Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI ATAS GELOMBANG SUNYI
04:00 AM. Kapal Logistik Bimo, Perairan Samudra Hindia.
Suara mesin kapal yang monoton menjadi latar belakang yang menenangkan bagi kekacauan yang baru saja mereka lalui. Kapal itu bergoyang pelan, membelah ombak pagi yang masih gelap. Di dalam kabin medis yang sempit dan berbau antiseptik, cahaya lampu neon yang berkedip kedip menyinari pemandangan yang jauh lebih lembut daripada ledakan di The Grid.
Raka duduk di tepi ranjang besi, kemeja linen putihnya yang robek tersampir di bahu. Liana berlutut di depannya, dengan telaten mengoleskan salep regenerasi kulit pada luka bakar listrik yang menjalar di lengan kanan Raka.
"Tahan sedikit," bisik Liana. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit Raka yang panas dengan sangat hati hati, seolah olah ia sedang menangani komponen kaca yang paling rapuh di dunia.
Raka meringis kecil, bukan karena rasa sakitnya ia sudah terbiasa dengan rasa sakit fisik tapi karena kedekatan Liana yang membuatnya merasa... tidak terlindungi. "Aku bisa melakukannya sendiri, Li. Kau harus istirahat."
Liana mendongak, menatap mata Raka dengan tatapan menantang yang sudah menjadi ciri khasnya. "Robot tidak punya hak bicara saat sedang diservis, Raka. Diamlah."
Ia kembali fokus pada luka itu, meniupnya pelan agar rasa perihnya berkurang. Momen itu begitu intim; di luar sana dunia mungkin sedang diperebutkan oleh entitas digital raksasa, tapi di dalam ruangan ini, yang ada hanyalah aroma obat, deru ombak, dan napas mereka yang bersahut sahutan.
"Bimo bilang kita butuh tempat baru," kata Liana tanpa mengalihkan pandangannya dari luka Raka. "Bogor sudah tidak aman. Maladewa sudah hangus. Kita butuh tempat di mana sinyal Aegis tidak bisa menjangkau kita secara fisik."
Raka menatap profil samping wajah Liana. "Pencuri data itu... apa kau sudah membukanya?"
Liana mengangguk. Ia meraih tabletnya yang tergeletak di samping kasa steril. "Yudha meninggalkan pintu belakang backdoor di kunci ini. Tapi ini bukan jalan masuk yang mudah. Ini seperti peta buta. Kita butuh perangkat keras yang lebih kuat dari yang dimiliki Bimo di kapal ini untuk memproses koordinatnya."
"Misi skala kecil," gumam Raka, otaknya mulai kembali ke mode kalkulasi. "Kita butuh akses ke Supercomputer milik universitas atau fasilitas riset yang tidak terhubung ke jaringan publik."
Liana tersenyum, tipe senyum nakal yang biasanya berarti masalah bagi orang lain. "Aku sudah memikirkannya. Ada fasilitas riset kelautan di pulau terpencil dekat garis khatulistiwa. Milik swasta, sangat tertutup, dan yang paling penting... mereka punya server mandiri yang menggunakan energi panas laut. Itu tempat yang sempurna untuk markas baru kita."
Raka menaikkan alisnya. "Kau ingin kita membajak fasilitas riset?"
"Bukan membajak, sayang," Liana menepuk lengan Raka yang baru selesai diperban, membuatnya sedikit meringis. "Kita akan menyewa tanpa izin. Anggap saja ini sebagai tes pertama untuk kunci enkripsi kita. Kalau kita bisa masuk ke sana tanpa terdeteksi oleh radar Aegis yang sedang menyisir laut, berarti kita punya peluang."
Liana bangkit, hendak merapikan kotak obat, namun Raka menahan pergelangan tangannya. Liana terhenti, menatap tangan Raka yang kini melingkar di tangannya.
"Li," suara Raka rendah dan tulus. "Tentang yang di palka tadi... saat oksigen hampir habis..."
