Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Arsen berdiri di depan gerbang rumah Naya, baru saja pamit pulang setelah kerja kelompok.
Tangannya masih memegang helm ketika matanya menangkap sosok yang sudah sangat familiar.
Kenzo baru turun dari mobil, santai, seolah rumah itu memang miliknya.
Arsen menoleh ke Naya.
“Nay,” panggilnya.
“Iya?”
“Kenzo sering banget ke rumah lo ya?”
Naya mengangguk singkat.
“Temennya kakak gue.”
“Iya, gue tau,” Arsen tersenyum tipis.
“Tapi… kok kayak bebas banget?”
Naya terdiam.
“Maksud gue,” lanjut Arsen,
“gue baru beberapa kali ke sini aja udah ditanya macem-macem sama nyokap lo.
Tapi dia?” Arsen melirik ke arah Kenzo yang ngobrol santai sama Pappi.
“Masuk keluar kayak nggak ada batas.”
“Itu karena dia udah kenal lama,” jawab Naya.
Arsen mengangguk pelan, lalu bertanya lagi,
“Terus… kenapa tante bisa percaya banget sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Naya refleks memegang tali tasnya.
“Kenzo sering nemenin kakak gue,” katanya.
“Dan… dia juga sering bantu pappi.”
Arsen menatap Naya lebih dalam.
“Cuma itu?”
Naya menarik napas.
“Kenzo beda.”
“Bedanya?” Arsen mengernyit.
Naya ragu, lalu berkata jujur,
“Mommy gue nggak gampang percaya orang.
Tapi sama Kenzo langsung luluh.”
“Dan..,” suara Naya menurun,
“kalau kakak gue nggak ada, Kenzo yang disuruh jagain gue, nganter bimbel, jemput, banyak deh.”
Arsen terdiam beberapa detik.
“Berarti,” katanya pelan,
“dia bukan cuma temen kakak lo.”
Naya menoleh cepat.
“Jangan salah paham.”
Arsen tersenyum kecil, tapi ada getir di sana.
“Gue nggak salah paham.”
Ia mengenakan helmnya.
“Gue cuma mulai ngerti kenapa gue harus usaha lebih keras.”
Naya ingin membalas, tapi kata-katanya tertahan.
Dari kejauhan, Kenzo melirik ke arah mereka.
Tatapan mata Arsen dan Kenzo bertemu sebentar.
Dingin.
Tenang.
Tapi penuh peringatan.
Saat Arsen pergi, Naya berdiri di tempatnya.
Untuk pertama kalinya, ia sadar—
kepercayaan yang diberikan Mommy pada Kenzo
bukan hal kecil.
Dan perhatian Arsen…
mulai terasa seperti ancaman bagi sesuatu yang belum pernah diucapkan.
Meja makan malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Empat piring tersaji rapi, tapi tak ada obrolan ringan seperti dulu.
Reno sibuk mengaduk nasi.
Pappi makan pelan.
Naya menunduk, fokus pada lauk di piringnya.
Mommy meletakkan sendoknya lebih dulu.
“Naya,” panggilnya.
Naya mengangkat kepala.
“Iya, Mommy.”
“Teman laki-laki kamu itu… Arsen,” kata Mommy tanpa ekspresi.
“Sering sekali datang ke rumah akhir-akhir ini.”
Naya menelan ludah.
“Dia cuma temen, My. Kerja kelompok.”
Mommy menatapnya lurus.
“Teman tidak datang hampir tiap minggu.”
Reno langsung menoleh.
“Mom, mereka sekolah—”
Mommy mengangkat tangan.
“Mommy bicara sama adikmu.”
Hening.
“Mommy nggak bodoh,” lanjutnya.
“Cara dia lihat kamu itu bukan cara teman.”
Naya meremas sendoknya.
“Mommy salah.”
“Atau kamu yang pura-pura nggak sadar?” suara Mommy tetap tenang, tapi dingin.
Pappi akhirnya ikut bicara.
“Sayang, mungkin jangan langsung—”
“Tidak,” potong Mommy.
“Kita sudah pernah sepakat.”
Mommy kembali menatap Naya.
“Selama kamu masih sekolah, tidak ada pacaran.”
Naya menghela napas berat.
“Tapi Mommy, Naya cuma—”
“Cukup,” kata Mommy.
“Kamu perempuan. Perasaan itu bisa bikin kamu lengah.”
Mommy melanjutkan, lebih tegas,
“Mommy nggak mau kamu sibuk mikirin laki-laki sampai lupa tujuan kamu.”
Naya menahan perih di dadanya.
“Semua cowok nggak sama, My…”
Mommy tersenyum tipis—bukan hangat.
“Justru karena itu Mommy nggak mau kamu coba-coba.”
Pappi menghela napas, lalu berkata lembut,
“Naya itu anak baik. Kita percaya dia bisa jaga diri.”
