"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 23: BADAI SEBELUM TEDUH
Kedamaian yang mereka raih ternyata rapuh.
Seperti langit cerah sebelum hujan deras, kehidupan mereka yang mulai stabil tiba-tiba diguncang oleh kedatangan seseorang dari masa lalu yang bahkan tidak mereka duga akan kembali.
Pertama-tama, itu dimulai dengan surat.
Sebuah amplop cokelat tua, tanpa prangko, diletakkan di depan pintu rumah Aisha suatu pagi buta. Alamatnya ditulis dengan tulisan tangan rapi: "Untuk Aisha, dari seseorang yang ingin memperbaiki kesalahan."
Aisha membukanya dengan hati-hati, didampingi Glenn yang kebetulan menginap karena Arka sedang di rumah Rafa. Isinya sederhana: sebuah foto hitam putih. Foto seorang wanita muda dengan bayi di pangkuannya wajah wanita itu mirip dengan Aisha, tapi lebih tua. Dan di balik foto, tulisan: "Ibumu masih hidup. Dan dia ingin bertemu."
Aisha menjatuhkan foto itu, tubuhnya gemetar. Ibunya? Ibunya meninggal delapan tahun lalu, tepat setelah melahirkannya Arka. Ayahnya mengatakan demikian. Keluarganya mengatakan demikian. Selama ini, dia yakin ibunya sudah tiada.
Glenn segera memeluknya. "Tenang. Ini mungkin jebakan."
Tapi hati Aisha berdebar kencang. Bagaimana jika benar? Bagaimana jika ibunya masih hidup? Dan mengapa sekarang muncul?
---
Mereka segera menghubungi Rafa dan Laras.
Pertemuan darurat di rumah Aisha. Mereka memeriksa foto itu bukan hasil editan, sepertinya asli dan tua.
"Kamu yakin ibumu meninggal?" tanya Rafa.
"Ayahku yang bilang. Dan... aku tidak pernah melihat jenazahnya. Kata ayah, ibunya dimakamkan cepat karena tradisi desa."
"Kamu dari desa di Jawa Timur, kan?" tanya Laras. "Bisa saja mereka menyembunyikan sesuatu."
Tapi mengapa? Dan siapa yang mengirim foto ini sekarang?
---
Mereka memutuskan untuk menyelidiki.
Glenn yang punya jaringan luas sebagai arsitek, menghubungi detektif swasta untuk melacak asal surat dan foto. Sementara itu, Aisha mencoba menghubungi keluarganya di desa tapi telepon tidak diangkat. Nomor-nomor saudaranya juga tidak aktif.
"Sesuatu tidak beres," gumam Aisha.
Dua hari kemudian, detektif melaporkan: surat itu dikirim melalui kurir khusus dari Kota Malang. Pengirimnya wanita, usia sekitar 60-an, membayar tunai. Tidak ada nama.
"Tapi ada petunjuk," kata detektif. "Dia menyebutkan sesuatu tentang 'mengembalikan apa yang diambil'."
Mengembalikan apa yang diambil? Apa yang diambil?
---
Kejutan kedua datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Seorang wanita tua muncul di gerbang kompleks mereka tiga hari kemudian, meminta bertemu Aisha. Satpam menghubungi Aisha, dan dengan hati-hati, mereka mengizinkannya masuk ke rumah Rafa tempat yang lebih aman.
Wanita itu berusia sekitar 65 tahun, wajahnya keriput tapi matanya tajam. Dia membawa tas kain usang dan berdiri tegap meski tubuhnya kurus.
"Saya Sumiati. Saya pengasuh ibumu dulu," katanya langsung tanpa basa-basi.
Aisha membeku. "Ibuku... masih hidup?"
"Ya. Tapi dia tidak dalam kondisi baik. Dan dia ingin bertemu kamu sebelum... sebelum akhirnya tiba."
"Di mana dia?"
"Di panti jompo di Malang. Sudah lima tahun terakhir."
"Mengapa tidak pernah memberi tahu saya?"
"Karena ayahmu melarang. Dan keluarga kamu... mereka memutuskan untuk menganggapnya sudah meninggal."