Liana duduk kembali di samping Raka, meletakkan kepalanya di bahu pria itu yang masih kaku. "Jangan dibahas, Raka. Kita berdua tahu itu adalah momen paling bodoh sekaligus 'paling jujur' yang pernah kita miliki."
Raka terdiam, namun ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Liana, membiarkan aroma sampo lidah buaya yang kini bercampur bau laut menenangkan pikirannya. "Aku serius soal janji itu. Toko buku itu. Biru laut."
Liana terkekeh pelan, ia melingkarkan lengannya di pinggang Raka, memeluknya erat seolah takut pria itu akan menguap menjadi data jika ia melepaskannya. "Aku tahu. Tapi sebelum itu, kita punya pekerjaan besar. Kita harus membangun kembali Unit 09, versi kita sendiri. Hanya aku, kau, dan Bimo yang berisik itu."
"Dan mungkin beberapa drone untuk menjauhkan orang orang dari toko buku kita," tambah Raka.
Liana tertawa lebar. "Kau benar benar tidak bisa dipisahkan dari senjata, ya? Bahkan di toko buku impianmu pun kau ingin ada sistem pertahanan."
"Hanya untuk memastikan pelanggannya membayar tepat waktu," sahut Raka datar, yang membuat Liana tertawa semakin keras.
Tiba tiba pintu kabin terbuka. Bimo muncul dengan wajah yang lebih kusut dari biasanya, memegang secangkir kopi hitam pekat. "Maaf merusak momen bulan madu di kapal kargo kalian, tapi kita punya masalah kecil di radar."
Raka langsung siaga, rasa sakit di lengannya seolah hilang. "Aegis?"
"Bukan. Tapi patroli penjaga pantai. Sepertinya ledakan di Maladewa memicu peringatan internasional. Mereka sedang menyisir setiap kapal yang keluar dari sektor itu," Bimo menunjukkan layar navigasinya. "Kita tidak bisa terus begini. Kapal ini terlalu lambat."
Raka menatap Liana, lalu menatap Bimo. "Siapkan perahu cepat di lambung kiri. Kita akan memecah arah. Bimo, kau tetap di jalur logistik resmi. Aku dan Liana akan menggunakan perahu cepat untuk menuju fasilitas riset di khatulistiwa lewat jalur terumbu karang yang dangkal."
Liana berdiri, ia sudah kembali ke mode peretas andalannya. "Aku akan menyiapkan jammer sinyal portabel. Kita akan menjadi bayangan di atas air."
Sebelum keluar dari kabin, Liana berbalik dan menatap Raka yang sedang mengenakan kembali jaket taktisnya. "Raka?"
"Ya?" jawab Raka.
"Kali ini, biarkan aku yang memegang kendali perahunya. Aku tidak mau kau menabrak karang hanya karena kau terlalu sibuk menghitung kecepatan angin."
Raka menatap Liana sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit sebuah senyum yang sangat jarang namun terasa sangat nyata. "Asal kau tidak berteriak saat kita harus melompati ombak."
"Tidak janji!" Liana mengedipkan mata, lalu berlari menuju ruang peralatan.
Kapal logistik itu terus melaju, namun sebuah bayangan kecil memisahkan diri dari lambungnya, melesat cepat menuju cakrawala yang baru saja diterangi fajar. Bagian kedua dari perjalanan mereka dimulai bukan dengan ledakan besar, melainkan dengan persiapan yang sunyi dan tekad yang lebih tajam dari sebelumnya. Mereka bukan lagi sekadar pelarian; mereka adalah arsitek dari kebangkitan kembali.
Dan di bawah sinar matahari pagi yang mulai hangat, Raka menyadari bahwa misi paling sulit bukanlah mengalahkan Yudha, melainkan menjaga agar api kecil di matanya dan di mata Liana tetap menyala di tengah badai yang akan datang.