Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu yang Tidak Mudah
Angin pagi di Ciwidey berembus lebih dingin dari biasanya. Kabut turun rendah, menyelimuti kebun teh seperti tirai tipis yang enggan tersibak. Yasmin berdiri di halaman rumah dengan gelang kayu berhuruf R yang masih digenggamnya sejak semalam.
Ia belum menceritakan tentang gelang itu pada siapa pun.
Bahkan pada ayahnya.
Hatinya belum siap jika ternyata semua hanya kebetulan.
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar berdiri di ruang kerja ayahnya yang luas dan penuh lukisan klasik. Dindingnya tinggi, rak bukunya dipenuhi koleksi bisnis dan sejarah Eropa.
Di balik meja besar itu duduk Willem van Der Veen—ayah Ragnar. Wajahnya tegas, rambutnya mulai memutih, sorot matanya dingin namun cerdas.
“Aku dengar kamu sudah serius ingin menikah,” kata Willem tanpa basa-basi.
“Ya.”
“Dengan gadis desa.”
Ragnar menghela napas pelan. “Namanya Yasmin.”
Willem berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap kota.
“Keluarga kita bukan keluarga biasa, Ragnar. Nama kita diperhitungkan. Setiap keputusanmu berdampak pada perusahaan.”
“Saya ingin menikah, bukan merger bisnis.”
Willem menoleh tajam. “Jangan naif.”
Ragnar menahan emosinya. Ia sudah menduga ini tidak akan mudah.
“Apakah Ayah menolak hanya karena dia bukan dari kalangan kita?”
“Bukan hanya itu,” jawab Willem. “Kamu baru tiga tahun masuk Islam. Kamu belum stabil. Jangan jadikan pernikahan sebagai pelarian.”
Kalimat itu kembali menohok, sama seperti yang dikatakan ibunya.
Ragnar mengepalkan tangan.
Ini bukan pelarian.
Atau… jangan-jangan memang sebagian darinya masih melarikan diri dari bayangan Clara?
________________________________________
Di Ciwidey, kabar kedatangan Clara sudah menyebar cepat. Kampung kecil tak pernah benar-benar menyimpan rahasia.
Beberapa tetangga mulai berbisik.
“Orang kota mah ribet.”
“Jangan-jangan cuma main-main.”
Yasmin mendengar semuanya, meski tak satu pun diucapkan langsung padanya.
Sore itu, Fikri kembali datang ke mushala. Ia berdiri agak jauh, menunggu anak-anak pulang.
“Min,” katanya pelan ketika mereka tinggal berdua.
“Iya?”
“Kalau kamu merasa berat, jangan dipaksa.”
Yasmin tersenyum tipis. “Ini bukan soal berat atau ringan.”
“Lalu?”
“Ini soal benar atau tidak.”
Fikri terdiam. Ia tahu tak punya banyak ruang lagi di hati Yasmin. Tapi melihat gadis itu terombang-ambing oleh lelaki yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya membuat dadanya sesak.
“Kalau suatu hari kamu butuh tempat pulang,” ucap Fikri pelan, “aku masih di sini.”
Yasmin tak mampu menjawab.
________________________________________
Beberapa hari kemudian, Ragnar kembali ke Ciwidey. Kali ini bukan sendirian.
Sebuah mobil lain mengikuti di belakangnya.
Yasmin yang melihat dari jendela merasa jantungnya berdegup lebih cepat.
Dari mobil kedua turun seorang perempuan elegan—Helena.
Jilbabnya mahal, pakaiannya rapi dan berkelas. Wajahnya cantik, tapi tatapannya sulit ditebak.
Pak Asep menyambut dengan sopan.
“Selamat datang.”
Helena tersenyum tipis. “Terima kasih sudah menerima kami.”
Ruang tamu rumah kayu itu terasa lebih sempit dari biasanya. Perbedaan dunia begitu nyata di ruangan kecil itu.
Helena memandang sekeliling. Dinding kayu, foto keluarga sederhana, lemari tua.
“Yasmin,” panggilnya lembut.
Yasmin duduk dengan tenang, menunduk hormat.
“Apakah kamu benar-benar siap menikah dengan anak saya?”
Pertanyaan itu langsung, tanpa hiasan.