Kebenaran itu pahit. Ibu Aisha dibuang ke panti jompo karena sakit jiwa setelah melahirkan Aisha depresi pasca melahirkan yang parah, lalu berkembang menjadi skizofrenia. Keluarga merasa malu, menyembunyikannya, lalu memberitahu Aisha bahwa ibunya meninggal.
"Kenapa sekarang memberitahu?" tanya Rafa, waspada.
"Karena ibumu semakin parah. Dan dia terus menyebut namamu. Saya tidak tahan lagi melihatnya menderita."
---
Aisha harus memutuskan:
Melihat ibunya yang selama ini dianggap meninggal, atau melindungi ketenangan hidupnya yang baru pulih.
Glenn menyarankan untuk pelan-pelan. "Kamu butuh persiapan mental. Ini berat."
Tapi Aisha merasa tanggung jawab darah. "Dia ibuku. Aku harus pergi."
Mereka sepakat pergi bersama Aisha, Rafa, dan Glenn. Laras tinggal menjaga anak-anak. Perjalanan ke Malang dilakukan dengan mobil pribadi, ditemani seorang perawat dari yayasan yang berpengalaman menangani pasien gangguan jiwa.
---
Panti jompo itu sederhana, bersih, tapi berbau obat dan kesepian.
Di ruang isolasi belakang, seorang wanita kurus dengan rambut putih acak-acakan duduk di kursi roda, menatap kosong ke jendela. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kecantikan masa muda wajah yang mirip dengan Aisha.
"Bu Darmi," panggil Sumiati pelan. "Putrimu datang. Aisha."
Wanita itu perlahan menoleh. Matanya keruh, tidak fokus. Tapi saat melihat Aisha, sesuatu berkedip di dalamnya. "Aisha... kecil?"
"Ya, Bu. Ini Aisha."
"Kamu... sudah besar." Tangannya yang keriput meraih pelan. Aisha mendekat, memegangnya. Tangan itu dingin, tulang-tulang kecil terasa jelas.
"Mama masih ingat... kamu suka bunga melati."
Aisha menangis. Ibunya ingat. Di balik kabut penyakitnya, dia masih menyimpan kenangan.
Tapi kemudian, ibunya tiba-tiba berubah. Wajahnya berkerut ketakutan. "Jangan ambil bayiku! JANGAN!"
"Tidak ada yang mengambil bayi, Bu," tenangkan Sumiati.
"Ibu mertua... dia ambil bayiku! Bayi laki-laki!"
Aisha membeku. Bayi laki-laki? Dia anak tunggal. Apa maksudnya?
Rafa dan Glenn saling pandang. Ada rahasia lain.
---
Setelah ibu Aisha tenang dan tertidur karena obat, mereka berbicara dengan Sumiati di ruang tamu panti.
"Apa yang dimaksud bayi laki-laki?" tanya Aisha.
Sumiati menarik napas dalam. "Ini yang tidak pernah keluarga kamu ceritakan. Sebelum kamu lahir... ibumu melahirkan bayi laki-laki. Tapi bayi itu... cacat lahir parah. Hanya hidup tiga hari. Ibu mertuamu nenek kamu menyuruh menguburnya diam-diam, tanpa upacara, karena dianggap aib."
"Dan ibuku?"
"Depresi berat. Lalu hamil lagi kamu. Saat melahirkan kamu, depresinya kambuh parah. Dia tidak diizinkan memegangmu, takut menyakitimu. Lalu... dia semakin tidak waras. Keluarga memutuskan untuk menitipkannya ke sini, dan memberitahu semua orang termasuk kamu bahwa dia meninggal."
Dosa keluarga. Rahasia yang ditimbun puluhan tahun.
Aisha merasa dunia berputar. Dia punya kakak laki-laki yang tidak pernah dia tahu. Dan ibunya menderita sendirian selama puluhan tahun karena tradisi dan rasa malu keluarga.
"Mengapa baru sekarang bilang?" tanyanya, suara hancur.
"Karena saya sudah tua. Dan saya tidak ingin mati membawa rahasia ini. Ibumu juga pantas punya akhir yang damai... dengan anaknya di sampingnya."
---
Mereka kembali ke Jakarta dengan beban baru.
Aisha memutuskan untuk membawa ibunya ke Jakarta, merawatnya di rumah dengan bantuan perawat. Tidak peduli apa kata keluarga besarnya.
