"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Sisa Api dan Pertaruhan Terakhir
Telinga Alana berdenging hebat. Ledakan taksi itu menciptakan gelombang panas yang menghempaskan tubuhnya ke lantai semen gudang yang keras. Debu dan serpihan kaca beterbangan seperti salju hitam yang mengerikan. Selama beberapa detik, dunia terasa sunyi, hanya ada suara detak jantungnya yang berdegup kencang di balik rusuk.
"Lana! Lana, kamu dengar saya?!"
Suara Arkan terdengar jauh, seolah-olah pria itu bicara dari balik dasar laut. Alana merasakan tangan kokoh merengkuh bahunya, menariknya duduk. Saat pandangannya mulai fokus, ia melihat wajah Arkan yang berlumuran jelaga, kemeja putihnya kini compang-camping dan ada darah yang mengalir dari pelipisnya.
"Mas... Mas gapapa?" suara Alana parau. Ia terbatuk, menghirup aroma bensin yang terbakar.
"Saya yang harusnya tanya itu ke kamu!" Arkan memeluk Alana erat, napasnya memburu. "Gila... kamu benar-benar gila dengan aksi live itu, tapi itu menyelamatkan kita dari tuduhan hukum. Sekarang, kita harus keluar dari sini sebelum gudang ini ikut meledak."
Alana menoleh ke arah depan gudang. Taksi yang tadi membawanya sudah menjadi bola api raksasa. Panasnya terasa sampai ke wajah. "Tante Sofia bilang Bayu masih di luar sana. Dia yang pasang bom itu, Mas."
"Aku tahu," desis Arkan. Ia membantu Alana berdiri.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor terdengar mendekat. Dari balik kobaran api, sebuah motor trail melesat masuk ke dalam gudang. Pengendaranya melepaskan helm, menampakkan wajah Bayu yang sudah tidak lagi terlihat seperti pria yang Alana kenal. Matanya merah, penuh dengan kegilaan yang murni.
"Selamat, Kakak! Kalian memang punya sembilan nyawa!" Bayu berteriak, suaranya parau karena amarah. "Lana, kamu hebat ya? Pakai TikTok buat hancurin Sofia? Tapi sayangnya, internet nggak bisa nyelametin kamu dari peluru!"
Bayu mengeluarkan senjata api dari balik jaketnya. Arkan dengan cepat menyembunyikan Alana di belakang tubuhnya, menjadikannya tameng hidup sekali lagi.
"Bayu, hentikan! Sofia yang membunuh ibumu, bukan aku! Kamu sudah dengar pengakuannya tadi!" Arkan mencoba bernegosiasi, suaranya lantang meski badannya gemetar menahan sakit.
"Aku nggak peduli siapa yang potong kabelnya! Intinya, kalian semua hidup enak sementara aku dan ibuku harus membusuk di selokan!" Bayu mengarahkan senjatanya tepat ke dada Arkan. "Kalau aku nggak bisa jadi pewaris Arkananta, maka nggak akan ada yang bisa!"
Alana merasakan keberaniannya memuncak. Ia tidak bisa diam saja melihat Arkan dikorbankan. Ia melongokkan kepalanya dari balik punggung Arkan.
"Bayu! Kamu pikir dengan bunuh kami, masalah kamu selesai? Kamu cuma bakal jadi buronan seumur hidup! Lihat ke sana!" Alana menunjuk ke arah gerbang gudang di mana sirine polisi mulai terdengar semakin dekat. "Polisi sudah di depan! Masih mau jadi jagoan atau mau menyerah sekarang?!"
Bayu menoleh sekilas ke arah lampu biru-merah yang berkedip di kejauhan. Wajahnya menunjukkan keraguan sesaat. Namun, di saat itulah Arkan bergerak. Ia menerjang Bayu dengan sisa kekuatannya.
Dor!
Suara tembakan menggema di dalam gudang. Alana menjerit.
"TIDAAAK!"
Arkan dan Bayu terjatuh ke lantai, bergulat memperebutkan senjata itu. Alana tidak tinggal diam. Ia melihat sebuah tabung pemadam api yang tergantung di dekat pintu. Tanpa pikir panjang, ia menyambar tabung itu dan berlari ke arah mereka.
Brak!
Alana menghantamkan tabung pemadam itu tepat ke punggung Bayu. Pria itu mengaduh kesakitan, pegangannya pada senjata mengendur. Arkan segera menendang senjata itu jauh-jauh dan mengunci gerakan Bayu di lantai.
"Lepasin! Lepasin aku!" Bayu meronta-ronta seperti binatang buas.
"Selesai, Bayu. Semuanya sudah selesai," bisik Arkan pelan, ada nada kesedihan yang dalam di suaranya. Bagaimanapun juga, pria di bawahnya ini adalah darah daging ayahnya.
Polisi menyerbu masuk, mengamankan Bayu dan membawa pria itu pergi. Suasana perlahan menjadi tenang, hanya menyisakan suara api yang melahap sisa-sisa kayu di ujung gudang.
Alana terduduk lemas di samping Arkan. Keduanya tampak seperti korban perang yang baru saja selamat dari maut. Arkan merangkul pundak Alana, membiarkan kepala istrinya bersandar di bahunya yang kotor.
"Lana... makasih ya," bisik Arkan.
"Makasih buat apa, Mas? Buat aksi tabung pemadam tadi atau buat drakor live TikTok aku?" Alana mencoba bercanda, meski suaranya masih bergetar.
"Buat semuanya. Buat tetap tinggal di saat semua rahasia kotor keluarga saya terbongkar. Buat menjadi 'nyawa' di hidup saya yang tadinya cuma berisi angka dan kontrak," Arkan mencium puncak kepala Alana yang berbau asap.
Alana menatap Arkan, lalu tersenyum tipis. "Mas Arkan, janji ya? Habis ini nggak ada lagi rahasia-rahasiaan. Kalau Mas punya saudara tiri lagi di kutub utara atau planet Mars, bilang sekarang!"
Arkan tertawa rendah, tawa yang benar-benar lepas dari beban yang selama ini ia pikul. "Saya janji. Hanya ada kita, Mochi, dan mungkin... rencana untuk membangun kembali rumah kontrakmu yang terbakar itu menjadi sesuatu yang lebih baik."
"Bener ya? Harus ada AC-nya, biar Mochi nggak kegerahan!"
"Apapun buat kamu, Sayang."
Alana tersipu. Kata 'Sayang' dari mulut Arkan kini tidak lagi terdengar kaku seperti robot konslet, melainkan hangat dan nyata. Di tengah puing-puing gudang yang terbakar, Alana sadar bahwa terkadang, untuk menemukan kebahagiaan sejati, seseorang memang harus "nyasar" dulu di tempat yang paling tidak terduga—seperti di kondangan mantan.
Saat mereka hendak dibawa ke rumah sakit oleh tim medis, Alana merasakan ponselnya bergetar lagi. Sebuah notifikasi dari akun TikTok-nya muncul. Video live-nya tadi telah ditonton lebih dari 5 juta orang dan menjadi berita nasional. Tapi ada satu komentar yang disematkan di paling atas oleh sebuah akun anonim: "Selamat atas kemenangannya, Nyonya Arkananta. Tapi apakah kamu sudah mengecek isi liontin yang dipakai Arkan? Ada satu rahasia lagi yang dia sembunyikan... soal siapa sebenarnya orang tuamu yang asli."
Alana menoleh ke arah Arkan yang sedang diobati lukanya. Di leher pria itu, memang menggantung sebuah liontin perak yang tidak pernah ia buka. Alana menelan ludah. Ya ampun, drama ini kapan selesainya sih?!