Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang tak diundang
Minggu kedua di desa pesisir membawa kejutan yang tak pernah kubayangkan. Aku berpikir jika ada yang menemukanku, itu adalah Biru dengan permohonan maafnya, atau Abhinara dengan egonya yang terluka. Namun, tamu yang datang justru seseorang yang berada di antara mereka.
Sore itu, langit berwarna ungu kemerahan, warna yang dulu sangat kusukai sebelum aku memutuskan untuk membenci cahaya. Aku sedang berjalan pulang dari pasar kecil, menjinjing sekantong jeruk dan beberapa butir telur. Langkahku mendadak terhenti saat melihat seorang pria duduk di dermaga kecil, tepat di belakang rumah nenekku.
Pria itu tidak mengenakan kemeja mahal atau sepatu kulit mengkilap. Dia hanya memakai kaos hitam polos yang sedikit pudar dan jins yang sudah kusam di bagian lutut. Saat dia menoleh, aku mengenali wajahnya.
Dia adalah Seno, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Biru yang biasanya sibuk mengurus jadwal dan peralatan kamera Biru di kantor.
"Mbak Aruna," sapanya. Suaranya penuh kelegaan, seolah dia baru saja menemukan harta karun yang hilang.
"Bagaimana kamu bisa menemukanku, Seno?" tanyaku, suaraku terdengar lebih tajam dari yang kumaksudkan. Aku mengeratkan pegangan pada kantong belanjaku. "Apa Biru yang mengirimmu untuk memintaku pulang?"
Seno berdiri, membersihkan celananya dari debu kayu dermaga. Dia menggeleng perlahan. "Mas Biru tidak tahu saya ke sini, Mbak. Dia bahkan tidak tahu saya bisa melacak koordinat rumah ini. Saya mencuri informasi dari data navigasi mobilnya sebelum mobil itu ditarik oleh pihak keluarga Laksmana dua hari lalu."
Lidahku kelu. "Ditarik?"
"Semuanya sudah diambil, Mbak Na," Seno menarik napas panjang, matanya menatap laut lepas. "Rumah, mobil, kartu kredit, bahkan akses ke studio fotonya sendiri. Mas Biru sekarang tinggal di sebuah kamar kos sempit di daerah padat dekat pelabuhan. Tempat yang tidak layak untuk orang sepertinya."
"Kenapa dia melakukannya?" bisikku, hampir tidak terdengar.
"Karena itu syarat dari ayahnya. Kalau Mas Biru mau berhenti ikut campur dalam urusan bisnis Abhinara dan berhenti mencari Mbak Aruna, dia boleh tetap jadi Laksmana. Tapi Mas Biru menolak. Dia bilang, dia lebih baik kehilangan namanya daripada kehilangan integritasnya di depan Mbak."
Seno merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tampak berat. "Saya ke sini bukan untuk memaksa Mbak kembali. Mas Biru akan marah besar kalau tahu saya mengganggu ketenangan Mbak. Saya cuma ingin mengantarkan ini. Amanah terakhir yang dia siapkan sebelum dia 'jatuh' miskin."
"Apa ini?"
"Hasil foto proyek 'Wajah-Wajah Tersembunyi'. Dia sudah menyelesaikan kurasinya sendiri di bawah lampu templok kamar kosnya. Dia bilang ke saya, 'Seno, kalau kamu entah bagaimana bertemu Aruna, berikan ini. Katakan padanya, naskah ini akan tetap menjadi mayat jika dia tidak memberikan ruh lewat tulisannya'."
Seno pamit tak lama kemudian, meninggalkanku sendirian di dermaga yang kian gelap. Aku masuk ke rumah, menyalakan lampu kuning yang temaram, dan duduk di meja makan kayu. Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada puluhan cetakan foto hitam putih berkualitas tinggi. Foto-foto nelayan yang sedang tertawa, tangan-tangan renta yang sedang membelah jaring, hingga potret laut yang sedang mengamuk. Namun, di lembaran paling bawah, aku menemukan satu foto yang membuat pertahananku runtuh total.
Itu adalah fotoku. Diambil secara candid saat kami berada di dermaga minggu lalu. Aku tidak sedang cemberut atau marah. Aku sedang menatap matahari terbit dengan sedikit binar di mata yang hampir tak terlihat. Biru berhasil menangkap sisa-sisanya fajar di dalam diriku yang kupikir sudah padam.
Di balik foto itu, ada tulisan tangan Biru yang rapi:
"Aruna Rembulan Maharani, fajar tidak butuh langit untuk terbit, itu benar. Tapi langit butuh fajar agar ia tahu kapan malam harus berakhir. Selesaikan karyamu, Na. Jangan biarkan dunia kehilangan tulisanmu hanya karena kamu benci pada bayang-bayangku."
Malam itu, di rumah kayu yang sunyi, aku tidak menangis karena sedih. Aku menangis karena aku menyadari bahwa Biru Laksmana Langit tidak pernah mencoba memilikiku. Dia hanya ingin mengembalikanku kepada diriku yang sebenarnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...