"Kami akan bantu," kata Laras tegas. "Kita punya kamar kosong."
Tapi keputusan itu tidak mudah. Ibu Aisha Bu Darmi kondisinya tidak stabil. Kadang dia mengenali Aisha, kadang mengira Aisha adalah ibunya sendiri. Kadang dia berteriak ketakutan, kadang menangis tanpa sebab.
Glenn dengan sabar membantu. Bahkan mengatur kamar khusus dengan desain yang menenangkan untuk Bu Darmi. "Dia bagian dari kamu, Aisha. Jadi dia bagian dari hidupku juga."
Tapi dampaknya mulai terasa pada anak-anak.
Nadia ketakutan saat Bu Darmi berteriak tengah malam. Arkana rewel. Dan Arka yang paling sensitif mulai bertanya: "Kenapa nenek sakit begitu? Apa menular?"
"Mana nenek? Nenek Arka kan sudah meninggal?"
Penjelasan rumit. Aisha harus mengatakan bahwa neneknya sakit jiwa, dan selama ini disembunyikan. Arka, dengan polosnya, berkata: "Kalau nenek sakit, kita harus lebih sayang sama nenek. Seperti waktu Arka sakit, semua orang sayang Arka."
Kebaikan anak itu lagi-lagi menjadi penawar pahitnya kehidupan.
---
Keluarga besar Aisha dari desa akhirnya menghubungi.
Mereka marah. "Kamu tidak berhak membawa ibumu! Itu aib keluarga!"
"Aib?" balas Aisha, kali ini tegas. "Aib adalah menyembunyikan orang sakit dan berpura-pura dia mati. Aib adalah membiarkan ibu kandung menderita sendirian puluhan tahun."
Pertengkaran telepon itu berakhir dengan pemutusan hubungan dari pihak keluarga. Aisha sekarang benar-benar sendirian—hanya dengan keluarga pilihannya: Rafa, Laras, anak-anak, dan Glenn.
Tapi beban itu berat. Merawat pasien gangguan jiwa tua melelahkan secara fisik dan emosional. Aisha sering terbangun tengah malam karena teriakan ibunya. Glenn selalu ada, tapi Aisha merasa bersalah membebaninya.
"Saya di sini karena saya memilihmu," kata Glenn suatu malam saat Aisha menangis lelah. "Semua bagian darimu termasuk ibumu adalah bagian dari pilihan itu."
---
dr. Arman, yang sudah pulih, membantu mengatur perawatan medis untuk Bu Darmi.
Dia juga merekomendasikan psikiater spesialis geriatri. "Ini akan panjang, Aisha. Tapi kamu tidak sendirian."
Bahkan Laras mengambil cuti kerja sementara untuk membantu. "Kita keluarga. Saling membantu."
Rafa yang juga sibuk dengan pekerjaan, tetap meluangkan waktu untuk menjaga anak-anak agar Aisha bisa fokus pada ibunya.
Solidaritas keluarga yang dibangun dari pilihan, bukan darah.
---
Dua bulan berlalu.
Bu Darmi menunjukkan sedikit perkembangan. Dia lebih sering mengenali Aisha. Kadang dia menyebut nama "Arka" setelah melihat foto cucunya. Dan suatu sore, saat Aisha sedang menyuapinya bubur, Bu Darmi tiba-tiba berkata jelas:
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa jaga kamu."
Aisha menangis tersedu. "Tidak apa, Bu. Sekarang Aisha yang jaga Ibu."
Momen penuh makna itu menjadi penyembuhan bagi keduanya.
---
Tapi badai belum benar-benar reda.
Keluarga besar Aisha dari desa datang ke Jakarta dengan niat "mengambil kembali" Bu Darmi dengan paksa. Mereka menganggap Aisha mempermalukan keluarga dengan memamerkan "orang gila" di kota.
Konfrontasi terjadi di depan rumah Aisha. Paman-pamannya yang kasar berusaha masuk, sampai satpam kompleks dan polisi harus turun tangan.
"Kamu tidak pantas jadi anak! Kamu rusak karena pendidikan kota!" teriak paman tertua.
Aisha berdiri tegap di depan pintu, didampingi Rafa dan Glenn. "Saya anaknya. Dan saya yang memutuskan yang terbaik untuk ibu saya. Kalian sudah membuangnya puluhan tahun kalian kehilangan hak."