Mommy menoleh ke Pappi.
“Kepercayaan itu ada batasnya.”
Naya berdiri perlahan.
“Naya udah kenyang.”
Mommy tak menahannya.
Reno menatap punggung adiknya pergi.
Sedangkan Pappi hanya bisa mengusap keningnya pelan.
Dan di dalam hati Naya, satu kalimat terus terngiang—
“Belum pacaran aja, udah dicegah.”
Reno menyusul naya. Membuka kamar Naya dan memeluknya, rautnya campur aduk.
“Mommy cuma mau jaga lo, Nay.”
...----------------...
Pukul 21.15, rumah itu sudah lebih sunyi.
“Assalamu’alaikum,” suara Kenzo terdengar dari pintu depan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Pappi dari ruang keluarga.
Kenzo menanggalkan sepatunya, berniat langsung naik ke kamar Reno.
Namun baru dua langkah, suara Pappi menahannya.
“Ken?”
Kenzo menoleh.
“Iya, Om?”
“Sini sebentar.”
Kenzo mendekat, sikapnya langsung lebih sopan.
“Om mau bicara sebentar,” kata Pappi pelan tapi serius.
“Arsen itu sering datang ke rumah. Mommy-nya Naya mulai khawatir karena keseringan.”
Kenzo mengangguk, wajahnya fokus.
“Tolong kamu sama Reno awasi, ya.”
“Oke, Om,” jawab Kenzo mantap.
“Kenzo awasin kok. Om sama Tante tenang aja.”
Pappi menghela napas.
“Om lagi sibuk proyek baru. Mommy-nya Naya juga lagi banyak urusan fashion week. Jadi rumah sering kosong.”
Ia menatap Kenzo.
“Om titip Naya.”
“Iya, Om,” jawab Kenzo tanpa ragu.
Pappi menepuk bahu Kenzo pelan.
“Ya sudah, Om ke atas dulu.”
“Oke, Om.”
Kenzo berdiri lagi, lalu melangkah ke tangga.
Saat naik, langkahnya melambat ketika melewati kamar Naya.
Lampu kamar itu masih menyala.
Pintu tidak tertutup rapat.
Kenzo berhenti sejenak.
Dari celah pintu, terlihat Naya duduk di kasur, punggungnya bersandar ke kepala ranjang, buku terbuka di pangkuan—tapi matanya kosong, jelas tidak membaca.
Kenzo mengetuk pelan.
“Nay?”
Naya menoleh kaget.
“Oh… iya.”
Kenzo tersenyum tipis.
“Belum tidur?”
Naya menggeleng.
“Belum ngantuk.”
Hening sebentar.
Kenzo menyelipkan tangan ke saku celana.
“Kalau ada apa-apa… bilang ya.”
Naya menatapnya, bingung.
“Kenapa ngomong gitu?”
Kenzo mengedikkan bahu ringan.
“Gak apa-apa. Biar aja.”
Naya menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
“Iya.”
Kenzo membalas senyum itu sebentar—lalu melangkah pergi ke kamar Reno.
Dan Naya kembali menatap bukunya,
kali ini bukan Arsen yang memenuhi pikirannya.
Tapi Kenzo.
Kenzo melihat Reno sudah tidur. Kemudian menyelinap ke kamar Naya.
Kenzo merapat, satu lengannya melingkar di pinggang Naya dengan hati-hati. Gerakannya pelan, nggak terburu-buru.
“Gini doang,” bisiknya. “Tenang.”
Naya awalnya kaku, lalu perlahan menarik napas dan membiarkan kepalanya bersandar di dada Kenzo. Detak jantung Kenzo terasa jelas, bikin Naya makin sadar posisi mereka.
“Ken… kamu nggak capek?” suaranya nyaris berbisik.
“Capek, tapi ketemu kamu ilang,” jawab Kenzo santai, jempolnya mengusap punggung tangan Naya pelan. “Lagipula aku cuma nemenin. Janji.”
Naya mendengus kecil. “Gombal.”
Kenzo terkekeh tanpa suara. “Fakta.”
Beberapa detik hening. Hanya suara napas mereka yang pelan dan teratur.
Naya menarik ujung kaus Kenzo sedikit, refleks.
“Ken…” suara Naya kecil.
“Hm?”
“Jangan aneh-aneh.”
“Iya, Princess,” jawab Kenzo sambil terkekeh pelan. “Gue janji.”
Beberapa detik hening. Kenzo mengusap punggung Naya pelan, ritmis, kayak orang nenangin anak kecil.
“Besok lo sekolah,” katanya lembut.
“Tidur, Princess. Aku di sini.”
Pelan-pelan, tubuh Naya mengendur. Napasnya jadi teratur. Kenzo menatapnya sebentar—ada rasa puas sekaligus khawatir—lalu menutup mata, tetap memeluk, tetap jaga jarak.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...