“Saya masih belajar, Bu,” jawab Yasmin jujur. “Tapi kalau Allah mengizinkan, saya ingin menjalani pernikahan dengan niat ibadah.”
Helena mengamati setiap kata.
“Kamu tahu Ragnar pewaris perusahaan besar? Hidupnya tidak sederhana.”
“Saya tahu.”
“Dan kamu tidak merasa… takut?”
Yasmin terdiam sejenak.
“Saya lebih takut jika menikah tanpa ridha Allah, Bu.”
Jawaban itu membuat ruangan hening.
Helena tak menyangka gadis desa ini mampu menjawab tanpa gemetar.
Namun ia belum selesai.
“Kamu tidak kuliah?”
“Tidak.”
“Tidak merasa minder berdampingan dengan Ragnar di acara formal? Di pertemuan internasional?”
Yasmin tersenyum tipis. “Kalau saya tidak tahu sesuatu, saya bisa belajar.”
Ragnar yang sedari tadi diam merasa dadanya hangat. Tapi juga cemas.
Ia tahu ibunya belum sepenuhnya menerima.
________________________________________
Setelah pertemuan itu, Helena mengajak Ragnar berbicara di luar.
“Kamu lihat sendiri,” katanya pelan. “Dia polos.”
“Dia tulus.”
“Dia belum mengenal dunia yang akan kamu hadapi.”
“Kalau dunia itu merusaknya, mungkin memang dunia itu yang harus berubah,” jawab Ragnar.
Helena menatap anaknya lama.
“Aku tidak ingin kamu menyesal.”
“Menikah dengan Clara pun tidak menjamin saya tidak menyesal.”
Nama itu lagi.
Helena terdiam.
________________________________________
Di dalam kamar, Yasmin membuka kembali gelang kayu itu. Huruf R terukir sederhana, mulai pudar oleh waktu.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat wajah lelaki yang dulu menolongnya.
Tinggi. Kulit terang. Senyum hangat.
Dan hari ini, setiap kali ia menatap Ragnar, ada kilasan yang sama.
Mustahilkah jika lelaki itu adalah orang yang sama?
Tapi bagaimana mungkin?
Bandung begitu luas. Waktu sudah berlalu hampir delapan tahun.
Ia menghela napas panjang.
Kalau benar itu Ragnar… apakah itu pertanda?
Atau justru ujian yang lebih besar?
________________________________________
Malamnya, Ragnar mengirim pesan pada Yasmin melalui ustazah penghubung.
“Saya tahu ini tidak mudah. Kalau keluarga saya menjadi beban, saya siap menunggu sampai mereka yakin.”
Yasmin membaca pesan itu dengan hati bergetar.
Menunggu.
Kata itu terasa manis sekaligus menyakitkan.
Ia tidak ingin menjadi alasan perpecahan antara Ragnar dan keluarganya.
Namun ia juga tak ingin menyerah hanya karena perbedaan.
________________________________________
Di Jakarta, Clara menerima kabar bahwa Helena sudah menemui Yasmin.
Ia tersenyum miring.
“Jadi keluarga pun belum sepenuhnya setuju,” gumamnya.
Ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah map cokelat.
Di dalamnya ada dokumen lama. Foto-foto. Dan satu informasi tentang sebuah kecelakaan bertahun-tahun lalu di Bandung—kecelakaan kecil yang melibatkan mobil keluarga van Der Veen.
Clara menatap salah satu catatan.
Nama saksi di laporan itu membuat matanya menyipit.
“Yasmin Salsabila.”
Ia tersenyum perlahan.
“Jadi ternyata… kalian memang pernah bertemu.”
Potongan masa lalu mulai menyatu.
Sementara di Ciwidey, Yasmin menatap langit malam yang penuh bintang.
Ia tidak tahu bahwa rahasia yang ia simpan dalam bentuk gelang kayu itu bukan kebetulan semata.
Bahwa keterhubungannya dengan Ragnar mungkin bukan hanya soal ta’aruf.
Dan bahwa restu yang sulit hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih dalam—
Ujian tentang kejujuran masa lalu.
Dan tentang apakah cinta yang dibangun di atas iman mampu bertahan dari kebenaran yang akan segera terungkap.