NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tangisan di kecamatan

Bimo melangkah dengan kaki yang terasa berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak menolak kehadirannya. Kertas alamat padepokan di lereng Gunung Lawu pemberian Teguh masih ia genggam erat, namun keraguan mulai membisikkan racun di telinganya.

"Bagaimana jika di sana sama saja?" bisik batinnya yang penuh ketakutan. "Bagaimana jika Kyai sepuh itu juga menutup hidung dan mengusirku? Tidak akan ada Teguh kedua di dunia ini. Dunia sudah muak padaku."

Ketakutan itu membuat Bimo mengurungkan niat untuk langsung menuju Lawu. Ia merasa belum siap menghadapi penolakan lagi. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia memilih memutar arah menuju pusat kecamatan. Ia berpikir harus mencari pekerjaan apa pun kuli panggul, tukang cuci piring, atau pembersih selokan asal ia bisa mendapatkan sesuap nasi dan koin untuk menyambung nyawa. Ia harus bertahan hidup sebelum ulat-ulat ini benar-benar menghabiskan sisa daging di tulangnya.

Diorama Kenangan di Pinggiran Pasar

Sesampainya di pasar kecamatan yang riuh, Bimo terduduk lesu di atas trotoar semen yang retak, tepat di bawah bayangan pohon angsana yang kering. Orang-orang pasar lewat dengan terburu-buru, memberikan jarak lebar saat mencium bau anyir yang menguar dari tubuhnya. Namun Bimo tidak lagi peduli pada hinaan fisik. Di tempat yang penuh hiruk-pikuk ini, justru kesunyian jiwanya yang mulai bicara.

Pandangannya yang mulai mengabur menatap kerumunan orang. Tiba-tiba, ingatannya melenting jauh ke belakang, ke masa di mana bau tubuhnya masih harum parfum mahal dan dunianya masih penuh warna.

Ia teringat saat pertama kali mengenal Ratih.

Bayangan Ratih yang sedang mencuci baju dengan tangan merah-merah karena deterjen muncul di pelupuk matanya. Ratih yang selalu tersenyum meski peluh membasahi dahinya. Ratih yang dengan tangan gemetar memberikan seluruh upah mencucinya kepada Bimo.

"Ini buat kamu, Mas... buat bayar cicilan motor. Aku nggak apa-apa makan nasi garam saja, yang penting kamu nggak susah," suara lembut Ratih seolah terngiang di tengah kebisingan pasar.

Bimo teringat bagaimana ia menerima uang itu dengan angkuh, tanpa secercah rasa terima kasih. Bahkan, setelah menerima uang hasil keringat Ratih, ia justru pergi ke bar di depan gang, memesan minuman keras paling mahal, dan tertawa-tawa bersama wanita-wanita malam. Ia teringat betapa kejinya ia memamerkan kemewahan yang dibeli dari rasa lapar Ratih.

"Mas, aku lapar... ada sisa uang seribu buat beli kerupuk?" tanya Ratih suatu malam saat Bimo pulang mabuk. Jawaban Bimo saat itu adalah sebuah bentakan: "Cari sendiri! Dasar perempuan nggak berguna!"

Setetes air mata, kemudian berubah menjadi aliran deras, membasahi pipi Bimo yang dipenuhi bintik-bintik hitam. Dada Bimo sesak seolah dihantam godam besar. Penyesalan itu datang terlambat, namun menghujam sangat dalam.

"Ratih..." bisiknya parau, suaranya tercekik isak tangis. "Kenapa aku sejahat itu padamu? Kenapa aku begitu buta?"

Ia membayangkan Ratih yang kini entah di mana, menanggung luka hati yang mungkin jauh lebih busuk daripada raga Bimo saat ini. Untuk pertama kalinya, Bimo tidak berdoa minta kesembuhan. Ia justru meratap mohon pengampunan.

"Ratih... aku menyesal. Ijinkan aku menebus semua kesalahanku padamu. Meskipun aku harus mati setelahnya, ijinkan aku melihat matamu sekali lagi untuk bilang maaf..."

Getaran yang Terbelah

Beberapa puluh meter dari tempat Bimo terduduk, di balik kerumunan pedagang sayur, Ratih berdiri mematung. Ia mengenakan caping besar untuk menutupi wajahnya, namun telinganya yang tajam karena bantuan gaib Mbah Suro mampu menangkap bisikan lirih Bimo.

Deg.

