NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bedak Dingin dari Tulang Sotong

Nyai Ruminah tidak bekerja sendirian malam itu. Saat peti kayu berukir naga itu dibuka, aroma wangi yang keluar bukan wangi bunga, melainkan wangi rempah ratus yang diawetkan dalam air garam selama berabad-abad. Dari balik bayang-bayang ruangan, muncul tiga sosok wanita tua lainnya. Mereka bergerak tanpa suara, kaki mereka tidak menyentuh lantai. Wajah mereka tertutup selendang tipis, hanya mata mereka yang berkilat tajam memantulkan cahaya lampu minyak.

"Jangan takut," bisik Nyai Ruminah saat melihat Sekar mematung. "Mereka adalah para Pemaes (juru rias pengantin) dari zaman Majapahit. Mereka tahu cara melukis wajah agar ditakuti setan dan disukai dewa."

Sekar didudukkan di depan cermin besar itu lagi. Kali ini, ia tidak melihat bayangan dirinya sendiri. Cermin itu menampilkan sosok wanita lain—sosok Sekar yang "seharusnya", sosok Ratu Perang yang anggun dan dingin.

Salah satu juru rias gaib itu mendekat. Tangannya yang keriput memegang cawan berisi cairan hitam pekat.

"Tutup matamu, Nduk," perintah Nyai Ruminah. "Ini pidih (cairan hitam untuk paes dahi). Tapi ini bukan dari jelaga lampu. Ini tinta cumi-cumi raksasa yang hidup di palung terdalam."

Sekar memejamkan mata. Ia merasakan sensasi dingin yang menusuk saat cairan itu menyentuh keningnya. Kuas halus itu menari di atas dahinya, membentuk gajahan (lengkungan besar di tengah dahi) dan pengapit yang tajam.

Rasanya aneh. Setiap goresan kuas itu terasa seperti menyuntikkan keberanian cair ke dalam otaknya. Rasa takutnya yang tersisa perlahan membeku, digantikan oleh ketenangan yang absolut.

"Cantik..." desis juru rias itu, suaranya seperti gesekan daun kering.

Kemudian, mereka mulai memakaikan Dodot Bangun Tulak. Kain panjang itu beratnya luar biasa. Warnanya biru tua nyaris hitam di bagian tengah, dan putih bersih di pinggirannya. Saat kain itu melilit tubuhnya, Sekar merasa seperti dipeluk oleh ombak besar. Kain itu bergerak sendiri, menyesuaikan diri dengan lekuk tubuhnya, mengencang di pinggang dan dada seolah menjadi kulit kedua.

"Kain ini ditenun oleh Nyi Blorong saat beliau sedang bertapa bisu," jelas Nyai Ruminah sambil merapikan lipatan kain di bahu Sekar. "Benangnya kuat menahan sabetan pedang, tapi lembut seperti busa sabun."

Sekar melihat tangannya. Kulitnya yang sawo matang kini terlihat bercahaya, dilapisi bedak dingin yang terbuat dari tumbukan mutiara dan tulang sotong. Ia berkilauan di bawah cahaya redup, seperti permukaan laut saat bulan purnama.

"Dan terakhir..." Nyai Ruminah mengambil sesuatu dari peti.

Sebuah kalung.

Kalung itu terbuat dari untaian taring hiu putih, diselingi dengan batu giok hijau. Di tengahnya, tergantung liontin besar berbentuk bunga teratai yang kelopaknya bisa membuka-tutup sendiri.

"Pakai ini," kata Nyai Ruminah, mengalungkan benda itu di leher Sekar.

Saat kalung itu terpasang, Sekar tersentak.

DEG.

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, lalu melambat drastis. Ritme jantungnya berubah, menyesuaikan dengan denyut energi yang memancar dari kalung itu.

"Apa ini, Nyai?" tanya Sekar, tangannya menyentuh liontin teratai yang dingin itu.

"Itu Jantung Samudra," jawab Nyai. "Itu akan melindungimu dari tekanan air saat kita naik ke permukaan nanti. Dan..." Nyai menatap mata Sekar dalam-dalam. "...itu akan menyimpan suaramu."