Pertengkaran itu berakhir dengan peringatan polisi. Tapi ancaman masih ada: "Kami akan kembali."
---
Mereka memutuskan untuk mengajukan perlindungan hukum.
Glenn yang punya kenalan pengacara baik, mengatur agar Bu Darmi mendapatkan hak perawatan di bawah Aisha secara resmi, dengan dokumen medis yang mendukung.
Proses hukum melelahkan, tapi akhirnya menang. Pengadilan memberi hak penuh pada Aisha.
Kemenangan kecil di tengah perang besar.
---
Namun, tekanan bertubi-tubi mulai mempengaruhi hubungan Aisha dan Glenn.
Glenn tidak pernah mengeluh, tapi Aisha bisa melihat kelelahannya. Kayla, anak Glenn, juga mulai bertanya: "Kenapa kita jarang main lagi? Kenapa tante Aisha selalu sibuk?"
"Aku merasa egois," akui Aisha pada Glenn suatu malam. "Menyeretmu ke dalam kekacauan hidupku."
"Kamu tidak menyeret. Aku memilih masuk."
"Tapi pilihan itu tidak adil untukmu. Atau untuk Kayla."
Glenn menarik napas. "Apakah kamu ingin aku pergi?"
"Tidak. Tapi… aku ingin kamu bebas memilih lagi. Dengan semua yang terjadi sekarang."
Diam yang menyakitkan. Cinta tidak selalu cukup ketika beban hidup terlalu berat.
---
Glenn memilih untuk tetap.
Tapi dengan kesepakatan baru: dia dan Kayla akan tetap tinggal di rumahnya sendiri untuk sementara, memberi ruang bagi Aisha fokus merawat ibunya tanpa merasa terbebani.
"Bukan mundur," kata Glenn. "Tapi strategi. Sampai keadaan lebih tenang."
Aisha setuju, meski hatinya sedih. Cinta yang dewasa terkadang berarti memberi ruang, bukan selalu berdekatan.
---
Bulan-bulan berikutnya adalah masa penyembuhan dan penyesuaian.
Bu Darmi perlahan stabil dengan obat rutin dan lingkungan yang penuh kasih sayang. Arka mulai berani mendekati neneknya, bahkan membacakan cerita untuknya. Nadia dan Arkana juga mulai terbiasa.
Dan keluarga besar Aisha dari desa… akhirnya mundur. Mungkin karena lelah berperang, atau mungkin karena merasa malu saat cerita ini diketahui tetangga dan mereka dikucilkan.
Perlahan-lahan, badai mulai mereda.
---
Pada hari ulang tahun Bu Darmi yang ke-67, mereka mengadakan acara kecil di rumah Aisha. Hanya keluarga inti: Aisha, Arka, Rafa, Laras, Nadia, Arkana, Glenn, Kayla, dan tentu saja Bu Darmi.
Bu Darmi duduk di kursi dengan senyum tenang jarang terlihat sebelumnya. Saat Arka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara kecilnya, mata Bu Darmi berkaca-kaca.
"Siapa namamu?" tanyanya pada Arka.
"Arka, Nek. Cucu Nenek."
"Arka… nama yang bagus."
Momen sederhana itu terasa seperti kemenangan besar. Setelah puluhan tahun tersesat dalam kegelapan pikirannya, Bu Darmi akhirnya menemukan secercah cahaya: keluarga yang tidak pernah menyerah padanya.
---
Malam itu, setelah semua tidur, Aisha dan Glenn duduk di teras rumah.
"Terima kasih," bisik Aisha. "Untuk tidak pergi."
"Tidak akan pernah," jawab Glenn, menggenggam tangannya. "Aku tahu ini hanya fase. Dan kita akan melewatinya bersama."
Mereka memandangi bulan. Perjalanan masih panjang. Tapi sekarang, mereka punya kekuatan baru: pengampunan, ketahanan, dan cinta yang sudah teruji badai.
---
(Di kamarnya, Bu Darmi terbangun sebentar, melihat foto lama di meja samping tempat tidur foto dirinya muda dengan bayi perempuan di pangkuan. Dia tersenyum kecil, berbisik pada foto itu: "Akhirnya… aku pulang.")