karena kesalahpahaman.

​"Nyonya, saya mohon... saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," isak Maria.

​Kevin merasa tidak tega. Ia tahu betul kondisi ekonomi keluarga Maria di desa. "Ash, jangan begitu. Ini terlalu berlebihan. Dia baru saja sampai di kota dan dia punya tanggung jawab besar untuk keluarganya. Berikan dia satu kesempatan lagi. Dia tidak sengaja."

​Ashley menatap Kevin dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada campuran antara rasa cemburu, kemarahan, dan rasa haus akan validasi. "Kau membelanya, Kevin? Di depanku?"

​"Aku tidak membelanya, aku hanya bersikap adil," tegas Kevin. Ia menatap Neena. "Neena, bawa Maria keluar dari sini. Berikan dia peringatan keras. Pindahkan dia ke bagian kebun atau area luar yang tidak bersentuhan langsung dengan area pribadi kami untuk sementara waktu. Jangan pecat dia."

​Neena menatap Ashley dengan ragu, menunggu persetujuan sang penguasa tertinggi. Suasana menjadi sangat tegang saat Ashley dan Kevin saling menatap dengan keras kepala. Bagi Ashley, ini bukan lagi soal pelayan yang lancang, melainkan soal otoritasnya yang ditantang oleh suaminya demi wanita lain.

​Namun, perut Ashley tiba-tiba bergejolak kembali. Rasa pusing yang mendadak membuatnya sedikit goyah. Kevin dengan sigap menangkap bahu Ashley.

​"Sudahlah, Ash. Kau sedang tidak enak badan. Jangan biarkan emosi ini merusak kesehatanmu dan janin kita."

​Ashley memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya. Kehadiran Kevin yang protektif sedikit meredakan badai di hatinya. Ia melirik sushi stroberi yang setengah jadi di atas meja—usaha Kevin yang rela bangun tengah malam hanya untuk memenuhi keinginannya.

​"Lakukan apa yang Tuanmu katakan, Neena," gumam Ashley akhirnya, menyerah karena rasa lelahnya. "Bawa dia pergi dari hadapanku. Jika aku melihatnya melakukan kesalahan satu kali lagi, aku tidak akan mendengarkan pembelaan siapa pun."

​Neena segera menarik Maria berdiri dan membawanya pergi dengan cepat. Maria hanya bisa tertunduk lesu, masih merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi.

​Kini hanya tersisa Kevin dan Ashley di dapur yang luas itu. Kevin menghela napas lega, ia kembali ke meja untuk menyelesaikan sushi pesanan istrinya.

​"Duduklah, Ash. Sebentar lagi sushinya jadi," ujar Kevin sambil mencoba bersikap normal.

​Ashley duduk di kursi tinggi di depan konter marmer. Ia menatap Kevin yang sedang dengan telaten menggulung nasi dan stroberi. "Siapa dia sebenarnya, Kevin? Hanya teman biasa?"

​Kevin tersenyum tipis tanpa menoleh. "Iya, hanya teman biasa dari masa kecil. Dulu dia memang sering mengejarku, tapi aku tidak pernah menanggapi. Bagiku, dia hanya seperti adik perempuan dari desa. Kau tidak perlu cemburu pada orang yang bahkan tidak punya kesempatan seujung kuku pun untuk bersaing denganmu."

​Ashley mendengus, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Tentu saja. Tidak ada yang bisa bersaing denganku."

​"Nah, ini dia. Sushi stroberi spesial untuk Nyonya Besar," Kevin menyodorkan piring dengan hiasan yang agak berantakan namun dipenuhi cinta.

​Ashley mencicipinya satu potong. Rasanya aneh—perpaduan antara asam stroberi, asin keju, dan nasi cuka—namun entah kenapa, itu adalah hal terbaik yang pernah ia makan malam ini.

​"Bagaimana?" tanya Kevin penuh harap.

​"Rasanya aneh. Seperti hubungan kita," jawab Ashley dingin, namun ia terus memakan potongan kedua.

​Kevin tertawa kecil. Di balik dinding mansion yang megah ini, mereka baru saja melewati satu riak kecil dalam rumah tangga mereka. Namun bagi Maria yang kini menangis di asrama pelayan, dunianya baru saja berubah menjadi tempat yang jauh lebih menakutkan karena kecemburuan seorang Ashley Giovano.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!