"Suara saya?"

"Ya. Dalam tarian nanti, kamu tidak boleh bicara. Tidak boleh menjerit. Tidak boleh menangis. Semua emosimu harus disalurkan lewat gerakan. Jika kamu bersuara, sihirnya akan pecah, dan Poseidon akan melihatmu sebagai manusia biasa lagi. Lalu... crass... kamu akan hancur."

Sekar menelan ludah. Syarat yang berat.

"Sekarang, lihatlah dirimu," perintah Nyai.

Sekar membuka matanya dan menatap cermin.

Gadis desa yang lugu dan canggung itu sudah hilang. Di depannya berdiri seorang putri keraton laut. Alisnya menjangan ranggah (seperti tanduk rusa), matanya tajam digaris celak hitam, bibirnya merah merekah seperti mawar darah. Sanggulnya dihiasi melati yang tak akan layu, dan tusuk konde emas pemberian Ratu bersinar di puncaknya.

Ia terlihat menakutkan. Tapi juga sangat indah.

"Saya siap, Nyai," ucap Sekar. Suaranya terdengar berbeda. Lebih berat, lebih berwibawa.

"Bagus," Nyai Ruminah mengangguk puas. Ia memberi isyarat pada ketiga juru rias gaib itu, yang kemudian membungkuk hormat dan menghilang menjadi asap dupa.

"Waktunya sudah tiba, Nduk. Kereta kencana sudah menunggu di gerbang depan."

Nyai Ruminah menuntun Sekar keluar dari ruangan rias. Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang dindingnya terbuat dari karang putih. Ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang melintas di udara, seolah air di sini tidak memiliki hambatan.

Di ujung lorong, sebuah pintu gerbang raksasa terbuka.

Dan di sana, Sekar melihatnya.

Kereta kencana yang akan membawanya ke medan perang. Bukan ditarik kuda seperti milik Poseidon. Kereta ini berbentuk seperti kerang raksasa yang berkilauan, ditarik oleh empat ekor naga laut (sea serpent) yang sisiknya berwarna hijau zamrud. Naga-naga itu tidak memiliki kaki, tubuh mereka panjang meliuk-liuk, dan dari hidung mereka keluar gelembung udara panas.

Kusirnya adalah seorang pria tua bungkuk dengan kulit bersisik—Simbah tukang getek yang menolongnya di Sungai Code!

Simbah itu menoleh, tersenyum lebar memamerkan gigi hitamnya. "Wah, pangling Simbah. Kirain bidadari nyasar dari kahyangan."

"Mbah!" seru Sekar, hampir saja tersenyum lepas, tapi teringat bedak tebal di wajahnya.

"Naiklah, Cah Ayu," kata Simbah sambil menepuk jok beludru merah di dalam kereta kerang. "Perjalanan ke permukaan agak ngebut sedikit. Pegangan yang kencang."

Sekar menaiki kereta itu dibantu Nyai Ruminah.

"Ingat pesan saya, Sekar," bisik Nyai Ruminah terakhir kali sebelum mundur. "Kamu adalah air. Jangan jadi batu. Menarilah sampai dia lupa siapa dirinya."

Sekar mengangguk mantap.

Simbah menghentakkan tali kekang. Naga-naga laut itu mengaum pelan, lalu melesat maju.

Kereta kencana itu meluncur membelah air laut, naik ke atas dengan kecepatan luar biasa. Sekar melihat pemandangan dasar laut yang menakjubkan—kota-kota kuno yang tenggelam, hutan rumput laut raksasa, dan ribuan pasukan keraton laut yang berbaris rapi membawa tombak, bersiap di garis belakang.

Mereka semua mendongak, menatap kereta Sekar yang melintas di atas mereka. Mereka bersorak tanpa suara, memberikan penghormatan pada sang penari utama.

Semakin ke atas, air semakin terang. Cahaya bulan purnama mulai menembus kedalaman.

Dan di permukaan sana, badai sudah menunggu.

Poseidon sudah datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!