Dada Ratih bergetar. Sebuah rasa hangat yang asing mencoba menyusup ke dalam hatinya yang telah membeku menjadi es. Itu adalah getaran nurani, sisa-sisa cinta tulus yang dulu pernah ia miliki untuk Bimo. Mendengar pria itu menyebut namanya dengan nada hancur dan penuh penyesalan, dinding dendam Ratih sedikit retak.

Apakah dia benar-benar sadar? pikir Ratih. Tangannya yang memegang payung hitam bergetar. Ia melihat Bimo yang malang, yang kini bukan lagi predator sombong, melainkan jiwa yang tersiksa.

Namun, tepat saat setetes air mata mulai menggenang di mata Ratih, sebuah suara dingin dan berat mendengung di dalam kepalanya. Suara itu kering seperti daun jati yang terbakar.

"Jangan tertipu oleh lidah pengkhianat, Ratih..."

Itu suara Mbah Suro. Sang dukun lereng gunung seolah mampu merasakan pelemahan niat pada "pasiennya" dari jarak jauh.

"Ingat ibumu, Ratih. Ingat bagaimana dia memanggil namamu sebelum napas terakhirnya karena tidak punya biaya obat. Ingat bagaimana pria itu tertawa di atas penderitaan keluargamu. Penyesalannya sekarang hanyalah rasa takut akan kematian, bukan rasa cinta padamu. Jangan biarkan lilin kecil memadamkan api dendam yang sudah kamu bangun susah payah!"

Mendengar bisikan itu, mata Ratih yang tadinya melembut mendadak berubah menjadi merah dan tajam kembali. Getaran halus di dadanya lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang menjalar ke seluruh sarafnya. Retakan di dinding dendamnya tertutup rapat oleh kebencian yang baru.

"Maaf adalah kemewahan yang tidak pantas untukmu, Bimo," desis Ratih pelan, suaranya kini kembali dingin.

Ulat yang Mengganas

Seiring dengan kembalinya niat jahat Ratih, ulat sengkolo di tubuh Bimo seolah mendapatkan perintah baru. Rasa tenang yang didapat Bimo dari tangis penyesalannya mendadak sirna.

"ARGH!" Bimo menjerit tiba-tiba, membuat orang-orang di pasar kaget dan menjauh.

Ia merasakan gatal yang tak tertahankan di area leher dan wajahnya. Tanpa sadar ia menggaruknya dengan kuku-kukunya yang kotor. Kulitnya terkelupas, dan cairan hitam berbau amis mulai menetes di trotoar. Penyesalannya yang tulus tadi tidak cukup untuk menghapus ribuan hari kebiadabannya di masa lalu.

"Ratih... tolong..." Bimo meracau, ia mulai kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang luar biasa.

Ratih melihat pemandangan itu tanpa ekspresi. Ia tidak lagi melihat Bimo sebagai manusia, melainkan sebagai wadah pembalasan dendamnya. Ia melangkah keluar dari pasar, meninggalkan Bimo yang kini mulai dikerubungi lalat karena bau busuknya yang semakin menjadi-jadi.

Kehilangan Arah

Bimo terbangun beberapa saat kemudian saat seorang petugas pasar mengguyurnya dengan air sabun dari jauh agar ia segera menyingkir. Dengan tubuh yang basah kuyup dan gemetar, Bimo bangkit.

Ia menyadari bahwa meminta maaf dalam bisikan tidaklah cukup. Ia harus menemukan Ratih secara nyata. Namun, di mana? Ia teringat alamat padepokan dari Teguh. Mungkinkah Kyai di sana bisa membantunya menemukan Ratih melalui jalan batin? Ataukah ia memang ditakdirkan untuk mati di jalanan kecamatan ini?

Bimo melihat selembar uang sepuluh ribu pemberian Teguh yang jatuh di genangan air. Ia memungutnya, menciumnya, dan menyadari bahwa ia tidak boleh menyerah di sini. Ia harus sampai ke Gunung Lawu. Bukan untuk sembuh, tapi untuk bertahan hidup cukup lama sampai ia bisa bersujud di kaki Ratih.

"Gue harus jalan... Gue harus ke Lawu," gumam Bimo dengan sisa kewarasannya.

Ia mulai berjalan keluar dari area pasar, menuju jalan raya besar yang mengarah ke kaki gunung. Di belakangnya, Ratih terus mengikutinya seperti bayangan maut yang setia. Ratih ingin melihat, sampai sejauh mana penyesalan

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!